
Tongkat yang awalnya panjang memendek sampai seukuran manusia. Pria yang menggunakan tongkat itu melompat masuk dari udara dan saling memunggungi Rigel.
"Maaf agak sedikit terlambat."
"Tidak apa, aku tertolong berkatmu."
Kedatangannya tepat pada waktunya, dengan ini kekuatan tempur mereka meningkat. Ozaru bukanlah sosok yang dapat diabaikan. Meski masih tidak diketahui, apakah dia dapat melakukan hal lain selain memanjang pendekkan tongkat, memanggil Kinton dan berubah menjadi raksasa.
Rigel tertarik untuk mengetahuinya, bukan dari mulut Ozaru, melainkan dengan matanya sendiri. Karena itu, dia tidak pernah bertanya. Meski dapat melakukannya, dia tidak bertanya apapun kepadanya.
"Bertambah satu lagi, kayaknya..., nampaknya tidak, jika diriku tidak mengecualikan pengecut yang bermain di tempat jauh itu, kayaknya."
Tidak akan mengejutkan bila dia dapat mengetahui terdapat orang-orang di jarak kejauhan. Namun, dia tidak menduga akan secepat ini. Kemungkinan terburuknya White Tiger pergi meninggalkan mereka dan mengincar yang dibelakangnya.
Namun, kemungkinannya kecil, setelah dia mengetahui kepribadian yang dimiliki lawannya. Singkatnya, dia memiliki harga diri besar dan pemahaman aneh tentang kehidupan dan sesuatu yang dia ocehkan sebelumnya.
"Lantas kau ingin mengalahkan para pengecut yang bertarung dari belakang??" Rigel memprovokasi, meski tahu tidak akan terpengaruh apapun.
"Kendati aku tidak melakukannya, mengalahkan kalian tanpa terluka akan menjadi angan-angan. Meski kalian hanyalah manusia rendah, diriku tak menganggap remeh kalian. Bahkan Goblin sekalipun dapat menggores tubuhku jika seluruh spesies bersatu melawanku...,"
Nampaknya mencoba menebak pemikirannya sungguh mustahil. Monster ini tidak dapat bergerak sesuai perkiraan, selalu saja berada di luar pemikiran.
Bila saja White Tiger mengabaikan Rigel dan yang lain dan memilih menyerang garis belakang, maka segala strategi yang diciptakannya tidak ada gunanya.
"Sepertinya dia memang tidak bodoh, ya," Ray bergumam selagi tersenyum masam.
Akan buruk bila White Tiger memilih menyerang Yuri, dikarenakan itu dengan paksa Rigel memberikan tanda untuk rencana cadangan. Rigel menembakan pistol asap ke udara, meski akan terhapus dengan cepat oleh hujan.
Asap hijau telah ditembakkan, memberitahu semua orang untuk berganti rencana. Dari yang awalnya menyerang dengan diam-diam dan saling bergantian, kini mereka berganti menjadi serangan gerilya.
"Cukup baik, asap itu berguna untuk mengubah rencana, kayaknya."
Tidak perlu disembunyikan lagi, segala niatnya terungkap dengan mudah. Maka bukan sebuah pilihan yang salah, bila mengganti rencana dengan cepat.
Kendati mereka memilih diam dan mengamati pergerakannya, White Tiger mungkin dapat melangkahi garda depan tanpa perlawanan dan menghancurkan barisan belakang terlebih dahulu. Bila garis belakang hancur, maka segala rencana persiapan akan kacau dan jatuhnya korban jiwa tidak dapat terhindari. Dikarenakan itu, tiada salahnya bertindak lebih awal.
"MELOMPAT!!"
Meninggalkan kata-kata itu, semua melompat keluar dari persembunyiannya. Bukan untuk menyerang atau menghindari White Tiger, melainkan menghindari puluhan ribu peluru api yang di tembakan melalui senjata otomatis. Tidak cukup sampai di sana, menyadari Pahlawan lain bergerak pada waktunya dan saling melindungi punggung, Rigel memanfaatkan air hujannya untuk mengubahnya menjadi butiran air setajam jarum. Jarum air itu melesat, beriringan dengan laju peluru api.
Seluruh peluru ditembakkan dari segala arah, memungkinkan White Tiger tidak dapat melarikan diri di tengah hujan air dan peluru.
"Seperti yang diduga, manusia rendah semacam kalian senantiasa memikirkan hal hina dan licik, kayaknya,"
White Tiger hanya diam di tempat, tanpa memperdulikan sedikitpun hujan peluru dan jarum mendekat kepadanya. Sikapnya, wajah monsternya ya tiada bedanya dengan orang bosan yang sama sekali tak merasakan bahaya, bencana ataupun kekacauan menghampiri.
Sosoknya berdiri tegak dengan keempat kakinya. Mengabaikan segala bahaya yang mendekat, dia mengangkat kaki kanan depan dan menghantam tanah dengan kuat. Tubuhnya terhempas ke udara, tanah tempat berpijak sebelumnya hancur akibat hentakan dan ribuan peluru yang menghantamnya.
Tentunya tidak akan semudah itu, ya..., batin Rigel selagi menatap White Tiger yang berada di udara.
Dia menatap Rigel dan yang lain layaknya menatap serangga jelek yang hendak menemui ajalnya. Begitu jelek, tidak menarik dan menjijikkan. Hampir dia berniat melenyapkannya dengan satu serangan penghabisan, namun mengurungkan niatnya karena akan menimbulkan kelelahan berlebihan.
Lagipula, dia merasa sesuatu tidak mengenakan datang dari manusia berambut putih—lebih tepatnya kepada sesuatu yang dia miliki. Perasaan hampa, tidak menyenangkan, kesepian, kesedihan dan berbagai perasaan lainnya. Namun diantara semua itu, perasaan keputus'asaan menghantuinya.
Dari sudut pandang White Tiger, sesuatu yang dimiliki manusia berambut putih— Rigel, membuatnya sedikit bersukacita. Baginya hal semacam itu adalah sesuatu yang dapat menyucikan dunia yang terlampau kotor dan menjijikkan. Membunuhnya di sini akan merugikan, namun bila dapat membuatnya berada dipihaknya, tujuannya akan tercapai, begitulah yang terpikirkan oleh White Tiger.
"Manusia rendahan, mari lihat seberapa kuat kalian."
Roaarrrrwwwrrr...,
White Tiger mengaum dengan keras, menghempaskan angin dan gelombang suara super tinggi menuju garda depan dan tengah. Marcel dan yang lain bergabung bersama Rigel untuk mendapat perlindungan.
Rigel mengumpulkan tenaga di tangan kirinya, Mana berkumpul dan menciptakan partikel-partikel kebiruan yang serupa dengan tetes air yang melayang, seakan melawan hukum fisika.
Menarik mundur tangannya dan mengancang-ancang dengan kuat, dia memukul udara dan mengirimkan gelombang energi kuat disertai duri air tajam yang menembus gelombang suara, menuju langsung White Tiger.
Boom!!
Dentuman keras terdengar, meski hanya udara yang tak memiliki wujud fisik yang dia pukul. Bola-bola air melesat dengan kecepatan suara, menerjang langsung White Tiger.
Menatap kilatan kebiruan yang melesat ke arahnya, White Tiger menghilang dari tempat, mengejar Aland yang memiliki refleks paling lambat dari yang lainnya. Aland berputar 180° selagi mengayunkan palunya, namun White Tiger kembali menghilang dan terjun dari langit bak sebuah meteor putih berkecepatan tinggi.
Aland mengubah jalur laju palunya yang awalnya berayun secara horizontal kini berubah arah menjadi diagonal.
"Keparat!!"
Duar!!
Hembusan angin kencang terhempas ke udara, tempat White Tiger berada sebelumnya, karena kini dia telah berada tepat di belakangnya. Aland terbuka lebar, tanpa pertahanan sedikitpun dan cakar White Tiger hampir mengoyak pinggangnya. Di detik menentukan, Nadia saling menghantamkan cakarnya dengan White Tiger. Dari tehnik dia nyaris menyainginya, namun dia kalah dalam fisik sehingga terhempas dengan sangat kuat. Meski begitu, setidaknya dia berhasil menjauhi Aland dari kematian.
Mendapati Nadia terhempas dengan sangat kuat, Ray berusaha meminimalisir kerusakannya dengan menghadang dan menangkap Nadia. Bahkan dengan kekuatannya, Ray terdorong mundur beberapa meter hingga akhirnya berhasil menahannya.
Tidak ingin tertinggal, Marcel, Takumi, dan Ozaru mengepung dari tiga arah termasuk udara. Tujuannya untuk memenggal kepalanya dalam satu kali serang, namun mereka bertiga terhempas diwaktu bersamaan. White Tiger kembali berada di udara, Rigel menatap ke arahnya dan memperagakan gerakan atlet tolak peluru dengan tangan kirinya. Bola biru ditelapak tangan dan lima bola kecil lain di jari-jari terbentuk dan melesat cepat menuju White Tiger, namun lagi-lagi tidak mengenainya. Lagi-lagi tidak dapat menggoresnya, seakan segala serangan yang menujunya ditakdirkan untuk tidak mengenainya.
"Tch! Nyatanya tak semudah membakar kertas!"
Rigel mulai mengutuk kesal. Meski ukurannya berbeda dan lebih kecil dari malapetaka lain, melawannya jauh lebih menyusahkan dengan kecepatan gilanya itu.
"Kecepatannya tidaklah normal, bahkan aku tak dapat mengikutinya," ujar Marcel. Aland mengangguk setuju dengan ucapannya.
Kecepatannya memang sesuatu, namun dari yang dia amati, terdapat sebuah kejanggalan dari pergerakannya. Meski tidak diketahui benar atau tidak, setidaknya patut untuk dicoba.
"Meski begitu, tidak ada jalan lain selain terus menyerang," Ozaru memperingati.
Ray dan Nadia bergabung bersama mereka dan saling melindungi punggung, takut kalau monster itu dapat muncul dimana saja. Memperhatikan hal itu, White Tiger menampilkan taring tajam dan air liur yang berceceran keluar, dalam sekejap sosoknya menghilang.
Kali ini dia tidak langsung muncul, terdapat jeda beberapa detik sebelum insting mereka berbunyi dalam waktu bersamaan.
"Dari atas!!"
Mendengar itu, Ozaru sedikit melompat, bermanuver di udara dan memperpanjang tongkatnya. Dia berputar seperempat lingkaran dan menampar kuat sosok White Tiger yang terjun bebas menuju mereka.
Tamparan menggunakan tongkat nampaknya berhasil mengenainya. Buktinya, laju White Tiger berubah dan menghantam pepohonan terdekat. Meski dia cepat, bukan berarti dia tak terkalahkan. Pastinya akan selalu ada kelemahan dan kelengahan dari kecepatannya yang super luar biasa itu.
"Sepertinya berhasil!" Nadia berseru, begitu juga Aland yang nampak puas.
Dikarenakan kebanyakan dari serangan mereka meleset terus menerus, satu pukulan ini lebih dari cukup untuk mengembalikan mental dan semangat juang.
Konon, runtutan serangan yang sama sekali tidak mengenai lawan dapat menyebabkan seseorang menerima banyak beban psikologis yang menyebabkan frustasi berkelanjutan. Mungkin lebih mudah diumpamakan seperti kau tengah mencoba membunuh lalat menggunakan sumpit, namun tak kunjung mendapatkannya hingga akhirnya benar-benar terbebani dan kesal terhadapnya.
Jika diamati lebih baik, hal itu nampaknya sudah diincar White Tiger semenjak awal, dikarenakan dia sengaja tidak memaksakan diri untuk melukai secara fisik. Dia justru mencoba melukai yang lain melalui beban mental.
"Jangan senang dulu, dia tidak akan mati dengan hal seremeh itu," Rigel memperingati yang lain. Dia kembali beralih kepada Ozaru di sisinya, yang nampaknya menyadari sesuatu juga.
"Apa kau memikirkan hal sama denganku??" Tanyanya, tanpa mengalihkan perhatiannya kepada White Tiger yang bangkit bangun, tanpa debu yang menempel sedikitpun di tubuhnya.
"Mungkin saja..., ada baiknya kita coba saja??"
"Ya."
Meski mereka tidak mengatakan pemikiran masing-masing, Rigel cukup meyakini bahwa Ozaru memiliki pemikiran sama dengannya. Selain itu, mungkin Ozaru salah satu dari sedikitnya orang yang memahami cara berpikir Rigel.
Meski tidak terdapat bukti kuat yang menguatkannya, tidak ada salahnya menjadikan pertarungan ini sebagai bukti bahwa mereka memahami satu sama lain.
Mendapati Rigel dan Ozaru memiliki pemikiran dan rencana tanpa sepengetahuan mereka, Marcel dan yang lain berinisiatif untuk mendukung sebaik mungkin. Dengan cara tidak menghalangi dan tidak bertindak gegabah seorang diri.
"Wahh, wahh, menjengkelkan juga, kayaknya. Sejak diriku bertujuan untuk menyucikan dunia, ada dekrit yang harus dipatuhi mahkluk hidup, terutama yang rendah. Dekrit itu berisi, apapun itu dari yang rendah menyentuhku, maka binasalah dia."
Suaranya tetap saja kasar, seperti om-om, namun nadanya begitu dingin bagaikan jarum yang tertanam ratusan tahun di dalam Es dan ditusukkan ke kulit.
Ini buruk, meski hal baik bahwa dapat melukainya, membuatnya marah secepat ini bukan pilihan. Setidaknya, biarlah kucing itu mengamuk seketika Rigel dan Ozaru selesai mengetes hal yang berada di kepala mereka.
"Kampret! Mari lakukan sekarang, Ozaru!!"
"Ya!"
Mereka berdua berlari dengan tujuan menghadapi langsung White Tiger tanpa perduli akan pertahanan diri. Karena lebih dari apapun, tiada pertahanan terkuat selain serangan terkuat.
Rigel mengumpulkan energi di tangan kiri untuk menciptakan Asura Punch, namun White Tiger yang berada di depannya menghilang, seakan tidak benar-benar berada di depannya. Kini, White Tiger berada di belakangnya, namun jangan lupakan Ozaru yang membayangi di belakangnya juga.
Dia mengibaskan tongkatnya menuju White Tiger, namun dihindari karena White Tiger telah berada di sisi mereka. Seakan sudah menduga hal itu, Rigel melemparkan Asura Punch raksasa tepat saat White Tiger muncul di sana, namun lagi-lagi dihindari dengan mudah.
Meski begitu, bukan kemarahan atau kekecewaan, kekesalan atau frustasi, melainkan senyuman lebar di bibir mereka berdua, tumbuh layaknya bunga mekar di pagi hari. Tidak menduga pemikiran mereka benar-benar sama. Tidak terduga juga bahwa pemikiran itu nampaknya teori yang masuk akal mengenai kecepatannya.
Begitu White Tiger menghilang, Ozaru memperbesar dan memperpanjang tongkatnya menuju langit tinggi, tempat White Tiger tiba—baru saja tiba, seakan berteleportasi. Dalam jeda waktu tersebut, Rigel juga mengumpulkan kekuatan besar di kedua tangan dan mengulurkannya ke depan. Tongkat Ozaru hampir mengenai White Tiger, namun sosoknya kembali menghilang. Tetapi—
"Material Buster!!"
—laser penghancur Rigel meledak ke tempat kosong yang secara tak terduga menjadi titik berpindahnya White Tiger. Untuk itu, dia dipaksakan menerima serangan Rigel mentah-mentah dan terhempas cukup jauh, bersama tanah dan pepohonan yang terbakar karenanya.
Meski kecepatannya benar-benar diluar kemampuan mereka, namun bukan berarti tidak ada cara menaklukkan kecepatannya, selama mereka mengetahui polanya.
"Sepertinya kita benar-benar satu pemikiran ya," ujar Rigel, tersenyum sedikit puas.
"Hahaha, ya..., benar-benar tidak terduga bahwa seperti itu konsep dibalik keganjalan tentang pergerakannya sebelumnya," Ozaru setuju dan ikut tersenyum.
Marcel dan yang lain nampak terkesima dan butuh waktu lebih lama atau tidak sama sekali terhadap pemandangan di depan mereka sebelumnya. Rigel dan Ozaru hendak menjelaskan bahwa White Tiger memiliki pola khusus dalam pelariannya, namun kemarahan dan sesuatu tak mengenakan menusuk kulit. Asalnya dari tempat Rigel menembakan laser penghancur—tempat White Tiger berada.
Sosoknya kembali terlihat. Meski menerima serangan besar sebelumnya, dirinya nampak baik-baik saja. Bahkan tidak ada debu atau kotoran menempel kepada tubuhnya. Selain itu, yang paling mengerikan adalah matanya berkerut tajam dan aura kebiruan memancar dari tubuhnya. Terdapat satu kata yang menggambarkan sosoknya kini 'Mengerikan'.
"Dua kali..., dua kali kalian melakukannya, kayaknya! Nampaknya kalian benar-benar perlu disucikan, kemari dan rasakan cakar yang membelah surga!!"
Kali ini niat permusuhan benar-benar keluar dari White Tiger, seakan pertarungan sebelumnya hanya terlihat bagai peregangan tubuh belaka. Entah masih dapat berguna atau tidak, pola yang ditemukan Rigel dan Ozaru akan tidak berguna bila White Tiger menahan diri sejak awal. Nampaknya, Death battle benar-benar baru akan dimulai sekarang dan saat ini juga.