
Nasib buruk terus berlanjut dari waktu ke waktu. Sampai Endaru dibuat kecewa olehnya. Surat undangan itu menghilang, tak lagi berada pada genggaman mereka saat ini sehingga membuat ketiga pria itu pun terdiam mematung.
Sesaat mengira melihat pertunjukkan opera gagal. Seseorang keluar dari pintu gedung opera. Pria yang berpakaian semi formal dengan topeng hitam dengan sedikit helai perban mencuat dari samping wajahnya.
Tersenyum memandang mereka betiga. Membuat Orion dkk seketika menganga lebar. Terutama Orion, ia sepertinya menyadari siapa pria itu.
“Tuan Bertopeng Hitam, terkaya?” sebut Orion.
“Hahaha! Itu benar. Tak aku sangka ternyata kau mengenal diriku dengan baik, Tuan. Ah, tapi tenang saja. Untuk saat ini aku tidak mengincar darah langka,” tuturnya yang juga tertawa.
“Orion, apakah dia si Gerhana itu?” tanya Endaru dengan berbisik sembari melirik ke arah pria itu untuk memastikan kembali.
“Iya?” Bahkan Orion masih ragu. Karena yang ia tahu bahwa pria di hadapannya ini adalah pria bertopeng hitam yang terkaya.
Mereka sempat bertemu bahkan bertukar tatap dalam beberapa waktu di pelelangan Undergrown. Meski saat itu keadaannya sedikit aneh lantaran Orion tengah mengejar informan itu.
“Kalian tidak masuk?” tanya pria itu.
“Sebenarnya kami akan masuk ke dalam tapi surat undangan dari Anda telah hilang. Mungkin terjatuh dari perjalanan. Saya minta maaf.”
“Haha! Ternyata hanya itu? Baiklah, kalian aku perbolehkan masuk. Mari, aku antar. Dan tolong jangan kaku.”
Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Tuan Gerhana Bulan. Mereka bertiga bahkan langsung disambut olehnya secara langsung. Meski saat itu Tuan Gerhana Bulan hanya ingin keluar sebentar, nyatanya ia menjumpai tamu undangan yang kehilangan surat undangan tersebut. Tuan Gerhana Bulan tampak ramah juga. Namun tetapi, Orion dan lainnya berwaspada.
Gedung opera yang besarnya berkali-kali lipat dari gedung pelelangan undergrown ini sungguh memukau. Endaru tak berhentinya menganga melihat kemewahan dengan serba-serbi warna merah terutama pada bangku dan karpet.
Begitu pun dengan Orion. Bahkan sebelum masuk pun, Orion mencium aroma harta. Apalagi setelah masuk ke dalam, Orion melihatnya secara langsung. Berkilau dan sangat menyilaukan mata.
Berbeda dengan Dr. Eka. Ia justru bersikap biasa-biasa saja sebab, ia tak begitu tertarik dengan yang namanua kemewahan.
“Seperti melihat orang kampungan,” batin Dr. Eka yang kemudian menertawakan mereka berdua dengan lirih.
Tuan Gerhana Bulan mempersilahkan mereka duduk di barisan bawah paling depan. Opera pun dimulai dengan menampilkan beberapa tokoh yang bermunculan secara bertahap. Ada satu hal yang membuat opera ini unik, lantaran para pemain yang memerankan tokoh cerita itu bisu.
Intinya mereka menunjukkan phantonim. Opera berlangsung bisu, tanpa ada pembicaraan sepatah kata melainkan hanya gerakan-gerakan saja.
“Ini unik. Tapi aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bicara?” tanya Endaru lirih.
Dr. Eka menjawab, “Itu karena pertunjukannya phantonim. Karena opera tidak hanya ada satu jenis saja.”
Terhitung ratusan orang yang hadir dan menikmati pertunjukkan. Dengan tenang, dan membuat hati senang. Sesaat Orion merasa lega ketika melihat Endaru juga menikmatinya. Perasaan bersalah seakan-akan menghilang hanya karena masalah sepele, menghilangkan surat undangannya.
Di satu sisi pula Orion masih mencemaskan akan keadaan sekitar. Yang berada di luar gedung opera. Entah mengapa, berjam-jam yang telah mereka lewati dalam gedung opera membuat Orion sedikit tak nyaman. Lantaran, tak ada kekacauan datang menghampiri.
“Setelah jam 6, tak seorang pun mengganggu kita. Dan karena itu aku merasa ini terlalu biasa,” gumam Orion lirik seraya menundukkan kepala dalam-dalam.
***
Opera selesai. Acara ini berjalan cukup lancar, tidak ada satu kesalahan pun pada pertunjukkan. Juga tak ada yang menganggu dari pihak luar. Semua lancar tanpa gangguan sama sekali.
“Bagaimana menurut kalian?”
“Semuanya apik. Aku suka,” kata Endaru mengangukkan kepala beberapa kali. Wajahnya sangat cerah menandakan ia sangat senang.
“Apa maksud itu?”
“Maksudnya adalah dia sangat menyukainya. Dia adalah Endaru, dialah yang sangat menyukai pertunjukkan hari ini,” kata Orion menjelaskan maksud kalimat Endaru.
“Begitu rupanya. Saya mengerti.” Pria itu tersenyum.
“Sebelumnya maafkan saya. Saya belum memperkenalkan diri,” kata Orion dengan sedikit menundukkan kepala.
“Ah, tidak perlu.” Tuan Gerhana Bulan mengangkat tangan, mengatakan bahwa perkenalan diri itu tidak diperlukan.
Perkenalan diri, bukanlah hal yang diperlukan. Itulah yang orang itu katakan. Setelah melihat ke sekeliling, Orion sedikit memahaminya. Beberapa orang yang baru saja beranjak dari tempat duduk mereka itu memakai topeng.
“Seperti yang kau lihat, atau tidak. Mungkin kau berpikir semuanya menggunakan topeng sebelum ini, tetapi sebagian orang tentu tidak memakainya.”
“Kalau begitu apakah aku harus memanggilmu Tuan Gerhana Bulan?” tanya Orion, agaknya merasa kebingungan.
“Tidak juga tidak masalah buatku. Dan aku ingin berbincang panjang lebar pada kalian semua. Selain tentang opera hari ini tentunya.”
Orion melirik ke arah Endaru lalu melirik ke arah Dr. Eka secara bergantian. Kecurigaan mereka tak terlepas lantaran pria yang berada di hadapan mereka ini tidak terlihat seperti orang baik-baik.
Mereka kemudian duduk kembali di tempat duduk mereka lalu disusul oleh Tuan Gerhana Bulan. Senyum tersinggung di wajahnya, ketika menatap Orion.
“Aku adalah Tuan Gerhana Bulan. Begitulah para Saint menyebutku. Dan asal kau tahu, Sadawira. Saint bernama Ken lah yang meminta bantuanku untuk melakukan sesuatu padamu,” ungkapnya seraya melepas topeng hitam miliknya.
Ia tak ragu saat menunjukkan wajah meski saat itu wajahnya setengah tertutup oleh perban. Kemudian Orion teringat, bahwa Endaru yang pada saat itu datang terlambat ke pelelangan undergrown, membuat tekanan gravitasi pada semua hadirin pada saat itu.
Seketika Orion menatap tajam Endaru, yang sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya mendapat tatapan tajam dari Orion saat itu.
“Kenapa, sih?” Endaru menekuk kedua alisnya, ia lantas melirik ke arah lain.
“Sepertinya ini berkaitan dengan pelelangan undergrown?” pikir Orion, berbicara pada Tuan Gerhana Bulan.
“Tidak, kok. Ini hanya luka karena, yah begitulah. Dan aku sebagai ketua dari kelompok Saint Gerhana Bulan, hanyalah diminta bantuan oleh Saint Ken. Apa kau mengenalnya?”
“Saya mengenalnya. Tapi saya tidak pernah terpikirkan, kalau Saint bernama Ken itu membocorkan identitas saya sedangkan saya sudah mengancamnya,” tutur Orion.
“Bicara di tempat seperti ini, rasanya tidak membuatku nyaman. Seharusnya aku membawa kucingku tadi,” kata pria itu yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
Sekilas ia terlihat mengerucutkan bibirnya sembari memandang ke sekitar dalam gedung opera. Lalu kembali menatap Orion.
Dan berkata, “Untuk membicarakan kelanjutannya. Aku mengundang kalian bertiga untuk datang ke kediaman Gerhana Bulan.”