
Membentuk senjata dengan kekuatan itu terbilang sangat sulit. Sejak ia bertemu dengan Pahlawan Kota, Orion dibuat terdesak dan akhirnya membuat kekuatan terpendam itu muncul dalam sesaat.
Seperti tubuh yang berubah menjadi orang dewasa, teknik memperluas jangkauan serang meski tidak sempurna, lalu api yang dapat membentuk senjata.
Dan dari ketiga kemampuan yang keluar karena desakan dan tekanan dari Pahlawan Kota, hanya saat membentuk senjata yang Orion ingat sepenuhnya.
“Kamu sudah bisa melakukan hal itu? Padahal kamu baru muncul, apa selama ini kamu disembunyikan Nona Arutala?” pikir Meera yang berlebih.
“Tidak, kok. Aku melakukannya pun belum lama ini, Nona Meera.” Orion menyangkal.
“Eh yang benar? Itu sungguh luar biasa. Itu artinya cara Nona Arutala mengajari dirimu sungguh hebat,” celetuk Meera.
“Sejujurnya aku sendiri yang tiba-tiba bisa melakukan hal ini. Bisa dibilang beruntung,” kata Orion.
Melihat pedang Orion yang sangat membara, Meera merasa gatal kalau tidak melakukan sesuatu. Meera membuat air yang menggenang di bawah mereka berkumpul ke atas menjadi satu.
“Apa yang Nona Meera akan lakukan?” tanya Orion penasaran.
“Cobalah bertarung denganku. Tidak lucu kalau kamu hanya bisa membentuk senjata sedangkan daya serangmu lemah.”
Meera berkata begitu sedangkan kekuatannya adalah air yang bisa memadamkan api dengan mudah. Orion tak habis pikir, bagaimana cara melawan air itu. Ditambah lagi, lawannya bukan main.
Plak! Orion menampar wajahnya saat menundukkan kepala dalam-dalam. Lantas menghela napas panjang.
“Baiklah, Nona Meera.”
Sepertinya Orion sudah tak perlu lagi bicara kalau dirinya sedang tidak dalam kondisi prima. Sejujurnya Orion sudah sangat mengantuk di siang hari, mungkin karena tubuh anak kecil perlu istirahat dengan tidur siang.
“Meskipun air kalah dengan api, namun bukan berarti kamu tidak bisa melakukan apa-apa, 'kan?”
Entah apa maksud dari ucapan Meera saat itu. Gelombang air yang tadi dikumpulkan pun ia arahkan menuju Orion secara langsung. Orion menghindar dengan langkah gesit, semula pedang itu melebur dan menjadikannya sebagai api yang biasa membara.
“Kamu tidak akan menggunakan pedangmu?” tanya Meera yang heran.
“Sayangnya sulit, aku takut memaksakan diri yang jika menggunakan pedang maka aku harus mendekat pada Nona Meera,” jawab Orion masuk akal.
Tapi itu bukan berarti Meera melemahkan pertahannya begitu saja. Meera berpikir kalau Orion akan menggunakan serangan jarak jauh, namun akan tetapi Orion tidak bisa melakukannya terus-menerus.
Meera membentuk air itu menjadi perisai di sekelilingnya lalu kemudian membentuk sebuah tombak dengan air tersisa.
“Serangan jarak jauh ...aku jadi teringat dengan penyihir yang ada di dalam game anak itu,” gumam Orion.
Sama seperti Meera, ketika tombak itu melesat, Orion menggunakan api sebagai perisai. Begitu serangan mereka berbenturan, uap berkabut muncul dan menghalangi pandangan Orion.
Kabut yang sulit untuknya dihempaskan, karena api akan membuat kabut itu menjadi tebal, sehingga Orion pergi ke sisi lain.
Drap! Drap! Orion berlari menuju ke arah Meera dengan api yang melapisi kepalan tinjunya. Segera, Meera memperkuat pertahanan di bagian depan.
Dung! Sesaat pertahanan itu bergetar, terasa seperti menyentuh karet. Api lenyap begitu menyentuh kekuatan Meera, namun tidak semua. Sebab, sebelum ini Orion melepaskan sedikit kekuatan apinya agar turun ke bawah.
Trik yang sama ketika ia berlatih dengan Mahanta. Ia mempelajari ini dari pengalaman saat melawan Endy.
“Ternyata masih dangkal. Aku pikir aku bisa melakukan hal yang sama seperti dia,” gumam Orion seraya melihat telapak tangannya.
Api tergantikan dengan asap abu mengepul di punggungnya. Terlihat air yang menyatu membentuk perisai kecil, Meera sudah menangkisnya namun pertahanannya tidak cukup sehingga ia tetap terluka karena api Orion.
Tanpa disadari oleh mereka, orang-orang Meera ternyata datang dan melihat pertarungan mereka berdua. Semua orang menatap Orion dengan antusias, berdecak kagum akan semua serangan yang ia tunjukkan sebelumnya.
“Itu terlihat indah. Apinya ...”
“Nona Meera! Anda membawa anak itu sesuai janji, kami semua sangat senang!” Salah satunya berteriak kencang kegirangan.
Meera dan Orion menghampiri mereka yang berada di pinggir halaman.
“Namanya adalah Orion Sadawira, dan sayang sekali yang pertama kali menemukan anak ini bukan aku melainkan Nona Arutala. Hahaha!” Meera tertawa keras.
“Api itu, adalah kekuatan yang sangat jarang aku lihat. Bagaimana kau menggunakannya?”
“Itu tidak bisa dijelaskan ...”
“Hei, kudengar kau baru saja bangkit. Lebih tepatnya kapan itu?”
Lagi-lagi, berbagai pertanyaan menyerang diri Orion. Dan Orion hanya mampu terdiam seraya mengigit bibir bawahnya. Tampak ia sangat tidak nyaman dengan pertanyaan sensitif itu, Meera pun segera melakukan sesuatu.
“Hei, hei! Sudahi wawancara kalian! Anak ini masihlah sangat kecil, kita tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Tapi hargailah perasaannya,” tutur Meera. Seketika orang-orangnya terdiam.
Setiap kali ia bertemu sesama Pejuang NED, pasti pertanyaan yang berhubungan dengan kematiannya akan terlontar dari mulut mereka begitu saja. Seolah-olah mengenang masa lalu, tapi itu adalah hal terburuk yang pernah ada.
Orion tentu sangat kesal ketika ada orang sok ikut campur. Memangnya setelah tahu mereka akan apa? Bersimpati? Tidak akan begitu.
“Hem! Semua manusia mempunyai sesuatu yang akan lebih baik jika disembunyikan,” kata Orion dengan menekuk alisnya.
“Kamu benar, Orion. Sama halnya dengan Jhon ataupun Chameleon, mereka selalu bersembunyi dan akan keluar jika memang dibutuhkan,” gumam Meera seraya mengusap kepala Orion.
Sembari melepas tangan Meera dari kepalanya, Orion berkata, “Jika terus disinggung seperti itu. Aku jadi semakin tertarik tentang mereka, Nona Meera.” Kemudian menatapnya.
Sorot mata Orion yang tak biasa, membuat Meera tercengang. Ia terdiam dan mengangkat sebelah alisnya, tanda tidak begitu mengerti dengan sikap Orion yang sebenarnya.
Meera kemudian duduk berjongkok, dan mendekatkan bibir ke telinga Orion lalu berbisik, “Kalau memang begitu, aku siap membantu apa yang kamu butuhkan. Asalkan kamu juga memberikanku sesuatu.”
“Barter, ya? Ini cara kuno yang sudah lama tidak digunakan. Akan aku pertimbangkan,” balas Orion sambil memalingkan wajah.
Setelah siang yang cukup panas, bahkan senja sudah terlewat. Tidak disangka Orion berada di tempat ini sampai malam tiba. Ia kini menatap langit dengan penuh kecemasan.
“Menginaplah di sini, Orion.”
Meera datang menghampiri Orion yang saat itu berada di halaman depan gedung. Meera menyarankan Orion agar menginap semalam saja di kota B-Karta.
“Baiklah, tidak ada pilihan lain.”
Meskipun malam itu, seseorang duduk di dahan pohon yang besar tengah mengintai pergerakan Orion.