
Meninggalkan pesan yang tertanam langsung di tanah menggunakan es adalah satu-satunya cara agar ketika Endaru datang ke stasiun nanti dapat membaca pesan itu. Berhubung ponsel Endaru tidak aktif, jadi cara itu harus dilakukan agar Endaru dapat ke titik pertemuan yang baru.
Gista, Mahanta, Ketua Irawan, Ketua Meera, Ramon, Runo lalu Ade telah pergi beberapa menit yang lalu dari stasiun itu. Mereka menuju ke sebuah tempat, yang di mana terdapat lapangan luas yang tersembunyi di balik gedung-gedung kormesial. Di belakang sana terdapat gudang terbengkalai yang ukurannya cukup besar, mereka menggunakan tempat itu demi menghindari orang luar yang takkan datang kemari.
“Ini tempat yang cukup luas,” ucap Mahanta merasa takjub.
“Jangan merasa takjub hanya dengan melihat hal ini, Mahanta. Kita berada di medan perang yang akan menjadi neraka sebentar lagi. Ingat itu baik-baik,” tegas Gista mengingatkan mereka semua akan pertempuran yang mereka jalani entah esok hari atau lusa.
“Aku sempat ke kota S-Frans dan menemukan keberadaan Chameleon bersama bawahannya. Tentu saja bersama Orion. Sulit mendekatinya,” ucap Gista.
“Eh, kalau begitu Anda bertemu dengan Endaru?”
“Tidak. Mungkin dia belum datang saat itu.”
“Begitu. Ya, itu wajar saja. Kecuali jika dia memakai kekuatannya maka mungkin akan cepat sampai tapi kurasa dia berlari dari pukul 3 sore dari Air Mancur menuju ke kota itu,” jelas Mahanta.
“Kembali ke topik utama. Chameleon memiliki rencana yang bahkan tidak diketahui oleh Orion sendiri. Entah rencananya apa, tapi dia akan bergerak mulai pagi hari yang akan datang. Mengerti?”
Semuanya mengangguk mengerti, sementara Ade terdiam dengan pikiran hanya ingin menyelamatkan Ayahnya saja.
“Pagi hari, di saat yang sama gubernur akan mendatangi kota S-Frans. Dia akan mencalonkan dirinya sebagai presiden dan karena saingannya cukup berat, dia memutuskan untuk berkeliling kota demi mendapat dukungan rakyat.”
“Jangan bilang Chameleon akan menjadi gubernur itu sendiri?” pikir Ketua Irawan.
“Tapi untuk apa?” sahut Ramon tak mengerti.
“Tadi aku berpikir hal yang sama. Jika benar dia ingin menjadi gubernur itu sendiri maka apa yang akan dilakukannya? Aku sendiri pun tidak mengerti,” kata Gista seraya menggelengkan kepala.
“Nona Gista, apakah Anda sebelumnya menerima informasi lain dari Orion?” tanya Mahanta.
“Selain yang aku katakan dan tentang Chameleon yang akan bergerak pagi hari tepat kepergian gubernur itu, aku tidak tahu lagi. Orion sendiri bingung, dengan rencana Chameleon sebenarnya.”
Ini masih sangat samar-samar. Posisi Orion cukup diuntungkan, jika bisa, Orion akan tanyakan keseluruhan rencana tapi itu akan mengundang masalah. Sebab, takkan Chameleon dkk tak mengetahui apa rencana di balik topeng persekutuan sementara Orion dengan Chameleon.
“Jika saja kita bisa melakukan sesuatu, atau mungkin bergabung dengan Orion.”
“Jangan mengharapkan hal-hal yang tidak akan terjadi, Mahanta. Semua orang jelas tahu seberapa resikonya berada di posisi Orion. Perlu kau ingat, keberadaan Orion di sana cukup menguntungkan bagi Chameleon.”
“Misalnya?” Runo bertanya, lantaran ia penasaran.
“Api Abadi itu mematikan, melenyapkan seseorang tanpa jejak barang abunya sedikit saja akan tidak ada. Kalian mungkin baru mengetahuinya, tapi ini kenyataan. Dan Chameleon mempergunakannya untuk melakukan kejahatan,” ungkap Gista.
“Itu terdengar mengerikan.”
Semus orang tentu tahu seberapa mengerikannta jika membunuh seseorang tanpa jejak. Mayat pun akan hilang tanpa sisa.
“Dengar, pagi hari kita akan langsung bergerak ke kota S-Frans. Gubernur akan didampingi oleh beberapa orang yang mungkin saja adalah bawahan Chameleon. Tugas kalian, cukup pisahkan bawahannya dari Chameleon.”
Gista menunjukkan map digital, menunjuk ke arah jalan di mana gubernur itu akan berkampanye, istilahnya. Rencana yang cukup mudah dikatakan.
“Cukup pisahkan mereka semua dari Chameleon. Hanya itu saja!” tutup Gista.
Rencana ini akan menjadi rencana utama, mengingat bagaimana sikap Chameleon selama ini. Setelah mengendalikan presiden di negara Id kini Chameleon mengincar negara GL dengan hukum liberal. Jauh lebih besar dan tentunya kekuasaan serta impian untuk menjadikan dunia sebagai Dunia NED di mana semua orang akan bangkit kembali dengan kekuatan supernatural akan terwujud lebih cepat dari perkiraan.
Meski terdengar mustahil tapi dengan kekuatan Chameleon yang lebih intrik dan lewat dari batas wajar manusia, pastilah tidak ada kata mustahil dan itu mungkin!
“Tapi Nona Gista, ijinkan saya bertanya.” Mahanta kembali angkat bicara.
“Ada apa?”
“Bagaimana jika gubernur yang akan datang pagi hari itu benar-benar orang aslinya?”
Itu pertanyaan yang bijak, karena ada kemungkinan bahwa Chameleon akan mengendalikan gubernur itu seperti boneka dan tidak menjadi dirinya.
“Tenanglah, aku akan bersama kalian saat itu. Apa kalian tidak ingat apa yang telah aku lakukan padanya di pasar malam hari itu?”
“Maksud Anda, tanda?” pikir Ketua Irawan.
“Ya. Itu benar. Jika aku beri sinyal, kalian lakukan rencananya tapi jika tidak, maka itu sesuai perkiraan kalian bahwa gubernur itu adalah orang aslinya. Mengerti?”
“BAIK!” Serentak mereka berucap bersamaan.
Dengan ini rencana mulai terbuat, tapi ini hanyalah bagian pembukanya saja. Sebab belum ada rencana untuk menyerang Chameleon yang sampai saat ini belum diketahui apa rencananya.
***
Sementara itu di markas Gerhana Bulan yang sudah kehilangan pemilik gedung kasino. Ruangan Chameleon.
“Cih, aku benar-benar dibuang ke sini. Dasar Pahlawan bodoh!” caci Pemain Kecapi terhadap Endaru yang kini tak lagi menunjukkan batang hidungnya.
Saat itu, Endaru bersama Pemain Kecapi datang dengan heboh. Namun berkat Orion, Endaru bisa lolos dari maut dengan melemparnya keluar dari jendela.
Sesaat sebelum melempar, Orion mengatakan sesuatu.
"Ikuti rencananya." Itulah yang Orion katakan pada Endaru, agar Endaru mengerti bahwa ada maksud tertentu mengapa Orion sendiri masih berada di tempat ini.
Namun sekarang, raut wajah Chameleon sedikit tak tenang. Terutama saat melihat Pemain Kecapi yang kakinya terluka sekarang.
“Kau sepertinya terluka cukup parah di bagian kakimu ya? Aku turut khawatir. Tapi kenapa kau tak melawan?” tanya Chameleon yang sejujurnya ia pun tahu jawaban darinya.
“Ha, melawan pun percuma. Alat musik milikku tidak ada. Tapi yah, bukan berarti aku tidak bisa memainkannya. Namun seperti yang aku katakan sebelumnya, melawan pun percuma,” tutur Pemain Kecapi.
“Ya, itu karena kau tahu bahwa riwayatmu sudah tamat!” cetus Jinan.
“Lupakan soal itu. Aku jadi tidak berminat padamu. Lalu Orion, aku ingin minta satu hal lagi padamu. Bunuh orang ini.” Chameleon berkata seraya melempar selembar foto seorang pria berpakaian rapi.
“Dia siapa?” tanya Orion.
“Dia gubernur, hm siapa namanya ya? Nicholas? Ya kurang lebih itu namanya dan di balik foto itu tertera alamatnya,” ujar Chameleon.
“Peran untuk membunuh bukanlah peran yang cocok untukku,” tukas Orion yang ingin sekali menolaknya.
“Ini agar kau dapat mengasah kemampuanmu lebih lanjut.” Seringai Chameleon terpampang jelas sekarang.
***
Malam, pukul 10 malam. Kediaman Nicholas, gubernur.
Kediamannya tanpa penjagaan sama sekali, mungkin terlihat wajar karena ini sudah larut malam tapi kalau pejabat tinggi seperti dirinya tidak menjaga rumahnya dengan ketat, maka akan menjadi sasaran empuk para *******.
Nicholas, pria tua yang tak kenal takut. Tanpa penjagaan, ia selalu berpergian sendirian. Seolah-olah dirinya hanya masyarakat biasa, jika tidak diperhatikan dengan baik maka tak ada yang menyadari bahwa ia adalah Nicholas. Membaur dengan sempurna tapi kharismatiknya tak dapat disembunyikan.
“Aku merasa bersalah padanya ...,”
“...atau aku menggunakan cara lainnya saja?” gumam Orion.
Nicholas tampak terlelap begitu juga dengan bayinya. Bisa diketahui bahwa pria ini single parent. Tak disangka bahwa pria seperti dia menjaga anaknya sembari banting tulang di luar.
Setelah ia masuk ke dalam dengan senyap melalui jendela, Orion pun masih terdiam dengan posisinya berdiri saat ini. Ia jelas ragu melakukan pembunuhan, terlebih dirinya lebih suka dibunuh daripada membunuh.
“Siapa?!”
Nicholas terkejut saat baru saja ia menyadari kedatangan orang asing di dalam kamarnya. Dengan setengah sadar, ia berusaha bangkit dan turun dari ranjang tidurnya.
“Saya menganggu tidur nyenyak Anda?” Orion angkat bicara.
“K-kau—”
Sebelum Nicholas berteriak, Orion membungkam mulutnya lantas berkata, “Maaf, niatku datang kemari bukan untuk membuat masalah. Akan lebih baik jika kita berdua berbicara dengan pelan, atau anakmu terbangun nanti.”
Nicholas perlahan mengerti, kesadarannya pun pulih. Ia menganggukkan kepala tanda bahwa dirinya pun tak ingin membuat kegaduhan sehingga anaknya nanti akan terbangun.
Memantapkan hati tuk melakukan rencana untuk tidak membunuh Nicholas, Orion berusaha menjelaskan beberapa hal agar Nicholas tidak salah paham ataupun berpikir bahwa hal yang akan Orion katakan itu mustahil terjadi.
“Anda, Nicholas?” tanya Orion seraya membuka kembali mulut pria itu.
“Ya. Bagaimana kamu bisa mengenaliku? Sementara aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,” jawab Nicholas.
“Seperti yang aku duga. Anda sungguh hebat.”
“Katakan apa tujuanmu datang kemari?” tanya Nicholas yang sudah tak ingin berbasa-basi.
“Ada seorang pria yang disebut sebagai Chameleon. Saya datang karena diperintah olehnya, untuk membunuh Anda.”
Nicholas tersentak, reflek ia melangkah mundur dan sempat menyenggol ranjang bayinya. Saking ia terkejut, ia tak tahu harus berkata apa namun tangannya bergerak seolah mencari senjata.
“Saya tidak akan melakukannya. Karena saya sendiri pun tidak menginginkannya. Dan jika Anda tidak ingin mati dengan konyol bahkan sampai meninggalkan anakmu satu-satunya, maka bekerja samalah dengan saya,” ungkap Orion mengulurkan telapak tangan ke arahnya.
“Kerja sama?”
“Ya, saya akan membuat Anda mati walau sebenarnya tidak. Anda cukup menahan napas selama beberapa waktu. Apakah Anda bersedia?” Orion menarik uluran tangannya yang kini mendekap dekat dada bidangnya.
Sembari menunggu jawaban dari Nicholas, juga Orion berharap akan ada kerja sama di antara mereka tuk mengelabuhi Chameleon.
“Apa alasannya? Katakan itu lebih dulu padaku. Apa alasan dia ingin membunuhku?” tanya Nicholas.
“Saya pikir jawaban ini tidak akan menyakinkan, dia berkata ingin menguasai dunia. Tapi asalkan Anda dan anak itu selamat maka tak jadi masalah dengan kerja sama kita bukan?”
Menuruti perkataannya adalah hal yang terbaik. Saat ini Nicholas berpikir matang tentang ide rencana tersebut.
***
Selang beberapa saat kemudian, datanglah Chameleon bersama Sera ke kediaman Nicholas. Orion telah menunggu di tepian ranjang dengan tubuh Nicholas yang menjadi hitam gosong, sementara bayi yang seharusnya ada di ranjangnya saat ini hilang entah ke mana.
“Kau sudah melakukan yang terbaik. Tapi aku tidak menyuruhmu untuk memukulnya bukan?”
“Ya, benar. Tapi itu aku lakukan karena dia keras kepala. Dia sempat melawanku bahkan menyadari keberadaanku tak berselang lama setelah aku masuk.”
“Oh, begitu. Kalau begitu ya sudah. Jangan lengapkan mayat itu.”
“Apa? Sebelumnya aku tak pernah mendengar ini. Bukankah biasanya kau menyuruhku untuk melenyapkan orang-orang yang ingin kau lenyapkan?”
“Ya, itu benar. Aku hanya ingin mengurung dia di sini sendirian dan takkan ada orang lain mengetahuinya keberadaannya sampai ketika aku muncul sebagai dia di jalanan,” ucap Chameleon.
“Oh.”
'Melenyapkan jasad orang lain tentu mudah. Tapi ini di luar dugaan karena Chameleon tak ingin membuat jasad ini menghilang,' batin Orion resah.
“Kalau begitu kita pergi ke daerah terpencil dengan kekuatanku.”
“Tunggu sebentar, Tuan Chameleon! Aku merasakan keraguan, tidak ...maksudku ada yang aneh di sini.” Sepertinya indra penciuman Sera sangat peka, ia mendekati jasad orang lain yang bukan Nicholas sendiri.
Keadaan semakin berbahaya apabila Sera menyadarinya walau wajah itu telah babak belur, maka ada kemungkinan Sera menyadarinya.
“Sudahlah, aku mencium aroma gosong. Takkan kau meragukannya hanya karena dia sudah terkapar begitu bukan?” sahut Chameleon seraya menunjuk ke arah pintu keluar dengan mengangkat dagunya.
Tanda agar segera menyudahi ini.
“Baiklah.”
Jika yang lainnya datang kemari, maka tamatlah Orion sudah. Tapi kini ia beruntung. Karena rencananya benar-benar berjalan lancar.
'Pak Nicholas, Anda akan tetap hidup meski terbakar sedikit bukan?' batin Orion.
Nyatanya itu benar-benar adalah jasad orang lain, tapi Nicholas juga berada di tempat yang sama. Mereka saling bertumpang tindih, dan Orion sedikit membakar jari Nicholas sebentar.
“Kita akan pergi ke desa terpencil.”
Ctak!
Chameleon menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap mereka bertiga berpindah tempat. Orion terkejut karena baru pertama kali ini ia melihat kekuatan Chameleon satu ini. Biasanya hanya kekuatan dari orang lain atau bahkan meniru bahkan mencuri. Lalu lingkaran penghisap jiwa, tapi sekarang ada telerpotasi?
“Kemampuanmu menakutkan,” cerocos Orion.
“Benarkah? Hei, Orion! Aku ingin menunjukkan apa yang ingin aku lakukan di sini. Lihatlah!”
Kembali Chameleon mengangkat tangannya di hadapan padang luas rerumputan hijau yang disinari oleh rembulan malam. Terdapat beberapa rumah penduduk yang sedikit berbeda dari perkotaan.
“Ini ...daerah terpencil?” Manik Mata Orion berkeliling ingin mencari tahu lebih.
“Benar.”
ZRRRUNGGG!!!!
Getaran pada datang, suara yang berdenging keras membuat pekak di telinga lalu langit yang seolah akan runtuh. Kemudian bangunan perumahan yang sepertinya akan roboh. Hal-hal aneh telah terjadi di tempat ini.
“Apa yang kau—”
“KYAAA!!!”
“ARGHH!! TOLONG!!!”
Tiba-tiba apa yang terjadi? Mata Orion terbelalak begitu dirinya mendekati salah satu rumah yang kini di dalamnya telah penuh dengan bercak darah oleh anggota keluarga yang tinggal di rumah sempit itu.