
"Hah! hah! hah!"
Semua selain Rigel terengah-engah begitu mereka tiba di Region. Beberapa detik sebelumnya, mereka benar-benar hampir mati akibat terkaman White tiger. Bagi mereka, itu pertama kalinya berhadapan langsung dengan eksistensi diluar nalar mereka.
Tidak ada hal lain, selain kata mengerikan yang dapat terucap. Mengingat dia menempuh jarak yang sangat jauh dengan kecepatan gila, dapat dipastikan White Tiger sangat unggul dalam kecepatan dan serangan.
"Itu..., pengalaman pertamaku..., berhadapan..., dengan malapetaka," Odin tak dapat bicara dengan benar. Tubuhnya masih gemetar ketakutan atas mahkluk yang berada diluar nalarnya.
"Itu memang hampir saja. Telat sedikit, kita akan mati," ujar Gahdevi.
Rigel mengabaikan percakapan mereka dan dengan terburu-buru menuju ruang kendali untuk melakukan panggilan kepada Pahlawan lain.
"Asoka, segera siapkan pasukan dan antar para dwarf ke tempatnya. Lalu, panggil Ozaru, Takumi dan Yuri untuk segera menemuiku di aula."
"Ya."
Dikarenakan Rigel meminta bantuan mereka sebelumnya, ada kemungkinan besar bahwa Takumi dan Yuri tengah singgah di Region, untuk menikmati berbagai hal yang ada di Region.
Tanpa membuang waktu, dia pergi menuju ruang kendali. Di sana sunyi, tidak ada siapapun selain gema roda gear yang berputar. Rigel bersandar pada kursi yang telah lama tak ditempati dan mengakses komputer super canggih yang bernama Ciel.
"Ciel, aktifkan perbaikan lengan otomatis tanpa batu sihir. Lalu, hubungkan panggilan kepada radio yang berada di tangan Pahlawan lain."
..."Menjawab : Ya..., perintah akan dilaksanakan!...
......Sistem perbaikan otomatis diaktifkan......
...pemanggilan terhadap 10 radio yang dimaksud telah terhubung."...
Seperti biasa bila Ciel selalu bekerja dengan cepat. Lengan laba-laba yang terbuat dari besi perlahan bekerja otomatis dan menyambungkan lengan palsu kepada Rigel.
Panggilan terhubung, Marcel dan Pahlawan lain termasuk Ray yang berada di Ruberios.
"Ada apa?? sangat jarang bagimu menghubungi kami bersamaan," ujar Marcel.
"Ya, memang mendadak, tapi aku ingin kita berkumpul dan membahas sesuatu. Karena tidak ada banyak waktu, aku akan menjelaskannya sekarang juga," nada yang dikeluarkan Rigel terdengar serius.
Meski tidak dapat melihatnya, dia tahu bahwa Marcel dan yang lain tertegun akan perkataan Rigel. Tanpa perlu mengkhawatirkan mengenai mereka, dia melanjutkan perkataannya.
"Aku ingin kita bersiap untuk menghadapi white tiger. Beberapa saat lalu, aku hampir mati dihadapannya. Karena itu, persiapkanlah diri kalian dan berkumpul di Ruberios, aku akan menjemput kalian di sana. Lalu satu hal lagi, ada hal penting yang patut kuberitahu kepada kalian nanti."
Hal penting yang dimaksud berupa sosok misteri yang dia hadapi sebelumnya. Ada keperluan untuk memberitahu mereka, agar tidak melakukan hal gegabah bila bertemu sosok itu.
Rigel sengaja untuk berhenti bicara dan memberi waktu bagi mereka untuk bertanya. Tentunya, dia tahu hal apa saja yang akan dipertanyakan oleh mereka.
"Tunggu-tunggu! bukankah itu terlalu mendadak?! Jika kau berkata hampir mati oleh mahkluk itu, lantas kau telah bertemu denganya sebelumnya??"
"Ya. Jika saja teleportasiku terlambat sedikit, aku dapat menjamin tidak akan pulang tanpa luka berat."
Sebelum kemunculan White tiger, kondisi Rigel sendiri tidaklah terlalu baik, karena dia menahan serangan kuat dari orang misterius sebelumnya. Tidak hanya itu, bahkan tangan kirinya dihancurkan dengan sangat mudah. Tidak akan mengejutkan bahwa dia akan kalah jika bersikeras melawan macan putih.
"Selain itu, pergerakannya terlalu cepat, jika dia serius mencariku. Ku yakin bahwa dia dapat menemuiku hari ini, mengingat kecepatannya secepat cahaya," ujar Rigel.
Dalam satu detik, cahaya dapat menempuh sekitar 300 ribu kilometer. Dia tidak tahu hal pastinya, namun kemungkinan White tiger dapat mengimbangi kecepatan cahaya. Sangat mungkin bagi white tiger untuk mencapai Region dengan cepat. Namun, untuk beberapa kasus, sepertinya Whte tiger tidak melakukannya. Mungkin saja dia berpikir bahwa Rigel tidak mengancam hidupnya sama sekali, sehingga tidak ada keperluan baginya untuk mengejar.
"Pokoknya, persiapkanlah diri kalian hari ini dan aku akan menjemput kalian sore hari," Rigel menekankan pada mereka untuk bergerak cepat.
"Bagaimana dengan Hazama??" Petra menyela, "Apa dia telah siuman?"
Rigel sendiri tidak tahu bagaimana keadaan Hazama, namun untungnya dia mengirim Ray ke sana.
"Untuk itu, dia baik saja. Dia telah sadarkan diri, namun dia masih belum dapat bertarung dan tengah beristirahat, jadi aku sengaja mengambil radio yang dia pegang agar tidak ada kekhawatiran yang dia miliki."
"Keputusan tepat, Ray. Kita tidak bisa membiarkannya terus khawatir selagi memulihkan diri. Karena itu, dengan absennya Hazama, pertarungan akan sulit."
"Huh, padahal belum lama ketika kita melawan Phoenix," Aland menghela lelah dan mengucapkan keluhannya.
Bahkan Rigel tidak bisa mengatakan apapun, mengingat bahwa pertarungan dengan Phoenix masih segar dalam ingatannya. Sekarang, mereka harus dipaksakan menghadapi White tiger, lalu Naga hingga akhirnya peperangan Ragnarok.
"Mengingat bahwa tidak ada pertarungan mudah yang akan kita hadapi, aku sedikit senang karena dapat bertahan sejauh ini. Lalu, aku berharap tidak ada lagi kematian diantara kita," ujar Takumi.
Sesuatu tentangnya membuat Rigel penasaran. Dilihat bagaimanapun, dia nampak terlalu menjunjung tinggi nyawa orang-orang yang dikenalnya. Bahkan ketika Rigel mati di jurang, Takumi memulai perjalanan dengan tujuan membalaskan dendam Rigel dengan membunuh Diablo.
Padahal dia dan Takumi tidak dekat atau jauh. Memang mereka sering melakukan hal bersama, namun tidak ada satupun hal yang membuat mereka menjadi sohib pada masa itu.
"Ya..., semoga tidak akan ada lagi," Nadia sependapat dengan Takumi.
"Kematian sesuatu yang tidak pasti namun pasti akan datang. Untuk itu kita perlu merangkul tangan dan bekerja sama untuk tetap melihat hari esok," ujar Marcel dengan kebanggaan tertentu.
Takumi dan yang lain secara serempak mengatakan 'Ya!' namun Rigel hanya mendengus seakan itu sedikit lucu. Sejujurnya ini bukan sifat dan tempatnya untuk mengatakan hal ini, namun tetap saja akan dia katakan.
"Ya..., mari lakukan yang terbaik."
Semua mematikan panggilan mereka dan memulai persiapan. Butuh beberapa waktu untuk lengan kirinya kembali terpasang sempurna sehingga dia akan menunggu sedikit lagi sebelum menghadap para budak dan kesatria barunya.
***
Sekitar 15 menit dibutuhkan untuk memasang lengan palsunya dengan sempurna. Rigel pergi ke aula kerajaan dan menemukan Yuri, Takumi, Ozaru, Tirith, Asoka, Merial dan Natalia.
"Maaf menunggu lama... Dimana Gahdevi, Odin dan Leo berada?"
Keberadaan ketiga orang itu tidak diketahui. Rigel juga penasaran tentang keberadaan Moris yang tidak dia lihat semenjak kekacauan di kota Darkness. Kemungkinan terburuknya, Moris mungkin tewas karena amukan Marionette.
"Mereka tengah bersama orang-orang baru yang nampaknya tidak dapat tenang. Keberadaan Gahdevi dan Odin yang telah mereka kenal mungkin dapat meredam kegelisahan mereka," Asoka menjawab dengan tenang.
"Selain itu, aku tidak menduga bahwa kau benar-benar membawa ras Dwarf yang hampir punah, Rigel," Tirith juga menyerukan pendapatnya.
"Tentu saja..., namun, bagaimana dengan White tiger?? Apa kau dan para Pahlawan yakin tidak perlu mendapat dukungan apapun??"
Mendengar nama dari monster malapetaka, Tirith dan Natalia terkejut. Di lain sisi, Merial telah mendengar situasi dari Rigel melalui telepon, jadi dia tidak lagi terkejut. Untuk Ozaru, dia mungkin sudah mendengar sedikit cerita dari Asoka namun tentunya dia ingin mengetahui lebih rinciannya.
"Aku hargai kekhawatiranmu, namun membawa orang-orang tidak berguna hanya akan menjadi beban lain. Selain itu, kau seharusnya sudah merasakan dan melihat kecepatan gila monster itu."
Asoka meneguk air liur dan mulai berkeringat begitu mengingatnya. Dia tidak menduga bahwa aura yanh dipancarkan monster malapetaka sangatlah mengerikan. Belum lagi, mengenai kecepatan White tiger, hanya kata 'tidak masuk akal' yang dapat terpikirkan.
"Aku setuju dengan Rigel. Membawa mereka sama artinya mengantarkan mereka menuju kematian. Kita hanya cukup membawa orang-orang berkemampuan saja," Ozaru sependapat dengan Rigel.
"Lalu," Takumi menyela pembicaraan, "Mengenai White tiger ini, apa kau telah mengetahui keberadaanya??"
Semua tatapan orang-orang tertuju kepada Rigel. Tentunya tidak akan mudah mencari keberadaa monster seperti itu, namun Rigel telah menyadari satu hal tentangnya.
"Aku tidak yakin benar atau tidak, namun setidaknya terdapat peluang 50:50 mengenainya. Yah, akan kujelaskan nanti, saat semua orang berkumpul."
Akan menyusahkan bila harus menjelaskannya dua kali, jadi pilihan bijak menjelaskannya ketika semua orang berkumpul.
"Berbicara tentang mereka, bagaimana cara mereka ke sini?? Seingatku tidak ada satupun diantara Pahlawan yang telah menandai Region sebagai titik teleportasi," ujar Yuri.
Hal itu Rigel lakukan demi menghindari Takatsumi menyerang Region ketika Rigel tidak ada di sana untuk melindungi. Namun dia telah memastikan bahwa tidak ada penghianat lain diantara mereka, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Karena itulah manfaat kalian berdua berada di sini. Jangan berpikir kalian dapat berbulan madu gratis di Region. Kalian tandailah Region didaftar teleportasi dam jemput mereka. Ray berada di sana dan jika kekurangan orang, ada Merial yang siap membantu."
"Ka-kami tidak berbulan madu?! mengapa kau menganggapnya seperti itu??"
Diluar perkiraan. Rigel berpikir Yuri yang akan memprotes leluconnya, namun nyatanya Takumi bereaksi lebih dari yang dia pikirkan. Wajah Takumi sedikit memerah, sementara Yuri benar-benar merah padam.
"Tidak perlu menyembunyikan hubungan kalian dariku. Aku tahu kalian telah skidipapap tidak lama ini."
Rigel terus memojokan Yuri dan Takumi agar mereka mengakui hubungan yang sudah terlihat jelas. Memandang Takumi dan Yuri yang merona, Tirith dan yang lainnya sedikit terkekeh akan pemandangan menyegarkan ini.
"K-k-kau semakin menjadi ya, Rigel..., jangan mengatakan kata-kata tak berdasar semacam itu," ujar Takumi.
"Huh? jika begitu kembalikan alat kontrasepsi yang kuberikan padamu."
Takumi langsung terdiam. Dia tidak dapat mengatakan apapun lagi dan sangat mudah ditebak bahwa dia telah menggunakannya. Yah, tidak baik terus menggodanya, jadi sebaiknya dia berhenti di sini.
"Huh, dengan begini aku telah menghilangkan sedikit rasa stresku. Sebelum pertemuan nanti malam, aku akan menemui beberapa kenalan terlebih dahulu untuk membahas hal penting," Rigel memilih berjalan keluar ketimbang melakukan teleportasi.
"Sepertinya kau benar-benar orang yang sibuk, ya," ujar Yuri.
"Huh~, meski aku ingin menamparmu, namun tidak baik membuang waktu di keadaan seperti ini, ya," Takumi tersenyum lelah dan bersama Yuri, dia pergi ke Ruberios.
Begitu Rigel sampai di luar, dia mengubah arahnya ke halaman istana dan menemukan seluruh budak yang dia bawa dari Darkness berkumpul di sana, tanpa terkecuali Dwarf. Di sana, berdiri Leo, Odin, Gahdevi, Theresia dan Garfiel yang nampaknya tengah melepaskan rantai di leher para budak.
"Ayah!! Apa kau baik-baik saja?!"
Leo menyadari Rigel mendekat dan menyerukan kekhawatirannya. Seharusnya dia telah mendengar rinciannya dari Gahdevi dan Odin, namun Leo tetap mengkhawatirkannya.
Theresia juga nampak sangat terkejut melihat wajah Rigel. Dia pasti telah mendengar dari Garfiel bahwa identitas Matsu yang sebenarnya adalah Pahlawan Creator. Theresia nampak merona dan ingin mengatakan sesuatu, namun dia menahannyakarena itu bukan hal penting.
"Ya. Aku telah selesai mengganti lenganku, jadi tidak ada masalah. Bagaimana keadaan mereka??"
"Setidaknya mereka tidak lagi terlalu gelisah, namun jauh dari kata baik-baik saja," Odin menjawab dengan sedikit bermasalah.
"Terutama para dwarf, mereka tampak tidak terlihat memiliki kehidupan apapun di matanya," Gahdevi melanjutkan.
Rigel menoleh kepada para Dwarf yang berkumpul dan mengasingkan diri dari budak lain. Mereka menyadari Rigel mendekat dan berlutut kepadanya dengan hormat. Rigel menghitung bahwa nampaknya ada 28 Dwarf. Jumlahnya lebih banyak dari yang seharusnya, namun tak apalah karena itu tidak merugikannya.
"Tuan, silahkan beri kami yang rendah ini pekerjaan dan senjata yang anda inginkan...," ujar orang yang nampaknya pemimpin mereka.
Kurcaci atau Dwarf memiliki penampilan unik yang menjadi ciri khas mereka. Bertumbuh pendek, memiliki janggut panjang dan otot-otot tubuh yang besar sehingga mereka lebih terlihat cebol ketimbang berotot.
"Benar juga. Untuk saat ini sebaiknya kalian beristirahat dan membersihkan diri. Tidak hanya para dwarf, tetapi kalian semua. Bau tubuh kalian sangat menyengat, jadi bersihkanlah terlebih dahulu. Tirith dan Natalia akan membawakan pakaian dan makanan. Lalu, kalian akan diarahkan menuju tempat yang akan menjadi rumah kalian."
Para budak mengangkat alis, terutamanya para Dwarf yang benar-benar terkejut dan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
"Maafkan atas kelancangan ini, namun, apa saya tidak salah mendengar??"
"Ya..., mungkin kalian tidak akan mempercayainya. Namun kalian akan tahu setelah orang-orangku menjelaskannya. Tentang alasan dan mengapa aku menamai negara ini Region."
Semua telah mengetahui alasannya, terutama rekan lamanya seperti Asoka, Ray dan Misa. Tirith juga mengetahuinya, karena Rigel pernah berjanji akan membuat surga tanpa perbudakan.
"Ada banyak hal yang perlu kulakukan, jadi aku tidak ada waktu untuk kalian saat ini. Gahdevi, Odin. Kalian saat ini telah kuterima di Region. Jadi, manjakanlah diri kalian dengan bersantai dan mempelajari lebih banyak negara ini, Leo akan menemani kalian. Kalau begitu, aku pamit," meninggalkan itu, Rigel melompat terbang tanpa perlu menunggu jawaban mereka.
"Gila..., padahal aku ingin memuji kekuatannya, namun tuan Pahlawan benar-benar diluar akal sehat," gumam Gahdevi, menatap Rigel yang terbang menjauh kesuatu tempat.
"Berbicara mengenai diluar akal sehat, aku tidak menduga bila kau adalah ras Raksasa, Gahdevi," ujar Odin.
Gahdevi hanya mendengus dan tersenyum, "Ya..., aku akan menjelaskannya nanti saat tuan Pahlawan ada waktu."
Kembali ke Rigel, dia tiba di tempat yang menjadi tujuan pertamanya, hutan Region. Menyadari seseorang mendekat, sepasang mata menyeramkan dapat terlihat di tengah kegelapan gua.
"Sepertinya kau terlalu banyak nganggur dan tidur sepanjang hari, pak tua. Yah, biarlah..., lama tidak jumpa, Red."
Tujuan pertamanya adalah ras Naga murni yang tinggal di hutan Region karena kontraknya dengan Rigel.
"Meski kau bilang begitu, bagiku kita belum lama bertemu. Jadi, nampaknya kau datang membawa sesuatu yang menarik untuk dibicarakan denganku."
Rigel tersenyum dan berpikir, 'Hehe, dia cepat menangkap niatku,' lalu berjalan mendekatinya.
"Ya..., mari kita dengar beberapa kisah nostalgiamu," ujar Rigel.