The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Yang tak terlupakan



POV HANEDA TAKATSUMI.


"AKU PASTI AKAN MEMBALASMU, TAKATSUMI!!"


"ahh!"


Aku bangun dari tempat tidurku. Sudah 3 bulan lamanya semenjak kematian Rigel dan aku masih memimpikan kejadian itu, kejadian saat kematian datang untuk menjemput Rigel.


"Sialan kau Rigel, kau benar benar menghantuiku di dalam mimpiku."


Takatsumi mengutuk.


Aku menyentuh wajahku yang berkeringat dengan kedua tanganku. Mungkin ini terjadi karena itu adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku membunuh manusia.


Aku melirik pojok kanan dari penglihatanku tempat levelku berada.


Name : Haneda Takatsumi.


Title : Pahlawan pedang.


Level : 252.


Hah, membunuh manusia berbeda rasanya dengan membunuh Demi-human.


Gumam Takatsumi.


Aku telah menaikan levelku secara signifikat dengan cara membunuh para setengah manusia itu. Mau yang tua ataupun muda, laki laki ataupun wanita, aku tidak pernah dihantui oleh mimpi seperti saat aku membunuh Rigel.


Wajah menyeramkan Rigel di saat saat terakhir kehidupannya terus menghantuiku sampai saat ini. Wajah itu adalah wajah yang menampilkan amarah yang sangat besar seolah menampung semua amarah yang di emban oleh dunia yang kacau ini.


Aku telah menodai tanganku dengan darah hanya untuk seorang wanita yang kucintai dan juga karena aku membencinya sejak awal.


Kupikir dengan kematian Rigel, Tirith akan berpaling darinya dan akan membuka hatinya untuk orang lain. Meskipun Raja akan mengajukan aku sebagai calon suami Tirith dan menghendaki untuk segera menikah, namun Tirith menolaknya dengan keras karena masih terlalu muda dan juga dia butuh waktu untuk melupakan Rigel.


Meskipun aku benci mengakuinya, gadis itu sudah terlalu terpaku kepada bajingan Rigel itu, tidak perduli apapun yang kucoba lakukan untuk menghibur dan membuatnya tertarik padaku dia hanya akan memikirkan Rigel.


Meskipun dia sudah tidak mengurung diri dikamarnya lagi, namun masih ada jejak kesedihan dari wajahnya yang cantik itu.


Aku ingin dengan cepat menikahinya dan menjadikannya milikku seutuhnya. Namun, kau tidak perlu terburu buru Takatsumi.


Tidak akan ada orang yang berusaha merebutnya darimu, Takumi hanya bertekad untuk membalaskan kematian Rigel, bahkan dia tidak perduli dengan hal percintaan.


Selain itu, Tirith tampaknya tidak akan menyukai orang lain dalam waktu dekat karena Rigel adalah cinta pertama yang dia miliki.


Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan semua beban di kepalaku dan bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhku serta semua hal yang mengganggu kepalaku.


***


Aku keluar dan berkeliling istana karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


Belum lama ini, dunia di kejutkan dengan fakta bahwa salah satu dari 12 pilar iblis telah di kalahkan oleh pahlawan tombak, Takumi. Aku sendiri terkejut dengan fakta bahwa Takumi berhasil kembali hidup hidup meskipun pakaiannya compang camping.


Dari penjelasan yang diberikan Takumi saat kembali, dia tampaknya tidak sengaja telah mengaktifkan seri kutukan yang mengacu kepada seven deadly sins atau tujuh dosa manusia.


Berkat kekuatan kutukan itu, dia berhasil mengimbangi kekuatan dari pilar iblis, raja daratan Behemoth. Namun, kekuatan besar yang didapatkan sementara itu pasti memiliki bayaran yang besar juga.


Dari yang berhasil diselidiki, efek dari kutukan itu adalah aura dari territory pemalas. Setiao orang yang berada di dekatnya akan jadi pemalas dan kemungkinan terburuk dari itu saking malasnya seseorang, dia akan malas untuk bernafas dan mati karena tidak mendapatkan asupan oksigen.


Meski terdengar sangat konyol untuk seseorang menjadi malas bahkan untuk hal yang alami seperti bernafas, efek dari kutukan Sloth sangatlah mengerikan meski tidak sampai penggunanya malas untuk bernafas.


Efek lain dari kutukan itu adalah mempengaruhi Takumi. Dia menjadi seorang pemuda yang terlihat malas meskipun aku dapat merasakan bahwa dia telah melawan efek itu semampu yang dia bisa.


Efek inilah yang paling merepotkan, karena setelah berada di istana, Takumi tidak lagi melawan efeknya dan hanya membiarkannya sehingga pemalasnya semakin menjadi jadi. Aku tidak akan membahas hal itu, karena hanya hal konyol yang dia lakukan.


Itu hanya efek samping dan bukan bayaran atas kekuatannya. Bayaran dari menggunakan seri kutukan, pemalas adalah memotong setengah dari skill yang dimiliki Takumi, daya tahan kutukan dan menggerogoti Divine protection pahlawannya.


Jadi pada dasarnya kami para pahlawan tidak bisa selalu bergantung pada seri kutukan karena bayarannya. Memotong setengah skill dan yang lainnya masih lebih baik ketimbang memotong nyawanya.


Aku tidak tahu apakah aku dapat mengaktifkan seri kutukan atau tidak. Namun, aku tidak akan menggunakan kekuatan yang beresiko seperti itu.


"Hmm. Mungkin untuk sekarang aku akan menemui bangsawan itu lagi dan menaikan levelku dengan membunuh beberapa setengah manusia."


****


Tak terasa langit sudah menggelap. Aku membersihkan tubuh dan pakaianku karena memiliki noda darah di sekitarnya.


Aku selesai mandi dan mengganti pakaianku menjadi piyama tidur untuk bergegas ke taman kerajaan karena aku tahu, dia berada disana.


Tidak butuh waktu lama untukku sampai di sini, dan benar saja, gadis yang kucintai itu sedang duduk di tengah taman sambil menyesap secangkir teh hangat di tangannya. Aku menghampirinya dan menyapanya.


"Seperti biasa kau sudah mengambil tempat terbaik untuk menatap langit."


Ucap Takatsumi.


"Ah, selamat malam, Takatsumi. Silahkan duduk jika kau mau."


Ucap Tirith dengan datar.


Aku menurutinya dan duduk di sampingnya. Karena aku mengambil jarak yang sangat dekat dengannya dengan sengaja, dia perlahan menggeser dirinya menjauh dan menyisakan beberapa jarak diantara kami.


Sial, hatiku terasa sakit!


Batin Takatsumi.


"Silahkan."


Aku mengambil teh hangat yang di berikan Tirith dan meminumnya.


"Rasanya kurang lembuy dari yang biasa. Apakah ini bukan teh dengan kualitas tinggi seperti yang biasanya?"


Tanyaku.


Tirith tidak melihatku, dia terus menatap bintang yang berada di langit. Aku tidak mengetahui apapun mengenai mereka karena aku tidak menyukai sesuatu yang berkaitan dengan luar angkasa seperti itu.


"Kau benar. Ini adalah teh yang biasa aku dan Rigel minum saat kami membicarakan bintang di tempat ini. Rupanya kau mengetahui perbedaan tentang kualitas teh, Takatsumi."


Ucap Tirith baru menatapku.


Aku ingin mendecakkan lidahku karena dia menyebut nama Rigel di percakapan kami, namun aku menahannya.


"Ya. Di duniaku sebelumnya, aku selalu meminum teh yang berbeda jenis karena orang tuaku adalah penikmat teh. Jadi karena itulah aku mengetahui kualitas masing masing dari mereka."


Kata Takatsumi.


Itu adalah kenyataan. Di duniaku dulu, aku sering pergi berlibur dengan orang tuaku ke luar negri dan merasakan berbagai macam teh yang berbeda.


"Jadi begitu ya, maaf jika kualitas teh ini bukanlah kualitas tinggi."


Ucap Tirith.


"Ah, tidak apa apa, lagipula rasanya tidak terlalu buruk."


Ucapku.


"Yah, kau berbeda dengan Rigel. Dia tidak mengetahui apapun mengenai harmoni dari setiap teh yang berbeda namun Rigel berpendapat bahwa mereka hanyalah daun kering."


Ucap Tirith sambil bernostalgia.


"Hah? Jika penikmat teh sepertiku mendengarnya dia mungkin akan habis habisan diceramahi atau semacamnya."


Ucapku.


"Reaksiku juga sama sepertimu. Namun dia hanya membalas 'Tanpa gula, mereka tidak akan memiliki rasa apapun selain pahit dimulut' begitu katanya, hehe."


Ucap Tirith sambil terkekeh.


Lagi lagi tentang Rigel, seberapa hebat bajingan sialan itu terlihat dimata Tirith? Bahkan setelah kematianmu kau masih menghalangi jalanku untuk mendekati Tirith!


Aku mengutuk di dalam kepalaku namun tetap menjaganya agar tidak keluar dan di ketahui oleh Tirith.


Ada keheningan diantara kami yang berjalan cukup lama. Tirith terus menerus menatap kelangit.


"Aku penasaran apa yang sedang kau lihat sedari tadi, Tirith?"


Takatsumi bertanya.


"Daripada lihat, lebih tepatnya aku sedang mencari bintang tempat ibuku berada saat ini."


Ucap Tirith.


"Begitu, ya."


Balas Takatsumi.


Aku tidak ingin membahas lebih jauh mengenai topik ini karena aku tahu ini bukan topik yang tepat untuk di bicarakan.


"Apakah namamu diambil dari nama bintang juga, Takatsumi?"


Tirith bertanya.


"Tidak, aku bahkan tidak mengetahui bahwa bintang bintang itu memiliki nama."


"Begitu. Kau tahu? Diantara miliyaran bintang ini, aku mengenal salah satu dari mereka. Dia ada di sana."


Ucap Tirith.


Telunjuk ramping Tirith mengarah ke barat dan menunjuk bintang paling terang dari yang lainnya.


"Bintang itu memiliki sebuah nama, apakah kau dapat menebaknya?"


Ucapnya sambil tersenyum.


Aku hampir tersipu dengan senyuman yang dimilikinya. Aku langsung mengalihkan tatapanku dan menggelengkan kepalaku.


"Nama dari biintang itu adalah Rigel."


"...."


Aku hanya diam tanpa membalas perkataan Tirith sedikitpun. Tidak lama setelah itu, Tirith merapihkan pakaiannya dan bangun dari tempatnya duduk untuk pergi.


"Malam sudah terlalu larut, aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa besok, Takatsumi dan selamat malam."


Ucap Tirith sambil melambaikan tangannya.


Aku membalasnya dengan senyuman dan melambaikan tanganku juga. Sepertinya akan butuh waktu yang sangat lama baginya untuk melupakan si brengsek itu.


Yah, lagipula dia tidak akan beranjak bangkit dari alam kematiannya dan mengambil Tirith dariku.