The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Pembaharuan Senjata



Rigel telah kembali ke Region. Dengan masalah baru di pundaknya, dia tidak lagi memiliki waktu untuk bersantai. Kini dia perlu mencari orang-orang yang harus dia bawa ke pasar gelap bawah tanah, Darkness.


Begitu tiba di Region, dia bergegas pergi ke ruang tahta, menemukan Asoka, Ray dan Merial di sana. Dia tidak melihat keberadaan Ozaru dan Misa, namun itu tidak penting untuk saat ini.


"Rigel, kau telah kembali. Bagaimana perasaanmu?" Ray bertanya dengan khawatir, mungkin teringat tentang apa yang terjadi pada Rigel ketika membunuh Takatsumi.


Rigel begitu marah pada saat itu, dia tidak Terima memberikan Takatsumi kematian yang mudah. Dia benar-benar serius ingin membuat kolam darah dan menyiksa Takatsumi dengan mengerikan. Namun berkat Ozaru yang menasehati nya, Rigel dengan kesal mengakhirinya dengan menginjak kepalanya sampai hancur.


"Ya, aku baik saja. Lebih dari itu, aku memiliki hal yang harus di kerjakan. Lalu Asoka, aku telah meminta keluarga Ainsworth menjadi Mitra dagang dan ada beberapa hal yang aku minta dia lakukan. Tanyakan saja rinciannya padanya dan Merial, jemputlah ibumu ke sini."


Merial tersentak, terkejut ketika ibunya langsung yang akan menjadi perwakilan. Entah mengapa, sekilas dia melihat Merial sedikit gemetar. Mungkin hanya firasatnya saja.


"Baiklah, tuan Rigel... Aku tidak menduga bahwa ibli—ibuku yang akan datang menjadi perwakilan. Ngomong-ngomong, apakah dia tahu bahwa aku menjadi Pahlawan?"


"Tidak, dia belum kuberitahu. Itu pilihanmu, untuk memberitahunya atau tidak, tentunya dengan syarat dia harus menutup mulutnya. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."


Rigel sedikit mengancam. Meski terdengar bercanda, Merial tahu dengan jelas bahwa ancaman Rigel itu nyata. Dia adalah tipe orang yang tidak bisa untuk tidak membunuh penghianat, yang terburuknya tidak hanya si penghianat, melainkan keluarganya juga akan kena.


"Aku mengerti, kalau begitu, aku akan segera berangkat."


"Ya... Ah, satu lagi, jemputlah Leo di Britannia."


"Baiklah, aku undur diri."


Meninggalkan itu, Merial pergi untuke menjemput Natalia dan Leo di Britannia. Sementara Rigel, dia membutuhkan orang yang memiliki akses masuk ke Darkness.


Jika orang-orang tahu bahwa Pahlawan menyusup ke sana, tidak mengejutkan bahwa beberapa mulai melarikan diri bersama barang berkualitasnya. Untuk hal itu, Rigel butuh menyembunyikan identitasnya.


"Jadi, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan? kuyakin kamu bukan orang yang akan beristirahat setelah pertarungan besar."


Asoka tersenyum masam, dia benar-benar telah tahu seperti apa Rigel. Di lain sisi, Ray tampak hendak mengatakan sesuatu, namun memilih membicarakannya nanti.


"Tujuanku selanjutnya adalah Pasar Gelap Bawah Tanah, Darkness. Untuk mencapai pasar gelap, kupikir aku membutuhkan seseorang yang memiliki akses untuk masuk ke sana."


Tempat seperti itu bukan sesuatu yang akan dengan sangat mudah di temui. Pastinya itu tersembunyi dan membutuhkan semacam kode tertentu. Dia mungkin bisa mengancam orang yang memiliki akses, namun dia tidak tahu hal apapun mengenai apa yang ada di dalamnya.


"Berbicara tentang orang yang bisa masuk ke sana, kupikir aku mengenal seseorang. Aku akan pergi untuk beberapa waktu dan mencari orang itu dan lalu, Rigel. Tentang dia, aku sudah menaruhnya di ruang kontrol bersama peti Es. Kalau begitu, aku undur diri."


Dengan begitu, Ray pergi, menyisakan Rigel dan Asoka dalam keheningan. Rigel tahu apa yang di maksud Ray, mungkin itu berhubungan dengan mayat Takatsumi. Dia akan segera mengurusnya nanti.


"Rigel... Bisakah aku bertanya, untuk tujuan apa kamu pergi ke tempat itu?"


Rigel melirik Asoka, dia tampaknya sedikit sedih karena tidak di beritahu apapun oleh Rigel, tentang banyak hal dan merasa tidak lagi di butuhkan.


Padahal, alasan Rigel benar-benar sederhana. Dia tidak ingin menambah beban di pundak Asoka, membangun sebuah negara dan berurusan banyak hal seperti politik dan ekonomi tentunya sangat berat. Bahkan Rigel benar-benar tidak ingin terjun ke dunia politik dan lainnya, lebih baik bertarung menguras tenaga ketimbang menguras otak dan batin.


"Kudengar pasar gelap adalah pusat perdagangan budak berkualitas. Tujuanku adalah untuk membebaskan mereka dan membawanya ke Region. Memang terdengar egois, namun aku akan menambahkan beberapa tumpukan kertas di mejamu lagi." Rigel tersenyum masam, begitu pula sebaliknya.


"Hahaha, jadi begitu. Kupikir kau tidak membutuhkanku lagi, namun nyatanya kamu membutuhkanku mengurus tumpukan kertas. Sekarang aku benar-benar mengerti kenapa kau menolak keras menjadi raja, itu karena kau tidak ingin berurusan dengan hal merepotkan seperti mengisi selembar kertas."


"Heh, kamu benar-benar mengenalku."


Karena itu dia lebih memilih memerintah di belakang layar dan memainkan mereka selayaknya budak yang akan menuruti segala kemauannya.


"Yah, untuk saat ini, aku akan kembali ke ruang kontrol. Bersemangatlah mengurus kertas-kertas menyedihkan itu, Asoka~"


Rigel melambaikan tangan dan berteleportasi, meninggalkan Asoka dalam kesendirian.


"Huh~" Asoka bersandar dengan lesu dan bergumam, "Sejujurnya aku lebih ingin bertarung ketimbang mengurus dokumen dan hal-hal ini. Namun aku tidak bisa melewatkan ini, karena menyangkut negara ini. Belum lagi masih ada pemilihan Kaisar Surgawi, aku benar-benar tidak mengerti mengapa Rigel berpikir bahwa aku telah di jamin menduduki gelar itu."


Dia benar-benar tidak tahu apapun tentang hal-hal yang Rigel lakukan di belakang layar, seperti menjatuhkan Britannia di tangannya dan mengendalikan dua raja termasuk dia sebagai boneka. Untuk saat ini dia hanya bisa duduk dan mengurus berbagai hal menyangkut negara.


Rigel telah sampai di ruang kontrol yang sunyi seperti biasa, selain suara gigi Gear raksasa yang saling berputar. Di tengah ruang, terdapat peti mati yang di isi bongkah Es sihir yang tidak akan mencari dan sebuah mayat tanpa kepala.


Rigel menatap dengan geram, bersyukur bahwa dia menghancurkan kepalanya sehingga tidak perlu meliat wajahnya lagi.


"Kergh! Sayangnya aku belum bisa menjadikan tubuhmu makanan babi, aku masih membutuhkannya untuk mencari penggantimu!"


Ada keperluan untuk menjadikan Leo sebagai Pahlawan pengganti Takatsumi. Meski umurnya masih terbilang muda, kemampuannya jauh lebih memumpuni ketimbang umur.


Meski begitu, Rigel yakin bahwa Leo masih belum cukup tangguh untuk menerima senjata ilahi. Dia perlu untuk tumbuh dan mendapatkan pengalaman nyata di pertarungan sesungguhnya.


Memang di sayangkan bahwa dia tidak bisa ikut ke pertarungan dengan Phoenix, namun dia bersyukur karena tidak mengajak Leo. Mengingat pertarungan dan api seganas itu, Leo tentunya di pastikan mati jika tetap ikut.


Rigel juga masih berhutang maaf kepada Leo, tentang apa yang dia lakukan sebelumnya. Jika tidak ada Tirith dan Nadia pada saat itu, Rigel mungkin telah benar-benar membunuh Leo dengan tangannya sendiri.


"Mari kita lewatkan itu. Pertama-tama, Ciel, berapa banyak Misil, Nuklir, Machine gun dan Pesawat tanpa awak yang tersisa?"


......"Menjawab : Senjata Modern No1 : Nuklir tersisa 8 buah... Senjata Modern No2 : Misil tersisa 500 buah... Senjata Modern No3 : Pesawat tanpa awak tersisa 6 buah... Senjata Modern No4 : Machine Gun tersisa 50.........


......Pertanyaan : Apakah anda ingin memperbaharui setiap senjata?......


"500 Misil, kah. Tanpa sadar aku telah menggunakan lebih dari 2000 saat invasi pasukan iblis. Machine Gun nampaknya belum mendapat perbaikan karena hancur di beberapa tempat. Baiklah kalau begitu, silahkan kembali perbaharui sesuai dengan limit yang telah di tentukan. Kata sandinya 'Apa jawabanmu.'"


Ciel memulai operasinya dan menjalankan perintah Rigel. Daripada membuatnya satu-persatu, Rigel memilih membuat mesin yang dapat menciptakan nuklir secara manual dari awal hingga akhir, mungkin lebih seperti pabrik dan tempat itu berada di dasar laut Region.


"Sekarang, mari kita tunggu Ray menemukan kenalan dan Merial kembali ke Region bersama dengan Natalia yang menyebarkan berita."


Dengan santai, Rigel melipat kaki dan bersandar pada lengannya selagi duduk di kursi yang khusus untuknya. Saat persiapan tiba, dia akan kembali bergerak.


***


Di lain sisi, seorang gadis dengan sayap kupu-kupu indah tengah terbang dalam kecepatan penuh dengan tergesa-gesa.


Aku telah mengingat semuanya, apa yang terjadi di labyrinth dan segala hal mengenai takdirnya! Aku harus memberitahunya tentang takdir itu dan membuatnya tidak memilih jalan yang sangat menyakitkan itu.


Di akhir perjalanan yang di laluinya, penderitaan di pundak, darah teman-temannya, kesedihan di hatinya akan bertumpu pada satu pria yang telah mengorbankan banyak hal. Di akhir perjalanannya, hanya menyisakan dia berteriak dalam kehampaan.


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi! Aku akan segera menyelamatkanmu, Rigel!"


Seorang gadis yang terbangun dari mimpi panjangnya, kini telah bergerak!