ORION

ORION
Pesta



Malam hari, di suatu hotel. Mereka memutuskan untuk membagi kamar menjadi 3. Dan Endaru meminta untuk sekamar dengan Orion. Alasan Endaru meminta begitu adalah karena ia masih belum percaya dengan orang dewasa lainnya. Bahkan mencoba untuk mengakrabkan diri dengan anggota yang sedikit lebih muda darinya saja enggan.


Brak!


Seperti biasa Endaru yang sedang bersemangat kini membanting pintu dengan wajah sumringah. Orion dalam batin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga mood Endaru begitu cepat berubah.


“Orion, aku dapat undangan pesta!” katanya seraya meninggikan suara. Lalu menunjukkan undangan itu pada Orion.


“Ulang tahun? Aku pikir ada yang menikah,” celetuk Orion ketika ia melihat sampul undangan tersebut. Mewah seperti undangan pernikahan.


“Ya! Ulang tahunnya Nyonya Ash. Dia berumur 25 tahun dan sedang mencari calon suami. Bagaimana, apa kau tertarik? Nanti aku akan tunjukkan fotonya.”


“Aku tidak ada niatan untuk begitu. 'Kan ini juga undangan untukmu,” kata Orion.


“Dia bilang untuk membawa temanku. Karena aku di sini cukup terkenal sebagai pahlawan, makanya dia mengijinkannya. Ayo ikut denganku,” pinta Endaru.


“Tidak. Itu membuang-buang waktuku. Setelah ini aku juga akan pergi untuk berkeliling, dan tentunya untuk merekam jejak Chameleon,” ucap Orion seraya bangkit dari kursinya.


“Hei, dia ini bukan sembarangan Nyonya. Nyonya Ash, lebih tepatnya keluarga dia menjunjung tinggi Pejuang NED agar tetap ada. Lalu, dia punya jaringan informasi yang bisa dipercaya.” Endaru membujuknya.


“Maksudmu, dia akan memberitahukan sesuatu yang mungkin berguna. Termasuk Chameleon?”


Endaru menganggukkan kepala tanda apa yang dikatakan Orion adalah benar. Karena Nyonya Ash adalah Nyonya konglomerat yang juga memiliki usaha dengan tangannya sendiri. Dan usaha itu cukup meluas ke negara, baik dari depan maupun belakang. Itulah mengapa Endaru mengajak Orion.


“Tapi sebelum itu, kita akan pergi hadiah.”


“Oh, kau saja yang pergi untuk hadiah itu.”


“Kau sudah setuju untuk pergi, bukan? Karena itulah, ayo ikut denganku untuk pergi membeli hadiahnya juga,” kata Endaru sambil menyeret tangan Orion.


“Tunggu! Kenapa harus ajak aku?” Orion enggan ikut.


“Kenapa lagi kalau bukan, aku tidak tahu apa yang disukai wanita.” Endaru mengangkat kedua bahu.


“Kau memanfaatkan diriku yang dulu pernah berhubungan dengan wanita rupanya. Sifatmu itu buruk sekali. Beruntung aku orang dewasa yang baik, kalau tidak mungkin aku sudah memakimu,” ujar Orion sok berceramah.


Namun lain di hati Orion berkata, “Dasar anak kurang ajar.”


“Hah, iya benar tidak memakiku. Tapi aku cukup yakin kau sedang memakiku dalam batin,” sindir Endaru tetap sasaran. Seketika Orion tersentak lantas pergi meninggalkan ruangan.


“Sudah, ayo pergi.”


Waktu pesta itu sendiri juga sudah sangat mepet. Tetapi setidaknya, mereka tidak datang terlambat selama berjam-jam. Awalnya Endaru juga sempat nyasar ketika membeli hadiah di sebuah mall, beruntung ia ditemukan di pusat kehilangan barang.


***


Aula utama. Pukul 8 malam.


Ting!


Pintu lift menuju aula utama telah terbuka. Orion dan Endaru segera keluar dan membaur di antara tamu pesta undangan.


“Ramai sekali. Aku tidak akan tahu kalau akan diadakan semewah ini,” ucap Orion yang merasa sensitif dengan bau kemewahan sehingga ia pun menggosokkan bawah hidungnya.


“Wajar saja, Nyonya Ash adalah orang terkenal. Ibaratnya dia adalah ratu di negara ini,” ujar Endaru.


Pesta ulang tahun yang serba mewah. Dekorasi pita dan segala macam yang bahkan Orion jarang pernah lihat ini membuatnya berdecak kagum, tak henti-hentinya ia mengusap dinding yang halus saat ini juga.


“Aku berharap itu darah langka.”


“Iya, itu benar. Aku mendengar barang yang dilelang itu darah penghubung jiwa dan raga.”


Beberapa tamu tampaknya sedang membicarakan darah langka. Mendengarnya membuat Orion penasaran di manakah pelelangan itu berada.


Perlahan ia melangkah menjauhi beberapa orang tersebut. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat punggung seorang pria yang familiar.


“Ha? Dia itu tunangan Gista 'kan? Untuk apa dia ke sini? Jangan bilang karena dia adalah putra Presdir?” gumam Orion lantas membalikkan badan dan pergi ke tempat semula.


Sungguh tidak dapat diperkirakan bahwa hal ini akan terjadi. Orion berharap jika Hery tidak akan menyadari keberadaannya. Di samping itu, ia tiba-tiba ditarik oleh seseorang.


“En-Endaru?” Saking terkejutnya, ia sampai tergagap.


“Nyonya Ash memanggilmu. Dia bilang ingin bertemu siapa teman yang aku ajak,” ujar Endaru yang kemudian menarik tangan Orion.


“Kau tidak sopan, berani-beraninya menarik tanganku lagi.” Orion protes.


“Kau itu yang tidak sopan. 'Kan seharusnya kau juga mengucapkan selamat pada Nyonya Ash, dasar.”


Apa yang dikatakan Endaru benar juga. Namun Orion sama sekali tidak bisa diajak kerja sama karena ada beberapa hal yang menganggunya sejak tadi sehingga Endaru pun terus mengingatkan bahwa ada tujuan lain mereka datang kemari memenuhi undangan.


“Nyonya Ash, perkenalkan ini adalah teman saya yang saya ajak. Namanya Orion Sadawira.” Endaru memperkenalkan Orion kepadanya.


Kemudian berbisik di telinga Orion, “Dan dia adalah Nyonya Ash. Kalau suasana hatinya sedang baik, maka segala pertanyaan akan dijawab dengannya.”


“Saya berpikir teman Pahlawan adalah seorang wanita. Kekasih atau istri. Tetapi ternyata dugaan saya salah, ya.” Nyonya Ash sedikit tertawa sembari menutup mulut dengan kipas tangannya.


“Maaf mengecewakan Anda, Nyonya Ash,” kata Endaru seraya menyikut pinggang Orion.


Tatapan Endaru yang culas itu juga hanya tertuju pada Orion seorang. Yang mengisyaratkan agar Orion membalas sapaannya.


“Selamat malam Nyonya. Dan semoga Anda panjang umur dan sehat selalu,” ucap Orion lantas tersenyum dengan menundukkan sedikit kepalanya.


“Hadiah, hadiahnya,” bisik Endaru seraya menaruh hadiah yang dimaksud di tangan Orion.


Orion baru saja teringat. Ia juga membawakan hadiah kecil yang sebelumnya ia beli bersama Endaru. Kemudian Orion pun mengambilnya, dan segera ia memberikan hadiah tersebut pada Nyonya Ash.


“Ini bukan hadiah mewah. Saya harap Anda menyukainya,” kata Orion. Yang bahkan ia lupa isi hadiahnya apa. Jadi hanya berkata seadanya saja.


Nyonya Ash merasa terkagum hanya dengan melihat bungkusannya saja. Ia lantas menerima hadiah itu dengan sepenuh hati.


“Baiklah, saya akan terima. Terima kasih kalian berdua.”


Orion menganggukkan kepala. Endaru tersenyum karena melihat raut wajah Nyonya Ash yang sedikit berubah ketika bertemu dengan Orion.


Sementara Orion saat ini sedang berpikir serius dalam benaknya. Lantaran, pikirannya masih berada di tempat lain. Yakni Hery, pelelangan dan darah langka. Itu semua menjadi pusat perhatian Orion sekarang ini.


Sangat menganggu.


“Apakah aku harus bertanya tentang itu? Sepertinya Endaru juga setuju. Dia tidak sedang dalam keadaan marah atau jengkel pada seseorang juga kalau dilihat dari wajahnya sekarang.” Orion membatin.


Ketika Orion berpikir keras mengenai pertanyaan yang akan disampaikan. Serta penataan kalimat ataupun tutur kata yang sedang ia susun sekarang ini, justru dipecahkan oleh sebaris kalimat dari Nyonya Ash.


“Entah kenapa ...saya memiliki ketertarikan pada Anda. Tuan Sadawira,” ucap Nyonya Ash dengan memalingkan wajahnya yang memerah.