The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Transformasi Marionette



Bala bantuan tiba tepat pada waktunya. Para tentara mulai melenyapkan boneka milik Marionette yang tersebar ke penjuru kota. Para budak yang dikurung mulai membebaskan diri dan berkumpul disatu tempat yang dipimpin oleh Theresia.


Hal yang diminta Rigel kepada Theresia dan budak lainnya adalah untuk menyebarkan berita bahwa kekacauan akan terjadi dan para budak harus mengambil kesempatan itu untuk mengamuk dan berkumpul di pusat kota untuk pertolongan.


Mereka tidak pernah tahu siapa dan darimana para tentara dengan senjata aneh itu berasal. Mereka selalu terkurung di tempat ini, sehingga informasi yang dimiliki sangatlah terbatas.


"Siapa dan darimana mereka? Aku belum pernah melihat senjata dan perlengkapan seperti itu," ucap Theresia selagi memandang tentara yang menghancurkan para boneka.


Mendengar itu, salah satu budak yang berasal dari rumah bordil mengangkat tangan dan mulai berbicara.


"Umm, aku pernah mendengar sesuatu dari pelanggan yang menggunakan jasaku. Dia pernah berkata bahwa ada negara baru yang dibangun seorang Pahlawan dan negara itu memiliki persenjataan unik. Bahkan, negara itu menjadi yang berkontribusi paling besar dalam penaklukan Tortoise, setelah Pahlawan. Kalau tidak salah nama negara itu,umm, Re, Regi...," dia berusaha mengingatnya sekeras mungkin. Selagi berusaha mengingat, seorang tentara pria berambut coklat menghampiri mereka.


"Apa maksudmu Region?" ucapnya dengan senyuman lembut.


"Ya, Region! itulah namanya!" Gadis itu ingat dengan nama negara yang dimaksud, namun terlambat karena prajurit di depannya telah menyebutkannya.


Pria berambut kecoklatan itu mengenakan pakaian yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Jika tentara lain menggunakan pakaian hitam ketat, maka orang ini menggunakan jas hijau army dengan sebuah lencana bintang di sakunya.


"Dilihat dari penampilan kalian, nampaknya kalian para budak,ya. Aku juga menyadari bahwa para budak di kota ini berlarian keluar selagi menghindari boneka dan para tentara. Mereka memiliki tujuan yang sama dan sampai pada tempat ini. Apa yan sedang kalian rencanakan dengan memanfaatkan kekacauan ini?"


Suaranya tetap tenang dan senyumannya tidak menghilang. Namun tetap saja hal itu membuat Theresia dan budak lainnya merasa gugup. Dia tahu dari Matsu bahwa bala bantuan akan tiba. Namun tidak pernah menduga bahwa yang datang adalah prajurit dari negara baru.


Apa dia berniat menjual kami kepada negara ini? batin Theresia.


Orang bijak mengatakan bahwa banyaknya budak pada suatu negara, menandakan kemakmuran. Region adalah negara baru, tentunya mereka pasti sedang mencari banyak budak untuk membangun negara mereka dan untuk tujuan itulah mereka datang ke tempat ini, atau begitulah yang dipikirkan Theresia.


Tidak-tidak! Aku harus percaya pada Matsu bahwa dia tidak berniat melakukan itu..., Theresia meyakinkan dirinya sendiri dan melangkah maju, menggantikan semua orang.


Theresia meneguk air liurnya dengan gugup dan khawatir akan hal yang tidak akan pernah terjadi. Dia mengambil sebuah benda yang diberikan Matsu kepadanya dan memintanya menunjukan itu langsung kepada prajurit.


"Umm, ini, aku mendapatkannya dari seseorang bernama Matsu..," Theresia menyodorkan pistol di tangannya dan membuat pria di depannya terkejut.


"Ini..., Ahahaha, jadi begitu, aku mengerti kenapa kalian berkumpul disatu tempat. Tidak mengejutkan bila Rigel campur tangan langsung terhadapnya."


"Rigel?"


Theresia belum pernah mendengar nama itu. Dia telah mengatakan bahwa 'Matsu' lah yang memberikan benda itu kepadanya. Namun pria itu justru menyebutkan nama Rigel.


"Ahh, jadi begitu. Kalian belum mengetahui siapa dia sebenarnya ya. Akan kuberi tahu, orang yang memberikan kalian benda ini bernama Amatsumi Rigel, sang Pahlawan Creator," ujarnya dengan senyuman.


Theresia dan budak lain begitu terkejut swtelah mendengarnya. Mereka tidak pernah menduga bahwa Pahlawan yang suci mau menapakan kakinya di tempat kotor seperti Darkness. Theresia memandang pria di depannya,


"Lalu..., bisakah aku bertanya siapa kau sebenarnya?"


Pria itu hanya mendengus tersenyum, "Aku raja dari kerajaan Region. Namaku Asoka Van Yurazania. Yah, meski mungkin aku harus mengganti margaku menjadi Region," Asoka hanya bisa tersenyum masam, ketika memikirkan nama barunya yaitu 'Asoka Van Region'. Mungkin terdengar sedikit bagus, menurutnya.


Mendapati identitas orang di depannya adalah raja, dengan panik Theresia dan budak lainnya bersujud di hadapan Asoka.


"Mo-mo-mohon ampuni kami atas kelancangan kami, Ya-yang mulia!!"


Mereka takut mendapat hukuman, mereka takut mendapat penyiksaan dan mereka takut mendapat kematian atas kelancangan.


Ahh, sial! Seandainya kami sudah menduga bahwa dia sosok penting sedari awal, maka...!!


"Ahh~, kalian tidak perlu sekhawatir itu. Aku tidak akan melakukan hal buruk kepada kalian, justru aku datang untuk membantu kalian dan memberi perlindungan kepada kalian."


Theresia terbelalak terkejut mendengar kata-kata yang tidak pernah disangka akan dia dengar. Selama hidupnya, dia tidak pernah menemukan orang yang berkata baik dan tidak memandang rendah para budak. Raja yang satu ini adalah yang pertama baginya.


Theresia hendak mengatakan sesuatu, namun seorang prajurit berlari menghampiri Asoka dengan tergesa-gesa.


"Yang Mulia!" teriaknya, "60 boneka nampak bergegas menuju tempat anda saat ini dengan tujuan pengepungan!"


Senyum di bibir Asoka menghilang dan dia kembali fokus pada pertempuran, "Pindahkan semua orang termasuk mereka ke tempat Pahlawan tombak dan panah berada. Mereka jauh lebih aman berada di bawah perlindungan mereka. Untuk para boneka itu, aku sendiri yang akan turun tangan."


"Baik, dimengerti. Mohon berhati-hati, Yang Mulia."


"Ya, lagipula sudah cukup lama aku tidak bersenang-senang," meluhat senyuman di bibir Asoka, prajurit itu juga ikut tersenyum dan mengatakan :


"Selamat bersenang-senang," bersamaan dengan itu, Asoka melompat pergi dan meninggalkan prajurit dan para budak untuk pergi ke tempat Takumi daj Yuri berada.


Di sisi lain, setelah menyelamatkan bocah yang diselamatkan Moris, Odin menaruhnya disatu tempat bersama dengan orang lain yang dia ungsikan disebuah gudang di pinggiran kota. Odin menghancurkan puluhan boneka yang mendekat seorang diri.


"Sial, mereka tidak ada habis-habisnya," ujar Odin selagi terengah-engah.


Jika keadaan terus berlanjut, hanya perlu waktu baginya untuk tumbang karena rasa lelah berlebihan. Dia bersyukur bahwa sebelum pertandingan dimulai, Rigel mengembalikan Odin Sword karena dia tidak dapat menggunakannya.


Yang membuat pedang ini tidak bisa digunakan sembarang orang karena adanya syarat yang merepotkan yang harus terpenuh. Syaratnya adalah, hanya orang dengan nama Odin saja yang dapat menggunakan pedang ini. Karena itulah, hanya Odin saja yang dapat menggunakannya.


Delapan boneka datang menerjang langsung kepadanya. Odin menebas mereka menjadi dua bagian, namun dia masih tertinggal enam boneka yang siap memotongnya. Odin tidak dapat bereaksi dan bersiap menerima rasa sakit, namun sebelum bilah itu tiba, sebuah suara bergema di tempat sekitar.


"Teknik dua : tebasan!"


Tiga boneka yang tidak sempat ditangani Odin mulai terpotong menjadi potongan kecil dengan rapih. Namun masih ada tiga lainnya, tetapi mereka juga terpotong akibat cakar tajam. Odin menoleh dan menemukan Garfiel dan Leo datang untuk menolongnya.


"Terima kasih, aku tertolong berkat kalia. Bagaimana keadaan di sana?"


"Sangat kacau, orang gila itu mulai mengamuk dan memanggil golem Adamantite yang sangat besar," ujar Garfiel.


"Tidak hanya itu, untuk membinasakannya, kita perlu menghancurkan setiap boneka yang ada karena dia dapat berpindah tubuh ke boneka miliknya yang lain," Leo menambahkan.


Odin mengangguk mengerti atas penjelasan singkat itu. Intinya, saat ini mereka hanya perlu memusnahkan para boneka di luar arena dan membiarkan Rigel membunuh Marionette begitu seluruh bonekanya lenyap.


Odin kembali bangkit dan terkejut begitu melihat kota disinari cahaya kebiruan. Tidak hanya itu, pilar dari logam juga terbentuk dengan tujuan mencegah runtuhnya tanah di langit-langit. Boneka yang beterbangan di udara mulai hancur akibat serangan cahaya keemasan kecil yang tidak diketahui Odin sampai Leo berkata...


"Itu, senjata api, yang berarti pasukan Region ada di sini!"


Odin tentunya terkejut, namun dia lebih terkejut ketika melihat tombak raksasa dan anak panah cahaya yang berjumblah banyak. Odin hanya dapat memikirkan Pahlawan tombak dan busur saja yang dapat melakukannya.


"Hehe..., Hahahaha! Orang itu benar-benar menarik, hebat dan menakutkan di sisi lain, si Rigel itu," Odin tersenyum senang dan menatap tempat yang jauh.


Sepertinya memang bukan sebuah keputusan yang buruk untuk mengikuti dan menyerahkan kesetiaanku kepada orang ini, batin Odin.


Begitu kuat, begitu waspada dan begitu cermat. Odin benar-benar bersyukur bahwa Rigel berada di pihak manusia. Karena dia sangat yakin, Rigel akan menjadi sosok paling merepotkan bila dijadikan sebagai musuh umat manusia.


"Huh~, sepertinya kita harus berjuang lebih keras lagi namun aku telah begitu lelah, jadi aku hanya akan menyaksikan. Sekarang giliran kalian generasi muda untuk menunjukan kemampuan kalian."


Boneka-boneka lain mulai berdatangan dan Odin kembali duduk di tanah. Dia akan menyerahkan para boneka itu kepada Garfiel dan Leo untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan.


***


JDOOM!


Dentuman keras bergema di arena akibat dua serangan kuat saling berbenturan. Laser merah mematikan milik Marionette dengan Api biru, Purgatory milik Rigel. Kedua serangan itu sama kuatnya sehingga tidak ada yang unggul ataupun lebih lemah.


Rigel perlu untuk mengulur waktu sebanyak mungkin tanpa mencoba untuk melenyapkan tubuh boneka Marionette yang saat ini berada di depannya. Rigel juga sesekali mencoba menggunakan Void untuk melenyapkan atau mengeluarkan jiwa Marionette namun selalu gagal.


Marionette tidak sebodoh itu untuk membiarkan dirinya sendiri dilenyapkan. Rigel tidak memiliki pilihan lain selain menunggu kabar bahwa boneka Marionette telah berhasil lenyap sepenuhnya.


"Orang gila ini memang sangat merepotkan, sialan."


Marionette dengan gila terus menembakan laser merah dan ledakan energi menuju Rigel. Entah bagaimana, Marionette sama sekali tidak terlihat lelah meski terus menggunakan sihir dalam jumlah besar. Pilihan untuk menunggu Marionette kehabisan sihir nampaknya memang mustahil, ya.


"Mati, mati, mati, mati, matilah kau keparat, bajingkan kampret, anjing sialan, babi terbang!!"


Rigel yang terbang selagi mengatasi setiap serangan Marionette mulai mendengus dan memprovokasi Marionette lebih jauh lagi.


"Ahh, aku pernah melihat babi terbang, kalau tidak salah namanya adalah Lucifer... Oh, benar juga, Lucifer adalah babi yang kalian Pilar iblis sangat cintai!"


"Sialan!! Tidak hanya memberikanku penghinaan, tetapi kau juga mengejek tuan Lucifer!! Kau tidak akan termaafkan, sulit termaafkan karena tidak bisa dimaafkan, Aludra!!"


Meski Rigel benar-benar penasaran dengan Aludra yang nampaknya melakukan hal keji kepada Marionette, namun dia berterima kasih karena berkatnya, Marionette menjadi gila dan tidak sabaran.


Misal saja dia tidak segila dan tidak sabaran seperti ini, Rigel sangat yakin bila dia akan menjadi musuh yang paling sulit dikalahkan. Jika Marionette meninggalkan satu boneka yang berada jauh dari pertarungan, maka dia akan sulit untuk dibunuh selama memiliki boneka cadangan yang berada diluar zona pertempuran.


Bahkan menghadapinya yang seperti ini cukup merepotkan. Aku tidak bisa sembarangan menghancurkan boneka yang dirasukinya dengan sembarangan..., batin Rigel.


Tentunya dia bisa memperlambat waktu seperti yang dia lakukan ketika menghadapi Lucifer di depan gerbang dunia bawah. Namun dengan melakukan itu akan membuat Rigel cukup lelah dan terlalu beresiko menggunakannya. Belum lagi, dengan diperkuatnya Void berkat air kehidupan Excalibur, Rigel tidak tahu seperti apa dampak yang akan dia terima saat menggunakannya.


"Bajingan, brengsek, keparat, sialan, tahi, anjing, tolol, babi terbang! Berhentilah beterbangan ke sana-sini dan biarkan aku membunuhmu! Aludra keparat, Aludra brengsek, Aludra sialan, Aludra idiot, Aludra bajingan!"


Mana ada orang yang cukup bodoh untuk membiarkan dirinya sendiri terbunuh begitu saja.


"Jika begitu, kenapq kau tidak mengejarku saja, idiot? Apakah bawahan Lucifer yang menjijikan itu benar-benar sangat lemah sampai tidak dapat mengejarku? Ahh, benar-benar membosankan."


Rigel dengan sengaja memancing terus menerus kemarahan Marionette untuk membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih. Lagipula sudah sangat lama Rigel tidak menggunakan kesaktian yang dia miliki semenjak kecil, sampai-sampai perawat di panti asuhan memukulinya. Kesakitan itu adalah provokasi.


"Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus..., baiklah jika itu maumu, baiklah jika itu keinginanmu, baiklah jika itu permintaanmu, baiklah jika itu permohonanmu! Akan kukabulkan, akan kuwujudkan, akan kulakukan, akan kulaksanakan, akan kuturuti keinginanmu!!"


Marionette berhenti menyerang dan Rigel dapat merasakan bahaya lain akan datang. Tubuh para boneka yang berserakan perlahan bergetar, tidak terkecuali tubuh golem Adamantite yang tergeletak. Perlahan, tubuh para boneka yang berserakan berterbangan dan berkumpul di sekitar Marionette.


"Aku pengendali boneka, jelas pengendali boneka, bermain boneka, berteman dengan boneka, karena aku boneka..., Transformasi : Wujud Kranos!"


Seluruh boneka buatannya yang berada di kota Darkness berkumpul dan bersatu, membentuk wujud raksasa yang sangat besar, hingga mencapai langit-langit yang kini tertutupi besi. Kilauan cahaya menutupi tubuhnya, sampai akhirnya memperlihatkan raksasa dengan wujud wanita hitam di hiasi rune kuning seperti nyala api. Dia memiliki empat tangan yang memegang belati, sabit, pedang dan palu.


Ukurannya sangat besar, sampai arena pertarungan hancur total yang membuat Rigel segera menyingkir dari sana. Rigel berdiri di samping Gahdevi, menatap dengan terkesima wujud milik Marionette


"Wahh, sepertinya aku salah menginjak ranjau ya," gumam Rigel dengan senyuman di bibir.


"Aku akan melumatkanmu segera, ALUDRA!!"


"Oi, oi, apa ini benar-benar baik saja, tuan Pahlawan?" Gahdevi bertanya kepada Rigel. Yang mengejutkan dari Gahdevi adalah dia tidak memiliki sedikitpun jejak ketakutan dari sorot matanya.


"Hanyan ukurannya yang bertambah besar, kau bahkan sama sekali tidak terlihat ketakutan. Kalau begitu, bagaimana kita cicipi langsung seberapa kuat dirinya yang sekarang?"


Gahdevi hanya mendengus seakan baru saja mendengar sebuah lelucon yang membuatnya geli.


"Ya, kesempatan yang langka untuk bertarung bersama Pahlawan. Mari kita mulai saja?"


Meninggalkan kata-kata itu, mereka bersamaan melompat menerjang langsung Marionette dengan wujud kranosnya. Pertarungan baru saja akan dimulai.