
Panggilan Mahanta terputus tiba-tiba. Dan Orion merasakan firasat buruk di dalam kelas, ia teringat dengan Roni.
Drap! Drap!
Bergegas mempercepat langkahnya menuju kelas Roni. Namun setelah ia sampai, ternyata Roni baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda Chameleon di sampingnya.
“Cuman perasaanku saja? Ah, aku merasa aneh setiap setelah bertemu dengan Chameleon. Instingku tetap mengarah untuk keluar namun perhatianku terpecah ke mana-mana. Termasuk mengawasi Roni.”
Roni berada di kelasnya bersama dengan yang lain. Serta guru yang mengajar mereka. Sedangkan di sisi lain, banyak murid dan guru yang masih sibuk membersihkan pecahan kaca. Tepat setelah mereka membersihkannya, mereka pun mulai berlarian menuju kelas.
“Ya ampun. Dia lagi? Kenapa dia terus-menerus mengawasiku. Iya, iya, aku akan ikut denganmu tapi sekarang sedang belajar,” gumam Roni sembari melirik ke arah jendela yang mendapati Orion di sana.
“Hei, guru itu sepertinya sangat mewaspadaimu ya. Ah, atau jangan bilang menjaganya agar kau tidak berbuat ulah kembali?” sindir teman sebangkunya.
“Yang kau katakan itu benar. Tapi yang aku herankan sekarang, kenapa kau sekarang berani mengajakku bicara? Dulu kau bisu, ya 'kan?” Roni menyinggung temannya itu yang dulu sangat ketakutan dengannya.
Brak!
Fokus Orion terpecah ke arah seseorang yang menabraknya dari belakang. Orion lantas menoleh ke belakang dan mendapati seorang murid yang hampir setinggi dirinya.
“Maafkan aku, Orion.” Suara yang bukan suara murid itu sendiri. Melainkan suara Chameleon.
“Kau!”
Terkejut karena Chameleon mendatanginya dengan wujud seorang murid. Yang kemudian Chameleon terkikik, tak seorang murid pun yang menyadari hal aneh tersebut kecuali Orion sendiri.
“Hehehe! Orion, sepertinya kau sangat frustasi, ya? Bagaimana rasanya menghadapi cemoohan dari semua orang?” ocehnya dengan menggerakkan kepala yang aneh dan menyeringai lebar.
Walau wujudnya adalah seorang murid namun tekanan darinya tetaplah ada. Dan itu mengalir ke sekeliling Orion. Berhadapan dengannya langsung itu merugikan baginya.
“Apa-apaan kau? Apa selama ini kau memakai wujud murid?” Orion terus melangkah mundur dan Chameleon mendekat.
Tap, tap!
Dahinya berkerut, ia mengepal kedua tangan dengan kuat seraya memikirkan suatu cara untuk terlepas dari Chameleon. Sementara instingnya terus membuat Orion melangkah mundur, ia pun sangat khawatir bila Chameleon menyerang dirinya saat ini.
“Hei Orion!”
Seketika langkah Orion terhenti begitu Chameleon memanggilnya lagi. Dan tak hanya wujud murid yang ada di depannya, bahkan beberapa murid yang berada di luar kelas juga ikut memanggilnya dengan suara yang sama.
Tatapan yang membulat dan seringai yang lebar itu membuat Orion bergidik merinding. Tak kuasa melangkah, justru ia mulai kesusahan untuk bernapas.
“Kenapa? Biasanya kau akan menyerangku. Oh, atau kau berubah pikiran untuk bergabung denganku?” celetuk Chameleon.
“Jangan macam-macam kau ya! Aku pun ingin begitu tapi situasinya tidak mendukung. Awas saja kalau kau—”
Chameleon menyahut, “Awas kalau apa? Kau khawatir kalau aku akan melakukan sesuatu terhadap murid-murid di sini?”
Duar!!!
Suara ledakan terdengar begitu kencang. Orion pergi menuju ke asal suara itu, yang di mana ledakannya terjadi di sebuah koperasi kecil. Koperasi itu berdiri dan memisah dari gedung sekolah, meski tidak akan merambat ke gedung lainnya namun tetap saja ledakan serta jago merah telah melahapnya habis.
Sosok Chameleon yang dalam wujud sebelumnya itu kembali berkata, “Takut aku melakukan itu di salah satu kelas, ya?” Terdengar menyindir. Kemarahan Orion semakin memuncak.
“Anda bertugas di sini?”
Lantas menghilang ketika seorang pria mengenakan setelan jas muncul. Ia adalah bawahan Mahanta yang baru saja datang, ia juga membawa sekitar puluhan demi menangkap atau menghancurkan Chameleon.
“Kalian sudah datang. Bagus!”
“Iya, Anda bagaimana? Maksud saya Chameleon?” tanya pria itu.
“Mohon jangan gegabah! Saya dapat ikut dengan Anda sekarang!” pekiknya seraya menghampiri Orion yang berjalan menuju luar.
Tap!
Orion menghentakkan salah satu kaki, lantas berhenti melangkah kemudian membuka telapak tangan ke belakang. Tanda bahwa anggota itu harus berhenti mengikutinya.
“Anda serius?” tanyanya dengan kerutan di dahi. Tampaknya ia sangat tidak percaya pada Orion.
“Di samping saya ingin memburu Chameleon secepatnya. Saya pun amat penasaran tentang siapa Anda? Nona Gista ataupun Tuan Mahanta sama sekali tak mengatakan apa-apa tentang Anda.”
“Saya tidak berniat untuk menjelaskan panjang lebar mengenai diri saya sendiri. Karena saya memiliki tugas untuk diurus sekarang.”
“Saya mengerti, tapi—”
“Saya akan memanggil kalian jika sudah tepat waktunya. Untuk saat ini, kalian harus memastikan tak ada seorang murid ataupun guru yang keluar dari sekolah ini,” perintah Orion kepadanya.
Lekas pergi keluar dari gerbang sekolah. Semilir angin berembus melewati tubuhnya, terasa ringan sesaat namun berat ketika sosok yang mengintimidasi kembali muncul.
Di sisi lain, waktu yang sama, banyak anggota berjaga-jaga di luar namun tak seorang pun berada di sekitar depan sekolahan. Lantaran mereka mengerti, karena Orion sendiri sudah berada di depan.
Chameleon takkan bisa melepaskan diri. Ya, tapi jika masih di area sekolahan, maka hati Orion masih tak tenang.
“Apa dia akan mengikuti?”
Srek! Srek!
Dinding tergesek dan membuat goresan-goresan aneh. Sontak Orion menoleh ke belakang dan mendapati Chameleon yang bewujud sebagai dinding.
“Pasti kau bertanya-tanya kenapa aku masih hidup sedangkan tubuhku sudah berlubang karenamu, benar 'kan?” ujarnya seraya merayap ke jalanan, berbisik dengan bayangan tak menentu.
Swoossh!!
Hembusan angin menerpa kain yang menutupi lengan kanan Orion. Sepintas, api membara lebih dari sebelumnya. Terlihat ia mengepalkan tangannya dengan kuat, tanda ia akan menghajar Chameleon.
“Hm, kau tak menjawab?”
Chameleon membentuk wujudnya sebagai murid yang sama. Dan menatap wajah Orion yang penuh amarah.
Lantas berkata, melanjutkan kalimat dengan santainya, “Alasanku tidak mati karena dilukai adalah karena tubuh yang aku gunakan itu adalah tubuh mayat. Aku tidak hanya sekadar meniru seseorang saja loh.” Sembari mengangkat kedua bahu.
“Oh ya? Aku lupa satu hal. Tujuanku masih sama, Orion. Tentang, apakah kau mau bergabung denganku? Aku masih ingin membujukmu sampai kapan pun,” imbuhnya.
“Jawabanku?”
“Ya.”
Kemudian Chameleon bergerak ke dinding, ia kembali mewujudkan dirinya sebagai dinding.
Orion mengikuti pergerakannya yang masih bergeliat dalam dinding. Seraya ia mengangkat lengan kirinya.
“Coba tebak saja!” pekik Orion seraya menggoreskan lengan kiri ke dinding tempat di mana Chameleon berada saat ini.
Sraaakkk!
Goresan membuat dinding sekolah rontok dan terbakar oleh api yang membara dalam goresan tersebut. Kemudian disusul oleh tawa Chameleon.
“Khe, khe! Keras kepala sekali kau ini!”