The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Reuni tak terduga



POV BELL.


Aku sedang berhadapan dengan empat orang penyihir. Wajahku masih tertutup tudung, sama dengan wajah para penyihir itu yang juga tertutup.


Aku mewaspadai ke empat penyihir itu sembari memperhatikan daerah sekitar sebagai antisipasi serangan kejutan dari pihak lain.


Meskipun aku hanyalah petualang pemula, bukan berarti aku tidak bisa bertarung sama sekali.


Aku memiliki seorang guru yang sangat ketat dalam melatihku dan anak anak lainnya. Kami selalu diajarkan untuk tidak meremehkan musuh dan waspada terhadap daerah sekitar.


Bagi kami, dia adalah guru yang hebat. Sihir 'Shamack' yang ku keluarkan tadi juga diajarkan olehnya sebagai salah satu jalan untuk melarikan diri dengan membutakan penglihatan.


Selain sihir, kami juga diajarkan menggunakan senjata yang kami kuasai serta seni bela diri tangan kosong. Dia benar benar mentor yang baik meskipun pengajarannya seperti iblis.


Aku kembali fokus pada pertarungan dan melirik Takumi yang sedang berhadapan dengan pemimpin para bandit gunung ini.


'Sepertinya disana juga tidak mudah, ya.'


Huuh~


Aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku langsung menerjang ke arah salah satu penyihir itu.


Aku mengulurkan tanganku ke pinggangku tempat dimana pedangku berada.


Penyihir itu tersentak dan berusaha menghindar dariku karena mungkin dia berfikir aku akan menggunakan pedangku.


Namun, daripada mengambil pedang, aku menggumamkan sebuah mantra.


"Uraikanlah hukum alam dan ciptakanlah apa yang aku inginkan Aqua slash!"


Air yang berbentuk seperti sebuah bilah melesat ke arah penyihir itu. Penyihir itu menunduk untuk menghindarinya, namun itulah yang aku inginkan.


Aku melesat secepat yang aku bisa menuju ke penyihir itu. Aku menggunakan elemen angin di kakiku untuk memberi sedikit kecepatan pada langkahku.


Dia berusaha menjauh dariku namun itu sudah terlambat. Aku mencengkram erat lehernya dengan tangan kiriku dan membanting penyihir itu ketanah.


Tanah tempat kepala penyihir itu menghantam tanah memiliki beberapa retakan di sekitarnya. Penyihir itu telah kehilangan kesadarannya beberapa saat yang lalu.


Tudung yang aku kenakan telah terhempas hingga memperlihatkan wajahku sepenuhnya. Di saat aku hendak menghajar para penyihir yang tersisa, sebuah suara datang.


"Bell?"


Suara seorang wanita muda yang kukenal muncul dari salah satu penyihir yang tersisa.


"Suara itu, Tessia?" ucap Bell.


"Ternyata kau benar benar Bell!"


Gadis itu— Tessia berseru.


Gadis itu membuka tudung yang menutupi wajahnya. Di balik tudung itu, terdapat wajah cantik seorang wanita yang telah menjadi temanku sejak kecil.


Rambut merah kecoklatannya di ikat kebelakang agar tidak menghalanginya dalam pertarungan.


Mata abu-abunya yang indah memancarkan kelembutan dan kehangatan, dia adalah teman masa kecilku, Tessia.


Setelah Tessia membuka tudung di wajahnya, penyihir yang lainnya juga membuka tudung yang menutupi wajah mereka.


Wajah mereka memang cukup asing, namun bukan berarti aku tidak mengenali mereka.


Mereka adalah El dan Al bersaudara!


"Ternyata kau benar benar Bell." Ucap El.


"Yo, sudah 4 tahun lamanya, Bell. Kau tidak banyak berubah, ya." Ucap Al.


Sungguh sebuah kejutan, mengetahui bahwa para penyihir ini adalah teman temanku semasa kecil.


"Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kau menjadi seorang bandit gunung?"


Aku bertanya-tanya kepada teman temanku yang sudah lama tidak kujumpai. Lalu, aku memperhatikan penyihir yang berada di bawahku.


"Jika kalian ada disini, mungkinkah dia?"


"Tebakanmu benar, dia adalah Egil yang malang." Jawab Al.


Bukannya terkejut, aku malah prihatin kepadanya. Keberuntungan Egil sangatlah buruk seakan dewi keberuntungan membenci dirinya.


"Jika saja kalian tidak menutupi wajah kalian, Egil mungkin tidak akan menjadi seperti ini tau." Ucap Bell.


Aku bangkit dari tubuh Egil yang pingsan dan berjalan menghampiri teman temanku.


"Itu juga berlaku untukmu, bodoh."


Ucap Tessia sambil memukul pelan kepalaku.


"Kalian belum menceritakan alasan kalian menjadi bandit, bisakah kalian menjelaskannya terlebih dahulu?"


Ucap Bell.


"Ya, tetapi sebelum itu, kita harus memberitahu guru terlebih dahulu. Aku khawatir dia akan membunuh temanmu itu."


"G-guru?"


Gumam Bell.


Aku bisa merasakan tulang belakangku menggigil saat mendengar bahwa guruku ada disini. Aku langsung menoleh ke arah Takumi yang masih bertarung sengit dengan Bos bandit yang mungkin adalah guruku.


Clang!


Saat aku menoleh ke pertarungan Takumi dengan guruku, aku dapat melihat bilah pedang guruku yang berhasil dipatahkan Takumi.


POV KAMADA TAKUMI.


Woosh!


Bilah angin menerjang kearahku, aku melompat ke kiri untuk menghindarinya lalu sebuah pedang mencoba menikamku.


Ting!


Aku berhasil menahannya dengan ujung tombakku yang berubah menjadi seperti trisula dan langsung menyerangnya dengan skillku.


"Lightning Spear!"


Aliran listrik kuat mengalir melalui tombakku dan menerjang bos bandit dalam bentuk tombak listrik.


Pria tua itu mengambil jarak yang cukup jauh dariku dan membangun dinding tanah yang cukup tebal sebelum tombak petirku menghantamnya.


Crack!


Aku dengan panik menyilangkan tombakku dan mengangkatnya dengan kedua tangan untuk menahan bilah pedangnya.


Ting!


Aku berhasil menahan pedangnya yang berusaha membelah kepalaku. Aku terlalu fokus pada bos bandit dan pedangnya yang beradu dengan tombakku tanpa memperhatikan daerah sekitar.


Lalu, seolah memperingatkanku akan bahaya, instingku menjerit untuk segera menghindar ke samping dan...


Sing!


Sebuah pisau kecil melayang dan menggores pakaian dan daging di pinggangku. Lukanya cukup dalam namun tidak sampai ke tahap yang membahayakan nyawaku.


Aku mendorong pedang bos bandit itu dan mundur beberapa langkah.


"Sial! Darimana pisau sialan itu datang!" Serapah Takumi.


Saat ini aku hanya mengenakan armor yang melindung dadaku sehingga pertahanan tubuhku akan sangat rentan.


Dengan tombakku yang sedang menahan bilah pedangnya, tubuh bagian bawahku jelas tanoa perlindungan.


"Hoho? Instingmu cukup bagus untuk bisa menghindari jurus tersembunyi milikku."


Dia terkekeh senang.


"Dasar bedebah tua yang licik."


Takumi mengejek.


Baiklah, jika seperti itu caramu bermain, akan aku turuti pak tua. Akan sangat memalukan bagiku yang seorang pahlawan dikalahkan oleh bos bandit gunung.


Meskipun aku memiliki beberapa trik di lengan bajuku. Alasanku tidak menggunakannya sampai saat ini karena hal itu mungkin akan mengungkapkan identitasku sebagai pahlawan.


Meskipun aku ragu apakah bos bandit ini tidak menyadari jika aku adalah pahlawan tombak. Aku yakin dia pasti menyadarinya dari pertukaran kami selama ini karena aku hanya mempunyai sebuah tombak sebagai senjata.


Aku memfokuskan manaku untuk menggunakan sebuah skill yang akan kugunakan sebagai salah satu kartu truf ku.


Aku mencondongkan tubuhku kedepan dan memperpendek jarak diantara kami. Aku menebas ke arah pinggangnya namun dia berhasil menahannya dengan pedangnya.


Saat ini dia mulai menggunakan kedua pedangnya secara langsung mungkin karena dirinya akan merasa bahaya jika tidak melakukannya sekarang.


Aku terus menerus melancarkan seranganku tanpa memberinya jeda sedikitpun untuk bernafas. Dia berhasil menahan seluruh serangan bertubi tubiku.


Aku mundur beberapa langkah untuk melakukan ancang ancang dan mengubah bentuk tombakku. Aku mengakses sistem'index' yang tampak seperti game.


"Change weapon: Dragon's spear!"


Tombakku mulai berubah bentuk yang awalnya berbentuk seperti trisula, kini berubah menjadi sebuah bilah tajam yang berbentuk seperti taring besar di kedua ujung tombakku.


Siapapun dapat tahu bahwa hanya pahlawanlah yang dapat mengubah bentuk senjatanya. Aku tidak bisa melihat ekspresi dibalik topengnya, namun aku yakin dia sedikit terkejut.


Aku dengan cepat memotong jarak dan mengarahkan tombakku ke bahu atasnya.


Ting!


Seperti yang kuduga, dia akan berhasil menahannya dengan pedangnya namun, tujuanku yang sebenarnya bukanlah bahunya, melainkan pedangnya.


"Hyaa!!"


Clang!


Bilah pedangnya telah patah menjadi dua dan kini dia hanya memiliki satu pedang tersisa untuk digunakan. Tidak puas untuk berhenti disitu,


Aku melakukan ancang ancang dan menikamkan tombakku ke arah dadanya. Bos bandit mundur agar tombakku tidak dapat mencapainya, namun itu percuma.


Aku mengubah genggamanku dari yang awalnya kedepan menjadi kebelakang seperti seseorang yang hendak melempar tongkat. Aku menggunakan skill yang dari tadi sudah kuperisapkan.


"Javelin strike!!"


Tombakku melesat dengan cepat sehingga terlihat seperti cahaya biru yang melesat dengan sangat cepat sampai sampai bos bandit itu terlambat untuk bereaksi.


Clang!


Bos bandit mengarahkan pedangnya ke arah tombakku yang melesat dengan cepat sehingga membuat bilah pedangnya patah.


Lalu, seakan waktu berjalan lambat, bos bandit mengatakan sesuatu.


"Seperti yang diduga dari pahlawan tombak, anda masih memiliki banyak trik di lengan baju anda, namun..."


Bang!!


Suara hantaman keras berdering dengan kencang, pohon dan dedaunan berguncang karena hantaman angin yang sangat keras.


Asap dari abu yang berterbangan menutupi daerah disekitar bos bandit itu dan perlahan memudar.


Saat kupikir aku berhasil mengalahkannya namun... Harapanku menghianatiku. Bos bandit itu berhasil menahannya dengan satu tangan yang terulur di depan tombakku yang masih melayang ditempat.


Dia terdorong beberapa meter dari tempatnya berada sebelumnya. Dia menahan tombakku tepat diujung bilah tombakku tanpa terluka meskipun kini pakaiannya tampak compang camping.


Krak.


Suara retak dari topengnya bergema dalam keheningan singkat itu. Aku langsung menatap ke sekitar dan menemukan Bell bersama dengan tiga orang pria yang salah satunya tidak sadarkan diri serta seorang wanita yang cantik.


Bell terus menatap kearahku dan bos bandit dengan tatapan kosong dan terkejut. Aku kembali menatap bos bandit saat tombakku kembali dengan sendirinya ke genggaman tanganku.


"B-bagaimana b-bisa?" Gumamku.


"Aku menggunakan skill spesia dari seri ilahi yaitu Divine Protection of Soul-Earth. Aku menarik kekuatan jiwa dari tanah dan menjadikannya kekuatanku."


Seri ilahi? Soul-Earth? Baru pertama kali aku mendengar tentang hal ini. Bukankah Divine Protection adalah sesuatu yang dimiliki pahlawan? Bagaimana bisa ada orang lain selain pahlawan yang memilikinya.


Bos bandit itu melepaskan topengnya yang dipenuhi retakan. Di balik topeng hitam yang menyeramkan itu, terdapat wajah seorang pria yang berumur sekitar 50an.


Wajahnya memancarkan aura yang menampilkan pria kuat yang memiliki wajah dan mata yang lembut.


"Sepertinya muridku Bell berteman dengan seorang pahlawan dan berniat membawanya kedesa, ya?"


"Mu-murid? Apa yang sebenarnya terjadi disini? Bell?" Takumi kebingungan.


"Y-yah sebenarnya aku juga terkejut dengan reuni tak terduga ini."


Bell menggaruk kepalanya kebingungan dan matanya bulak balik menatap sekitar.


"Yah, lebih baik kita membicarakannya di rumahku sembari menyesap secangkir teh."


Ucap bos bandit yang ternyata adalah guru Bell.


Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, karena mereka adalah kenalan Bell tidak ada alasan untuk menolak ajakannya. Kami langsung bergegas menuju desa Silvet.