
"Baiklah semuanya! Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku, Priscilla flamesword, aku adalah pemimpin dari serikat Region!"
Priscilla berteriak kepada semua prajurit.
Sebelumnya, saat aku masih berada di dalam hutan seribu warna, nampaknya Priscilla dan yang lainnya sudah berhasil mencapai lantai 97 dengan waktu yang cepat. Dia juga membawa banyak, sangat banyak prajurit di sisinya bahkan ada beberapa petinggi baru yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dengan bebasnya lantai terbawah sampai lantai 75,yang menandakan kekalahan tiga pangeran neraka, nampaknya berdampak besar bagi serikat Region yang dikenal sebagai serikat penaklukan.
"Aku datang kesini karena mendengar sebuah kabar bahwa terdapat pintu rahasia yang menghubungkan ke ruangan Lord Satan. Tanpa perlu kujelaskan kalian pasti sudah mengetahui alasan kami, serikat Region datang jauh jauh ke lantai ini."
Ucap Priscilla.
"Tujuan kami sejak dulu tidak pernah berubah, Hancurkan labyrint dan raih kebebasan!"
Teriak Priscilla sambil mengangkat tinju kanannya.
"Wuoo!!!"
Semua orang berseru keras dengan pernyataan Priscilla.
Kami sudah membahas strategi seperti apa yang akan kami gunakan untuk menghadapi monster kelas boss tingkat tinggi. Terutamanya untuk mengatasi monster ular yang membatukan semua orang yang melihat matanya, Medusa.
Dia bukanlah lawan yang sukit ditaklukan, namun yang menjadikannya sulit di hadapi adalah kekuatan pembatuannya itu. Namun hal itu sudah bukan lagi menjadi perkara besar berkat usulan bagus dari Anastasia.
Pembatuan milik Medusa juga termasuk sebagai kutukan, dan kutukan dapat dihilangkan dengan potion atau air suci.
"Selain itu, jika kita memberikan perlindungan elemen cahaya, kutukan pembatuan Medusa menjadi sedikit dinetralisasikan. Lalu, jika kita tidak melihat matanya, pembantuannya tidaklah berguna."
Ucap Anastasia saat rapat sebelumnya.
Anastasia benar, selama tidak melihat matanya, pembatuan tidak akan terjadi. Karena itu, strategi kami untuk menghadapi medusa adalah dengan cara melemparkan Shamac dan membutakan daerah di sekitar Medusa. Yang akan menghadapi Medusa adalah Anastasia dan Mirai yang mendapat perlindungan peri dari Priscilla, dan satu orang petinggi yabg baru aku lihat bernama Jigsaw.
Untuk si anjing kepala tiga, Cerberus aku dan Braund yang akan menghadapinya. Nerkat kepala naga yang kuberikan kepada Braund, dia mendapatkan sebuah kemampuan yang dapat mengubah kulitnya menjadi kulit drakonik milik naga yang menjadikannya sebagai perisai hidup dari Region.
Lalu yang terakhir, untuk wanita jalang yang melahirkan banyak monster kuat, Ekhidna. Priscilla dan beberapa petinggi serta orang orang yang berasal dari lantai 98 yang akan menanganinya. Yah, aku yakin Priscilla akan mampu menghadapinya. Selain itu, dia sudah bertambah lebih kuat daripada sebelumnya.
"Sebelum kita berangkat, aku akan membiarkan seseorang yang paling berjasa dalam menaklukan para pangeran, Rigel aku ingin kau menyampaikan beberapa kata kepada kami."
Ucap Priscilla sambil melirikku dan memberikan tanda bagiku untuk naik ke podium.
Jika ini adalah aku yang sama seperti sebelumnya, aku pasti akan merasa enggan dan bingung dalam memilih kata kata. Namun, sekarang aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.
Aku berjalan menuju podium dan berdiri tepat disamping Priscilla yang tersenyum senang karena kepercayaan diri mutlak yang terukir di tubuhku.
'Kau menjadi sangat tampan jika memasang tampang seperti itu, tahu.'
Batin Priscilla.
Aku hanya diam dan menatap setiap prajurit yang ada dari ujung ke ujung. Semua prajurit yang menatapku mulai kebingungan karena aku tidak mengatakan sepatah kata apapun hingga aku akhirnya mulai bicara.
"Aku tidak memiliki kata kata yang bagus untuk di sampaikan dan aku juga tidak akan memberikan penyemangat palsu. Setelah memasuki pintu ini, kita semua tahu bahwa kita bisa kehilangan nyawa kita kapan saja, aku tidak tahu akan ada berapa banyak dari kita yang pergi namun izinkan aku mengatakan satu hal. Mari kita bertemu kembali disebuah tempat yang lebih baik dari tempat ini!"
Ucap Rigel.
"Wooo!!!"
Semua orang meraung dengan semangat dan penuh tekad.
Kata kata yang kuucapkan bukan hanya penyemangat sesaat. Kata kata ini akan tertanam jauh di dalam hati para pasukan dan yang membuat mereka tidak akan gentar bahkan dihadapan para dewa sekalipun.
"Kalau begitu, Ayoo!"
Priscilla mengaum dan membuka pintu rahasia.
Seperti biasanya, isinya tidak terlihat selama kita belum melewati pintu gerbang. Priscilla memimpin dan memasuki gerbang, kami semua mengikutinya bahkan para prajurit sudah dalam posisi mereka masing masing tanpa di perintah.
"Apapun yang terjadi, tetaplah bergerak sesuai rencana."
Perintah Rigel.
Para prajurit hanya mengangguk dalam diam yang membuatku tersenyum lega.
Mereka sangat fokus sampai sampai menghiraukan ketakutan mereka.
Saat kami sudah melewati pintu, ruangan mulai bersinar terang dan memperlihatkan apa yang ada di dalamnya. Aku tidak bisa untuk tidak terkejut dengan apa yang ada didalamnya.
Lantai tempat kami berdiri di hiasi oleh karpet merah dan terdapat tiga tahta raksasa yang sangat megah. Di masing masing tahta, terdapat satu monster seperti dalam mitologi kuno. Mereka adalah Cerberus, Medusa dan Ekhidna.
Semua prajurit juga sama denganku, kagum dengan ruangan yang dihiasi banyak emas dan permata namun semua orang dengan cepat kembali fokus kepada monster yang mulai bergerak.
"Semuanya berpencar!!"
Teriak Priscilla.
"Yaaa!!"
Ucap semua prajurit secara serempak.
Semua orang berpencar menjadi tiga bagian dan menghadapi satu monster bersama petinggi lainnya.
"Braund, ambillah komando pasukan. Kita akan gunakan strategi yang biasa kita gunakan, serang dan mundur!"
Perintah Rigel.
"Hah, nampaknya kau masih belum pandai memberi komando terhadap banyak orang Nak."
Ucap Braund sambil tersenyum.
Aku juga tersenyum selagi berlari di depan semua orang dan menghadapi anjing kepala tiga ini. Cerberus menyadari kehadiranku dan mulai mengejarku, menjauh dari monster yang lainnya.
Jauh dibelakangku, aku dapat melihat awan kabut super tebal berkumpul di sekitar Medusa dan membutakan penglihatan musuh.
"Sepertinya mereka mulai lebih cepat dariku."
Gumam Rigel.
Cerberus memiliki tiga kepala anjing dengan masing masing satu kristal di kepala mereka. Cerberus memiliki kulit berwarna coklat dan di ujung ekornya terdapat api yang terus menyala. Kupikir Cerberus ini ukuran nya tidak terlalu besar, namun ini meleset jauh dari bayanganku.
Ukurannya setara dengan sebuah rumah yang memiliki empat lantai. Aku berlari langsung menuju ke arah Cerberus yang berlari ke arah kami. Aku menghantamkan tinju kananku ke arah Cerberus yang mengeluarkan air liur menjijikan.
"Mana Hand : Asura Punch!"
Teriak Rigel.
Tangan raksasa yang tercipta dari mana padat dan berwarna ke emasan meluncur langsung ke kepala Cerberus yang berada di tengah. Cerberus terhempas ke belakang kareja hantaman kuat dari Asura punch.
"Hebat! Dia menghempaskan monster itu dengan satu pukulan."
Ucap Seorang prajurit.
"Tangan raksasa apa itu? Apakah itu sebuah skill? Aku belum pernah melihatnya."
Ucap prajurit lain.
Semua prajurit yang melihat seranganku mulai berbisik karena kekaguman dengan seranganku.
"Semuanya, keluarkan serangan kalian!"
Bentak Braund, menyadarkan semua prajurit.
Para prajurit mulai mengeluarkan serangan serangan mereka selagi Cerberus tergeletak.
"Gauuu!!"
Cerberus menjerit kesal.
"Pasukan mundur!"
Bentak Braund.
Saat Cerberus sudah kembali berdiri, para prajurit sudah mundur menjauh dan membentuk formasi pertahanan dengan Braund yang memimpin. Cerberus dengan kesal mulai menyemburkan api dari ketiga kepalanya ke arah para prajurit berada.
Aku melompat di depan para prajurit dan menciptakan banyak dinding.
"Creator Skill : ciptakan dinding baja!"
Empat dinding baja super tebal menutupi jangkauan semburan Cerberus. Serangan api neraka miliknya berhasil di tahan dan saat semburannya berhenti, aku menyentuh dindinh baja tebal itu dan menciptakan duri logam yang berterbangan ke arah Cerberus.
"Gauuuu!!"
Cerberus mengaum saat beberapa duri baja menggores kulitnya, bahkan ada beberapa yang menancap di tubuhnya. Tidak memberinya waktu untuk menggunakan serangan lain, aku menciptakan sebuah paku raksasa dan melontarkannya dengan elemen angin menuju ke kepalanya yang berada di tengah.
Cruch!
"Gaoooooo!!!"
Cerberus mengaum kesakitan saat salah satu kepalanya tertembus oleh paku raksasa yang menancap dari rahang sampai menembus kepalanya.
"Whoaa!!!"
Semua prajurit bersorak kegirangan.
Bahkan Braund memiliki senyuman di bibirnya. Cerberus tidak dapat melepaskan paku yang menancap di salah satu kepalanya yang membuatnya tidak dapat meregenerasikan kepalanya.
Tersisa dua kepala lagi yang harus dilumpuhkan. Jika aku berhasil menancapkan satu paku di masing masing kepalanya, Cerberus tidak dapat meregenerasikan kepalanya dan kemungkinan besar dia akan mati. Selain itu, dengan strategi serang dan mundur ini, aku berharap tidak ada satupun korban jatuh dari pihakku.
Aku akan membuat monster ini sibuk denganku dan selagi dia fokus terhadapku, para prajurit yang lain akan menyerangnya dari arah lain dan mundur saat Cerberus mulai mengincar mereka.
Lebih mudahnya, aku akan menjadi umpan dan selagi Cerberus termakan oleh umpannya, para prajurit lain akan menyerangnya. Karena Cerberus bukan mahkluk yang pintar seperti naga, strategi ini sangat efektif untuk melawannya.
Cerberus mengarahkan cakarnya ke arahku, aku melompat ke atas kepalanya untuk menghindarinya dan menyerangnya dari atas kepalanya.
"Mana Hand : Asura Punch!"
Teriak Rigel.
Tinju raksasa menghantam leher Cerberus dengan sangat kuat dan membuat Cerberus berlutut di tanah.
"Semuanya serang!"
Braund mengaum.
"Haaa!!"
Ucap prajurit serempak.
Berbagai macam serangan datang menuju Cerberus yang masih berlutut di tanah. Para petarung jarak dekat menghampiri tubuh Cerberus dan menebasnya dengan senjata sihir mereka.
Saat Cerberus mulai mencoba untuk bangun, Braund datang dengan cepat dan mengayunkan tombaknya ke kaki belakang Cerberus.
"Rasakan ini, monster sialan!"
Teriak Braund.
Cerberus terus menerus berusaha untuk berdiri, namun di setiap percobaannya Braund selalu memotong kaki kakinya yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Aku masih melayang di langit menggunakan elemen angin dan menahan leher Cerberus dengan Asura punch.
Selagi Cerberus mengaum kesakitan, aku menciptakan paku raksasa dan menancapkannya ke setiap kepalanya.
Cruch!
Cruch!
"Gaooo!!"
Cerberus mengaum.
Setelah paku terakhir menancap di kepalanya, pergerakan Cerberus perlahan melemah dan akhirnya dia mulai berhenti bergerak, dia telah mati.
"K-kita berhasil!"
Ucap seorang prajurit.
"Whoaaaaa!!!"
Para prajurit bersorak.
Ledakan kegembiraan muncul dari para prajurit di reguku. Ada yang saling berpelukan san berteriak, bahkan ada yang menangis karena bahagia. Aku hanya bisa bersyukur bahwa tidak ada satupun korban dipihakku.
Mahkluk ini jauh lebih lemah dari perkiraanku, ini terlalu lemah untuk di tempatkan Satan sebagai penjaga kunci. Bahkan Anastasia dan Priscilla tidak mengalami kesulitan menghadapi mereka. Mungkin hanya perasaanku saja?
Selagi aku masih berdebat di dalam pikiranku, sesuatu mulai bergerak di mayat Cerberus yang membuatku terkejut.
"Tetaplah Waspada!"
Bentak Rigel.
Para prajurit yang terlarut dalam kegembiraan mulai bersiaga karena perintahku. Braund mencondongkan tombaknya ke arah mayat Cerberus yang tergeletak.
Dug!
Sesuatu mulai bergerak di dalam tenggorokan Cerberus, seolah memberontak untuk keluar.
Dug!
Dug!
Tenggorokan Cerberus semakin membesar dan akhirnya robek, memperlihatkan sesuatu yang memberontak itu. Tubuhnya yang awalnya tak bergerak ataupun bernafas, perlahan bangkit dan berdiri kembali. Mahkluk ini tidak meregenerasikan kepalanya, tetapi menumbuhkan kepala baru yang baru saja menghancurkan kepalanya yang tertancap paku raksasa.
"Gaoo!!!"
Cerberus mengaum.
Para prajurit menatap Cerberus dengan ngeri melihat pemandangan menjijikan yang baru saja mereka saksikan. Aku bahkan tidak menduga hal seperti ini bisa terjadi.
"Semuanya, kembali keposisi!!"
Perintah Rigel.
Semua orang yang awalnya sangat bahagia karena berhasil mengalahkan mahkluk ini, kembali di hadapkan kenyataan bahwa bagaimanapun, monster ini adalah monster yang menjaga kunci.
"Jadi, apakah aku harus menghancurkan tubuhnya sampai tak bersisa?"
Gumam Rigel.
Menghancurkan seluruh tubhnya sampai tak bersisa memang sebuah pilihan, namun entah kenapa ada hal yang mengganjal di dalam kepalaku. Meskipun menumbuhkan kepala adalah suatu hal, namun mahkluk ini masih terlalu lemah untuk melindungi sebuah kunci.
Di sisilain, aku melihat Priscilla yang sudah dalam wujud wanita dewasanya berhasil menghancurkan bagian atas tubuh Ekhidna yang memiliki wujud tidak jauh berbeda dengan Medusa, monster setengah ular dan setengah manusia. Namun yang membedakannya adalah Ekhidna memilik sebuah lubang di perutnya dan terus mengeluarkan monster mengerikan seperti minotaur dan yang lainnya.
Saat kupikir Priscilla berhasil menghabisinya, tubuh bagian atas Ekhidna mulai beregenerasi kembali. Aku memiliki terkejutan yang sama dengan Priscilla. Seharusnya tidak mungkin baginya beregenerasi kembali dengan tubuh bagian atasnya yang hancur tak bersisa.
"Braund! Bisakah kau menahan Cerberus selama 5 menit? Ada satuhal yang harus kupastikan."
Ucap Rigel.
"Aku tidak tahu, namun aku akan mencobanya!"
Ucap Braund.
"Cobalah untuk tidak membuat korban di pihak kita."
Perintah Rigel.
"Ya!"
Tidak hanya Braund, seluruh prajurit mengangguk setuju.
Aku melesat menuju Priscilla yang sedang menghadapi Ekhidna. Dalam perjalanan, aku membunuh beberapa monster yang telah dilahirkan Ekhidna seperti minotaur dan beberapa monster kuat lainnya.
Priscilla menyadari bahwa aku sedang menuju ke arahnya. Dia turun dari langit dan menghabisi monster yabg menghalangi. Punggungku dan punggung Priscilla saling menyentuh dan membelakangi.
"Apa yang kau inginkan di situasi yang kacau begini, Rigel!"
Ucap Priscilla dengan keras agar suarabya terdengar olehku di tengah kekacauan ini.
"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku sejak tadi. Aku yakin ke tiga monster ini tidak hanya memiliki kemampuan Regenerasi biasa."
Ucap Rigel, juga berteriak sambil membunuh beberapa monster yang mendekat.
"Apa maksudmu?"
Tanya Priscilla.
"Sebelumnya, aku berhasil membuat Cerberus tidak dapat meregenerasikan kepalanya lagi dengan cara menancapkan paku raksasa. Namun, yang mengejutkannya dia tidak meregenerasikan kepalanya, melainkan menumbuhkan kepala lain."
Ucap Rigel.
"Apa?! Seharusnya hal itu tidak mungkin bukan?!"
Ucap Priscilla dengan terkejut.
"Bahkan Ekhidna yang tubuhnya kau hancurkan, kembali tumbuh dan tidak seperti sebuah Regenerasi, bukan? Karena itulah aku beroikir bahwa hal ini aneh."
Ucap Rigel.
"Lalu apa yang kau pikirkan?!"
Tanya Priscilla.
"Namun, ini hanyalah sebuah asumsi belaka. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak."
Ucap Rigel.
"Katakan saja, aku tahu kau selalu memiliki hal hebat yang dapat dilakukan."
Ucap Priscilla sambil tersenyum.
"Ya. Aku berasumsi bahwa ketiga monster ini terhubung satu sama lain."
Ucap Rigel.
"Apa maksudmu?"
Tanya Priscilla.
"Singkatnya, selagi salah satu dari mereka masih hidup, dua yang lainnya akan tetap hidup meskipun kita membunuhnya berkali kali."
Ucap Rigel.
"Jadi maksudmu, untuk mengalahkan monster ini, kita harus membunuh ketiganya secara bersamaan?"
Tanya Priscilla.
"Sudah kuduga kau dapat dengan cepat menyimpulkan maksudku. Aku bisa menggunakan satu serangan yang dapat melenyapkan tubuh mereka bersamaan, namun, untuk melakukannya mereka bertiga harus berada di satu tempat yang sama agar seranganku lebih efektif. Jadi, aku ingin kau memberitahukan hal ini kepada Anastasia atau Mirai dan mengumpulkan monster ini di satu tempat."
Ucap Rigel.
"Yah, aku tidak akan bertanya apapun setelah melihat kawah yang kau ciptakan saat pertarunganmu dengan Azazel."
Ucap Priscilla, sambil mengehela nafas.
"Jangan khawatir, aku telah menaruh kedua peri kecilku kepada Anastasia dan Mirai, biar para periku yang menyampaikannya."
Ucap Priscilla.
"Karena Ekhidna hanya bertarung di tahta yang dia duduki, kita akan mengumpulkannya di sini, jika bisa aku ingin kau mengambil bagianku menangani Cerberus selagi aku menyiapkan seranganku."
Ucap Rigel.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai rencananya."
Ucap Priscilla sambil melesat ke arah Braund.
Aku menjauh dari lokasi pertarungan dan menyiapkan jurusku. Saat ini, aku sudah berhasil mengendalikan rune biru yang berasal dari kunci yang memilihku.
Aku mengumpulkan seluruh energi di tangan kananku sehingga rune berwarna biru mulai terbentuk dan terfokus di tangan kananku. Tidak seperti sebelumnya, saat aku menggunakan kunci, runenya akan menyebar ke seluruh tubuhku namun kini aku sudah bisa memfokuskannya di satu tempat.
"Huhh~.“
Rigel menghembuskan nafas.
Aku mengulurkan tangan kananku yang bersinar biru ke arah Ekhidna. Priscilla dan Miria juga nampaknya berhasil membawa monster yang mereka tangani di satu tempat.
"PASUKAN MUNDUR!!"
Priscilla mengaum.
Seluruh prajurit menjauh dan memberikan jalan untukku menyerang. Daerah tempat ketiga monster berkumpul sudah kosong, hanya menyisakan monster yang terus dilahirkan Ekhidna. Saat Priscilla dan Mirai sudah menjauh aku mengaum dan menggunakan skillku.
"DRAGON NOVA!!"
Sinar biru yang membutakan muncuk dari tanganku dan melesat menuju ketiga boss yang berkumpul di sekitar Ekhidna.
"Siieeee!!!"
"Roaaaaaarrrrr!!"
"Gaooo!!"
Ketiga boss monster menjerit karena seranganku.
Duaarrr!!
Ledakan keras menggema di sekitar dan awan debu menutupi daerah sekitar. Saat awan debu menghilang, tahta yang diduduki Ekhidna dan lantai sekitar hancur sangat para karena seranganku, bahkan ke tiga monster itu lenyap tak bersisa.
Ini kemenangan Kami!!