
Hari kedua.
Seperti kemarin, para pahlawan sudah bersiap di posisi mereka sebelum Tortoise terbangun. Kali ini tujuan mereka hanyalah satu, memastikan apakah kulit Tortoise benar-benar bertambah kuat setiap kali dia tertidur. Hal ini di kemukakan pada malam hari sebelumnya.
Kilas balik.
Setiap malam sehabis pertarungan, para pahlawan harus melakukan diskusi serius tentang keanehan yang mereka temukan selagi mencoba menyerang Tortoise. Tidak perduli sekecil apapun perbedaan itu, karena di kondisi para pahlawan tidak memiliki satu informasi pun tentang Tortoise, informasi kecil sangatlah penting.
"Semuanya, aku memiliki sesuatu yang ingin di katakan. Selama pertarungan ini, aku menyadari satu hal yang terpampang jelas. Kenapa Tortoise tidak menyerang kita menggunakan kekuatannya, seperti sebelumnya yang membuat Hazama kewalahan? Awalnya aku tidak memperhatikan. Selama pertarungan kita, dia hanya mencoba menggigit dan menginjak kita saja, namun dia tidak lagi menggunakan kekuatan sihir atau sejenisnya. Yang membuatku penasaran, kenapa dia hanya menggunakannya saat seluruh pahlawan berkumpul? dan tidak menggunakannya saat kita kekurangan pahlawan?" Ujar Takumi.
Semua orang terkejut. Itu hal yang sangat sederhana, namun patut di pikirkan. Semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan Takumi, yaitu mengapa Tortoise sama sekali tidak menggunakan sihirnya?
"Mungkinkah dia sedang menghemat tenaganya?" Ujar Petra.
"Itu sebuah kemungkinan. Namun, aku tidak yakin jika tujuannya adalah menghemat tenaganya." Ujar Takatsumi, memegang dagunya selayaknya berfikir.
"Ya... Jika aku menjadi dia dan ingin menghemat tenaga, maka aku akan mengabaikan orang-orang yang menyerang ku atau melenyapkan mereka secepatnya, yang berarti Tortoise..." Ujar Hazama.
"Hanya bermain-main dengan kita, kan?" Lanjut Marcel dengan alisnya yang mengkerut marah.
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa Tortoise keparat itu sama sekali tidak menganggap kita musuhnya dan hanya menghabiskan waktu dengan mempermainkan kita?!" Ujar Argo, urat mulai muncul di dahinya.
Semua orang terbayang kepala Tortoise yang wajahnya seakan geli dan sombong. Sejauh ini, Tortoise adalah yang pertama karena menganggap sembilan orang pahlawan tidak ada apa-apanya. Hal itu semakin mungkin karena setiap kali menyembuhkan dirinya, dia akan bertambah semakin kuat yang membuatnya menjadi benteng tak tertembus.
"Kita kembali ke permasalahan... Kenapa dia hanya menggunakan sihirnya saat tiga pahlawan lainnya masih ada? apakah dia menganggap kita ancaman hanya saat pahlawan berkumpul?" Ujar Aland.
"Tidak,kupikir yang di perhitungkan Tortoise adalah kekuatan individu. Daripada tiga, kupikir hanya dua orang. Saat itu, Yuri adalah yang terjauh dan paling mudah untuk di serang oleh Tortoise, namun dia tidak menyerangnya dan kita bisa mencatat bahwa Tortoise tidak menganggap Yuri ancaman." Ujar Takumi.
"Sama seperti kita, ya." Gumam Takatsumi dengan kesal.
Fakta bahwa Tortoise tidak menganggapnya sebagai ancaman membuatnya sangat kesal. Dia berfikir bagaimana bisa orang hebat sepertinya tidak di anggap sebagai sebuah ancaman?
"Jika begitu, orang yang mungkin di anggap musuh oleh Tortoise adalah Amatsumi Rigel atau Ozaru, atau mungkin keduanya." Ujar Hazama.
"Monyet itu? aku tidak yakin dia di anggap sebagai bencana..." Ujar Argo, meringis mengejek.
"... Apa kau yakin? Saat pertama kali datang ke dunia ini Ozaru mengamuk dan menghadapi kita bertiga. Bahkan kita tidak dapat mengalahkannya karena dia begitu mahir menggunakan tongkatnya. Selain itu, kita bahkan belum pernah melihat dia menggunakan skillnya." Ujar Nanami, pahlawan cambuk.
"Ya, selama ini, skill yang baru dia tunjukan adalah tongkatnya yang dapat berubah ukuran dan juga pasukan Kera yang berasal dari helai rambutnya..." Ujar Hazama.
Mendengar apa yang di katakan Hazama, Argo mengerutkan alisnya kesal karena fakta yang si sebutkan olehnya.
"Sisanya hanya seorang pria bernama Amatsumi Rigel, pahlawan tanpa senjata ilahi." Ujar Hazama, menatap Takatsumi dan Takumi.
"Aku sendiri tidak tahu banyak tentang kekuatannya. Kalian tahu kan bahwa dia di kabarkan mati namun setelah satu tahun lamanya dia muncul kembali." Ujar Takatsumi.
"Aku sendiri hanya mengetahui beberapa kekuatannya. Yang pertama adalah tangan Mana. Dia dapat membuat tinju atau tangan berukuran besar semaunya dengan memanipulasi Mana sekitar. Yang kedua adalah dia bisa terbang, aku sendiri tidak tahu banyak bagaimana caranya melakukan itu. Untuk yang terakhir aku yakin kalian sudah mengetahuinya, dengan kemampuan Creator miliknya dia dapat membuat senjata hebat seperti Nuklir. Bisa jadi, Rigel adalah orang yang diwaspadai Tortoise." Ujar Takumi.
Pemandangan ledakan dahsyat dari Nuklir masih segar di ingatan semua orang. Itu adalah pertama kalinya mereka melihat kekuatan dari ledakan Nuklir secara langsung. Memang itu hal yang hebat, namun semua pahlawan masih tidak yakin jika itu yang membuat Rigel di anggap berbahaya oleh Tortoise.
"... Sepertinya aku setuju dengan Takumi." Ujar Nadia, pahlawan cambuk.
"Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu? kau bahkan hampir tidak pernah berbicara dengannya. " Tanya Marcel dengan sedikit aura permusuhan.
"Kalian tahukan bahwa aku memiliki insting super tajam, mungkin lebih tajam dari seekor Naga. Yah, kita lewatkan itu untuk saat ini... Saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku merasakan perasaan tidak enak berasal darinya." Ujar Nadia.
"Perasaan tidak enak seperti apa yang kau rasakan darinya?" Tanya Takatsumi dengan tatapan dingin.
Nadia menelan ludah dan sedikit berkeringat saat mengingat instingnya berdering tajam saat dia melihat Rigel.
"Aku tidak yakin. Aku merasa dia seperti seseorang yang telah membunuh jutaan manusia selama bertahun-tahun, kemarahan dan kebencian bertumpuk di dadanya, kesedihan mengikat lehernya dan sebuah perasaan aneh yang berasal darinya membuatku ingin memujanya selayaknya dewa." Ujar Nadia.
Semua orang terbungkam karena kata-kata Nadia. Terutamanya Hazama dan Argo, tidak ada orang selain mereka yang tahu seberapa akurat insting tajam milik Nadia. Jika bahkan Nadia merasa ngeri dengan Rigel, maka itu kebenaran.
"Apa kau bercanda? kita bahkan belum lebih dua tahun berada di sini dan bagaimana mungkin kau merasa dia seperti orang yang telah membunuh jutaan nyawa." Ujar Petra dengan tidak percaya.
"Aku juga setuju, namun fakta bahwa dia menghilang selama satu tahun menggangguku." Ujar Aland.
Semua orang kembali terbungkam diam. Memang benar, tidak ada satu orangpun di sini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Rigel. Meski Takatsumi dan Takumi tahu bahwa Rigel mendaki naik dari jurang, itu masih tidak dapat di percaya karena sebelum kejatuhannya, Rigel sudah sekarat.
"Huh, kita telah melenceng jauh dari topik, mari kembali ke topik awal..." Ujar Takatsumi, "Aku juga memiliki pengamatan unik tentang ketebalan kulit Tortoise yang rasanya jauh lebih kuat dari sebelumnya." Lanjutnya.
"Ya, itu benar. Bahkan saat aku menghantamkan sabit ku ke kepalanya, dentuman suara yang di hasilkan jauh lebih keras dari kemarin." Ujar Marcel.
"Bahkan luka bekas ledakan Nuklir lenyap tak bersisa..." Gumam Takumi.
Semua orang dengan cepat mendapat kesimpulan bahwa Tortoise menyembuhkan dirinya dan memperkuat pertahanannya saat malam hari. Untuk memastikannya, para pahlawan memutuskan untuk menunggu sampai esok dan mengetahuinya. Pembahasan terus berlanjut sampai seorang penyihir yang wajahnya tertutup jubah bajunya datang memasuki ruang rapat.
Penyihir itu mendapat sebuah kabar dari kandidat Kaisar surgawi bahwa pasukan persatuan yang di pimpin Raja Altucray akan tiba saat malam hari ketiga, dan saat itu tiba, salah satu pahlawan di minta untuk menjemput Raja Rudeus dan Raja Alexei yang berada di Negara masing-masing untuk melakukan persiapan. Penyihir itu juga melaporkan bahwa Pasukan Persatuan memiliki sesuatu yang dapat memberikan luka terhadap Tortoise.
"Sepertinya puncak pertarungan kita melawan Tortoise akan terjadi pada hari ke empat dan lima. Hahahah, entah mengapa ini membuatku bersemangat." Ujar Aland.
"Hmm, kau benar. Ayo kita tunjukan pada orang-orang itu seberapa hebat kekuatan dari seorang pahlawan." Ujar Argo.
Semua pahlawan tersenyum bangga dan tampak tidak sabar untuk menunggu waktu pertempuran itu tiba.
"Ya. Namun sebelum pertarungan besar itu, kita sudah harus menemukan cara membunuh mahkluk itu." Ujar Takatsumi.
"Apa masih ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Tanya Hazama.
"Ya, Tuan Pahlawan. aku memiliki beberapa hal lain lagi yang harus di sampaikan." Ujar penyihir itu.
"Bicaralah." Ujar Marcel.
"Aku ingin menyampaikan bahwa kalian pahlawan sangat bodoh karena belum mengetahui cara mengalahkan mahkluk itu." Ujar penyihir itu.
Semua orang terkejut dengan kata-kata penyihir itu dan menatapnya dengan tidak percaya. Bahkan hanya orang dengan kebodohan tingkat tinggi yang berani berkata seperti itu kepada seorang pahlawan. Marcel hendak mengatakan sesuatu namun penyihir itu menyela.
"Kalian menolak bekerja sama denganku sehingga kalian tidak mengetahui informasi seperti itu, sungguh lucu." Penyihir itu perlahan mengangkat tudung yang menutupi wajahnya dan memperlihatkan pria dengan rambut putih. "Tidak sia-sia aku membuang waktu datang ke sini dan menyaksikan kebodohan kalian semua." Lanjutnya dengan senyuman di bibir.
"R-rigel?! apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Takumi, terkejut.
"Yo, aku datang ke sini untuk melakukan beberapa hal penting. Tapi tetap saja, aku tidak menyangka kalau kalian baru menebak dan belum mengetahui bagaimana Tortoise bertambah kuat setiap malamnya." Ujar Rigel dengan mengejek.
Rigel dengan tidak sopan mengambil kursi di dekat Takumi dan duduk dengan kedua kakinya di atas meja seperti seorang bos mafia.
"Apa yang kau inginkan ke sini, Pengecut?" Tanya Marcel.
Takatsumi dan Argo juga menatap Rigel dengan dengki tanpa alasan. Rigel hanya diam dan mengamati berbagai ekspresi pahlawan.
"Apakah kau ke sini seorang diri, Rigel? bagaimana dengan Yuri?" Tanya Takumi dengan santai.
"Ya, aku sendirian. Untuk Yuri dia baik-baik, saat ini dia sedang bermain dengan berbagai hal yang telah aku buat, seperti Observatorium dan hal lainnya." Ujar Rigel sambil melambaikan tangan kanannya.
Rigel sengaja mengungkapkannya, dia hanya ingin memamerkan bahwa dia bisa menciptakan apapun yang di inginkannya. Pahlawan lain tahu niat Rigel ke sini, namun mereka menduga dia tidak datang hanya untuk itu saja.
"Kau mengatakan bahwa tidak menduga kami baru menebak sampai situ, yang berarti kau telah mengetahui cara mengalahkannya?" Tanya Takatsumi.
Rigel tersenyum seakan menunggu pertanyaan itu sejak awal. "Kalau iya, memangnya kenapa?" Ujar Rigel, mengejek.
*Bam!
Argo memukul meja dan berdiri dari kursinya, menatap Rigel dengan dengki. Di sisi lain, Rigel tetap bersantai dan bergumam "Wuah, mengerikan" dengan senyumannya yang masih mengejek.
"Jika kau sudah mengetahuinya sejak awal, mengapa kau tidak mengatakannya?!" Bentak Argo.
"Oi, oi apa ingatanmu benar-benar seburuk itu? sejak awal aku berniat memberitahu kalian namun kalian justru menolak bekerja sama denganku dan mencapku sebagai pengecut. Karena hal itu, untuk apa aku memberitahu padamu?" Ujar Rigel.
"Tetap saja—" Argo hendak membantah, namun dia dihentikan oleh Takatsumi yang menilai dengan tenang.
"Hentikanlah, Argo. Dia benar bahwa kita yang menolak bekerja sama dengannya jadi tidak ada tempat untuk protes." Ujar Takatsumi, tatapannya langsung beralih kepada Rigel, "Aku yakin tujuanmu kemari bukan hanya untuk mengejek. Katakanlah tujuanmu sekarang, Rigel."
Rigel sedikit kecewa karena tidak dapat memancing amarah Argo lebih jauh dari ini dan memutuskan untuk terjun ke urusan bisnis.
"Aku ingin membuat kesepakatan dengan kalian, yah aku tidak perduli meski kalian menolaknya." Ujar Rigel dengan bosan.
"Kesepakatan seperti apa yang ingin kau ajukan?" Tanya Marcel.
"Aku ingin kalian menggiring Tortoise itu sampai ke lautan dan sebagai gantinya aku akan memberikan kalian informasi yang kumiliki tentang Tortoise." Ujar Rigel.
"Menggiring? apakah mungkin untuk melakukannya?" Tanya Petra.
"Ya, bahkan untuk membuatnya diam di tempat saja butuh banyak usaha bagi kami." Ujar Aland.
"Memangnya apa yang kau dapatkan dari membawanya ke lautan? aku tidak yakin dia akan mati tenggelam." Ujar Nadia.
"Aku tidak pernah bilang akan membiarkannya tenggelam, aku hanya meminta kalian menggiringnya sampai lautan saja." Ujar Rigel.
"Tunggu, jika kami setuju untuk mengikuti rencanamu, maka saat menggiringnya, kami harus melewati Britannia." Ujar Takatsumi dengan dingin.
Semua orang terkejut, mereka hampir lupa bahwa negara yang akan di lalui Tortoise setelah ini adalah Britannia dan setelah Britannia ada sebuah negara kecil dan akhirnya sampai di tepi laut.
"Rencanamu sangat konyol! jika kami melakukan itu akan ada banyak orang yang mati terinjak!" Bentak Hazama.
"Oi, oi, apa kau pikir aku sedangkal itu? tentu saja aku sudah mengantisipasi itu dengan membuka sebuah tempat pengungsian yang kujamin penuh keamanannya. Yah, rencana ini mungkin butuh pengorbanan beberapa bangunan dari negara yang di laluinya saja. Namun, aku jamin Tortoise akan mati jika kalian mengikuti kesepakatanku ini." Ujar Rigel dengan serius.
Semua orang tidak dapat menyangkal mata penuh percaya diri milik Rigel. Sejujurnya, Hazama tidak bermasalah jika hanya bangunan dan sebuah negara hancur dengan syarat tidak ada korban Jiwa. Di sisi lain, ini pilihan yang cukup sulit karena harus mengorbankan negara seperti Britannia. Takatsumi berfikir bahwa ini mungkin bentuk balas dendam Rigel kepadanya dan Raja Altucray.
"Yah, pikirkanlah baik-baik dengan kepala kosong kalian. Sejujurnya aku tidak benar-benar perduli apakah kalian mau menerimanya atau tidak. Aku akan menanyakan keputusan kalian di hari ke empat atau lima nanti..." Ujar Rigel, bangun dari kursinya dan menatap Takumi.
"Apa kau ingin ikut denganku, Takumi? kau bisa berkencan bersama Yuri di sana. Yuri juga tampaknya khawatir dengan keadaanmu." Ujar Rigel.
Wajah Takumi sedikit memerah saat Rigel mengatakan hal seperti itu. Rigel tidak menduga bahwa orang seperti Takumi bisa membuat ekspresi seperti itu.
"A-ku tidak akan pergi hanya untuk berkencan! Y-yah, setidaknya sampaikan salam padanya bahwa aku baik-baik saja." Ujar Takumi.
"Hahahah, tentu saja kau harus menyampaikannya sendiri. Hahaha sampai jumpa." Ujar Rigel.
"W-woy!" Teriak Takumi namun Rigel sudah pergi dengan Teleportasinya.
Pertarungan sesungguhnya akan di mulai di hari ke empat dan lima. Sementara Rigel sudah menyelesaikan persiapannya dan juga beberapa rencana cadangan.