The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Penaklukan Phoenix I



Burung Api Phoenix, memiliki wujud seperti merak, dengan bulu kemerahan dan biru. Mengesampingkan perbuatan dan teror yang di sebabkan, Phoenix benar-benar burung cantik dan rupawan.


Semuanya akan lain cerita, apabila Phoenix seorang rekan. Dengan daya serang nya yang kuat, memusnahkan para Iblis dalam sekali hembusan bukanlah tidak mungkin.


"Semuanya bersiap! ingatlah baik-baik saat dia sekarat, tubuhnya berpecah menjadi dua dan kita harus membunuhnya bersamaan!"


Menegaskan sekali lagi, Rigel berteriak. Terlambat sedetik saja, nyawa mereka menjadi ancaman mutlak. Bagaimanapun juga, penaklukan ini harus berhasil dengan luka sesedikit mungkin.


*KIEK!


Pekikan yang mengerikan berasal dari Phoenix. Mana mulai berkumpul di sekitarnya, menyebar mencangkup daerah sekitar dengan cepat. Hawa dingin dan rasa pahit di lidah, Rigel mendapat firasat buruk.


"..... nya... raninya.... Beraninya... kalian, manusia.... mendatangi rumahku...tanpa undangan. Tak termaafkan, takan bisa di maafkan...bermandikanlah dengan panasnya api penyucian dari neraka...!"


"Suara ini... Seakan bergema di dalam kepalaku." Marcel memasang ekspresi ngeri.


"Mungkinkah, telepati?!" Takatsumi menerka.


Nampaknya bukan dirinya seorang, melainkan seluruh Pahlawan yang ada menerima suara itu di kepalanya. Phoenix jelas berbicara, benar-benar berbicara.


Baginya yang telah menghadapi Hydra, monster malapetaka berbicara tak lagi mengejutkan. Tentu berbeda dengan yang lain, sangat syok mendengar kata-kata Phoenix.


*KIEK!


Phoenix memekik dan mengibaskan api panas dari sayapnya. Hazama memberi isyarat menggunakan jubah Salamander untuk bertahan dari itu.


*WOOSH!


Serangan pertama berhasil di tahan tanpa kerusakan. Jubah Salamander benar-benar berguna dalam pertarungan kali ini.


Rigel berteriak, "Berpencar!" dan mulai melompat mundur.


Pahlawan lain bergegas berpencar dan mengepung Phoenix dari segala arah. Tentunya strategi semacam ini memiliki resiko tinggi, namun bukan tanpa keuntungan.


Dengan berpisah seperti itu, memungkinkan untuk mereka bergerak bebas. Tanpa perlu menghawatirkan orang di dekatnya. Nyawa mereka tanggung jawab masing-masing, jika itu hilang maka bukan kesalahan orang lain.


Mari kita lihat sejauh apa kekuatan burung panggang ini!... Batin Rigel.


Mengulurkan tangan kiri untuk membentuk bilah pedang raksasa dari Mana, Rigel meluncurkannya menuju Phoenix.


*JDOM!


Sebuah pelindung tembus pandang menghentikannya dengan begitu mudahnya. Di luar dugaan bahwa Phoenix memiliki kekuatan tipe pertahanan, yang menjadikannya semakin sulit di hadapi.


"Hahaha, sepertinya memang tidak semudah itu ya!" Ujar Rigel.


Jantung berdebar, adrenalin memompa lebih cepat ketimbang jantungnya bekerja. Perasaan ini, bukanlah hal buruk. Senyuman lebar tumbuh di bibirnya, dengan perasaan gembira menggelitik hatinya.


"Ya! Sepertinya pelindung itu harus di bereskan terlebih dahulu!" Ujar Takumi.


Tombak miliknya mengeluarkan kemilau cahaya, bayangan tombak raksasa muncul dan di lemparkan menuju Phoenix.


"Javelin Strike!"


Bersamaan dengan itu, cahaya kebiruan berkumpul pada busur Yuri, membentuk panah panjang dengan energi yang kuat.


"Panah Bintang!"


Satu tombak raksasa dan satu anak panah raksasa melesat langsung menuju Phoenix. Mencoba menghindarinya sudah terlambat, dia harus menerima serangannya.


*JDOM!


Panah dan Tombak saling berbenturan dengan Perisai sihir Phoenix. Ledakan energi terbentuk, menciptakan angin kencang serta menghempaskan bebatuan sekitar.


Perisai yang melindungi Phoenix tidak hancur, namun setidaknya berhasil menciptakan beberapa retakan. Takumi hanya bisa mendecak geram.


*KIEK!


"Mahkluk berlumur dosa... Termurnikanlah, dalam panasnya api... Kembalilah menjadi butiran debu..."


Suara kembali bergema, bersamaan dengannya Phoenix mengumpulkan energi panas. Sebuah bola api raksasa tercipta dan segera terhempas dengan niat menghapus keberadaan Pahlawan.


Hazama mengambil langkah dan mengulurkan Perisai. Dia mengubahnya menjadi Perisai yang tampak seperti kristal raksasa.


Serangan api kuat Phoenix dan Perisai terkuat umat manusia saling berbentrokan. Hazama mengalirkan kekuatan pada tangan dan kakinya, udara panas membakar sedikit pipi dan rambutnya.


"Grrgh! Full Counter!"


Hazama berhasil menahannya dan mengembalikannya 2x lebih kuat kepada Phoenix. Namun tentunya tidak ada yang dapat di harapkan. Phoenix lahir dari api, berasal dari api, hidup dengan api. Sebuah kemustahilan pasti bahwa api tidak dapat membunuhnya.


Phoenix mengibaskan sayapnya, melenyapkan serangan balik dari Hazama. Meski tampak hal sia-sia, setidaknya dia berhasil membeli sedikit waktu.


"Orion Hammer!"


Palu raksasa kebiruan jatuh dari langit, menghantam langsung Phoenix beserta perisainya. Palu itu berhasil menghancurkan Perisai Phoenix dan membuat Phoenix menghantam tanah.


"Asura Punch!" Rigel langsung melesat dan menghajar kepala Phoenix.


Berputar beberapa meter, Rigel tiba tepat di depan mata Phoenix dan memukulnya dengan tangan kiri.


*BANG!


Hantaman nya begitu keras, air mata Phoenix sedikit keluar dan Rigel tidak membuang waktu. Dengan cepat dia menciptakan botol untuk ramuan dan mengambil air mata Phoenix yang terlihat seperti warna pelangi.


Tidak ada waktu untuk mengaguminya. Dia menaruh air mata Phoenix di penyimpanan dan berniat mengambil darah, namun suhu di sekitar Phoenix mulai naik.


Berbahaya jika aku tepat dekat meskipun ada jubah dan item dari Marcel.


Batin Rigel.


Air mata Phoenix telah di dapatkan, kini tidak lagi ada keraguan untuk menggunakan kekuatan penuh sekarang juga.


"Manusia!... Kalian tak termaafkan! Mahkluk rendahan seperti kalian berani menantangku... Matilah di sini... Phoenix Territory : Api Penyucian Dewa!"


Energi besar berkumpul lalu menyebar mencangkup para Pahlawan. Pemandangan berubah. Lahar super panas kemerahan, bebatuan panas dan dinding batu tinggi mengelilingi mereka.


Suhu panas mulai menusuk kulit, item sihir dari Marcel tidak cukup mampu menahan suhu saat ini. Seakan-akan mereka hanya beberapa meter dari jarak matahari.


"Ergh! sangat panas... Bahkan dengan jubah dan item sihir ini, tidak lebih dari mampu menahan panasnya." Petra mulai mengerang, tubuhnya perlahan melemah dan pijakan nya menjadi goyah.


"Tuan Rigel! kita harus melakukan sesuatu, sebelum ini semakin menjadi."


Merial masih dapat menahan panas ini, dia bahkan tidak terlihat melemah. Tentunya, hanya butuh waktu sampai itu benar-benar terjadi.


"Bertarung di sini sebuah kerugian, Rigel! mari kita selesaikan secepat mungkin!" Raya menyela. Dia mengeluarkan belati yang terbuat dari taring Hydra, menjadikannya bertarung dengan dua senjata.


Krgh! Territory Hydra dan kematian tidak cukup kuat. jika kugunakan Void Territory, bukan hanya Phoenix saja yang terkena dampaknya! tetapi semua yang ada di lokasi!


batin Rigel.


Tentunya bukan perkara mudah, mencoba membatasi jangkauan dari Territory. Selain itu, kekhawatiran bahwa Pahlawan lain terhapuskan tentu ada. Dia tidak terlalu perduli dengan orang lain selain Merial, Ray dan Takumi. Bahkan jika mereka lenyap, pengganti dapat di cari.


Yang menjadi masalah adalah, tubuh mereka tentunya akan lenyap tanpa sisa sehingga akan sangat sulit menggantikan mereka. Meskipun bisa, tentunya pahlawan baru harus memulai dari awal.


*KIEK!


Phoenix tidak akan memberi waktu berfikir. Selagi beterbangan di udara, bulu-bulunya terlepas dan melayang-layang dengan bebas. Sampai bulu itu menabrak batu terdekat, ledakan terjadi.


*BOM!


Ledakannya cukup besar untuk menghancurkan dinding besi, terutamanya, masih ada banyak dari bulunya yang beterbangan.


"Jangan sampai menyentuhnya! itu seperti ranjauh yang akan meledak bila terinjak!" Marcel memperingati.


Bukan perkara mudah, menghindari setiap bulu yang sangat banyak. Marcel tentu menyadarinya dengan sangat.


"Semuanya, berkumpul di belakangku!"


Dari sisi lain, Hazama berteriak. Hazama memprioritaskan Petra untuk mendapat pertolongan dan bergegas ke arahnya dengan tergesa-gesa.


"Shield Area!"


Aura cahaya muncul yang berbentuk setengah lingkaran. Cahaya itu melindungi dari bulu Phoenix, dan juga udara panas dalam Territory. Petra yang awalnya nafasnya terasa sesak mulai kembali normal. Pahlawan lain termasuk Rigel bergegas menuju Hazama, selagi menghindari bulu Phoenix.


"Kami tertolong..." Ujar Aland.


"Kini aku tahu rasanya menjadi makanan panggang." Nadia terengah-engah dan mengatakan hal yang tak dapat di mengerti.


"Bahkan dengan jubah dan item sihir itu tak berguna di hadapan wilayah ini." Ujar Takatsumi selagi menatap Phoenix di angkasa.


"Ya. Bahkan pertarungan lebih sulit dari yang di harapkan. Dengan suhu panas dan bulu brengsek itu, pertarungan menjadi sulit."


Marcel benar. Pergerakan menjadi terhambat dan lebih terbatas, dengan adanya batasan-batasan yang tercipta. Phoenix bahkan belum berpecah dua, menandakan bahwa dia masih baik-baik saja.


"Menghancurkan wilayah ini nampak sulit. Kita harus melakukan sesuatu. Rigel, apakah ada rencana?" Ozaru beralih pada Rigel, di ikuti Pahlawan lain.


Setiap kali mereka bergantung padanya tanpa mencoba menggunakan kepala mereka lebih keras lagi selalu mengesalkan. Yah, namun dia tidak bisa menyalahkannya. Bahkan dirinya tidak dapat memikirkan jalan yang pasti.


Sial, Lagi-lagi seperti ini. Aku sangat benci bertarung pada sesuatu bernama keberuntungan!


Batin Rigel.


Dia menggertakkan gigi, selagi perlahan mengatur pernafasan nya kembali. Ketimbang dia dan menunggu di habisi, lebih baik menyerang dan membuat keajaiban sebisa mungkin.


"Ada dua jalan, singkat saja ketimbang rencana, ini lebih ke sebuah pertaruhan." Rigel berhenti sejenak dan memandang bagaimana reaksi yang lain.


"Huft, kau memang sangat suka bertaruh ya, Rigel," Takumi tersenyum masam, "Mari kita dengarkan."


Kupikir dia akan menolak, namun reaksinya melebihi harapanku. Batin Rigel.


Memandang yang lainnya, nampaknya tidak seorangpun menyerukan keberatan. Mereka tahu dengan betul, berdiam diri seperti kambing dungu hanya akan membawa kematian.


"Singkat saja, ada dua jalan. Pertama, kita gunakan Territory untuk menghancurkan Territory miliknya. Aku tidak tahu dengan yang lain, yang kutahu hanya aku dan Takumi yang dapat menggunakannya. Jika kita mengaktifkan lebih dari satu Territory di dalam Territory, akan terjadi bentrokan dan berkemungkinan besar ke-tiganya hancur bersama."


Itu hanyalah sebuah teori yang di buatnya belaka, namun kemungkinan seperti itu benar-benar ada. Jika Territory dapat di hancurkan dengan Territory lebih kuat dari dalam, bukannya tidak mungkin menghancurkan nya dengan dua Territory.


Bentrokan besar antara kekuatan akan terjadi. Kemungkinan terburuk hanya akan terjadi ledakan besar.


"Jujur saja, aku tidak dapat melakukannya. Bahkan tidak ada seri kutukan dari senjataku." Marcel berkata dengan pahit.


Di lihat dari raut wajahnya, bukan hanya Marcel. Tetapi yang lainnya tidak memiliki kekuatan Territory. Tentunya Rigel mencurigai, seharusnya ada satu sosok lagi yang dapat menggunakan namun tetap diam.


"Jika begitu, haruskah kugunakan seri kutukan sekarang?!" Takumi mulai tergesa-gesa.


"Jika begitu, kau akan sulit bertarung dan pasti ada bayaran dengan menggunakan kutukan. Aku sendiri memiliki satu dari 7 seri kutukan, tentunya bayarannya cukup besar."


Takumi dan Pahlawan lain terkejut. Mereka tidak pernah mendengar Rigel memilikinya, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu.


"Lalu, apa pilihan keduanya?" Nadia mengalihkan pembicaraan ke topik selanjutnya. Instingnya mengatakan bahwa jalan kedua merupakan pertaruhan terburuk.


Ini sesuatu yang tidak ingin Rigel pilih sebagai taruhan. Sebisa mungkin dia ingin menghindarinya, namun seperti biasa harapan tidak pernah menjawabnya.


"... Huft, bangsatt. Aku paling tidak ingin melakukan ini. Cara kedua sesuatu yang harus kulakukan sendiri."


Rigel berjalan keluar Shield Area mikik Hazama. Udara panas kembali menusuk kulitnya, dan paru-parunya serasa di cengkram dengan kuat. Satu hal yang pernah di lakukannya dan tidak ingin dia lakukan. Namun kali ini, dia akan menggunakan cara yang berbeda dari sebelumnya.


"Akan kuhancurkan Territory ini. Hazama, cepat siapkan Perisai terkuatmu! jangan menungguku!" Meninggalkan kata-kata itu, dia melompat dan terjun bebas menuju lahar merah yang panas.


Bukan ketakutan seperti yang di harapkan, melainkan kesenangan tersendiri yang di rasakan. Bahkan bibirnya tersenyum lebar.


"Tunggu, Rigel!" Teriak Ray.


"Menghancurkannya?! apa dia sudah gila??" Bahkan Hazama tak memahami maknanya.


"Krgh! si brengsek itu, sudah cukup gila untuk mengangkat Genmu dan menciptakan Nuklir, sekarang dia hendak menghacurkan tempat ini?!! Tidak bisakah dia berhenti menjadi lebih gila dari ini!" Hazama mulai mengutuk, selagi mempersiapkan Perisai terkuat seperti yang di perintahkan.


Perisai di tangan Hazama berubah, menjadi Perisai biru dengan corak bintang yang mengeluarkan cahaya terang.


"Engkau bintang yang memberikan perlindungan, Orion, tunjukanlah kuasamu atas pertahanan mutlak, atas perintah Pahlawan Perisai turuti lah perintahku! Perlindungan Orion!" Cahaya biru muda menyelimuti mereka dan perlindungan bintang terbentuk.


Rigel terus berlari menuju titik tengah Territory dan menemukan lautan Lahar merah. Dia menyiapkan Jubah Salamander dan menggunakan semua yang di milikinya untuk membungkus tubuhnya. Tanpa sedikitpun keraguan di hatinya, dia melompat ke lautan lahar.


Hehe, aku bahkan tidak tahu akankah diriku masih waras atau gila!


"Air adalah Air, Air sumber dari kehidupan, Air memberikan kehidupan, dan kehidupan membutuhkan air... Kekuasaan Air Poseidon : Air Mata Poseidon!"


Sebuah tetes air muncul tepat di sorot pandang Rigel. Satu tetes yang sanggup menenggelamkan dunia dan mengubahnya menjadi dunia air.


"Hehe, tenggelamkanlah wilayah ini dengan air kesedihan!"


Air yang awalnya hanya satu tetes kini mulai berubah menjadi sebanyak air di lautan. Air berbenturan dengan Lahar panas, menciptakan uap-uap yang cukup untuk membuat kulit melepuh.


Territory menjebak segala benda dan kehidupan dalam satu tempat, tidak terkecuali gas atau udara. Tujuan Rigel sangat sederhana, membuat Lahar panas Territory Phoenix dan Air Mata Poseidon saling berbenturan untuk menciptakan uap panas dan ledakan besar hasil dari bentrokan itu akan tercipta.


Tentunya jika Rigel benar-benar sedang sial, tubuhnya dapat terbakar habis dengan ledakan itu, bagai pedang bermata dua. Jika ini berhasil, maka setidaknya Phoenix dapat terluka dengan ledakan ini, meskipun dia tahan terhadap api.


Uap berkumpul memenuhi Territory Phoenix dan bersamaan dengan itu, ledakan besar terjadi akibat bentrokan Lahar dan air dalam volume besar. Bagaimana dengan nasibnya Rigel? babak dua akan berlanjut!