ORION

ORION
Pencuri



Inti dalam tubuh atau kata lainnya biasa disebut dan sejenis dengan jiwa, nyawa, kehidupan, energi. Setiap Pejuang NED ataupun manusia biasa pasti memiliki hal itu.


Namun ada perbedaan dalam inti antara manusia biasa dengan Pejuang NED. Mereka yang telah mati digantikan dengan inti kekuatan, energi yang melampaui hukum dunia.


Dan Orion pula memiliki hal itu, akan tetapi inti-nya digantikan dengan inti milik Api Abadi. Yang di mana itu akan membuahkan kekuatan yang jauh lebih besar dari inti kekuatan yang biasa.


Orion menyadari hal itu namun tak menyangka bahwa akan menyebabkan Api Abadi sendiri lenyap. Semua pemuja Api Abadi tentu akan kesal, dan mereka menganggap ini kesalahan Orion sampai dianggap sebagai malapetaka.


“Salah satu rekan Chameleon yang melakukan sesuatu terhadap Api Abadi atau apalah itu!” teriak Orion. Berusaha untuk tidak panik dan berwajah seserius mungkin.


“Rekan Chameleon? Dia ada di mana sekarang!?” tanya Ketua Irawan sembari menekan kedua pundak Orion dengan keras.


“Ah, uh ...itu.”


Orion kehabisan kata-kata karena kata-kata sebelumnya telah menguras pikirannya. Sampai ia tergagap-gagap seperti itu. Lantas, Ketua Irawan kembali menanyakan keberadaan rekan Chameleon seraya mengguncakan tubuhnya.


“Di mana? Kau pasti bertemu dengannya, 'kan? Laki-laki yang memegang kecapi di tangannya,” ujar Ketua Irawan.


Laki-laki yang dimaksud mungkin tak pernah menunjukkan identitasnya secara langsung namun ia telah bertemu meski saat itu ia dalam kondisi tua.


“Dia ada di gang. Sebelah toko serba ada,” jawab Orion dengan jelas.


“Sekarang?”


Orion menggelengkan kepala. “Tidak, itu saat saya sedang ke kota Y-Karta. Kebetulan sekali saya bertemu dengan orang aneh seperti itu,” tuturnya.


Ketua Irawan tampak kecewa. Ia menghela napas lagi lalu melepas genggaman erat pada pundak Orion.


“Hm, baiklah kalau begitu. Ternyata karena dia lagi,” gumam Ketua Irawan.


“Apa dia selalu mengganggu pemujaan? Seberapa penting Api Abadi itu?” tanya Orion.


“Sebetulnya tidak begitu penting bagiku. Hanya saja tidak ada orang yang bisa berbuat ulah terutama pada Api Abadi. Tapi salah satu rekan Chameleon dengan kecapinya itu bisa,” jelas Ketua Irawan.


Tap, tap!


Mereka kembali ke lantai dasar. Di samping Orion ingin menyelesaikan belanjaannya. Ketua Irawan pula sekalian menemani Orion. Raut wajah dari pria tinggi ini berubah drastis semenjak mereka memperbincangkan rekan Chameleon.


“Api Abadi, tidak semudah itu orang dapat mengambilnya.” Ketua Irawan bergumam kembali dalam lamunannya.


“Bagaimana jika Api Abadi itu diambil oleh orang asing yang bukan rekan Chameleon?” sahut Orion, ia berhenti melangkah di salah satu dagangan.


“Oh, itu kabar bagus tapi juga buruk,” jawab Ketua Irawan.


“Kabar bagusnya?”


“Dia tidak akan sulit diatasi. Karena selain lawan kita, Pejuang NED liar sama sekali tak dapat mengendalikannya.”


“Kalau kabar buruknya?”


“Mau bagaimanapun jika Api Abadi diambil alih oleh seseorang maka itu hal terburuk yang pernah ada. Karena bisa saja dia melakukannya untuk bersenang-senang itu jauh lebih berbahaya daripada digunakan untuk bertarung.”


“Hah? Bisa begitu ...” ucap Orion tertegun.


“Ya. Apalagi kalau mereka menggunakannya untuk teknik akrobat, masak atau sejenisnya. Itu akan membuat pengaruh sekitar memburuk. Mempengaruhi orang-orang biasa,” jelas Ketua Irawan sedikit tegas.


“Aku mengerti.”


Kresek, kresek!


Setelah berlama-lama, akhirnya pesanan yang tersisa hanya satu. Ia menghitung beberapa plastik bawaan yang ia bawa cukup banyak.


“Tentu saja karena ...yang mengambil Api Abadi itu aku!”


Ketua Irawan semakin syok setelah mendengar pernyataan langsung seperti itu. Dugaan para pemuja Api Abadi bukanlah suatu kesalahan namun kebetulan saja karena memang Orion itu pernah berbuat sesuatu yang buruk pada mereka.


“Orion, apa kau—”


Gubrak!


“Kyaa! Pencuri!!” Seseorang berteriak setelah suara hantaman keras terdengar dari belakang mereka.


Seorang pria terjatuh setelah menabrak gerobak, kemudian bangkit dan terlihat ia sedang membawa tas tangan milik perempuan. Orion dan Ketua Irawan terpaku akan hal tersebut, segera mereka mengejarnya.


Suasana pasar jadi lebih heboh dari sebelumnya. Orion pula mengejar mereka setelah menitipkan barang-barangnya.


“Dasar! Kenapa ada orang yang mengejarku sih?”


Pencuri tas itu sungguh menarik perhatian banyak orang. Ia tampak sangat kesal karena ada dua orang yang mengejar. Namun ia berlari sangat cepat sehingga bayangan tubuhnya saja sampai tidak terlihat jelas.


“Orion, pinjam api-mu sebentar!” pinta Ketua Irawan.


“Pinjam?” Orion bertanya, merasa heran.


Tap! Ketua Irawan menginjak bayangan milik Orion lalu api keluar dari salah satu kakinya. Kemudian menyambar, bergerak melewati sela-sela kaki banyak orang dan menuju satu target.


Api itu lebih kecil namun lebih cepat pergerakannya. Setelah lebih dekat dengan si pencuri, api itu kemudian terbentuk menjadi sebuah tali lalu mengikat tubuhnya kuat-kuat.


“Hiya, akhirnya selesai. Tak aku sangka banyak Pejuang NED di kota J-Karta.”


Pencuri itu meronta-ronta kesakitan dan kepanasan karena talinya. Maka Ketua Irawan segera melepas ikatan talinya dan kemudian membawa orang itu dengan membuat dua tangannya membelakangi tubuh.


“Orion, tangkap ini!” teriak Ketua Irawan seraya melemparkan tas tangan itu.


Datang wanita yang mengejar tas itu, ialah pemiliknya. Orion segera memberikannya dan kemudian menghampiri Ketua Irawan.


“Ketua Irawan. Anda kenapa bisa me—”


“Sst, soal itu nanti kita bicarakan. Dan mari bergegas, aku akan mengantarkanmu sekaligus membawa orang ini dan lainnya,” kata Ketua Irawan dengan jari telunjuk di bibir.


Isyarat untuk diam.


“Baik, Ketua Irawan.” Orion menganggukkan kepala.


Entah ini kebetulan atau perencanaan. Pertama bawahan rekan Chameleon lalu sekarang pencuri. Kota J-Karta benar-benar kacau. Bahkan Pejuang NED liar saja masih sempat untuk mencuri dan bukannya bekerja.


“Ya, ampun. Selain mereka atau pencuri itu. Aku masih penasaran kenapa Ketua Irawan bisa menggunakan kekuatan api sekaligus tanah, ya?” gumam Orion yang sangat penasaran.


Orion kembali ke tempat semula untuk mengambil beberapa barang yang sebelumnya ia tinggalkan. Suasana pasar yang begitu ramai karena beberapa hal telah terjadi, banyak orang tengah membicarakan pencuri dan juga seberkas kekuatan.


Kekuatan mana lagi yang dapat mereka lihat secara terang-terangan kalau bukan karena Ketua Irawan sebelumnya. Orion berharap kegaduhan ini akan cepat berakhir.


Namun, ada saatnya masalah tertentu sulit diselesaikan. Setelah ia hampir sampai ke tempat semula, terdengar bisikan dari seseorang di sampingnya.


Bisikan itu tertuju pada Orion.


“Tuan Chameleon ingin bertemu denganmu.”


Sebaris kalimat membuat Orion terguncang hebat. Sontak, ia menoleh ke asal bisikan tersebut. Akan tetapi tiada seorang pun yang Orion rasakan bahwa orang itu masih berada di posisinya.


Sudah pergi. Menjauh.