ORION

ORION
Kekuatan Baru, Bilah Pedang Merah!



Di dalam gudang yang sudah lama tidak terpakai. Posisi tempat ini berada di sudut rumah sakit besar. Tempatnya tidak luas juga tidak sempit, alasan Caraka membuat tempat itu menjadi gudang adalah karena untuk mendidik ataupun mengobati orang-orangnya yang terluka.


Alasan mengapa terpisah dengan perawatan orang-orang biasa ataupun Pejuang NED yang lain, karena Caraka memiliki rahasia tersendiri.


Dan kini, di dalam gudang terdapat dua orang. Satu seorang dokter, Dr. Eka dan satunya lagi adalah Jhon berperawakan anak muda.


Ia melepas semua pakaiannya kecuali celana pendek yang ia pakai. Duduk di sofa dan semua lukanya sedang diobati.


Banyak luka sayatan di mana-mana, tak terhitung jumlah lukanya dan tak sebanding dengan serangan Meera sebelum ini.


“Siapa yang menyerangmu begitu ganas? Kalau dilihat dari semua lukanya, itu tidak mungkin Orion, 'kan?” ujar Eka bertanya padanya.


“Maksudmu anak itu? Tentu saja bukan! Dia hanya melukai bagian pundak saja dan itu tidaklah seberapa. Daripada sayatan dalam seperti ini,” jawabnya dengan kesal.


“Lalu siapa?” tanya Eka dengan tegas seraya menatap tajam ke arah Jhon.


“Ugh, sudahlah. Jangan banyak bicara dan obati saja aku lagi!” pekik Jhon mengamuk lantas membuang muka dari hadapannya.


“Kemarin sudah aku obati dan sekarang terbuka lagi karena kau banyak bergerak, 'kan? Harusnya kau hati-hati. Tubuhmu itu harus dijaga dengan benar agar Tuan Caraka tidak sedih,” tutur Eka.


“Ck, sedih apanya ...” gumam Jhon berdecak.


Setelah Eka selesai memperban kembali tubuh Jhon yang terluka itu. Ia kemudian berjalan ke sudut ruangan, mengarah ke lemari kecil, sedang mencari sesuatu dengan terburu-buru.


“Katakan, siapa yang menyerangmu?” tanya Eka sekali lagi seraya mencari sesuatu di lemari kecil itu lagi.


“Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Itu bukan urusanmu, b*ngs*t!” ketus Jhon.


Eka menoleh dan menatap benci kepada Jhon, semburat api kehijauan itu kembali muncul dan berniat menyerang Jhon saat itu juga.


“Sepertinya mulutmu harus dijahit lagi?” ujar Eka yang mengarah pada mulut Jhon yang dalam kondisi setengah terjahit.


Jhon menatapnya sinis, selang beberapa saat ia kemudian membuang muka dari hadapan Eka.


“Mahanta, pria yang selalu berada di samping pemimpin NED,” jawab Jhon lalu mengigit bibir bawahnya.


Tampak jelas bahwa Jhon kecewa terhadap dirinya sendiri. Lantas, ia tak cukup kuat ketika berhadapan dengan pria bernama Mahanta.


Eka tersenyum licik dan kemudian disusul tawa menggelitik. Ia kemudian bangkit dari sana, menghampiri Jhon seraya melempar kotak kecil kepadanya.


“Kok terdengar lucu, ya? Yah, tapi kau sudah berjuang keras sampai ke titik ini, Barok.” Eka berkata dengan niat mengejek.


“Minum itu lalu pergilah dari sini. Kau tidak mau kalau sampai Tuan Caraka tahu, kau terluka karena pria itu 'kan?” imbuhnya dengan menyeringai tipis.


***


Di waktu yang sama. Malam hari. Di kamar rawat inap, Orion.


Setelah berpikir panjang bahwa tempat ini sangatlah berbahaya. Tidak ada waktu menunggu sampai Gista atau lainnya datang, karena itu ia mencoba untuk keluar.


Pergi mengendap-ngendap namun seorang suster datang memergoki dirinya dari belakang.


“Dik, kamu anak yang pagi ini terluka itu 'kan? Akan lebih baik jika kamu tidur dan beristirahat. Hari sudah malam juga.”


“Oh, kalau begitu toiletnya ada di belakang,” kata suster seraya menunjuk ke belakang.


“Terima kasih.” Orion menganggukkan kepala lantas berjalan menuju ke toilet.


“Aku berharap ada jendela yang bisa membuatku keluar dari tempat ini,” gumam Orion.


Toilet rumah sakit pun ramai. Padahal sudah malam begini, Orion terpaksa menunggu sampai sepi. Sampai ia menguap ngantuk, tak terhitung sudah berapa lama ia bersandar pada dinding sampai menunggu toilet semakin sepi.


“Sepi, toiletnya sudah sepi. Akhirnya.”


Akhirnya Orion bernapas lega dan kemudian saat masuk, sungguh beruntung ia menemukan jendela yang dirasa cukup untuk tubuh mungilnya.


Bruk! Setelah berusaha keras melewati jendela, ia pun keluar dan mendarat dengan kedua kakinya yang bertelanjang.


Rerumputan yang basah padahal tidak hujan. Angin menghembus ke arah timur dan sedikit membuat Orion merasa was-was.


“Sebelum pergi. Apa aku coba lagi saja, ya? Kekuatanku benar-benar belum pulih atau tidak?” ucap Orion seraya melihat kedua tangannya.


Semula saat ia menggunakan kekuatannya, pasti akan memberikan dampak di tangan yang ia keluarkan apinya. Tapi sekarang tidak, padahal ia sudah mengeluarkan api yang cukup besar sebelum ini.


“Apa karena dokter sinting itu, ya?” pikir Orion dengan kening berkerut seraya mengepalkan kedua tangannya.


Orion saat ini tengah memikirkan sesuatu, kabur dari sini dan juga melatih kekuatannya sedikit demi sedikit. Tapi ia jelas tahu, tanpa pengarahan maka latihannya akan kacau.


Semula ia mengalirkan api layaknya darah mengalir dalam tubuhnya. Berputar memanjang dan mengelilingi tubuhnya perlahan-lahan.


Hawa panas dari kekuatan api itu sangat terasa. Menyengat hingga membuat ia perih kesakitan, lantas menghentikan kekuatannya.


“Duh, ini benar-benar sakit. Apa karena saat itu, ya? Saat Jhon merasuk ke tubuhku,” pikir Orion.


Meski masih mengalami dampak yang cukup jelas, Orion tetap melakukannya sekali lagi. Dan ia terbayang-bayang dengan kekuatan Eka yang dapat membentuk ular.


Cara Eka menyerang, tidak dengan menyentuh melainkan dengan tatapan mata. Itu jelas membuatnya merinding dan takut seolah berhadapan dengan monster tak tertandingi. Kali kedua ia merasakan ini setelah Pahlawan Kota, Endaru.


“Berpikir, bagaimana cara menggunakan kekuatanku agar lebih efektif dari sebelumnya. Coba pikirkan.” Orion bergumam-gumam seraya memikirkan suatu cara.


Memperkuat serangan bukanlah perkara mudah, karena itulah mengapa Orion berpikir bagaimana cara ia menggunakan kekuatannya se-efektif mungkin.


Seperti Mahanta dan Gista yang pernah mengajari suatu teknik kepadanya.


“Gista membentuk pedang es tapi itu tidak kuat melainkan cara menyerangnya yang fleksibel. Lalu Mahanta, kekuatan anginnya dikendalikan sebaik mungkin seperti menuang teh ke dalam cangkir,” kata Orion sembari terus memikirkan caranya.


Ketika terus memutar otak sampai kepala sakit ikut berputar. Api berwarna kejinggaaan itu berubah ketika teringat saat ia melawan Pahlawan Kota.


“Api Merah, semerah darah, yang mengalir dan menetes jatuh.”


Semilir angin lewat dan membuatnya terkumpul di kedua lengannya. Api membara begitu panas hingga kedua lengan Orion berwarna kemerahan sama seperti api itu.


Di malam yang sunyi di luar. Keheningan tak terujung, seolah puncak dunia berada padanya. Tidak, ini baru tahap awal.


Sebuah bilah pedang menyatu di kedua lengannya. Berwarna kemerahan gelap, kilaunya terlihat tajam dan dirinya terpantul di bilah itu seolah ia tengah berhadapan dengan cermin.