
Takumi tiba di waktu yang tepat. Semua orang yang Rigel izinkan ke sini telah hadir. Semua sudah menunggu Rigel untuk memberitahukan tujuannya. Terutama mengenai pembangkitan Pahlawan yang di bicarakan Rigel.
"Aku ulangi ucapanku sebelumnya. Aku berniat melahirkan pahlawan baru, sekarang juga. Kalian adalah orang yang akan menyaksikan langsung keajaiban ini di depan mata kalian."
"T-tunggu!" Takumi menghentikan Rigel, "Apa maksudmu dengan melahirkan Pahlawan baru? dan, apa hubungannya dengan tubuh Nanami?"
"Tenanglah, Takumi. Aku baru akan menjelaskannya sekarang." Rigel menjawab,
"Seperti kataku, aku akan melahirkan pahlawan baru dan untuk hal itu, aku memerlukan Nanami yang sekarang adalah mantan Pahlawan. Aku juga membutuhkan kandidat yang cocok dengan senjatanya, yaitu cambuk. Di sanalah peran Merial berada."
Rigel menoleh ke arah Merial yang bingung, "Kupikir kau cukup ahli bermain cambuk dan belum lagi, kau adalah seorang Weapon Master. Jadi kupikir kau adalah seseorang yang cocok untuk tugas ini."
"T-tunggu, Tuan Rigel. Aku yakin kalau masih ada orang yang lebih layak dariku dalam menggunakan cambuk. Dan juga, apa alasan lain kau memilihku?" Merial menghentikan penjelasan Rigel untuk bertanya.
"Ada dua alasan. Yang pertama, aku membutuhkan orang yang berada dalam kendali dan kupercaya untuk menjadi Pahlawan. Dan yang kedua, kalian mungkin tidak mengetahuinya, namun aku juga bisa di bilang seorang mantan Pahlawan." Mendengar itu, semua orang yang ada di ruangan tercengang kaget.
"K-kau juga? b-bagaimana bisa?" Takumi bertanya kaget.
"Ya, kau seharusnya ingat jika si idior Altucray mengatakan aku kehilangan Divine milikku sehingga dia harus membunuhku. Untuk itu, aku akan membahasnya secara empat mata denganmu, Takumi." Rigel memberi isyarat bahwa dia akan menjelaskan hal itu nanti.
"Aku kehilangan Divine Protection yang nampaknya adalah hal yang di miliki pahlawan. Selain itu, aku ingat kalau senjata Ozaru bukanlah senjata ilahi dari dunia ini. Tongkatnya itu sudah dia miliki jauh sebelum datang ke dunia ini. Jadi, masih ada kemungkinan bahwa Pahlawan ke dua belas belum benar-benar di panggil."
Semua orang kembali tercengang karenanya. Jika benar kalau Tongkat Ozaru adalah sesuatu yang memang miliknya sejak awal dan bukan senjata ilahi, masih ada kemungkinan bahwa ada satu senjata pahlawan yang belum bangkit.
"Tapi, dari mana kau mengetahui hal semacam ini, Rigel?" Takumi bertanya selagi berfikir.
"Aku memiliki penyelidikan ku sendiri. Nanami mati, dan kualifikasi Pahlawannya hilang yang membuatnya menjadi mantan Pahlawan. Aku juga sama, namun aku masih hidup dan kekuatan Pahlawan Creator ku masih bisa kugunakan dengan baik. Lalu, tongkat Ozaru bukan senjata Pahlawan yang sudah ada di dunia ini... Singkatnya, aku memikirkan bahwa ada kemungkinan untuk melahirkan tiga orang Pahlawan lagi."
Sungguh, hal yang Rigel katakan dan ingin lakukan benar-benar sesuatu. Satu Pahlawan telah mati, dan jika hipotesis Rigel benar bahwa bisa menambah tiga pahlawan lain, maka akan ada total empat belas pahlawan suci. Keseimbangan kekuatan mungkin akan hancur dan kemenangan umat manusia meningkat walau hanya sedikit.
"Jadi intinya, kau ingin menjadikan Merial kelinci percobaan untuk memanggil Pahlawan baru dan membuatnya menjadi seorang Pahlawan. Untuk alasanmu memilihnya, apakah mungkin karena dia seorang Weapon Master?" Ray mengutarakan pikirannya.
Rigel mengangguk setuju, "Benar. Merial dapat menggunakan semua senjata yang dia pegang dan itu sesuatu yang jarang di temui. Jika teori ku tentang tiga Pahlawan baru, benar. Aku yakin Merial akan mendapatkan tiga buah pilihan untuk menjadi Pahlawan macam apa yang dia inginkan." Rigel sampai pada kesimpulan ceritanya.
Semua orang sedang mencerna informasi yang baru saja mereka terima.
"Jadi, jika Nona Merial tidak mendapat pilihan yang kau maksud, yang berarti kemungkinan tiga pahlawan itu tidak ada?" Tirith bertanya mengenai kesimpulan yang di buatnya.
"Benar sekali. Karena itulah, aku tidak terlalu berharap dengan kemungkinan tiga orang Pahlawan baru. Bahkan jika benar-benar ada tiga Pahlawan baru, akan butuh waktu untuk menyiapkan kandidat yang ada."
"Aku mengerti." Takumi mengangguk, "Jadi, apa hubungannya hal inini denan tubuh Nanami? dan bagaimana caramu melahirkan Merial sebagai seorang Pahlawan?" Lanjut Takumi.
"Aku sudah meminta Misa menyelidiki itu selagi membiarkan kau dan pahlawan lain mengatasi Tortoise."
Mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Kilas balik. Ini adalah pembicaraan rahasia Rigel dan Misa saat awal-awal kemunculan Tortoise. Rigel dan Misa yang sudah selesai mengobati Yuri pergi ke ruangan Kontrol, jantung sistem Region.
"Jadi, hal apa yang kau temukan?" Tanya Rigel.
"Ya, ini tentang penelitian yang kau minta padaku... Aku telah mengkonfirmasi bahwa... Pahlawan yang mati bisa di bangkitkan lagi." Misa berkata dengan tegas.
Mendengar itu, Rigel terkejut bahwa pemikiran acak yang dia pikirkan benar adanya, "Ceritakan lebih detail padaku."
"Ya. Awalnya aku sendiri sempat bingung kenapa kau memintaku memprioritaskan penelitian tentang kematian Pahlawan ketimbang batu ramalan. Seperti yang kau perintahkan, aku dan tim peneliti mencari berbagai informasi di perpustakaan Region yang sudah ada sejak jaman Raja Asland. Kami terus mencari catatan kuno di Kerajaan namun tidak dapat menemukan apapun, kecuali satu." Misa berhenti sejenak dan meminum minuman yang telah di sediakan Rigel.
"Kami menemukan sebuah buku dongeng Kanak-kanak." Lanjut Misa.
Rigel bergumam, "Buku dongeng?"
Misa mengeluarkan sesuatu dari Inventory. Benar saja, yang dia keluarkan merupakan sebuah buku dongeng yang sudah sangat usang. Rigel mengambilnya dan mencoba membacanya. Namun karena tulisannya adalah peninggalan dinasti kuno, Rigel tidak dapat membacanya.
"Berkat seorang Arkeolog yang merupakan teman Fang, kami dapat menguraikan isi dari buku cerita tersebut. Pada awalnya aku tidak mengharapkan apapun dari buku itu, namun setelah Arkeolog itu menguraikan nya, aku sangat terkejut. Buku itu menceritakan tentang seorang Pahlawan yang menemui ajalnya. Pahlawan itu nampaknya mati karena bertarung dengan seekor Naga. Namun, rupanya hal itu adalah sebuah skenario dari Kerajaan yang memanggilnya. Kerajaan itu telah berniat membunuh Pahlawan dan menggantikannya dengan orang lain. Mereka telah menyiapkan sebuah sihir untuk melahirkan pahlawan baru." Misa berhenti sejenak dan menarik nafas.
"Mereka memilih pangeran dari Kerajaan tersebut sebagai orang yang akan menggantikan Pahlawan yang mati itu. Dia mengucapkan sumpahnya di depan mayat Pahlawan dan membuat berkah Pahlawan mendengar sumpahnya lalu memilihnya sebagai pengganti Pahlawan yang mati sebelumnya... Dari hal ini, aku telah menyimpulkan beberapa hal mengenai pembangkitan Pahlawan yaitu :
-Kita harus menyiapkan sebuah lingkaran sihir pemanggilan pahlawan. Untuk menyiapkannya, di butuhkan waktu setidaknya satu minggu.
-Kandidat haruslah seseorang yang menguasai senjata ilahi dari pahlawan yang mati sebelumnya.
-Lalu, mayat pahlawan yang mati harus ada dalam pembangkitan itu dan kandidat harus mengucapkan sumpahnya. Sepertinya itu adalah syarat wajib jika ingin melahirkan pahlawan baru."
Rigel diam dan mencerna baik-baik penjelasan Nisa. Jika memang benar bahwa Pahlawan yang mati bisa di ganti, maka kejadian Tortoise ini bisa di manfaatkan oleh Rigel dengan membiarkan Pahlawan lain menghadapinya dan menunggu beberapa dari mereka yang menghalangi jalan Rigel.
"Kerja bagus, Nisa. Apa tidak ada lagi yang ingin kau laporkan?"
"T-tidak... Hanya saja, aku penasaran kenapa kau memintaku menyelidiki hal semacam itu." Misa tampak ragu saat mengatakannya.
Rigel diam sejenak dan mengatakan, "Untuk berjaga-jaga saja jika sesuatu semacam itu terjadi." Rigel mulai bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi.
"Untuk sekarang, cukup itu dulu. Beristirahatlah untuk saat ini, selagi bisa. Keadaan sedang sangat kacau di luar, sehingga aku mungkin memerlukan bantuanmu kapan saja."
"Baiklah kalau begitu. Panggil lah aku kapanpun kau mau." Misa tersenyum dan bangkit dari kursinya. Rigel juga tersenyum setelahnya.
Kembali ke waktu asal. Setelah mendengar cerita Rigel, Takumi menggaruk pelipisnya dan mencerna cerita Rigel.
"Jadi begitu, aku mengerti sampai situ. Jadi, tubuh Nanami harus ada jika ingin menjadikan Merial sebagai seorang Pahlawan?" Takumi mengambil kesimpulan.
Merial tampak ragu dan bermasalah, "Anu, aku merasa tidak pantas menjadi seorang Pahlawan. Kupikir ada banyak orang selain aku yang lebih cocok untuk gelar semacam itu."
Rigel tersenyum, dia sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut Merial.
"Kerendahan hatimu itulah, yang membuatmu cocok untuk menerima gelar itu, Merial. Yakinlah kepada dirimu sendiri, aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya karena beban yang di bawa akan sangat besar. Namun, dengan berkurangnya Pahlawan, pertarungan kedepannya akan lebih sulit, dan lebih banyak korban jiwa."
Dalam pertempuran, selain jumlah dan informasi, keunggulan masing-masing individu dapat menentukan jalannya perang. Bahkan jika seratus tentara terlatih melawan dua ratus tentara biasa maka keunggulan tetap ada pada kesatria yang telah berlatih keras.
Kata-kata Rigel menyentuh tepat hati Merial. Dia menjadi ragu untuk menolak menjadi Pahlawan. Bahkan ketika dia teringat Riri dan anak-anak kecil lain, hatinya menjadi sakit jika tanpa alasan. Merial mengepalkan jarinya dan menguatkan tekadnya.
"... Baiklah. Aku bersedia. Aku akan menjadi penerus Pahlawan cambuk!" Merial bertekad.
Rigel tersenyum, begitu juga Ray, Tirith dan Takumi.
"Baguslah. Namun sebelum itu, lebih baik kau mengeluarkan semua senjata yang kau simpan karena itu tidak akan lagi berguna jika kau menjadi Pahlawan." Rigel memberikan saran. Jika Merial benar-benar terpilih, maka senjata yang ada di penyimpanannya akan membusuk karena dia tidak dapat mengeluarkannya berkat pantangan senjata ilahi.
Merial mengikuti nasihat Rigel dan mengeluarkan semua senjata yang dia punya. Di mulai dari tongkat sihir, Pedang sihir dan beberapa senjata lainnya.
Rigel mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya sembari melafalkan mantra tanpa suara. Lingkaran sihir semakin bersinar terang. Takumi dan yang lain menyingkir dan menyisakan Merial bersama mayat Nanami. Merial menarik nafas, memejamkan mata dan membuka matanya dengan penuh tekad.
"Namaku, Merial Ainsworth. Aku bersumpah akan memberikan segenap jiwa dan ragaku untuk tugas ini. Aku bersumpah akan melakukan yang terbaik sampai titik darah penghabisan!" Tubuh Nanami mulai mengeluarkan sinar ungu redup selagi Merial mengucapkan sumpahnya.
"Aku akan melindungi umat manusia bersama dengan Pahlawan lainnya! aku ingin melindungi masa depan anak-anak yang belum mengetahui seberapa luasnya dunia ini. Aku tidak bersumpah pada Dewa, aku bersumpah untuk diriku dan masa depan yang di janjikan!"
Sinar di mayat Nanami semakin terang hingga mengaburkan pandangan setiap orang. Rigel menyaksikannya, dia tidak ingin membuang waktu untuk berkedip. Pemandangan di depannya bukanlah sesuatu yang bisa dia saksikan setiap hari. Sinar ungu itu perlahan terangkat dari tubuh Nanami dan terbang sejajar dengan pandangan Merial yang terkejut.
Hanya ada satu cahaya yang keluar, itu membuat Rigel sedikit kecewa namun dia tetap senang karena pemanggilannya berhasil dalam sekali coba. Cahaya ungu itu berkedip dan melayang-layang. Mungkin dia sedang mencoba untuk mengkonfirmasi sesuatu dari Merial.
"Aku tidak tahu, apakah diriku benar-benar pantas menggunakan senjata ilahi dan aku yakin jika diriku bukan orang yang sesuai dengan gambaran Pahlawan... Namun, aku akan berjuang sekeras mungkin untuk menyebut diriku pantas menjadi seorang Pahlawan!" Merial berbicara dengan bola cahaya itu.
Cahaya itu bersinar semakin terang dan dalam waktu singkat, dia terbang menuju Merial. Cahayanya mengaburkan pemandangan sekitar, Rigel harus memejamkan matanya karena begitu silau. Cahaya itu menutupi tubuh Merial sepenuhnya dan membuatnya sedikit melayang di udara.
"Apakah berhasil?" Rigel bergumam selagi menghalangi sinar menggunakan tangannya.
Cahaya perlahan meredup dan membawa Merial turun dari udara secara perlahan. Merial memandang kedua tangannya dan tubuhnya dengan bingung karena perubahan besar terjadi di tubuhnya.
"Apakah itu berhasil?" Takumi bertanya. Dia menatap tubuh Nanami yang tidak lagi bersinar seperti sebelumnya.
"Merial, bagaimana? apakah kau berhasil?" Ray juga bertanya kepada Merial.
"... Aku sendiri tidak tahu... Ntah kenapa, tubuhku terasa lebih bugar dari sebelumnya..." Merial memberi tahu kan kondisi tubuhnya yang sedikit berubah.
Rigel yang sudah sedikit pulih berjalan menghampiri Merial, "Cobalah kau akses Indexmu. Mungkin senjatamu akan muncul saat kau mulai mengaktifkan index lagi..." Rigel memberikan saran.
Takumi teringat tentang ingatan yang masih sangat segar saat dia baru tiba ke sini. Dia ingat, untuk mengaktifkan senjata ilahi nya, dia harus meneriakkan index terlebih dahulu dan barulah senjata itu akan keluar.
"Sepertinya memang begitu. Aku ingat hal seperti itu terjadi padaku sebelumnya." Ujar Takumi.
Mendengar dua orang Pahlawan berkata seperti itu, Merial tidak memiliki pilihan selain mengikuti saran mereka.
"Kalau begitu... Index!" Merial memanggil index dan seseuatu bersinar di tangan kanannya.
Cahaya itu perlahan membentuk sebuah senjata berwarna ke unguan. Senjata yang dapat memanjang dan melilit lawannya. Cambuk.
Rigel tersenyum senang karena pemanggilan berhasil, "Syukurlah itu berhasil. Selain itu, kemungkinan adanya tiga Pahlawan nampaknya memang tidak ada." Rigel juga merasa sedikit kecewa karena fakta itu.
"Ya, memang di sayangkan. Namun kita harus bersyukur karena Merial dapat menjadi seorang Pahlawan, menggantikan Nanami." Takumi berkata sedikit sedih saat membahas Nanami, "Karena ini sudah selesai, bagaimana jika kita makamkan Nanami terlebih dahulu?"
"Tidak. Masih ada hal yang wajib kita bicarakan, empat mata, Takumi." Rigel menolak saran Takumi. Dia menatap Merial dan yang lain sebagai tanda jika dia ingin berdua saja dengan Takumi.
"Oh! dan juga, untuk sekarang, aku ingin kalian tetap menutup mulut bahwa aku telah membuat Merial menjadi seorang Pahlawan. Yah, mari kita bahas itu nanti..." Rigel melambaikan tangannya dan saling bertatap muka dengan Takumi.
Merial dan yang lainnya akan menunggu di luar. Menyisakan Rigel dan Takumi dalam keheningan singkat.
"... Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Rigel?" Takumi bertanya dan menatap mata Rigel selagi menghampiri tubuh Nanami.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tentang Pahlawan tersesat, dan hari kematianku," Mendengar itu dari mulut Rigel, Takumi terbelalak terkejut.
"Semua hal itu hanyalah skenario busuk yang di buat oleh si idiot Altucray dan...... Takatsumi."
Misteri dan teka-teki yang berusaha Takumi pecahkan akhirnya terungkap. Dugaannya mengenai Takatsumi pelakunya memang tidak salah. Takumi mengepalkan tinjunya dengan kesal dan sekuat mungkin menenangkan dirinya.
"Kau nampak tidak terkejut dengan itu, Takumi." Ujar Rigel. Pandangannya masih menatap Takumi.
"Ya... Aku telah melakukan penyelidikan tentang itu, dan aku jua menduga kalau Takatsumi pelakunya." Takumi sedikit tertunduk, "Namun, kenapa kau baru mengungkapkan semua ini sekarang Rigel?" Takumi kembali menatap Rigel.
Rigel tersenyum jika Takumi langsung bertanya ke inti yang memang ingin dia bahas, "Untuk itu, aku memiliki sebuah rencana pembalasan dendam ku. Aku sengaja menahan dan sudah cukup diam selama ini... Namun, pertarungan ke depannya akan sangat sulit, jadi aku memutuskan untuk bertindak."
Bahkan sebelum Rigel menjelaskan sebagian besar ceritanya, Takumi memahami satu hal, "Aku telah memahami sedikit, kemana kau akan masuk. Jadi, mari langsung saja kita ke rencana? haruskah kita menjadikannya makanan babi?" Takumi tersenyum penuh dendam, begitu juga Rigel.
"Syukurlah kau mengerti... Ya, mendekatlah kemari... Kita bahas strategi kedepannya..."