
*Pakk.... ...
*Takkk.......
Suara adu pedang bergema di area pelatihan. Di sana, terdapat seorang pria yang sedang melatih seorang anak mengayunkan pedangnya. Pria itu adalah Rigel, yang tengah melatih Leo seni berpedang. Meskipun Rigel tidak terlalu pandai mengayunkan pedang, namun setidaknya dia jauh lebih baik dari guru pedang lainnya.
Rigel mengayunkan pedang kayunya di atas kepala Leo dan di tangkis oleh Leo dengan menyilangkan pedangnya di atas kepalanya. Leo memejamkan matanya saat pedang kayunya beradu dengan milik Rigel.
"Jangan memejamkan matamu! kau tidak boleh takut dengan serangannya, tetapi takutlah jika itu akan membunuhmu! perhatikan langkah dan gerak-gerik lawanmu baik-baik... Atur pernafasanmu, jika kau berada dalam pertempuran sungguhan, lawanmu tidak akan menunggumu menarik nafas." Saran Rigel kepada Leo.
"Baik...!!" Leo menarik nafas panjang dan melesat ke arah Rigel.
Leo menikamkan pedang kayunya seolah mengincar perut Rigel. Namun Rigel tahu bahwa itu hanya tipuan. Leo dengan cepat memutar tubuhnya bersama pedangnya dan berusaha menebas Rigel dari pinggangnya.
"Cukup bagus, Leo." Ujar Rigel.
Sebelum pedang Leo mencapainya, Rigel mengayunkan pedangnya dan mengincar pegangan Leo lalu memukulnya.
"Argh...!" Rengek Leo kesakitan.
Tangannya bengkak memerah dan pedangnya terlepas dari tangannya. Rigel mengarahkan bilah pedang kayunya ke leher Leo, pertarungan telah berakhir.
"tipuanmu cukup bagus untuk membodohi seekor Monyet. Namun itu tidak akan cukup untuk mengelabui orang yang sudah pernah mengalami situasi hidup dan mati. Namun kuakui bahwa kau dengan cepat belajar dalam seminggu ini. Tidak hanya seni berpedang, namun kau juga telah menghafal segala sistem dan senjata-senjata rahasia yang ku sembunyikan." Ujar Rigel.
Leo, adalah seorang bocah yang Rigel akui sangat berbakat. Dia dengan cepat belajar dan menghafal segala hal yang Rigel beritahu kepadanya dalam waktu seminggu ini. Oleh karena itu, Rigel memutuskan bahwa Leo akan menjadi orang kedua yang memiliki Otoritas untuk mengoperasikan Ciel, tentu saja jika Rigel sebagai pemegang Otoritas tertinggi mengizinkannya. Bahkan, Asoka yang seorang Raja dari Negri ini tidak memiliki kendali atas Ciel seperti Leo.
"Yah, kita akhiri pelatihan hari ini. Aku harus segera bersiap-siap untuk pergi ke menghadiri pertemuan Kaisar Surgawi. Aku akan menyerahkan yang di sini kepadamu, ingatlah untuk selalu mengabariku melalui Ciel jika sesuatu terjadi." Ujar Rigel selagi mengelap keringatnya.
"Baiklah, Ayah! aku akan mematuhi apa yang kau katakan!" Ujar Leo dengan semangat.
Rigel menatap Leo yang berbinar-binar dengan risih. Cara dia memanggil Rigel benar-benar membuatnya tidak nyaman dan akan menodai gelarnya sebagai seorang perjaka.
"Sudah kubilang, berhentilah memanggilku Ayah... Aku tidak masalah jika kau memanggilku, abang, kakak, atau semacamnya. Namun kau tidak boleh memanggilku Ayah! aku menjadi kasihan kepada ayahmu yang berada di atas sana." Ujar Rigel.
"Baiklah, aku mengerti. Ayah!"
"Tch... Bocah gak guna." Rigel mengutuk, namun dia tidak mengatakannya keras-keras.
Karena saat melihat Leo tersenyum seperti itu, Rigel menjadi tidak tega untuk menghancurkan senyumannya. Yah, setidaknya itu tidak akan menjadi masalah besar jika dia memanggil Rigel dengan sebutan ayah. Karena sudah tidak memiliki urusan di sini, Rigel memutuskan untuk memanjakan dirinya dengan mandi untuk membersihkan keringat dan lelah di tubuhnya.
Satu minggu telah berlalu dengan cepat, hari pertemuan Kaisar Surgawi telah tiba. Dalam jeda waktu seminggu itu, Rigel awalnya berniat untuk beristirahat selagi mengajari Leo dengan santai. Namun semua itu berubah ketika Priscilla datang menghantuinya di dalam mimpi. Isi mimpi itu berupa peringatan sebagai berikut...
"Bersiaplah... Bencana terbesar yang belum pernah kau alami akan datang menghampirimu... Jutaan nyawa akan hilang dalam sekejap... Ciptakan benda hebat dengan kemampuanmu sebelum terlambat..." Ujar Priscilla dalam mimpi Rigel.
Tubuh Priscilla terlihat bersinar dan dia tampak turun dari langit dan menyentuh wajah Rigel dengan kedua tangannya lalu perlahan, Priscilla kembali tertarik ke atas dan hilang.
"Ibuku, Ratu peri..... Menolongmu.... Kalahkan.... Tubuhku dan..... Jiwaku...."
Mimpi Rigel berakhir sampai di situ dengan suara Priscilla yang terdengar putus-putus. Kata terakhir Priscilla adalah "Jiwaku" hal itu pasti merujuk pada inti jiwa yang Rigel lindungi selama ini. Rigel dapat merangkai beberapa kalimat yang terputus, namun tidak satupun dari hal yang di pikirannya merujuk pada kebenaran.
Entah apa makna dari mimpi itu, namun Rigel tahu bahwa Priscilla seakan berusaha menyampaikan bahwa ancaman besar tengah mendekat. Rigel tidak yakin apa itu, namun ada dua hal yang terfikirkan olehnya. Yang pertama adalah pergerakan Lucifer setelah terbangun dari tidur panjangnya dan yang kedua, hal yang Rigel harapkan tidak terjadi secepat ini... Kemungkinan bahwa Ragnarok akan segera tiba.
Mau bagaimanapun, itu hanyalah sebuah mimpi, belum tentu apa yang di katakan Priscilla di dalam mimpi Rigel adalah sebuah kebenaran. Namun, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga sehingga Rigel mengabaikan keinginannya untuk beristirahat dan menciptakan lebih banyak kartu di lengannya.
Beberapa di antaranya adalah alat teleportasi yang hanya bisa naik dan turun, cara kerjanya sama dengan Lift di bumi. Yang kedua adalah alat komunikasi dan beberapa senjata. Lalu sebagai bonus, Rigel juga membuat beberapa bangunan seperti Observatorium dan lainnya.
Rigel telah selesai membasuh dirinya dan berkemas mengenakan pakaian. Rigel menggunakan celana panjang hitam dengan jaket levis hitam dan baju putih polos. Seperti yang kalian fikirkan, pakaian yang Rigel gunakan berasal dari bumi. Untuk berjaga-jaga, Rigel menyimpan inti jiwa Priscilla di dalam infertory. Rigel menggunakan sebuah kalung hitam dengan taring kecil Hydra sebagai pengganti inti jiwa Priscilla.
"Persiapanku telah selesai. Sekarang, mari kita pergi ke Ruberion dan membuat semua orang termasuk pahlawan di sana terkejut..." Gumam Rigel selagi bercermin.
Untuk saat ini, Rigel akan pergi menemui Asoka dan yang lainnya. Semakin cepat mereka pergi, semakin cepat pula Rigel bisa melihat wajah kaget dari orang-orang bodoh di Ruberios nanti.
Rigel telah mencapai ruang tahta, di sana, Asoka dan Meriah telah bersiap dan siap untuk berangkat kapanpun. Ray, Fang dan Leo juga berada di sana untuk mengantarkan kepergiannya. Sebagai catatan, Leo di izinkan tinggal di istana atas keinginan Rigel. Dia juga bebas keluar untuk bermain bersama Riri dan yang lainnya. Tersisa satu orang lagi saja yang belum bergabung.
"Sepertinya kalian sudah siap berangkat... Em? Dimana dia?" Tanya Rigel.
"Nampaknya dia masih di kamarnya... Mungkin sebentar lagi dia ke sini bersama Misa..." Balas Ray.
Panjang umur, baru saja di bicarakan, orang yang Rigel cari sampai di ruangan tahta.
"Aku sangat tidak mengerti, apakah kalian sangat menginginkan aku memotong bulu-buluku seperti ini? Jika kawanan ku melihatku, mereka tidak akan tertarik padaku, Monyet tidak berbulu..." Ujar Ozaru.
"Tenang saja, di dunia ini Monyet tak berbulu lebih terkenal di kalangan wanita... Belum lagi, wujudmu yang sekarang lebih tampan..." Ujar Misa, wajahnya sedikit memerah.
"Apakah begitu menurutmu? Hahahaha, bagus jika kau menyadari ketampanan ku..." Ujar Ozaru, tertawa riang.
Ozaru dan Misa terus bercakap-cakap selagi berjalan memasuki ruang tahta. Sejak kapan mereka menjadi seakrab itu? Yah, Rigel sedikit lega jika Ozaru tidak lagi menggerutu tentang penampilannya.
Saat ini, Ozaru telah setuju untuk tinggal di Region karena Rigel telah membuatkan makanan-makanan lezat yang belum pernah dia rasakan. Menurut Rigel, Monyet ini sangat gampangan. Dia dapat di bujuk dengan sangat mudah. Tidak hanya itu...
Karena Rigel merasa tidak nyaman melihat bulu yang berada di wajahnya, Rigel akhirnya memutuskan untuk membius Ozaru dan memotong bulunya dengan mesin cukur. Hasilnya mengejutkan, dia terlihat tampan tanpa bulu-bulu di wajahnya itu. Rigel tidak menyesal memotongnya namun Ozaru membuat keributan setelahnya sehingga Misa, pawang Ozaru harus turun tangan.
"Lihat penampilanmu sekarang? itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Belum lagi dengan pakaian yang kuberikan itu, menurutku cocok denganmu." Ujar Rigel, sedikit tersenyum.
"Aku mengerti bahwa selera betina di dunia ini seperti ini. Namun, aku masih belum memaafkanmu karena memotong bulu-buluku yang indah!" Ujar Ozaru, menunjuk Rigel.
"Aku tidak perduli dengan itu... Karena semuanya sudah berkumpul kita akan segera berangkat... Tapi sebelum itu..."
Rigel mengalihkan pandangannya kepada Misa. Dia ingin mengkonfirmasi sesuatu sebelum pergi ke Ruberios.
"Misa, aku ingin mengetahui bagaimana perkembangan penelitianmu tentang itu?" Tanya Rigel.
"Ya, aku dan tim penelitianku sedang menguraikan makna dari setiap katanya dan untuk batu ramalan, aku pikir sebentar lagi hasilnya akan terlihat." Ujar Misa.
"Begitu, baguslah... Jika ada sesuatu mendesak mengenainya, tolong hubungi aku melalui Leo." Ujar Rigel.
"Baiklah, kalau begitu aku harus kembali sekarang juga karena itu tidak bisa menunggu. Dan juga, semoga kalian selamat sampai tujuan, aku permisi dulu." Ujar Misa dan pergi meninggalkan ruangan.
"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang juga." Ujar Rigel.
"Kau benar, kita tidak boleh membuat mereka menunggu. Sejujurnya, pakaian yang kau sediakan untuk kami ini sangat nyaman, Rigel." Ujar Asoka.
"aku setuju denganmu, Yang Mulia. Pakaian ini lebih memudahkanku untuk bergerak jika sesuatu tak terduga terjadi." Ujar Merial.
Untuk Asoka, dia menggunakan jas yang terlihat seperti seorang Mafia ditambah dengan topinya. Sedangkan Merial, dia menggunakan baju tempur khusus yang di buat Rigel dengan menggabungkan pengetahuan dunianya dengan benda yang ada di dunia ini.
Pakaian Merial hanyalah baju berwarna putih dengan rok pendek berwarna merah dan juga kaus kaki hitam panjang. Bajunya mungkin tidak berbeda jauh dengan yang biasa dia kenakan.
"Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu, Merial? Jujur saja aku lebih nyaman jika kau memanggilku dengan namaku." Ujar Asoka.
"Baiklah kalau begitu, Asoka. Namun aku akan memanggilmu Yang Mulia saat di Ruberios demi menjaga kehormatanmu." Balas Merial.
"Yah, aku senang jika kalian menyukai pakaian itu. Sekarang, mari kita berangkat..." Ujar Rigel.
"Baiklah... Fang, Ray dan juga Leo, kami serahkan kerajaan ini kepada kalian..." Ujar Asoka.
Secara serempak, Ray, Fang dan Leo memberi hormat kepada Asoka. Tanpa perlu membuang waktu lagi, Rigel membawa Merial, Asoka, dan Ozaru pergi ke Ruberios. Kebetulan, Rigel telah menempatkan titik teleportasi di Ruberios saat menjemput orang-orang yang di minta Hazama. Jadi hal itu mempersingkat perjalanan mereka.