The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Hal absurd



"jadi kau tertarik dengan bagaimana ritualnya di lakukan ya?" Rigel mencibir.


Memang Rigel bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana ritual ini di lakukan. Namun di sini Rigel mencoba untuk sedikit mempersulitnya. Bahkan siapapun tahu, orang seperti Rigel yang begitu pelit akan segala hal mau mengungkapkan informasi sepenting itu secara cuma-cuma.


"Aku juga ingin mengetahui tentang itu Rigel. Ini hanya kemungkinan terburuk, jika misalkan kau atau orang yang mengetahui ritual kehilangan nyawanya, setidaknya kami mengetahui cara untuk membangkitkan Pahlawan baru." Hazama nampaknya juga ingin mengetahui tentang ritual melahirkan Pahlawan baru.


Rigel hanya menatap Hazama dalam diam dan menunggu bagaimana reaksi Pahlawan lainnya. Tidak lama setelah Hazama menyerukan pendapatnya, Takumi mulai berbicara.


"Bisakah kau memberitahukannya, Rigel? aku tidak berpikir bahwa kau akan terbunuh dengan mudah, namun tidak ada salahnya untuk mengungkapkan hal itu. Jika tidak, kepercayaan yang lain padamu akan berkurang."


Rigel menyadari bahwa tatapan dingin dari Pahlawan lain tertuju pada dirinya. Mereka pasti mengkhawatirkan bahwa Rigel akan membantai mereka semua dan memanggil Pahlawan yang dapat dia kendalikan semaunya. Kekhawatiran semacam itu tentunya sudah di duga.


"Kepercayaan? itu sesuatu yang absurd bagiku. Aku tidak membutuhkan hal semacam itu, yang aku butuhkan lah sesuatu yang berbentuk nyata," Rigel berkata dengan acuh.


Kepercayaan sesuatu yang tidak memiliki bentuk dan bahkan bisa menghilang tanpa di sadari, atau bahkan tidak pernah ada. Hubungan berdasarkan kepercayaan akan sulit di terima oleh orang-orang


yang belum Rigel kenal dengan lama. Berbeda cerita dengan Ray dan yang lainnya, yang sudah sangat dia kenal semenjak datang ke dunia ini. Akan tetapi—


"Yah, sepertinya aku akan mengungkapkannya. Aku tahu kalian mengkhawatirkan bahwa aku akan melakukan hal sewenang-wenang tentang ritual pembangkitan Pahlawan. Untuk melakukannya sangatlah mudah, kau hanya perlu memiliki kandidat yang cocok dengan senjata Pahlawan dan membuatnya mengucapkan sumpah di kuil pemanggilan Pahlawan, tempat kita di panggil ke dunia ini." Rigel menjelaskannya secara singkat dan mudah di pahami oleh yang lain. Meski begitu, mereka nampak ragu dan tidak percaya oleh penjelasan Rigel.


"Apa benar-benar seperti itu? aku merasa itu terlalu mudah untuk di lakukan. Kau tidak mencoba berbohong, kan?" Marcel menatap Rigel dengan tatapan dingin. Jelas dia tidak begitu mempercayai Rigel yang begitu pandai bersilat lidah.


"Justru karena begitu mudah melakukannya, aku sama sekali tidak berharap apapun saat mencobanya. Namun di dunia macam ini, hal sekecil apapun dapat mengejutkan kita." Rigel mengangkat bahunya dan tersenyum mengejek.


Bagi orang-orang bumi, dunia semacam ini mungkin tidak terlihat masuk akal. Manusia dapat menciptakan api dari satu jentikan jari, dapat mengeluarkan air dengan uluran tangan belaka. Di lihat dari manapun, hal-hal yang berhubungan dengan sihir semacam itu melampaui hukum fisika di bumi. Bahkan mahkluk yang hanya ada di cerita seperti iblis dan Naga benar-benar ada.


"Apa ada pertanyaan lain? jika tidak maka mari kita akhiri rapat hari ini dan mengurus persiapan kita masing-masing. Masih ada segudang masalah untuk kulakukan." Rigel menatap semua orang dan nampaknya tidak ada lagi yang perlu di bahas mengenai Phoenix atau pembangkitan Pahlawan.


Dengan begitu mereka mengakhiri diskusi dan untuk pertama kalinya para Pahlawan mengadakan makan malam bersama. Rigel tidak keberatan untuk melakukannya sehingga dia tidak menolak untuk menyantap makanannya di Britannia.


Begitu kembali ke Region, malam telah larut dan angin dingin malam hari bertiup dengan dinginnya. Pada jam-jam ini semua orang telah berhenti melakukan aktivitas mereka dan beristirahat. Wilayah yang hancur perlahan kembali pulih dan pemandangan cahaya terang lampu di setiap rumah sungguh melegakan.


Berkat system yang di buat Rigel, Region sudah berhasil mengatasi kegelapan malam dengan lampu-lampu yang di tenagai listrik menghiasi sepanjang jalan dan rumah-rumah.


Rigel tidak memutuskan untuk tidur dan dia pergi ke gunung tempat orang tua Asoka di makamkan. Di puncak gunung ini, pemandangannya tidak tergantikan dan sangat menenangkan.


Ada sisi lain dari diri Rigel yang berharap tempat semacam ini yang telah memberinya neraka untuk hancur saja. Namun ada juga bagian lain dari dirinya yang menginginkan dunia ini tetap ada, untuk tempat teman-temannya hidup bahagia.


"Perasaan yang sangat memilukan. Setidaknya pilihlah salah satu, kau membenci dunia ini atau tidak." Dari belakangnya, suara akrab Ozaru terdengar dan berjalan menghampirinya. Rigel bahkan tidak berusaha untuk menoleh ke arahnya.


Ozaru dengan tenang duduk di sebuah batu tidak jauh dari tempat Rigel berada, dan menatap pemandangan Region beserta bulan sabit indah di langit. Sebagai catatan, terkecuali bulan purnama, Ozaru tidak akan berubah menjadi wujud sejatinya hanya karena melihat bulan lainnya.


"Kau sendiri bagaimana? di panggil ke dunia yang tidak kau kenal tanpa persetujuan darimu... Pastinya menyebalkan, bukan?" Rigel bertanya kepada Ozaru, dia memang sejak awal sudah ingin mengetahui pendapat Ozaru, tentang dunia ini.


"Yah, jika di tanya bagaimana pendapatku, itu menyebalkan karena menculikku tanpa izin. Belum lagi, tidak ada betina Kera sepertiku di dunia ini dan itu sangat di sesalkan. Namun, bukan berarti aku membencinya, setidaknya di tempat ini tidak ada perang karena memperebutkan wilayah atau kekuasaan. Berbeda dengan duniaku sebelumnya, peperangan selalu terjadi kapan saja. Jadi, aku tidak membenci dunia damai seperti ini."


Sepertinya Ozaru memiliki nerakanya sendiri di dunia sebelumnya. Mungkin karena tidak adanya peradaban maju seperti umat manusia, ozaru beserta Ras yang tinggal pada masanya mungkin berpikir bahwa kekuasaan dan kekuatan adalah segala-galanya. Pastinya tidak jarang dia melihat reka-rekannya menghembuskan nafas terakhir di medan perang.


"Selain itu, aku menyadari bahwa aku mencintai seorang manusia. Jadi, tidak perduli apa yang akan terjadi kedepannya, aku akan bertarung sekuat mungkin."


Rigel tidak berpikir bahwa kata-kata yang di ucapnya sebuah kebohongan. Tidak, itu terlalu bagus untuk menjadi sebuah kebohongan belaka. Rigel memikirkan baik-baik untuk apa dia bertarung, alasan apa dia bertarung dan tujuan akhir macam apa yang akan dia raih di masa depan. Mungkin saja kebahagiaan? mungkin kegagalan? mungkin juga dunia yang hancur atau bahkan...


"Yah, untuk sekarang lebih baik kita fokus pada masalah yang akan datang. masih sangat banyak persiapan yang harus kita lakukan dan aku sedikit menantikan, tujuan akhir dari rencanamu ini. Jangan sampai mengecewakanku, Rigel." Ozaru menepuk lembut bahu Rigel dan berjalan kembali menuju Region.


"Aku sendiri tidak mengharapkan kegagalan, hanya saja, pertaruhan kali ini terlalu besar dan terlalu rumit..."


Meski dia mungkin bisa menjamin 100% keberhasilan, namun tidak akan pernah benar-benar ada kemungkinan sempurna. Presentasinya bisa berubah kapanpun, tergantung hal apa saja yang terjadi sebelum menuju hari H.


Ntah memahaminya atau tidak, namun Rigel berharap Takumi melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Belum lagi, masih ada suatu kebutuhan membuat Leo menjadi sangat kuat, setidaknya cukup untuk bersaing dengan ahli Pedang yang ada.


"Sepertinya aku akan mengajak Leo untuk Leveling... Goblin dan monster lemah tidak akan memberikan banyak pelajaran kepadanya. Kalau begitu, bagaimana dengan seekor Naga?" Rigel bergumam dan menentukan hal yang akan dia lakukan esok hari. Dia akan membawa Leo untuk berburu Naga, sebagai bentuk pelatihan darinya.


***


Jangan lupa mampir ke karya baru thor ya. Judulnya :


Legenda Pendekar Raja Naga.


ku tunggu kehadiran kalian...