
Terukir dua sayap membentang di lengan bagian belakangnya. Berapa kali pun ia mencoba untuk menghapus pola itu namun tetap utuh seolah melekat ke kulitnya secara permanen.
Dalam perjalanan pulang, Orion tampak lelah sehingga memutuskan untuk tertidur sementara.
“Huh, hal ini akan aku urus nanti,” gumam Orion.
Selama tertidur, ia pikir takkan bermimpi lagi. Tapi sepertinya sekarang tidak. Ia melihat ke sekelilingnya berwarna hitam, gelap dan suram. Tidak ada cahaya masuk, benar-benar gelap total yang hanya menyisakan dirinya seorang diri.
“Aku ada di mana? Apakah ini mimpi?”
Ia bertanya-tanya di manakah ia berada. Sempat berpikir bahwa ini bukanlah mimpi biasa, dan terkadang pula berpikir ia mungkin sedang berada di dalam ingatan seseorang.
Namun pada akhirnya tidak terjadi apa-apa. Kemudian Orion berjalan, dengan bertelanjang kaki. Tak lama setelah itu, ia merasakan hawa dingin dari lutut ke bawah.
“Dinginnya seperti menyentuh es batu saja. Sebenarnya aku ini sedang apa?”
Orion berhenti melangkah. Duduk berjongkok seraya mencoba untuk menyentuh hawa dingin tersebut. Akan tetapi, ia justru tak merasakan dinginnya lagi.
“Hah?”
Kaget karena perubahan yang tiba-tiba berubah. Orion lantas selamanya duduk di sana. Seolah duduk di lantai yang dingin tanpa adanya langit ataupun udara. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, ke samping ataupun ke atas, ia tetap tak menemukan apa-apa.
“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
Seseorang sepertinya sedang mengajak berbicara pada Orion. Lantas Orion terkejut dan kemudian matanya mencari siapa pun yang ada di sekitar.
Begitu menoleh ke belakang, ia mendapati seorang pria dengan pakaian yang terlihat kuno dengan kain tipis, sebaris batik mencuat nampak dari bagian lengannya.
“Siapa di sana?” Orion bertanya dengan sikap berwaspda terhadapnya.
“Aku hanya seseorang yang kebetulan menciptakan Api Abadi.”
Sontak Orion kembali terkejut. Setelah beberapa saat orang itu mengatakannya, sosok seekor mahluk dengan dua sayap yang membentang besar pun nampak. Dan makhluk itu pun berdiri di samping seseorang tersebut.
Penampilan mahkluk tersebut terlihat sangat gagah, namun ia hanya dapat melihat punggung dengan dua sayap membentang. Lalu, pria yang juga memberi punggung pada Orion.
“Ini Karura.” Pria itu kembali berbicara, sepertinya mengenalkan nama mahluk tersebut.
Lalu kemudian ia kembali mengatakan sesuatu.
“Apakah kau sedang mencari kekuatan?”
“Apa? Kekuatan? Tidak, tunggu ...kenapa aku ada di sini? Bukankah aku sedang bermimpi?” pikir Orion dengan wajah bingung sekaligus panik.
Orion bangkit lalu menoleh ke segala arah, berharap menemukan secercah cahaya atau apa pun itu.
“Kamu bahkan tidak memperkenalkan dirimu. Dasar anak tidak sopan,” ujarnya menyindir.
“Kenapa aku harus memperkenalkan diri sedangkan kau sendiri tidak jelas asal-usulnya.”
“Tapi aku sudah menjawab pertanyaanku tadi. Aku adalah seseorang yang kebetulan menciptakan Api Abadi,” tuturnya dengan suara keras hingga ruangan sekitar bergema.
“Salahmu sendiri menjawab pertanyaanku!” sahut Orion dengan ketus.
Semenjak kedatangan dua mahluk tersebut, hawa yang aneh tersebar luas ke sekitarnya. Ia tidak merasakan hawa membunuh sama sekali namun akan tetapi ia merasa aneh saja. Persis ketika ia berhadapan dengan pria misterius dengan kecapi miliknya.
“Hah, sudahlah. Sepertiya kamu tidak mengerti dengan situasi sekarang, ya. Bersiaplah, kekuatanmu mungkin akan aku renggut,” tutur seseorang itu.
Hawa mencekam pun datang dari arah depan. Menyambar Orion seolah terkena terpaan angin yang begitu dahsyat.
Tepat di belakangnya, Orion mendengar suara geraman banyak orang. Suara mereka bertumpuk satu sama lain. Ia menoleh ke belakang, dan benar saja seperti apa yang ia dengar tadi.
Banyak orang berkumpul dan menggeram-geram. Serta api menjulur keluar seolah membakar mereka hidup-hidup. Sehingga wujud orang-orang itu tak lagi terlihat bentuknya.
Kedua alisnya menekuk lantaran terkejut heran mengenai apa yang ia lihat sekarang ini. Sekelebat perasaan ngeri dan dihantui oleh banyak orang membuatnya bergidik merinding.
Graaa!
Banyak orang menjadi satu, mencodongkan tubuh mereka ke depan dan hendak menjatuhi Orion. Sesaat Orion terpaku, ketika salah satu kakinya terseret ke belakang, hawa dari seseorang itu justru menekannya kuat.
“Apa-apaan ini? Hei! Katakan kenapa aku ada di sini! Aku 'kan hanya tidur sebentar! Lagi pula kalau mimpi ini—”
Bluk! Bluk!
Orion terbungkam, ketika mereka—orang-orang menjatuhi lelehan api pada Orion. Rasa panas yang begitu menyengat hingga kulitnya terbakar hebat. Lalu, orang-orang itu pun terjatuh.
Menimpa tubuh Orion yang pada saat itu sulit untuk bergerak leluasa. Seakan-akan seluruh tubuhnya terbelenggu. Orion lantas lenyap dalam ruangan hitam pekat tersebut.
Terjatuh dalam kegelapan tak berdasar. Kesadaran Orion yang semula hilang, perlahan kembali ketika sesuatu menyentuh wajahnya.
Ia terkejut begitu membuka mata. Melihat ada banyak orang yang ia kenali semenjak saat sebelum ia mati. Semua berteriak keras-keras hingga memekikkan kedua telinganya.
Serasa dihantui lebih lanjut. Orion bahkan mengingat semua kenangan buruknya pada orang-orang yang ada di depan mata saat ini.
“Dasar sampah!”
“Miskin!”
“Sok suci sekali! Kau pikir kau bisa menangani hal ini!?”
“Jangan pernah kembali!”
“B*adab kau! Pergi!”
“Apa gunanya kau hidup!?”
Semua caci makian terdengar. Orion merasa sesak napas, jantungnya berdebar lebih kencang, seolah-olah akan lepas dari tubuhnya. Orion tak lagi mampu menatap mata mereka yang penuh dendam dan benci. Sumpah serapah tak ada habisnya, dan terus membuat Orion terpuruk.
“Mati saja sana!”
Deg! Lagi-lagi jantungnya berdebar kencang dalam sekali. Siapa yang bicara? Hal ini membuat Orion mencari keberadaan orang yang mengatakan hal itu.
Dan ternyata orang yang sangat dibenci olehnya.
“Orion Sadawira, terkutuklah kau!”
“Kasihan sekali, dia tersesat hingga akhirnya dihukum oleh dewa! Tapi itu pantas untuknya!”
Orang yang paling ia benci seumur hidup. Sosok yang pernah mengkhianati, melukai dan seringkali mengabaikan hingga membuat hubungan di antara mereka hancur berkeping-keping.
“Istriku ...” gumam Orion dengan mata melotot.
“Dasar wanita tak tahu diuntung!” imbuhnya berteriak.
Di sela caci makian mereka terhadap Orion. Orion pula sangat, sangat dan sangat membenci mereka. Terutama sang istri, ia bahkan mencaci makinya dengan dingin.
Ketika itu, Orion kembali ke ruangan yang gelap. Terlihat sorot matanya yang lurus namun pandangannya kosong, seraya menggumamkan sesuatu, Orion juga terkadang memukul-mukul lantai di bawahnya.
“Semua orang yang mengincar Api Abadi, pasti ujung-ujungnya menginginkan sebuah kekuatan. Nah, sekarang, apa yang paling kau inginkan?” Sosok itu kembali bicara.
Orion kemudian menjawabnya dengan suara rendah. Pelan tak bertenaga.
“Aku sama sekali tak mengincar kekuatan. Dan aku paling benci pada semua orang yang menawariku seperti ini. Seakan-akan mereka itu lebih kuat dariku, padahal tidak!”