The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Haneda Takatsumi II



"Yo, selamat siang, Nita."Memasuki ruangan, dia menyapa Nita yang tengah bermain dengan seorang perawat.


"Kakak! tidak biasanya kamu datang cepat. Ahh, perkenalkan, dia adalah teman bermain ku saat kakak tidak ada, Sakagaki Ayumi. Aku memanggilnya Ayu-Nee." Nita tersenyum lembut selagi memperkenalkan.


"Selamat siang, Haneda-San." Dia membungkuk hormat.


"Ya, selamat siang. Terima kasih karena merepotkan diri untuk menemani Nita." Dia membungkuk.


"Ahaha, tidak apa-apa. Lagipula aku telah bekerja keras dan tidak apa sesekali membolos," Dia tertawa malu dan bangkit dari kursinya, "Kalau begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa ya, Nita-chan."


"Umm! besok datang lagi ya!"


Senang rasanya ketika Nita tidak sendirian selagi dia bersekolah dan bekerja. Suasana hatinya yang awal buruk kini tersembuhkan, ketika melihat Nita tersenyum senang.


"Sepertinya kalian sangat akrab ya." Takatsumi meraih kursi dan duduk di samping Nita.


"Ya! Ayu-Nee menceritakan banyak hal kepadaku tentang dunia ini! dimulai dari perkebunan teh yang menyejukan mata sampai yang paling aku sukai adalah aquarium bawah air!"


Begitu, sebuah tempat wisata dimana orang-orang dapat menyaksikan ikan dan hewan laut lain dari dasar laut.


"Jadi kau menyukai tempat semacam itu ya?"


"Ya! aku benar-benar ingin tahu seperti apa hewan yang hidup di dalam air! Ayu-Nee berkata bahwa mereka terlihat seperti berenang di langit biru! Selain itu, ada begitu banyak ikan dengan jenis dan keindahan berbeda..."


Nita dengan semangat dan riang menceritakan apa yang di ceritakan Ayumi-san kepadanya. Takatsumi tersenyum lembut, kehangatan tertentu dia rasakan dan kesedihan tertentu begitu mendalam.


Tidak perduli seberapa besar harapan dan keinginannya melihat akuarium bawah laut, hal semacam itu sesuatu yang tidak akan bisa dia gapai, dengan mata yang hanya melihat kegelapan seumur hidupnya.


Hatinya begitu sakit, melihat Nita begitu berharap untuk pergi dan melihat akuarium dan luasnya dunia


yang busuk ini.


"Aku benar-benar ingin melihatnya. Namun aku tidak dapat melakukannya, karena mataku buta dan hanya kegelapan yang dapat terpancar kan." Nita bergumam sedih.


Takatsumi menatap dalam diam. Dia teringat dengan kata-kata pria tua sebelumnya, bahwa dia memiliki cara agar Takatsumi menghasilkan banyak uang, yang bahkan cukup untuk transplantasi mata.


Sejak kehilangan orang tuanya, dia telah memutuskan untuk mempersembahkan dirinya untuk membahagiakan Nita. Tidak perduli apapun itu, meski mengorbankan masa muda, selama Nita bahagia sudah cukup baginya.


"... Tenang saja. Aku berjanji, suatu saat, pasti akan ku bawakan cahaya dunia padamu. Aku akan membawamu melihat betapa indahnya dunia yang menurutku sangat busuk." Takatsumi tersenyum, sementara Nita tidak memahami maknanya selama beberapa waktu.


"Membawakan cahaya? maksudnya... Aku akan bisa melihat dunia?" Dia bertanya dengan ragu dan nadanya begitu gemetar.


"Ya... Kakak berjanji padamu." Dia meraih tangan Nita, menggenggamnya dengan lembut.


"Itu... berarti, aku bisa melihat akuarium? aku bisa melihat wajah kakak? aku bisa melihat dunia, kan?... Jika kakak berbohong, aku tidak akan pernah... memaafkanmu..." Nita mulai menangis, begitu pula Takatsumi.


"Memangnya kapan kakakmu ini pernah berbohong padamu?"


"Tidak... Kakak tidak pernah berbohong..."


Nita mulai menangis sedu di pelukannya. Kebahagiaan dan tangis haru Nita berlangsung lama, meski hanya sekedar janji yang ntah akan terwujud atau tidak, dia benar-benar senang dari lubuk hat8 terdalam.


Malam telah tiba, menggantikan cahaya Oranye yang penuh kehangatan dengan sinar bulan yang memenangkan.


Nita yang menangis begitu lama tertidur karena lelah. Takatsumi mengusap kening Nita, menciumnya dengan lembut sebelum meninggalkan ruang, untuk menelpon seseorang.


Telepon di angkat, "Ya, ada yang bisa saya bantu?"


"Ini aku, orang yang kamu temui sore ini. Aku ingin mendengar rincian dari yang kau ajukan sebelumnya. Bisakah kita bertemu di taman rumah sakit tempat adikku berada?"


"Ahh, tentu saja! saya akan segera ke sana."


Takatsumi mematikan ponselnya, bergegas pergi menuju taman yang di maksud. Setelah menunggu selama hampir satu jam, pria itu datang. Seperti sebelumnya, dia mengenakan jas kantoran.


"Selamat malam, Dr. Hendricson." Takatsumi menyapa.


"Ya, selamat malam. Jadi, langsung saja, apakah anda ingin mendengar cara untuk anda menghasilkan banyak uang?" Dia mulai mengusap kedua tangannya.


Dari kartu namanya saja jelas bahwa dia seorang dokter. Memang sangat mencurigakan, namun uang sangat di butuhkan, tentu demi kebahagiaan Nita.


"Ya, bisakah saya mendengar rinciannya? saya bersedia melakukan apapun selama itu bukan tindak kriminal seperti membobol bank."


"Ahaha, anda tidak perlu khawatir, apa yang ingin saya bicarakan dengan anda bukan sesuatu yang pastinya akan tertangkap seperti itu."


Dr. Hendricson mulai berjalan dan Takatsumi mengikuti di belakangnya, sampai dia mulai mengatakan sesuatu.


"Tuan Takatsumi, kan? apa anda tahu, hal apa yang membuat tubuh manusia tidak membusuk dan membuatnya hidup?" dia memulai dengan pertanyaan absurd.


Tentu karena adanya gizi yang masuk ke tubuh manusia, namun itu bukan jawabannya. Jawabannya adalah sesuatu yang dapat mengolah gizi itu...


"Organ tubuh?" Gumamnya.


"Benar sekali. Tanpa adanya organ tubuh, manusia hanyalah sebongkah daging yang akan membusuk kapanpun. Organ tubuh berperang penting dalam menjaga tubuh kita dan membuat manusia tetap hidup selama bertahun-tahun. Namun, ada beberapa penyakit yang menyebabkan rusaknya organ tubuh yang tidak mungkin untuk di sembuhkan selain mencari pengganti."


Perlahan, pria itu mendekati pembicaraan utama dan Takatsumi tahu kemana arah pembicaraannya.


"Mustahil bagi manusia untuk membuat organ tubuh untuk manusia, namun manusia dapat mendapatkannya dari manusia lain. Karena hal itu, organ tubuh manusia memiliki nilai jual yang begitu tinggi, tergantung seberapa sehatnya organ tersebut."


Pria itu mulai berbalik menghadap Takatsumi. Dia menaruh kedua tangannya di punggung, senyuman di bibirnya menghilang, menunjukkan keseriusan pembicaraan.


"Tuan Takatsumi, jika anda ingin menghasilkan banyak uang secara instan, jualah organ tubuh anda pada saya. Saya akan menjamin bahwa akan membayarnya dengan harga yang sangat tinggi."


Seperti yang di duga, bahwa pembicaraan akan mengarahkan ke sini.


"Bukankah menjual beli organ manusia termasuk ilegal?"


"Tentunya begitu. Namun, kita bisa mengelabui permukaan dengan sangat mudah. Jika anda mengatas namakan 'mendonorkan organ' bahkan pihak berwenang tidak akan bisa campur tangan."


Tentunya kepolisian tidak akan meringkus orang yang memiliki niat paling mulia, dengan mendonorkan organnya.


"Jika aku melakukannya, bukankah aku hanya akan mati setelah melepaskan salah satu organ tubuhku? aku tidak akan mau melakukannya karena tidak ada jaminan bahwa adikku benar-benar dapat melihat."


Tentu tawaran uangnya menggiurkan, tetapi jika itu harus kehilangan nyawa tanpa jaminan mengenai nasib Nita, itu tidak dapat di terima.


"Manusia memiliki dua buah ginjal, mereka dapat tetap hidup meski kehilangan satu. Namun tentunya umur mereka tidak akan lama, paling lama hanya akan menjadi tiga sampai empat tahun kehidupan mereka yang tersisa."


"Saya yakin jangka waktu kehidupan yang tersisa lebih dari cukup untuk memastikan bahwa adik anda bahagia. Tuan Takatsumi, jual lah salah satunya kepada saya dan saya akan membayarnya dengan harga tinggi dan saya akan menjamin bahwa adik anda mendapatkan pendonor mata. Bukan tawaran yang buruk, kan? adik anda yang tidak pernah melihat dunia, akan melihat keindahannya dan tentunya kebahagiaannya tidak akan pernah terlukis kan dengan kata-kata. Mohon pikirkan baik-baik."


Dia tidak bergeming sedikitpun, meski menolaknya akan menjadi hal bagus, namun mengenai Nita yang dapat melihat bukan sesuatu yang mudah di tolak. Selain itu, dia sudah menguatkan hati, tidak perduli apapun yang perlu di korbankan, jika itu demi Nita, dia bersedia melakukannya.


"... Apakah, Nita... benar dapat melihat?" Suaranya gemetar.


"Ya, saya akan membantu untuk mencari pendonor yang cocok untuknya."


"... Apakah dia... Akan bahagia?"


"Saya tidak menjamin, namun saya cukup yakin dia akan benar-benar bahagia..."


"... Jika itu untuk Nita... Untuk senyumannya... Untuk kebahagiaannya... Aku... Aku... Aku akan melakukan apapun... untuk nya." Dia mulai menangis sedu, memikirkan seperti apa kebahagiaan Nita ketika dia dapat melihat kembali.


Ini baik-baik saja, ya, ini akan baik-baik saja. Lagipula dia membenci dunia ini, tanpa adanya Nita dia mungkin sejak lama telah memilih kematian. Ya, ini akan baik-baik saja.


Setelah menandatangani kontraknya, Takatsumi berpesan kepada Ayumi-san bahwa dia akan pergi selama beberapa hari dan memintanya menyampaikan pesan ini kepada Nita.


Tidak perlu membuang waktu lagi, dia ikut bersama Dr. Hendricson untuk memulai transplantasi organnya.


Tengah malam, ketika dia sampai di rumah sakit milik Dr. Hendricson, dia langsung memulai pembedahan nya tanpa menunggu lebih lama.


"Apa anda sudah siap, Tuan Takatsumi? aku akan segera membius anda."


"Ya, mohon lakukan."


Demi Nita, bahkan jika aku harus menjual jiwa kanda iblis untuk kebahagiaannya, aku akan bersedia melakukannya!


Batin Takatsumi.


Dr. Hendricson memberikan obat bius kepada Takatsumi dan dia langsung tidak sadarkan diri.


Seminggu berlalu, semenjak oprasi di mulai dan kini dia harus hidup hanya dengan satu ginjal di tubuhnya.


Tubuhnya telah pulih dan dapat berjalan, meski belum pulih sepenuhnya.


Dengan uang yang begitu banyak digit untuk di hitung berada dalam rekeningnya, dengan perasaan gembira dan terburu-buru dia bergegas kembali ke rumah sakit tempat Nita di rawat.


"Aku tidak bisa berlari saat ini dan juga, aku belum terbiasa dengan kondisi yang saat ini." gumamnya pelan.


Sulit untuk di jelaskan, namun rasanya begitu berbeda dan terdapat rasa gatal tidak bisa di garuk berada di dalam perutnya.


Dengan uang ini dan bantuan dari Hendricson untuk mencari pendonor, Nita dapat hidup bahagia, tidak lama lagi dia akan melihat dunia ini. Dia akan bisa melihat akuarium, kebun teh dan wajahku yang begitu ingin dia lihat. Bain Takatsumi.


Dia tidak dapat menahan senyum di bibir, menantikan bagaimana ekspresi Nita ketika dia mengetahui akan segera melihat dalam waktu dekat.


*WIU, WIU, WIU.


Pemadam kebakaran lewat dengan kecepatan penuh. Tidak hanya satu, melainkan lima dari mereka menuju arah yang sama dengan tujuan Takatsumi.


"Tidak tidak. Itu tidak mungkin kan."


Sekeras mungkin dia mencoba menyangkal pemikirannya. Namun tetap saja, di depan sana sama sekali tidak ada belokan atau semacamnya, jalan itu hanya terhubung ke rumah sakit tempat Nita di rawat.


Meski seharusnya tidak boleh berlari, dia memaksakan diri berlari sekuat tenaga. Rasa sakit dan panas menghantam perutnya. Perutnya serasa di cengkram oleh sesuatu, namun dia menghiraukan nya karena kekhawatiran terhadap Nita begitu besar.


Asap hitam naik langit, Orang-orang berkerumun di satu tempat. Dirinya di penuhi kekhawatiran akan Nita, berharap bahwa Nita akan baik-baik saja.


Kumohon, Tuhan, dewa atau siapapun yang memiliki kuasa! jangan biarkan hal buruk menimpa Nita! Nita, dia satu-satunya hartaku, jangan rebut apapun lagi dariku!


Dia berdoa dari lubuk hati terdalam. Selama kehidupannya yang pahit, dia belum pernah berdoa kepada siapapun dari lubuk hatinya yang terdalam.


Dia tiba di sana, rumah sakit tempat Nita berada, kini terbakar habis oleh si jago merah. Para perawat yang ada telah berhasil keluar, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Nita.


Takatsumi belum menyerah, dia pergi ke ambulan terdekat untuk mencari Nita, namun tak kunjung menemukannya. Dia melihat satu orang yang dia kenal dan dengan gelisah menghampirinya.


"Ayumi-san, dimana Nita?!! apa dia selamat?!! katakanlah padaku!"


Mendengar itu, wajah Ayumi menjadi pahit, hingga akhirnya menangis.


"Maaf... Maaf... Aku, meninggalkannya demi menyelamatkan diriku sendiri... Maafkan aku... Maafkan aku!"


Kepalanya kosong, segala pemikiran hilang begitu saja. Jika Nita mati di sini, lantas apa gunanya dia menjual organ tubuh? Jika Nita mati di sini, apa gunanya pendonor mata yang sedang di cari?


"Tidak... Tidak akan kubiarkan milikku di rampas lagi! NITA!"


Mengabaikan rasa sakit di perut, dia berlari menuju rumah sakit yang terbakar, hendak menerobos api yang berkobar demi Nita.


Jika memang Nita harus mati, maka aku harus menemani!"


Melihat seorang pemuda berlari ingin memasuki rumah sakit, para pemadam yang melihat menahannya dan menghentikannya.


"Hentikanlah anak muda! apinya sudah terlalu besar dan mustahil untuk di masuki!"


"Tapi, adikku ada di dalam sana! dia lumpuh dan buta! lepaskanlah aku! aku akan menyelamatkannya! dia satu-satunya orang yang kumiliki, jika harus mati, setidaknya aku akan berada di sisiNya! kumohon lepaskan aku!"


"Tidak boleh anak muda! jangan sia-siakan nyawamu! Kalian, bawa anak ini menjauh!"


Selagi di seret pergi oleh pemadam kebakaran, Takatsumi mengulurkan tangan kanan, tepat ke arah rumah sakit yang terbakar.


"NITA!" berteriak sekeras mungkin, dengan harapan di dengar oleh Nita.


Air mata kesedihan membasahi wajah, kesedihan mendalam menyelimuti hati.


Satu-satunya orang terkasih, harta berharganya, keluarga yang begitu di cintai, habis terlahap api. Dirinya menjadi hampa, tiada arti kehidupan tanpa adanya orang terkasih di sisiNya.


Dunia benar-benar busuk, begitu jahat, begitu berdarah dingin. Merebut segala hal yang di kasihi dengan begitu mudah.


"Apanya yang dewa, jika mereka benar-benar ada, lantas kenapa mereka tidak menyelamatkan gadis lumpuh dan buta dari sana? Satu-satunya hal berharga ku telah di rampas..." Dengan lemah, dia memeluk dirinya sendiri, dengan kehampaan dalam dada.


"HAARGH!"


Dia berteriak, melampiaskan kesedihan, kemarahan, kebencian terhadap dunia yang begitu kejam.