
Tiba di Britannia, sebuah negara maju yang cukup Damai namun memiliki diskriminasi besar antara manusia dan setengah manusia. Meski sudah berada dalam genggamannya, Rigel belum memiliki niat untuk mengubahnya karena akan menimbulkan kecurigaan besar. Altucray terkenal karena membenci setengah manusia, saat dunia tahu dia menghilangkan diskriminasi yang telah di tetapkan, maka bukan hal aneh untuknya di curigai.
Rigel saat ini berada di taman kerajaan yang memiliki beberapa tempat yang terbakar. Mungkin karena bomb Molotov yang dia lemparkan dengan iseng, untuk mengetahui cara kerja sihir pelindung negara ini. Namun yang mengejutkannya bomb ini dapat masuk dengan mudah sehingga membakar sebagian taman kerajaan. Untuk masalah ini, menutup mata adalah jalan terbaik.
"Sekarang, mari kita temui budak jelek itu." Rigel bergumam selagi mengambil langkah menuju kerajaan, Tirith mengikutinya dari belakang.
Sejauh ini Rigel tidak menemukan Takumi dan Pahlawan lain dari tempat ini. Ada kemungkinan bahwa Takumi menggiring Takatsumi dan Yuri untuk leveling bersama. Nampaknya dia mengikuti arahan yang di berikan dengan sangat baik. Kemungkinan besar Ray telah menghubungi mereka semua, dan Takumi mungkin tahu apa yang harus di lakukannya.
"Budak! dimana kau budak!" Tiba di ruang tahta, Rigel berteriak memanggil Altucray yang tengah duduk seorang diri di singgah sana yang baru saja di perbaiki.
"Berhenti memanggilku budak! Apa yang kau inginkan?!!!" Dengan kesal Altucray menanyakan niat Rigel kemari.
"Kau sungguh lancang terhadap tuanmu... Haruskah aku membiarkanmu menggunakan pakaian maid?" Kelancangannya harus mendapatkan hukuman, mungkin membuat Altucray memakai pakaian maid merupakan ide bagus.
"Yah, kita kesampingkan dulu hal itu... Bawalah aku ke tempat Excalibur di leburkan."
Terkejut mendengar itu, Altucray tidak mengira Rigel mengetahuinya. Tidak mungkin bagi Tirith untuk memberitahukan hal itu pada Rigel karena dia telah mengucapkan sumpah di depan makam raja Arthur. Jadi, sebagai seorang Raja dan keturunan Pendragon, hanya Altucray yang memiliki wewenang penuh terhadap Excalibur.
"Darimana kau mengetahui Excalibur di leburkan?" Ucapnya dengan dingin. Dia tahu betul jika Rigel bukanlah orang yang mengatakan omong kosong atau menebak-nebak semacam itu. Dia pasti telah mendapatkan informasi dari seseorang yang mengetahuinya. Jika benar begitu, sosok yang mengetahui kejadian Excalibur maka hanya satu yang terpikirkan...
"Begitu, tidak perlu bagimu untuk menjawab. Jika itu Ratu peri, maka aku tidak dapat melakukan apapun. Lalu, untuk alasan apa kau ingin pergi ke sana? berbeda denganmu, aku tidak memiliki alasan apapun untuk mengizinkanmu pergi ke sana." Kemarahan Altucray tidak mereda, namun dia hanya memendamnya saja.
Seperti yang di duga, izin tidak akan dengan mudahnya di berikan Altucray. Excalibur itu sudah seperti harta terbesar negara dan juga apa yang telah di wariskan turun-temurun di keluarga Altucray. Jelas tidak di ragukan lagi bahwa orang asing tidak di izinkan mengetahui lokasi keberadaannya selain orang-orang yang memiliki darah Pendragon di dalamnya.
Berkat keberadaan Excalibur, seluruh wilayah ibukota kerajaan Britannia dapat terlindungi dari serangan udara yang bahkan para iblis tidak dapat menyentuhnya sedikitpun. Namun, pelindung itu bukan berarti tanpa kekurangan. Contohnya adalah bomb Molotov yang di lempar Rigel ke taman kerajaan, bom itu dapat dengan mudah menembus penghalang sihir itu tanpa masalah. Yang berarti, kemungkinan besar sihir itu hanya akan menangkal sesuatu yang memiliki sihir saja. Jika itu sesuatu tanpa sihir, maka dapat masuk dengan mudah.
"Kau telah menolak tanpa mendengar alasanku? memangnya kau memiliki hak apa untuk melarangku? Sekarang Britannia kerajaanku, kau hanyalah seorang budak yang menjadi raja boneka dalam kendali ku. Tidak ada tempat bagimu memerintah ku ataupun melarangku, budak." Rigel menatap dingin dan mengaktifkan segel budak di leher Altucray.
Listrik status keunguan muncul dari lehernya dan menciptakan sengatan rasa sakit di leher Altucray, yang membuatnya jatuh berlutut. Tirith berlari menuju ayahnya dengan kekhawatiran, "Ayah! kamu baik-baik saja?? Rigel, aku mohon hentikan perbuatanmu!"
"Apa hakmu mengatakan itu? Hanya karena kau sosok yang penting bagiku, bukan berarti kau memiliki hak untuk memerintah ku, Tirith..." Kata-katanya dingin, Rigel mengabaikan Tirith dan melangkah menuju Altucray yang kesakitan.
Hampir mencapai tempat Altucray, Tirith bergegas bangkit dan merentangkan tangannya untuk melindungi Altucray dan menghalangi Rigel.
"Kumohon, Rigel. Hentikanlah ini, Excalibur bukanlah sesuatu yang bisa di temui oleh orang luar, bahkan Pahlawan sepertimu sekalipun."
"Lantas bagaimana Takatsumi memiliki Excalibur? jika memang bahwa Excalibur bukan sesuatu yang dapat di sentuh orang luar, lalu bagaimana kau menjelaskan kasus Takatsumi?" Kata-katanya begitu tenang, namun begitu kuat dan sulit untuk di bantah.
"Itu..." Tirith terhenti, nampak dia tidak dapat menjelaskannya. Mungkin dia sendiri tidak mengetahui bagaimana Takatsumi dapt memilikinya. Tetapi seharusnya dia telah menemukan jawabannya.
"Itu Ayahmu, budak itu yang memberikan sedikit bagian atau air yang di keluarkan Excalibur. Kenyataannya, dia sendiri yang menghianati kata-kata bahwa orang luar di larang menyentuh atau berhubungan dengan Excalibur. Baik langsung atau tidak langsung..."
Keraguan mulai memenuhi hatinya, memang benar bahwa Ayahnya mungkin telah melanggar dekrit yang telah tertulis di makam Raja Arthur.
Rigel mendekati wajahnya dengan wajah Tirith, mereka hampir bisa merasakan nafas satu sama lain.
"Aku tidak mengerti denganmu, Tirith... Kau tahu aku membenci sampah itu dan telah memberikan penghinaan tak termaafkan berkali-kali. Namun, mengapa kau masih mencintai pria yang melakukan itu kepada ayahmu?" Rigel mulai berbisik dan mendekatkan bibirnya ke telinga Tirith.
"Katakanlah padaku, apakah cintamu itu nyata atau sekedar tipuan belaka?"
Gadis pada umumnya akan membenci Rigel jika dia melecehkan orang tuanya seperti itu. Namun dia tidak melakukannya, justru Tirith tetap ingin berada di sisinya. Jelas itu hal yang aneh, terkecuali ada semacam hal yang membuatnya terus terikat. Tidak jauh di belakangnya, Altucray menahan sakit dan berusaha berbicara.
"... Ituu... K-karena dirimu..." Ujarnya selagi mengerang sakit. Rigel tidak mengerti apa maksudnya, menonaktifkan segel budak dan membiarkannya bicara adalah pilihan untuk saat ini.
"Karena kau, cinta pertamanya... Karena kau, ciuman pertamanya... Dia menjadi sangat terikat padamu, dan itu tidak akan pernah berhenti." Rigel tetap tidak mengerti apa yang coba di sampaikan Altucray, sampai Tirith menjelaskannya.
"Darah Pendragon mengalir dalam nadiku. Pendragon terkenal akan kesetiaannya akan pasangan pertama yang dia cintai dan orang pertama yang dia cium. Saat dua syarat itu terpenuhi, belenggu cinta akan mengikat kami dan hati kami hanya akan menjadi milik orang pertama yang kami cintai."
Hal yang benar-benar baru dan sangat mengejutkan. Rigel tidak pernah mengetahui bahwa ada belenggu semacam itu yang mengikat keluarga Pendragon. Dengan alasan itu, jelas sudah alasan kenapa Altucray mulai membenci Rigel karena membuat Tirith terikat kepadanya. Namun, meski tahu bahwa Tirith telah terikat pada Rigel, lantas kenapa dia berusaha menjodohkannya dengan Takatsumi? lantas kenapa Tirith mencampakan Rigel pada saat itu? meski tahu karena adanya campur tangan Takatsumi, namun hal itu tetaplah sebuah penghianatan dan bukan bentuk kesetiaan. Tidak, kemungkinan besar penampakan Tirith merupakan Kesetiaan, karena dia berusaha melindungi Rigel. Namun tetap saja hal semacam itu usaha sia-sia.
"Aku tidak tahu cara melepaskan belenggu itu... Karena itu, aku mencoba menjodohkannya dengan Pahlawan Pedang... Dengan harapan belenggu itu akan berpindah padanya..." Altucray perlahan bangkit dan menjelaskan.
"Jadi begitu, alasanmu mencoba membunuhku... Namun, hal itu tidak menjelaskan kenapa kau berusaha menolak keberadaanku..."
"Jangan khawatir... Kebencianku ini murni karena memanggil Pahlawan gagal sepertimu..." Senyuman provokasi muncul di bibir Altucray, tatapan matanya masih memiliki kebencian.
Rigel tidak merasa kesal ataupun marah atas provokasi yang di tuju padanya, "Hehe, hahahah, Hahaha!" Dia justru tertawa geli, "Pahlawan yang kau anggap gagal justru menjadi yang terkuat dari Pahlawan lain... Sungguh ironi, bagiku, kau dan sebagian Pahlawan lain merupakan sebuah kegagalan, sehingga aku harus repot-repot menjatuhkan mereka yang tak berguna."
Rigel dengan santai melewati Tirith yang tidak lagi mencoba menghalanginya dan berjalan menuju Altucray. Rigel menarik rambut Altucray dan menariknya hingga wajahnya sejajar dengannya.
Altucray tetap menatap dengan dengki, "Kau pikir... Aku akan percaya dengan kata-katamu? mana mung—" Dia segera berhenti ketika Rigel memotong kalimatnya.
"Atau kau memilih untuk menolaknya dan membiarkan putrimu menjadi mainan ku sepanjang hidupnya? Ntah itu penyiksaan, pelecehan, penghinaan dan segalanya, dia tetap akan mencintaiku, bukan? Apa kau ikhlas melihatnya?" Senyuman yang tak sepatutnya Rigel tunjukan tumbuh di bibirnya.
"Krgh! Bagaimana bisa Pahlawan sepertimu begitu kejam dan sehina ini?!!!"
"Pahlawan hanyalah gelar kosong belaka, hanya orang bodoh yang bangga dengan gelar itu. Sejak awal aku telah kehilangan Divine Pahlawan, jadi aku bukan Pahlawan, melainkan mantan Pahlawan. Aku saat ini adalah Administrator. Sosok yang akan memerintah dunia!"
Hanya di panggil ke dunia ini dan mendapatkan gelar Pahlawan secara cuma-cuma? Hah! itu hanya omong kosong belaka. Pahlawan itu di akui bulan mengakui. Pahlawan sebenarnya adalah orang-orang yang membuat keajaiban di dunia ini dan orang-orang yang telah menyelamatkan ribuan jiwa lebih.
"Sekarang pilihlah, yang mana pilihanmu!" Rigel kembali menekan Altucray.
Di masa tuanya ini, tidak ada hal yang lebih di inginkan Altucray selain kebahagiaan putrinya. Kebahagiaan Tirith, kebahagiaannya juga. Dia ingin melihat bagaimana Tirith hidup ke depannya dan menimang cucu darinya. Namun, dia tidak rela jika orang itu adalah Rigel. Tetapi, tetap saja dia juga tidak rela Tirith menderita.
"Baiklah... Akan ku tunjukan tempatnya!" Altucray menyerah dan memilih masa depan yang lebih baik untuk Tirith.
Rigel tersenyum puas dan melepaskan Altucray dari genggamannya. Altucray secara perlahan merapihkan diri dan mengantarkan Rigel ke kuil tempat Excalibur berada. Altucray berjalan menuju kamarnya dan di sana, terdapat sebuah cermin berukuran besar.
Altucray membentuk sebuah lingkaran sihir hijau dengan bintang di tengahnya. Cermin perlahan memancarkan sinarnya dan Altucray masuk melalui cermin itu, sebagai tanda bahwa itu aman. Tirith mengikuti Altucray dan terakhir Rigel memasukinya. Dia sedang menerka-nerka seperti apa di dalam, namun yang dia dapatkan hanyalah lorong berbatu. Nampaknya dia harus melalui ini dan bersabar sedikit lebih lama.
Setelah beberapa menit berjalan melalui lorong batu itu, mereka tiba di ujung lorong, "Hmm? jalan buntu?" Rigel bergumam.
Sebuah batu besar menutupi jalan berlorong itu. Pemikiran bahwa dia hanya di permainkan muncul, namun dengan cepat Rigel menyangkal pemikirannya sendiri. Seperti sebelumnya, pastinya ada semacam jalan atau kode rahasia tersendiri untuk menuju ke tempat selanjutnya. Bahkan dia tidak akan terkejut jika ada beberapa jebakan menantinya, di karenakan Kuil Excalibur ini harta terbesar dari keluarga Pendragon dan Britannia, wajar jika pengamanannya sangat ketat.
Altucray merentangkan kedua tangannya terhadap batu di depannya, sampai dia meneriakan sesuatu.
"Lessa! Buka pintu..."
Baik Tuan...
Suara yang ntah darimana muncul bergema di tempat sekitar. Sesaat kemudian, jalan buntu di depan perlahan bergeser selayaknya pintu raksasa yang di buat untuk sengaja membuat orang berfikir bahwa itu jalan buntu. Di balik batu itu, hanya sebuah kegelapan yang dapat di lihat Rigel. Altucray dan Tirith tanpa ragu berjalan memasuki ruang gelap itu. Rigel mengikuti di belakang mereka.
Sejauh ini, terlihat sangat jelas bahwa ini tidak benar-benar berada di Kerajaan Britannia, mungkin jauh di bawah tanah atau suatu tempat yang jauh di Britannia. Pantas saja jika Rigel tidak dapat merasakan jejak kekuatan dari Excalibur, jika jaraknya cukup jauh dari yang bisa dia deteksi.
"Kita hampir sampai..." Ujar Tirith.
Rigel menatap ke depan dan menemukan seberkas cahaya di ujung jalan sana. Nampaknya ini akhir dari perjalanan mereka. Butuh waktu untuk mata Rigel beradaptasi dengan cahaya yang ada.
"Inikah... Kuil Excalibur..." Rigel bergumam dengan kagum.
Tepat di tengah-tengah jurang yang melingkar, terdapat sebuah Kuil yang bersinar keemasan dan air berwarna keemasan mengalir, memberikan tenaga kepada sihir perlindungan Britannia. Di tengah Kuil itu, terdapat sebuah pedang yang tertancap di batu dan mengeluarkan air keemasan.
Hanya ada satu jalan yang menghubungkannya dengan kuil Excalibur dan tanpa ragu Rigel berjalan menuju ke sana. Air keemasan itu tidak berhenti mengalir, layaknya sebuah air terjun.
"Air keemasan ini berasal dari kekuatan Excalibur yang perlahan di ekstrak menjadi cairan yang memberikan kekuatan kepada pelindung Britannia. Tidak hanya itu, cairan ini juga membantu menyuburkan tanah di negri ini. Kami sendiri menyebutnya sebagai air kehidupan."
Tirith menjelaskan apa yang dia ketahui tentang air keemasan—air kehidupan yang berasal dari Excalibur.
"Jadi begitu, memang cocok di sebut sebagai air kehidupan karena dia memberikan kehidupan yang layak di atas sana."
Rigel menatap pedang yang tertancap di batu itu. Memang benar bahwa energi yang di miliki pedang itu sangatlah besar, mungkin dia adalah satu-satunya senjata yang mendekati senjata ilahi milik para Pahlawan. Ntah sudah berapa tahun atau puluhan tahun berlalu, namun air yang berasal dari Excalibur tak kunjung berhenti sampai saat ini. Kemungkinan, dari air kehidupan inilah Takatsumi mendapatkan Excalibur.
"Hmm, sangat cocok di sebut sebagai pedang suci... Baiklah, mari kita coba, apa yang akan terjadi ketika aku meminumnya." Senyuman berani tumbuh di bibirnya, dan Rigel langsung menciptakan sebuah gelas logam. Tirith dan Altucray nampak tidak mempermasalahkannya, jadi kemungkinan tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Tanpa ragu, Rigel meminum segelas penuh air kehidupan dan merasakan energi luar biasa mengalir ke dalam tubuhnya.
....
....
*BaDumb.
Detak jantungnya seakan berbunyi keras, Rigel terbelalak kaget. Tangan kanannya terasa panas, panas dan semakin panas. Dia memperhatikan tangan kanannya dan menemukan Rune biru muncul tanpa perintahnya.
"Rigel!" Tirith menghampiri Rigel dengan kekhawatiran di dalamnya.
Apakah Void atau kekuatan kehampaan bereaksi dengan air kehidupan, atau mungkin sesuatu yang lainnya?