
Suatu hari, datang seorang pria yang mengenakan setelan jas. Rambutnya hitam dan disisir rapi. Terlihat ia juga mengenakan jam tangan yang terlibat mahal. Datang dengan tatapan mati ke suatu tempat.
“Kau ingin mempekerjakan aku? Baiklah apa itu?”
Pria yang terlihat tubuhnya ideal di mata para wanita. Sosok dengan mata tajam berwarna hitam pekat, ialah seorang pembunuh bayaran. Wajahnya sangat terlihat, bahkan ia tak takut itu.
“Itu artinya kau mendapatkan kartu nama palsu ini dari seseorang? Padahal ini hanya nama samaran. Dan bisa saja aku menipumu dengan bilang aku telah membunuhnya tapi sebenarnya tidak pernah kulakukan.”
Kartu nama yang tertulis sebuah nama, "Mr. Iki Gentle."
Pembunuh bayaran mengungkap bahwa kartu nama itu sebetulnya palsu. Namun pria kantoran itu tak mempermasalahkannya karena dirinya sendiri akan tahu apa pembunuh ini melaksanakan tugasnya atau tidak.
“Lalu, sebelum menuju ke topik siapa yang akan kubunuh. Apa yang bisa kau berikan? Jika Kau terlihat kampungan dengan setelan jas begitu, aku jadi tidak yakin kau bisa membayarnya atau tidak,” katanya bernada sombong.
Klik!
Pria itu melepaskan jam tangannya dan bilang ini jam mahal. Kalau perlu timbang saja untuk memastikan. Pria itu tidak ragu dalam memberikan pembayaran.
“Ha? Katamu ini bisa memghidupiku selama 5 tahun ke depan? Apaan? Masih tidak cukup!”
Mr. Iki Gentle menyandarkan tubuhnya ke sofa, ia mendongakkan kepala dan menghela napas kemudian.
Lantas, pria kantoran itu melepas sabuk pinggangnya dan memberikannya pada si pembunuh. Betapa terkejut Mr. Iki Gentle ketika melihat sabuk itu. Sabuk dengan merk terkenal dan ini dijual hanya beberapa buah saja.
Tentu saja untuk mendapatkannya saja tidak mudah. Lihat? Mr. Iki Gentle tergiur, matanya terbelalak melihat sabuk itu dengan teliti tanpa berani memegangnya.
“Kau dapat dari mana? Kau pasti mencuri!”
Pada akhirnya pria kantoran merasa kecewa karena Mr. Iki Gentle tidak melayaninya dengan baik. Ia pun bangkit dari tempat duduk dan menunjukkan tatapan yang culas mengerikan padanya.
“Hei! Aku hanya bercanda!”
Tap!
Hentakan sepatu terdengar sedikit menggaung dalam ruangan dengan furnitur yang hanya ada beberapa saja. Ia membalikkan badan dan bertanya apakah Mr. Iki Gentle bersedia melakukan pekerjaannya.
“Baik, baiklah. Huh, oke kuturuti apa maumu. Asalkan kau tidak membocorkan siapa aku dan bagaimana wajahku.”
Senyum tersungging. Ia merasa bahagia meskipun tatapan matinya membuat Mr. Iki Gentle bergidik. Barulah pria kantoran tersebut mengatakan siapa targetnya.
Ia mengatakannya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Targetnya adalah kau!?”
Mr. Iki Gentle terkejut. Ia bahkan sampai merasa apakah dirinya tidak salah dengar barusan? Pria kantoran itu sendirilah yang menjadi target pembunuhannya.
“Apa kau serius? Atau kau sudah gila? Ah, kenapa aku bertemu klien aneh seperti ini, sih.”
Mr. Iki Gentle mendesah lelah lantaran ia berkeluh kesah karena klien yang ia terima ternyata orang tidak waras sampai ujung rambut ke kaki.
“Lalu bagaimana ...”
Sebelum Mr. Iki Gentle bertanya kembali. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu menyibak tirai yang tertutup dan membuka jendela. Serta ia menyapu debu dengan tangan kiri, dan merogoh laci paling atas.
Srak! Srak!
Sembari mencari sesuatu ia bertanya pada pria tersebut, “Siapa namamu? Ah, sudahlah. Toh kau akan mati di tanganku. Dan pembayaran cukup sabuk dan jam tangan.”
Gusrak!
Tak sengaja tangannya menjatuhkan laci itu ke lantai. Beberapa kertas yang terlihat penting berserakan ke mana-mana. Lantas Mr. Iki Gentle mengambil semua kertas yang masih ada di dalam laci.
Di balik setumpuk kertas terdapat banyak senjata yang tersembunyi, bahkan bagian bawah laci saja dapat dibuka dan ada senjata berupa jarum yang tidak biasa dengan sebotol kecil di samping.
Semua senjata entah itu senjata api, pisau dari segala banyak jenisnya yang kecil lalu tali dan masih ada banyak senjata yang tidak begitu dimengerti oleh pria kantoran itu.
Lantas berdeham sembari berpikir keras, senjata apakah yang cocok untuknya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menunjuk salah satu barang namun tidak menunjuk ke arah laci melainkan sebilah pedang yang bersandar pada sudut ruangan.
Lalu mengatakan apa saja yang harus Mr. Iki Gentle lakukan selama melakukan pekerjaannya.
“Hah? Kau ingin aku membunuhmu di tempat terbuka? Oh tunggu, maksudmu setelah aku membunuhmu lalu membiarkan mayatmu di tempat umum begitu?”
Pria kantoran menganggukkan kepala dengan semangat. Sedangkan Mr. Iki Gentle menghela napas saking heran dan terkejutnya ia pada klien satu ini.
“Cara yang paling tepat agar kau dapat dilihat banyak orang dalam keadaan mengenaskan. Hm, tentu bisa walau hanya dengan sebilah pedang.”
Beberapa langkah menuju ke sudut ruangan dan mengambil pedang panjang.
“Kenapa kau repot-repot mempekerjakan diriku untuk membunuhmu? Kenapa tidak bunuh diri saja? Apa ada alasan lain?”
Walaupun Mr. Iki Gentle bertanya ini dan itu namun dilihat dari raut wajah pun sudah tahu. Bahwa pria ini jelas ingin sekali mati. Tatapannya sudah siap akan kematian atau lebih tepatnya dia stres karena terlalu memikirkan kapan ia akan mati.
Dak!
“Kenapa tidur melulu sih?”
Salah seorang membangunkan Mr. Iki Gentle ke kenyataan. Segera ia membelalakkan mata lalu mengusap wajah agar sepenuhnya sadar dari alam mimpi.
“Kok, wajahmu terlihat cemas begitu. Ada apa?” Pria dengan kumis tipis itu bertanya.
Ada banyak orang di sini di sekitar Mr. Iki Gentle. Tampak ia berwajah gelisah begitu terbangun dalam mimpi.
Salah seorang wanita dengan rambut dikuncir pun terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Aku hanya mimpi buruk.”
“Oh, apakah itu karena klien-mu lagi? Sudah kubilang, 'kan bahwa seharusnya kau meminta Tuan Chameleon saja.”
“Itu benar. Tapi sepertinya kau lebih suka bergerak sendiri,” sahut wanita itu dengan helaan napas.
“Ngomong-ngomong benda itu bagaimana? Apakah semuanya sudah habis terbakar bersama para budak?” tanya seorang pria bertubuh kecil dengan wajah tua. Ia sebetulanya sudah lansia namun semangatnya seperti anak kecil.
“Ya, ampun kek. Jangan khawatirkan yang tidak perlu. Semua habis terbakar. Jadi jejak kita semuanya hilang,” jawab pria berkumis tipis itu.
Brak! Pintu didobrak, seorang pria dengan setelan jas hitam masuk ke dalam dengan wajah kusut yang sedang jengkel.
“Mr. Iki Gentle! Kau nyaris membunuhku, ya? Kenapa tidak bilang dari awal kalau tempat itu akan diledakkan!” teriak Caraka.
“Aku sudah membangunkanmu. Itu terhitung kebaikan yang mulia sebagai posisi ke-8 yang lemah. Tapi kau justru marah-marah seperti ini? Dasar tidak tahu sopan santun.”
“Habisnya kau—”
“Hah, sudahlah jangan berisik. Dan jangan panggil nama itu lagi. Gara-gara kartu nama palsu yang kau buat itu membuatku bermimpi buruk.”
“Ah, aku jadi mengerti kenapa bermimpi buruk. Jangan bilang kau barusan bermimpi tentang klien terakhirmu itu ya?” pikir pria berkumis tipis.
Sontak terkejut, ia lantas menundukkan kepala dalam-dalam.
Sembari bergumamkan sesuatu, “Mungkin aku bermimpi karena sepertinya aku bertemu dengan dia.”