
Merasuk ke ingatan itu sendiri saja hampir membuatnya meninggalkan raga. Nyaris ia terjebak, beruntung Mahanta mengguncang tubuhnya dengan kuat sehingga Orion kembali sadar sepenuhnya.
Jasad seorang perempuan yang kini tertidur lelap, sebelumnya jasad itu hanyalah jasad namun sekarang tidak lagi. Ia hidup. Ia bernyawa berkat darah Orion.
“Kenapa kau lakukan itu padanya? Padahal kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu!” pekik Mahanta, kesal sekaligus khawatir secara berlebihan.
Melihat reaksi Mahanta yang seperti itu. Sudah pasti ia tak tahu bahwa ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Sebab, kali pertama Orion menggunakan darah adalah saat dan pada Pahlawan Kota, Endaru.
Tetapi, ingatan Endaru sama sekali tak masuk dalam kepalanya. Mungkin karena hari itu, Orion tidak dalam kondisi sadar.
Dan sekarang, ia memiliki ingatan dari seseorang setelah membuat orang itu hidup kembali.
“Hah, menyebalkan!” ketus Orion sesaat setelah ia menghela napas.
“Orion!? Hei!”
“Mahanta, bawa anak ini. Lalu, aku ingin bertemu dengan wanita gila yang kau maksud,” pinta Orion.
Tiba-tiba Orion meminta hal seperti itu. Bagi Mahanta yang baru saja merasa khawatir, kini kekesalannya semakin menjadi-jadi.
“Orion!”
“Nanti aku jelaskan. Pokoknya sekarang bawa dia lalu antar aku ke tempat di mana wanita itu,” sahut Orion.
Mahanta pun akhirnya melakukan yang diminta oleh Orion. Secepatnya mereka kembali ke kediaman Arutala. Perempuan remaja itu akan dibawa ke salah satu kamar tersisa lalu Orion dan Mahanta pergi ke ruangan kerja Gista.
“Orion, kenapa kau keluar tanpa bilang-bilang?” singgung Gista.
“Maafkan aku.”
Nampak wanita itu masih tertidur lelap di kursi sofa. Gista sedari tadi hanya duduk di dekatnya dan memperhatikan kondisi wanita itu.
“Nona Gista, apakah dia baik-baik saja? Saya berharap saya tidak memukulnya lebih kuat,” ucap Mahanta gelisah.
“Tidaj apa-apa. Wanita ini sudah baik-baik saja. Hanya tertidur,” jawab Gista.
Seketika Mahanta menghembuskan napas leganya. Sempat ia terpikir bahwa wanita itu terus berbaring karena pukulannya yang terlalu kuat.
“Aku barusan menghidupkan seseorang. Dia adalah anak dari wanita itu. Kalau tidak salah dia memanggilnya dengan nama Ade,” tutur Orion.
“Lalu, apakah dia kenalanmu? Atau kerabat mungkin?” pikir Mahanta.
“Sebenarnya aku tidak mau memberitahukan ini pada kalian tapi apa boleh buat,” ucap Orion seraya memalingkan wajah.
“Orion, kau masih ingin menyembunyikan sesuatu dari kami?” sindir Mahanta dengan kesal.
“Dia mantan istriku,” kata Orion tak menggubris perkataan Mahanta, lantas ia melirik wanita itu.
“Eh!?”
Berita itu ternyata terlalu mengejutkan bagi mereka. Apalagi Mahanta, reaksinya terlalu berlebihan. Saking terkejutnya ia berteriak kencang.
“Kenapa kaget begitu? Bukankah kau pasti akan mudah menerkanya? Apalagi wanita itu ada di rumahku,” kata Orion.
“Kau tidak perlu memastikan wajahnya lagi? Siapa tahu salah?” ujar Mahanta.
“Tidak perlu. Aku melihat semuanya dari ingatan perempuan tadi,” kata Orion.
Mendengar kebisingan dalam ruangan, membuat wanita itu terbangun. Tercium harum yang segar dari tubuhnya sendiri, barulah ia sadar kalau pakaiannya sudah diganti.
Kemudian ia menatap ketiga orang yang ada di depannya. Seketika itu, pandangannya tertuju pada Orion dengan perasaan familiar. Kaget sekaligus merasa rindu padanya.
“Ori!” panggil wanita itu seraya menarik-narik pakaian Orion dengan menangis haru.
Sontak, perhatian ketiga orang itu pun terfokus pada satu arah yang sama. Wanita ini tak bisa berdiri saking lemasnya, ia hanya duduk di lantai sembari menarik pakaian Orion dan memanggil namanya.
“Tunggu!”
Plak!
Orion menepis tangannya lalu menjauh beberapa langkah. Sontak, hal itu membuat Mahanta dan Gista terkejut.
“Orion! Kau!” teriak Mahanta.
“Sepertinya Nyonya salah paham. Mungkin saya terlihat seperti seseorang yang Nyonya kenal tapi itu hanya dugaan saja. Sebab, saya hanya anak kecil yang memiliki nasib seperti Nyonya,” tutur Orion melembut penuh sopan santun.
Tap, tap!
Orion pergi meninggalkan ruangan. Ia menghindar setidaknya jangan sampai bertemu dengan istrinya dalam keadaan Orion seperti ini.
Seraya mengepalkan tangan dan berwajah muram ia bergumam dalam benaknya, “Tak mungkin aku memperlihatkan diriku seperti ini. Secepatnya aku harus kembali.”
Ia kemudian menggertakkan gigi. Pergi dengan terburu-buru menuju kamarnya sendiri. Mahanta saat itu tak sengaja melihat ekspresi Orion yang marah, ia mengerti bahwa Orion sedang menyembunyikan dirinya dari keluarganya sendiri.
Mahanta ikut keluar mengikuti langkah Orion.
“Orion, aku ingin bicara denganmu sebentar! Hei?”
“Kenapa? Jangan bilang kau ingin menceramahiku?” ketus Orion.
“Hah? Jangan berkata seperti itu. Aku hanya ingin bicara sebentar, ini mengenai darahmu.”
Seketika Orion berhenti melangkah. Tersentak, ia lantas menoleh ke belakang. Mahanta berwajah serius mengenai arah pembicaraannya sebelumnya.
“Darahku? Apa itu cukup terbukti kalau darahku langka?” tanya Orion.
“Aku lihat kondisi anak itu, dia baik-baik saja. Hanya saja dia takkan sadar dalam waktu singkat. Sejujurnya aku sangat terkejut, kau menyayat tangan lalu memberikan setetes darah pada anak itu,” kata Mahanta.
“Gista bahkan tidak memberitahumu? Kasihan sekali,” ujarnya mengejek.
“A-apa? Bahkan Nona Gista saja tahu.”
Mahanta tergagap, ia merasa bahwa dirinya terlambat menerima informasi. Namun sebenarnya hal itu memang sengaja disembunyikan. Baik dari Gista ataupun Orion sendiri.
Setelah dipikir-pikir, Orion juga belum sempat memeriksa kondisi anak itu. Sehingga ia meminta Mahanta untuk mengantarnya ke sana.
***
Anak yang dipanggil Ade, dalam ingatannya. Kini ia sudah beranjak remaja. Sedikit, Orion merasa tertekan karena potongan memori yang terakhir, yang di mana Ade bunuh diri.
Entah karena keadaan mental atau memang sudah lama direncakan. Hal itu mengingatkannya dengan diri Orion sendiri.
“Mahanta, apa kau tahu sesuatu tentangku?” tanya Orion.
Awalnya ia terdiam namun tak lama setelah itu ia menanggapinya.
Mahanta berkata, “Aku tahu bahwa kau ini sebenarnya pria dewasa yang terjebak dalam wujud kecil. Dan kau memiliki darah langka.”
“Bagus,” ucap Orion merasa lega.
Selain Gista dan Endaru, tak ada orang lain yang mengetahui sisi gelapnya di masa lalu.
“Kenapa bicara begitu?” tanya Mahanta yang bingung.
“Tidak apa-apa. Aku kaget, ternyata kau tidak banyak bertanya soal urusan pribadi,” tutur Orion.
“Urusan pribadi itu tidak bisa disebarluaskan. Aku cukup mengerti. Tapi aku merasa kesal saja, karena aku merasa kalian selalu menyembunyikan banyak hal dariku.”
“Gista juga begitu, ya?”
“Iya. Aku bangkit 5 tahun yang lalu. Tapi aku tak pernah tahu apa pun tentangnya selain dia yang berusaha menyelamatkanku dari genggaman Chameleon,” jelasnya bercerita.
“Akan lebih baik kau tak menceritakan hal seperti itu,” celetuk Orion.