
Rigel menatap ke jendela, dia seakan mendengar ledakan dan kekuatan aneh dari kejauhan. Meski samar, dia dapat merasakan benturan kekuatan antara kekuatan alam dan satu yang sedikit unik. Lebih seperti kekuatan yang mirip dengan yang Alexei gunakan.
"Apa hanya perasaanku saja atau memang sesuatu benar-benar terjadi di belakang layar? apa mungkin Lucifer bergerak?"
Jika itu Lucifer, maka tentunya Rigel akan curiga. Dia adalah tipe orang yang membuat satu rencana diam-diam namun selalu mengenai dua target bersamaan. Dia sendiri tidak mempercayai bahwa Lucifer akan diam untuk beberapa waktu, meski akhir-akhir ini belum ada serangan apapun dari pihak iblis setelah invasi. Mungkin kematian Dante menjadi penyebab mereka diam karena tidak ingin kehilangan siapapun lagi.
Meski begitu, Rigel tidak yakin akan hal itu. Lucifer sendiri yang menyatakan bahwa bahkan tanpa adanya pilar iblis, dia masih jauh begitu kuat dan Rigel akui itu kenyataan.
"Namun, rasa pahit di lidahku dan perasaan yang ambigu ini... Sesuatu pasti sedang atau akan terjadi. Sepertinya aku harus mempersiapkan diri lebih jauh lagi."
Selagi sibuk berdebat dengan kepalanya, seseorang berjalan menghampirinya. Dia adalah Merial, yang nampaknya telah kembali dari Britannia untuk menjemput Natalia dan Leo.
"Tuan Rigel, aku telah menjemput Leo dan ibuku, Natalia. Saat ini dia sedang bersama Asoka mendiskusikan sesuatu dan untuk Leo, dia tengah pergi ke luar istana untuk menyapa Riri dan yang lain."
"Kerjamu cepat seperti biasanya, Merial. Kerja bagus... Lalu, bagaimana reaksi Leo ketika aku memanggilnya dan apa yang dia katakan?"
Merial mulai linglung atas pertanyaan Rigel. Wajar saja, karena dia tidak mengetahui hal apapun yang terjadi saat latih tanding.
"Umm, dia tidak mengatakan atau menunjukkan ekspresi khusus. Dia sama seperti biasanya."
"Begitu. Silahkan pergi."
Merial pergi dari tempat, sementara Rigel tetap bersandar di jendela dan menatap pemandangan luar. Ada banyak hal dan teka-teki yang perlu di jawabannya, namun untuk saat ini dia hanya akan melakukan yang paling mendesak yaitu pasar gelap bawah tanah, Darkness.
Mungkin ini kesempatan yang bagus untuk Leo mendapatkan pengalaman di ujung kematian yang benar-benar nyata. Batin Rigel.
Karena tidak ada hal yang harus di lakukan selama masa senggang ini, Rigel memutuskan menyejukkan diri dengan membasuh diri dengan air dingin pegunungan.
Setelah membasuh diri, Rigel menggunakan pakaian dengan jubah hitam yang terlihat jahat. Pelayan yang berjaga di depan pintu pemandian memberitahu Rigel bahwa Ray telah kembali. Jadi dia memutuskan untuk bergegas.
Begitu tiba, dia menemukan Ray dan seorang pria gembrot cebol berusia 40tahunan. Dia memiliki penampilan yang sedikit unik dan sangat mencerminkan seorang pedagang budak.
"Rigel, pria ini adalah orang yang kumaksud. Namanya..."
"Sungguh seribu hormat untuk dapat bertemu dengan Messiah dunia, Tuan Pahlawan Amatsumi Rigel! Saya benar-benar terharu karena kesempatan yang saya pikir tidak akan pernah terjadi! Perkenalkan, saya adalah Pedagang budak, panggil saja saya dengan apapun yang anda inginkan. Karena saya yang hina dan kotor tidak pantas menyebutkan nama di hadapan anda."
Dia membungkuk dengan sangat hormat dan terlihat seperti menangis. Rigel tidak percaya bila itu sungguhan, dia memiliki keyakinan bahwa itu hanya air mata buaya. Meski mencurigakan alasan kenapa dia tidak menyebutkan namanya, namun di lihat dari reaksi Ray sepertinya dia telah mengetahui alasannya. Rigel akan menanyakan rinciannya nanti.
"Yah, kalau begitu Cebol saja. Langsung saja, aku ingin kau menjadi pemandu arahku saat pergi ke Darkness. Sebagai gantinya, aku akan membeli banyak budak yang kau miliki dan memberi bayaran yang cukup, bagaimana?"
Mendengar itu dia mulai terkikik. Seperti yang di duga, tangisannya hanyalah akting. Dia benar-benar berbakat memainkan perannya, sungguh mengerikan.
"Itu memang tawaran yang hebat Tuan Pahlawan Amatsumi Rigel. Namun, saya menginginkan hal lain daripada uang."
Ekspresi Cebol kembali berubah, yang membuat Rigel curiga dengannya. Di sisi lain, Ray nampaknya tahu apa yang ingin di sampaikan dan wajahnya berubah sedih.
"Hal apa itu? jika kau meminta izin berjualan budak di Region, sayangnya aku akan menendangmu keluar."
"Ya, tentunya saya tahu bahwa anda menolak perdagangan budak. Saya tidak meminta harta ataupun izin. Saya hanya meminta satu, mohon, mohon balaskan dendam putraku yang di bunuh oleh jawara Fight To Death."
"Bukankah suatu kewajaran mati di pertarungan itu?"
"Benar, jika putra saya mati karena bertarung di arena, maka saya tidak akan mencoba membalaskan dendam. Namun, dia tidak pernah mendaftarkan diri dalam pertarungan itu. Dia hanya mencoba menolong temannya yang sedang bertarung, namun lawannya tidak melepaskannya dan membunuh putraku bersama temannya."
"Memangnya orang luar di perbolehkan memasuki arena?"
"Ya, namun dengan keadaan khusus. Seseorang yang boleh memasuki hanyalah orang yang bersedia memberikan barang berharganya demi nyawa petarung yang kalah."
Jadi begitu. Kini Rigel mengerti dengan betul garis besar yang terjadi dan mengenai Fight To End.
"Baiklah kalau begitu. Namun aku tidak bisa berjanji, tergantung keadaan aku mungkin tidak akan ikut dalam pertarungan itu."
Mendengar itu, Cebol mengangguk dan nampak tidak memaksakan kehendaknya.
"Baiklah, Tuan Pahlawan Amatsumi Rigel. Kalau begitu, saya siap mengantarkan anda kapanpun."
"Panggil saja Rigel."
Setelah mengatakan itu, Rigel undur diri dan melakukan hal lain. Dia pergi keluar istana untuk menemui Leo yang nampaknya membanggakan diri bahwa dia telah tumbuh besar. Di sisi lain, Riri dan anak-anak lain terlihat memerah karena cemburu dan sedikit marah akan provokasi yang di berikan Leo kepada mereka.
"Ahh! Kak Rigel!"
Riri menyadari keberadaan Rigel dan berlari menuju nya bersama anak-anak lain.
"Kak Rigel, tolong buat kami untuk tumbuh lebih cepat seperti Leo, sehingga dia tidak menyombongkan dirinya!"
"Yah, jika kau ingin tumbuh besar, makanlah yang banyak dan naikan levelmu. Lalu, jika ingin menaikan level, ajaklah Fang atau Red untuk menemani kalian. Aku tidak mengizinkan kalian pergi seorang diri."
Rigel mengusap lembut kepala Riri dan melewatinya, berjalan menuju Leo yang tetap diam.
"Leo, maafkan aku atas apa yang terjadi saat itu."
"Tidak apa, ayah! sebenernya, aku memang sedikit takut sampai saat ini, namun aku mendengar dari mama bahwa kamu sudah baik saja sekarang!" Leo tersenyum lebar seperti biasanya.
Mama? apa yang dia maksud adalah Tirith? aku akan membuat perhitungan kepadanya nanti.
"Jadi, apa yang kamu butuhkan sampai memanggilku, Ayah?"
"Ya, aku ingin mengajakmu pergi ke pasar bawah tanah, Darkness dan memberimu pengalaman nyata."
Ekspresi Leo berubah, tidak seperti yang Rigel bayangkan. Ekspresinya berubah kesal dan marah akan sesuatu setelah mendengar bahwa dia akan mengunjungi Darkness.
"Pasar gelap, Darkness?!"
Ahh~, sekarang Rigel ingat bahwa Leo dulunya adalah seorang budak. Dia mungkin memiliki beberapa pengalaman buruk di kota itu.