
Bukan disebut sebagai monster, tak seperti bayangan Orion. Justru Roni berpikir bahwa tangan kanan Orion adalah hasil buatan, mengira bahwa Orion sedang ber-cosplay layaknya penggemar berat suatu cerita, film, game atau bahkan komik yang sering diperjualbelikan.
“Hahahaha!! Sia-sia aku berpikir macam-macam! Hahaha!”
Orion terkejut, tak kuasa ia menahan tawa hingga menggelitik perutnya. Menurutnya ini sangat lucu sampai-sampai Orion tidak bisa berhenti tertawa. Membuat semua murid di sana tercengang dan mulut mereka menganga begitu lebar.
“Bapak? Cosplay? Apa maksudnya?”
“Iya pak. Apa maksudnya, kok tiba-tiba Roni mengatakan hal itu pada bapak? Nggak salah nih?”
Tampak semua murid termasuk Roni amat penasaran. Roni yang telah mengira itu karena Orion ber-cosplay, justru masih mengerutkan kening. Hendak ia melihat dan memastikan itu kembali.
“Kalau tidak keberatan, bolehkah aku melihatnya lagi?” tanya Roni sembari menatapnya dengan kerut di dahi.
“Eh? Melihat? Jangan bilang tangan kanan—”
Plak!
Tak sengaja Orion menepis tangan salah seorang murid dengan kasar.
“Jangan disentuh, saya mohon. Ini cukup berbahaya. Ah, sebelumnya maafkan aku yang tidak sengaja menepis tanganmu tadi,” ucap Orion sesaat setelah ia berhenti tertawa.
“Eh, iya pak. Maaf juga saya lancang.”
“Kalau begitu, kalian pergilah lebih dulu. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Roni. Hanya berdua saja.”
Tap, tap!
Orion melangkah pergi seraya memegang pundak dan membawa Roni pergi bersamanya. Lantas, semua murid hanya terdiam karena guru itu pergi tanpa merasa takut dengan Roni yang adalah anak kurang ajar, berandalan.
“Hei, ini tidak apa-apa? Dibiarkan pergi begitu saja, aku takut kalau Roni menyebabkan gedung ini meledak.”
“Jangan berpikir yang macam-macam. Kalian tidak lihat? Guru pengganti itu terlihat kuat, pundaknya lebar dan dadanya juga bidang.”
“Tapi bagimu itu hanya terlihat saja, 'kan? Memangnya dia bisa melawan Roni?”
“Entahlah. Tapi aku ingin mempercayainya meskipun dia hanya seorang guru pengganti namun aku memiliki firasat baik padanya.”
“Ya, mungkin saja dia bisa merubah sikap Roni kembali sedia kala.”
Murid-murid itu berharap bahwa Roni mendapatkan didikan yang pas. Serta hukuman yang setimpal, atas kesalahannya selama ini suatu saat nanti.
***
“Pak! Kenapa kau membawaku!?” amuk Roni seraya ia berusaha melepaskan diri dari genggaman Orion.
“Jangan melawan. Mari kita bicara di kantin. Karena saat ini pasti kantinnya sepi karena bel baru saja berbunyi.”
Sesampainya mereka di kantin. Orion mengajukan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan hidup dan matinya Roni.
“Ini dugaanku. Kupikir kamu telah bangkit kembali.”
“Maksudmu sebagai zombie? Ha! Jangan bercanda, ya! Aku ini bukan zombie seperti di film. Dan meskipun aku menyukai banyak film seperti itu, aku tidak suka dengan cosplay!” teriak Roni sambil menunjuk Orion dengan kesal.
Orion menurunkan jari telunjuk Roni lantas berkata, “Meski itu keren?”
“Iya! Keren! Ah? Astaga, aku jadi termakan omongannya,” lirih Roni dengan kepala tertunduk seraya memijat keningnya.
“Aku bicara serius, Roni Sanjaya. Baiklah, kita harus meluruskan hal ini dengan benar. Pertama, perkenalkan aku Orion Sadawira. Lalu, bisakah kita bicara sebentar tentang apa yang akhir-akhir ini terjadi padamu?”
“Akhir-akhir ini? 'Kan sudah aku bilang sebelumnya, aku sangat kuat, itu saja!” tegas Roni dengan menyilangkan kedua tangan ke depan dada.
“Tidak, bukan itu. Maksudku adalah, sebelum kamu merasa sangat kuat,” kata Orion.
Brak!
Roni menggebrak meja lantas pergi meninggalkan Orion.
“Oh, jangan bilang kamu mengalami kecelakaan, tidak. Aku pikir karena perkelahian, tawuran dengan murid lain di jalanan?”
Roni terkejut. Namun tak sepatah kata pun ia berbicara untuk membalas omongan Orion. Kemudian ia kembali melanjutkan langkah perginya tuk menuju ke suatu tempat.
“Apa dugaanku benar? Dia mungkin mati karena seseorang yang melukai dia saat ikut tawuran? Karena biasanya anak-anak sekolah menengah suka begitu,” gumam Orion.
Jika berhenti saat ini, maka selamanya Orion akan berhenti di jalan buntu. Ia pun menghubungi Mahanta untuk meminta bantuan, yang kemudian dialihkan oleh operator yang bertugas di dalam ruangan.
Memintanya untuk mencari kejadian yang lalu dan berkaitan dengan sekolah yang ia kunjungi saat ini. Ketika menyampaikan hal tersebut, operator itu menanyakan identitas Orion.
“Rekan Mahanta.” Hanya itu yang bisa ia jawab lantaran, tak mungkin ia menyebut namanya dengan suara orang dewasa.
Usai meminta bantuan, Orion menutup panggilan lalu pergi menuju ke kantor guru.
“Pak Orion! Anda memutuskan untuk makan bersama? Tapi sayangnya sudah bel masuk. Hampir semua guru sudah mulai mengajar. Bagaimana dengan Pak Orion?”
Hanya ada salah seorang guru pria yang sedang tidak mengajar di jam sekarang.
“Saya berniat untuk bertanya, tentang Roni Sanjaya. Jika berkenan, salah seorang di sini ingin menjawabnya?”
Beberapa dari mereka saling bertukar tatap lantas salah seorang guru wanita pun menjawab pertanyaan Orion.
“Roni Sanjaya, murid kelas 2 ini memiliki kepribadian terburuk. Seperti yang sudah-sudah. Tidak hanya penampilan bahkan sifatnya sudah terlampau buruk.”
“Lalu, apakah dia pernah terlibat suatu kecelakaan? Atau lainnya?”
“Ya. Sayangnya itu menambah reputasi buruk sekolah. Roni pernah ikut tawuran dan itu sekitar beberapa bulan yang lalu. Dia nyaris tak selamat karena senjata melayang ke arah punggungnya. Tapi syukurlah dia selamat.”
Meskipun bersyukur, raut wajah guru yang ada di sana terlihat sangat tidak bersyukur. Tentu saja, karena murid terburuk itu masih hidup, dan pasti ada saja kelakuan buruknya.
“Saya dengar Anda baru saja bertemu dengannya?”
“Iya, benar. Dia sesuai yang kalian bicarakan namun kenapa tidak ada salah satu dari kalian yang berani melakukan sesuatu terhadapnya? Bahkan untuk mengeluarkan dia dari sekolah saja tidak bisa?”
“Kalaupun kami bisa. Sayangnya tidak karena anak itu selalu mengancam kami agar dia selalu dibiarkan masuk ke sekolah meski tidak mengikuti aturan ataupun pelajaran.”
Brak!
Orion membanting pintu dengan keras. Keluar dari kantor guru tuk mencari keberadaan Roni sekarang juga.
Setelah berkeliling, ia sama sekali tidak menemukan jejaknya. Jika Orion bertanya pada salah seorang murid, maka murid itu pasti kabur tanpa menjawabnya.
“Ha, mereka semua takut pada Roni. Dan di mana dia? Aku jadi khawatir kalau dia tiba-tiba keluar dari sekolah dan bertemu dengan sekelompok orang seperti kemarin,” gumam Orion.
“Pak? Bapak sedang mencari Roni?” tanya murid laki-laki kepadanya yang tiba-tiba datang dari belakang.
“Iya. Apa kau tahu?”
“Roni keluar dari sekolahan. Mungkin dia sudah muak bersekolah tanpa arti.”
“Itu bukan kabar yang bagus,” ucap Orion lantas pergi.
Tetapi, tak semudah yang ia kira untuk menemukan seorang murid. Tempat terakhir kali di mana Roni bergelut dengan sekelompok orang pun juga kosong.
Tiada seorang pun melintas bahkan di sekitaran sekolah. Keberadaan Roni seolah lenyap ditelan bumi. Orion semakin lama semakin cemas.