
Di sela-sela ketika Pelelangan Undergrown belum berakhir, Runo sempat menghubungi Mahanta begitu pula dengan Ketua Irawan. Mereka berdua menghubungi secara bergantian namun tampaknya Mahanta sangat sibuk sehingga tidak bisa datang ke pelelangan Undergrown ketika sinyal Orion muncul.
***
Suatu tempat, air mancur yang menyala dengan ukuran yang cukup besar. Mahanta telah menemukan air mancur itu tak jauh dari lokasi di mana ia menemukan sekelompok anak-anak mengonsumsi suatu benda berbahaya.
Di sana ia tidak menemukan siapa-siapa yang terlihat mencurigakan. Hanya kebanyakan orang yang sedang menikmati harinya di sore hari.
“Hm, harusnya di sini. Tapi kenapa tidak ada? Apa dia hanya berbohong, si bunglon itu.” Mahanta berpikir bahwa hal yang dikatakan Chameleon adalah kebohongan.
“Tapi kenapa?” Kini Mahanta bertanya-tanya, mengapa pula Chameleon berbohong. Mahanta berpikir bahwa itu tidak akan membuatnya untung juga.
Semakin lama ia berada di sana, waktu sudah berputar lebih cepat membuatnya semakin suntuk jika terus menunggu di sini tanpa keadaan yang jelas. Mahanta pun akhirnya berkeliling sebentar ke sekitar air mancur itu berada.
“Di sini ...terlihat tenang,” gumam Mahanta seraya menggaruk tengkuk kepalanya dengan rasa khawatir.
Perasaannya kalut karena terlihat biasa-biasa saja. Justru karena terlihat biasa saja, damai, tenang, sejuk dan nyaman inilah yang membuat Mahanta semakin cemas akan keadaan sekitar.
“Setidaknya aku beruntung karena menemukan tempat ini dulu. Karena jika tidak, atau Orion yang datang kemari lebih dulu maka mungkin dia akan mendapat sambutan senjata,” celetuk Mahanta.
Tap!
Mahanta berhenti melangkah begitu ia berada dekat dengan sebuah pintu kecokelatan di sampingnya. Pintu itu lumayan besar, motifnya terlihat biasa namun tempatnya tidak sebiasa yang ia kira.
Seseorang masuk ke dalam tempat yang seperti rumah berbanjar itu. Mahanta lantas mengikutinya masuk ke dalam tanpa ragu. Merasa penasaran, ia memulai menyisiri tempat yang unik tersebut.
“Museum.” Satu kata yang keluar dari mulut Mahanta.
Banyak koleksi yang tak ternilai, barang bersejarah. Patung-patung atau lukisan, dan lain hal lagi yang membuatnya sangat tertarik.
“Karena hal ini aku jadi meluangkan waktu terlalu banyak. Tapi aku tidak menyangka kalau ada tempat semacam ini, aku baru tahu. Kalau Nona Gista pasti sudah tahu,” gumam Mahanta seraya melihat suatu barang dalam wadah kaca besar.
Mahanta terkagum-kagum akan museum yang ia jelajahi sekarang. Ia sangat menikmati museum itu sampai-sampai melupakan tujuannya.
Crak!
Mahanta menghindar satu langkah ke belakang, sebuah jarum tertancap ke lantai. Beruntungnya Mahanta tidak tertusuk jarum yang terlihat seperti anak panah itu.
“Jarum yang seperti dikatakan oleh Orion, ya? Tapi bukankah ini milik Jhon? Bawahannya Chameleon? Ah, tapi itu hanya dugaan dan Orion juga tidak membahas hal itu lagi karena sudah berlalu.”
Jarum yang sama terlihat di negara lain. Yang berarti, pemilik jarum itu mungkin berasal dari negara ini atau mengikuti jejak Chameleon. Atau juga Chameleon itu sendiri.
Namun ini semua hanyalah persepsi saja. Lantaran Chameleon pun tak pernah mengeluarkan kekuatan semacam ini kecuali bayangan yang kerap kali dikeluarkan.
Mahanta jadi cemas kembali. Padahal kesenangannya baru dimulai saat itu juga. Berapa ia sangat kecewa karena tidak pernah bisa beristirahat walau hanya sebentar saja.
“Hah, tiba-tiba aku mendapatkan tatapan dingin dari mana-mana,” ucap Mahanta seraya menghela napas panjang.
***
Hotel. Kamar di mana Ketua Meera berada. Tepat setelah ia berhasil memulangkan seorang anak ke orang tuanya dan setelah menjalani pemeriksaan.
“Anak itu bisa-bisanya memakan benda berbahaya. Untung saja berjumlah sedikit, tapi tetap saja berbahaya,” ucap Ketua Meera seraya berbaring di atas ranjang.
Drrrtt!
Ponsel berdering kuat, Ketua Meera bergegas bangkit dan mengangkat panggilan itu.
“Ya, ampun. Kenapa setiap hari ada saja orang menelpon. Padahal alamat kontaknya saja tidak aku simpan. Aku heran dia mendapatkannya dari mana.”
Di luar ruangan Ketua Meera. Pada sore hari yang sama, datang beberapa orang bergerombol. Mereka masuk dari jendela beberapa kamar serta dari dapur dan segala ruangan yang ada di sekitar ruangan target mereka.
Tok! Tok!
“Ya. Siapa?” Ketua Meera menjawab panggilan ketukan pintu.
Sebelum membuka pintunya untuk mengetahui itu siapa, ia tengah menunggu jawabannya. Namun, selama beberapa menit, tak satupun jawaban yang diterima. Mendengar lirih-lirih saja tidak sama sekali.
“Siapa?” Ketua Meera mengintip dari lubang pintu, dan tidak mendapati seorang pun.
Cklak!
Ketua Meera membuka pintu, lantas terkejut karena melihat beberapa orang bertopeng berhadapan dengannya.
“Kalian siapa?” tanya Ketua Meera agaknya berwaspada seraya mengeratkan genggamannya pada daun pintu.
“Kami Phantom Gank!” jawab mereka serentak. Lalu menodongkan senjata tepat ke arah Ketua Meera.
Brak!
Ketua Meera membanting pintu lalu menguncinya dan pergi menjauh seraya bersiap terhadap serangan mereka.
“Aku tidak menyangka akan ada orang-orang yang berpenampilan seperti itu sambil menodongkan senjata. Phantom Gank, aku akan mengingat nama itu.”
Ia pikir ini akan menjadi lebih tenang. Nyatanya, ada orang-orang aneh yang tiba-tiba datang. Penjagaan saja sudah tidak ketat, Ketua Meera pula merasa bahwa orang seperti mereka pasti akan muncul entah dari mana.
Prang!
Suara kaca pecah terdengar dari luar. Kemudian disusul oleh teriakan seorang wanita dan alarm kendaraan yang terus berbunyi. Ketua Meera mengintip dari balik jendela, melihat apa yang terjadi di bawah sana.
Dok! Dok!
Sekali lagi, Phantom Gank mengetuk pintu. Membuat Ketua Meera teralihkan kembali. Ia merasa tidak fokus, jantungnya berdebar dengan kencang karena situasi rumit dan terlihat berbahaya ini tiba-tiba terjadi.
“Aku tidak punya kesempatan. Haruskah aku melompat keluar dari jendela?”
DAAAK!
Salah seorang di luar ruangan Ketua Meera mendobrak langsung pintu itu hingga rubuh. Mereka terkekeh-kekeh seraya membawa senjata ke pundak, meremehkan seorang wanita yang berada di dalam yang kini sedang mempersiapkan serangan di atas telapak tangan.
“Apa yang kalian incar?” Ketua Meera menatap tajam pada mereka.
“Ternyata benar, di sini hanya ada seorang wanita. Kita tidak salah sasaran lagi, 'kan?”
“Mana mungkin. Dan, bukankah kita selalu bergerak seperti itu? Incar lalu kabur, oh ya, sebagian dari kita terluka parah tapi sepertinya juga membawa buah tangan.”
Mereka jelas meremehkan Ketua Meera yang sampai saat ini masihlah belum bergerak dari posisi. Lantaran, mereka, para bertopeng mengerikan itu mengobrol dengan santainya dengan tetap menodongkan senjata ke depan Ketua Meera.
“Hei! Aku sedang bicara dengan kalian! Siapa sebenarnya kalian? Dan apa tujuannya?” tanya Ketua Meera dengan tegas. Membuat mereka berhenti berceloteh serta tertawa.
“Sudah kami bilang sebelumnya,” ucap salah seorang yang berada di belakang.
Kemudian mereka mengucapkannya kembali dengan serentak, “Kami adalah Phantom Gank!”