
...The Legends Of Creator Hero : SEASON 3!!!...
"Kau... Siapa?"
Dua kata singkat, namun menusuk begitu dalam ke dada. Untuk beberapa saat, Rigel tidak dapat memproses ingatan karena begitu terkejut, namun dia dengan cepat kembali mendapatkan dirinya.
"Kau, tidak mengingatku?"
Priscilla mencoba duduk, namun tidak bisa. Tubuhnya masih terlalu lemah karena lebih dari 100 tahun berbaring. Dia hanya bisa terus berbaring dan menyentuh kepalanya selayaknya sakit kepala.
"Aku... Wajahmu, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat... Aku, ingatanku masih kacau."
Selama tidur panjangnya, dia serasa melihat mimpi yang berjalan begitu lama dan membosankan. Sampai akhirnya sosok pria datang ke dalam mimpi itu dan membuatnya menjadi lebih berwarna dan hidup ketimbang sebelumnya.
Selagi menggali kenangan dalam ingatan, sebuah wajah muncul dan wajah itu berada tepat di depannya. Hatinya berdegup kencang, sangat kencang namun menenangkan. Hatinya melompat gembira, lalu sedih setelahnya karena alasan yang tidak di ketahui.
"Priscilla? ada apa? kenapa kau menangis?"
Rigel sontak terkejut, melihat air mata jatuh dari mata Priscilla. Pemikiran bahwa Priscilla tidak benar-benar melupakannya muncul.
"Wa-wajahmu, aku merasa tidak asing. Seakan pernah melihatnya di suatu tempat, mimpi yang sangat panjang..."
Mimpi yang sangat panjang, mungkin di maksudkan tentang Labyrinth neraka. Di banding Rigel, Priscilla sudah lebih lama berada di Labyrinth neraka. Mungkin sebagian besar kenangan itu menghilang, di karenakan Priscilla tetaplah manusia meskipun hampir setengah peri.
Dia tidak akan dapat menampung ingatan yang begitu panjang, tidak aneh jika banyak ingatannya di sana menghilang. Tidak terkecuali ingatannya tentang Rigel.
Meskipun Priscilla tidak mengingatnya, di lihat dari reaksi sedih dan bahagia ketika melihat wajahnya, Rigel tahu dia benar-benar tidak melupakannya. Jauh di dalam ingatan dan hati kecilnya, dia masih memiliki tempat di hati Priscilla. Dia hanya bisa menghela nafas lega, bersyukur bahwa dirinya tidak benar-benar di lupakan.
"Sebaiknya kau beristirahat dan memilah informasi dalam kepalamu terlebih dahulu. Kuyakin kau akan mengingatnya secara perlahan."
Meninggalkan kata-kata itu, Rigel berpamitan dengan Sylph dan Priscilla. Meski dia ingin tinggal lebih lama lagi, keadaan memaksanya menuruti keegoisannya. Ada begitu banyak hal yang perlu di lakukan, namun untuk saat ini hal pertama yang di lakukannya kembali ke tempat pertarungan dengan Phoenix.
Dia telah menambahkan Vulcan sebagai titik teleportasi sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke sana. Setibanya di sana, hanya kehancuran dan lahar yang mengalir ke berbagai tempat yang dia lihat.
Kerusakan dari ledakan jauh lebih buruk dari yang di perkirakan. Beruntung bahwa mereka dapat berpindah dengan cepat, jika tidak, bahkan tulang tidak akan tersisa.
"Namun tetap mengejutkan, dengan ledakan sebesar itu, gua di gunung itu tidak runtuh."
Rigel tepat di depan gua Gunung tempat Phoenix tinggal sebelumnya. Tujuannya bukan hanya mencari RuneStone yang di tinggalkan Phoenix, tetapi dia sudah begitu tertarik mengetahui apa yang ada di dalam gua.
Meskipun kondisi tubuhnya saat ini begitu kelelahan dan cukup memprihatinkan, setidaknya dia masih sanggup mengalahkan beberapa ekor Naga.
Rigel hendak mengambil langkah maju untuk memasuki gua, namun di hentikan dengan kilauan misterius yang berasal dari tanah, tidak jauh dari lokasi pertempuran. Awalnya dia berpikir itu hanya kristal biasa, namun rasa keingintahuan nya menolak untuk mengabaikan.
Dia pergi menghampiri kristal itu dan menggalinya. Rigel terkejut dengan apa yang di temukannya, sebuah batu dengan ukuran Rune dan mengeluarkan api kebiruan. Tidak salah lagi, hanya satu benda yang memiliki bentuk seperti ini, RuneStone.
"Heh, kupikir akan jauh lebih sulit menemukannya. Aku tidak menduga akan ada keberuntungan semacam ini. Benar-benar mengerikan."
Sihir besar meluap-luap di dalam sebuah batu, api putih kebiruan menyinari garis Rune dengan cemerlang. Api yang bahkan Hazama hampir tidak sanggup menahannya dan api yang tidak bisa dengan mudah kembali menjadi kehampaan.
Purgatory, atau api penyucian, jelas sekali bukanlah api sembarangan. Api yang bahkan tidak bisa di hapus oleh Void tanpa mendominasi nya jelas api yang kuat. Rigel tidak hanya menginginkan untuk dirinya saja, dia tidak ingin kekuatan ini jatuh ke tangan orang lain. Jika itu memang harus jatuh, maka jatuhlah ke tangannya atau orang yang benar-benar di percayai olehnya.
Setelah menatapnya sesaat, Rigel tanpa ragu menyerap kekuatan di dalamnya yang meluap-luap. Tubuhnya terasa hangat, ketika kekuatan baru meresap ke dalam dirinya hingga batu di tangannya menjadi debu karena kekuatannya telah di rebut. Sebuah pesan mulai muncul dalam layar pandangnya.
Sistem yang lama tak di lihat, sistem aneh yang Rigel hampir tidak membutuhkannya lagi kini muncul dalam layar pandangnya. Karena sudah begitu lama tidak di gunakan, sesekali Rigel ingin melihat statistiknya setelah sekian lama.
Begitu dia membukanya, dia terkejut dengan Levelnya yang kini telah tiada. Awalnya dia bingung, namun setelah di perhatikan, statistiknya tetaplah tinggi. Dia ingat tentang sesuatu yang di katakan Azartooth.
Para dewa dengan egois menanamkan belenggu yang dapat mencegah umat manusia berdiri sejajar dengan para dewa. Belenggu itu di kenal dengan 'Index' sist yang saat ini Rigel otak-atik. Jika bisa, Rigel ingin menghapus sesuatu yang sudah tidak berguna lagi baginya. Selain itu, selama ini Rigel tidak pernah mengandalkan Index, terutama semenjak dia memiliki Ciel bersamanya.
"Yah, kupikir sistem ini akan menghilang sendiri, saat aku benar-benar melampaui level Maximum." Rigel memilih mengabaikan lagi sistem index.
Di dunia ini, mungkin dia akan menjadi orang pertama yang mencapai level tertinggi. Entah bisa atau tidak, Rigel berniat melampaui pembatas itu dan menghancurkan Index dengan tangannya sendiri.
Rigel akan menyimpan pemikiran itu untuk nanti, kini ada hal penting yang berada tepat di depannya. Dia melangkah masuk ke dalam gua yang anehnya terasa dingin meski berada di tempat dengan iklim terburuk.
Jauh di depan sana, meski samar dia dapat merasakan energi yang pernah dia rasakan ketika berada di punggung Tortoise. Jika perkiraannya tepat sasaran, maka segala hal untuk pencariannya akan menjadi mudah.
*KRAK!
Dinding di sekitar mulai retak, beberapa monster api dengan wujud serigala keluar dari dinding yang retak. Seperti yang di diduga dari tempat dengan energi alam yang besar, monster bisa muncul di manapun sehingga tidak ada waktu untuk bersantai.
"Mungkin ini menjadi kesempatan yang bagus bagiku mencoba kekuatan baruku."
Saat ini dia tidak memiliki mood yang baik untuk bermain-main dengan keroco, jadi dia akan menyelesaikannya dengan cepat. Rigel menjentikkan jari kanannya dan membuat percikan api putih kebiruan.
Api putih kebiruan terbentuk di telapak tangannya, Rigel tanpa ragu melemparkannya ke sekawanan serigala api dan membakar mereka bersamaan. Begitu mengejutkan, api putih itu bahkan dapat membakar api yang berasal dari para monster itu.
Tidak hanya itu, meski bahan yang membuatnya menyala telah habis, api itu tidak kunjung padam dan tetap menyala tanpa tanda-tanda akan padam. Rigel menjentikkan jarinya lagi dengan niat mematikannya dan benar saja, api itu padam sesuai permintaan.
Itu memang benar-benar sesuatu namun tidak ada waktu yang bisa di sia-sia kan lebih dari ini. Dia kembali melangkah masuk semakin dalam menuju Gua. Semakin jauh dia pergi, semakin minim juga cahaya yang dia lihat, hingga Rigel harus menyalakan api di tangannya.
Semakin dia masuk, semakin jelas energi sihir yang di rasakan. Begitu besar, begitu murni dan begitu mengerikan. Di ujung jalan, Rigel menemukan seberkas cahaya kebiruan dan mematikan api di tangannya. Dengan cepat Rigel berlari ke arah cahaya itu dan sepenuhnya di selimuti oleh cahaya.
Setelah matanya beradaptasi dengan cahaya, dia terkejut sekaligus senang bahwa perkiraannya tidaklah meleset. Dengan begini, misi pencarian tidak di perlukan karena dia sudah menemukannya.
Tempat yang terlihat seperti kuil, dengan patung yang menunjuk ke satu tempat, sebuah kristal yang melayang di udara dan menentang hukum gravitasi. Di bawahnya terdapat sebuah patung kecil yang mengangkat kedua tangan, lantai di sekitar berbentuk bundar dengan huruf sihir yang tidak di pahami Rigel.
"Sesaat sebelum aku lenyapkan Tortoise tanpa sisa, jadi tempat ini benar-benar ber teleportasi dengan sendirinya ya. Benar-benar mengejutkan, bahwa aku akan menemukannya semudah ini, Batu ramalan."
Salah satu dari delapan batu ramalan yang terbuat langsung dari tubuh Pahlawan generasi sebelumnya. Bersama dengan patung di sekitarnya, batu ramalan yang sebelumnya berada di punggung Tortoise kini berada di gunung tempat Phoenix tinggal.
Sejak awal, Rigel memang berniat membentuk regu khusus untuk mencari keberadaan batu ramalan, namun tidak terduga dia menemukannya secepat ini.
Tujuan Rigel mencarinya adalah untuk memindahkannya, tentu sebagai percobaan. Dia selalu berpikir keras, tentang apa yang akan terjadi ketika dua batu ramalan saling berdekatan?
Ini adalah salah satu teka-teki yang di temukan Nadia saat melepaskan segel yang tertanam pada Phoenix. Teka-teki itu menyebutkan tentang bintang akan bergabung menjadi satu kesatuan atau semacamnya.
Jika itu menyangkut delapan bentuk, maka batu ramalan akan berada di tempat pertama dalam pikiran Rigel. Pastinya ada sesuatu yang lain tentang batu ramalan. Batu itu tentu bukan hanya meramalkan segala kejadian yang berhubungan dengan Ragnarok, pasti ada sesuatu yang lain.
Ada terlalu banyak misteri di dunia ini yang sama sekali tidak terpecahkan. Rigel tidak menyukai teka-teki karena membuatnya berpikir keras, namun dia tidak membenci untuk memecahkan teka-teki yang ada.
"Baiklah, sekarang, mari kita pikirkan cara membuat teleportasi kuil Batu Ramalan ini dapat aktif dan memindahkannya ke Region, lebih tepatnya sarang tempat Red tinggal."