
Semenjak ruang bawah tanah hancur, namun kini sudah kembali dibangun sedia kala. Akan tetapi, Dr. Eka dan tahanan yang secara tidak langsung berkaitan dengan Chameleon tengah berada di halaman tuk mengganti peran pembantu yang berlibur.
Karena Dr. Eka juga lah, korban tidak banyak. Bisa dibilang berkat orang tak waras itu, Grup Arutala tidak kehilangan banyak anggota.
Hari ini, Orion datang menghampiri Dr. Eka. Kebetulan Jhon juga ada di sana, tetapi ia enggan untuk melakukan tugas pembantu jadinya hanya diam saja.
“Apa yang kau lakukan kemari? Tidak seperti biasanya,” sapa Dr. Eka pada Orion yang mendekat.
“Memangnya kenapa?”
“Oh, aku tahu. Kau pasti datang kemari karena ingin membayarku atas informasi yang lalu, bukan?” pikirnya dengan percaya diri.
“Ya, bisa dibilang begitu. Tetapi aku ingin mengajakmu juga. Mengajakmu pergi ke suatu tempat yang jauh,” ujar Orion.
“Pembayarannya? Kau ingin menyewaku selama berapa menit? Jam? Hari?”
“Sampai tugasku selesai. Terserah kau ingin lakukan apa dengan tubuhku, tetapi jangan sampai menggunakan api hijau itu!”
Mendengarnya membuat Dr. Eka sangat bersemangat. Wajah yang sumringah semakin dikelilingi oleh kebahagiaan tersendiri. Permintaan Orion yang tidak tanggung-tanggung itu juga membuatnya yakin, terutama ketika ia mendapat bayaran yang setimpal.
“Bagus! Aku suka dengan gayamu, Tuan!” teriak Dr. Eka seraya melepas gagang sapu lalu menggenggam dan mengayunkan jabat tangan mereka.
“Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan pria di sana?” tanya Orion sembari melepaskan jabat tangan mereka.
“Baik Tuan! Dia Jhon, pria yang merasa sudah tidak memiliki kekuatan lagi!” jawabnya dengan berteriak semangat.
“Jangan panggil aku Tuan, Dr. Eka.”
“Baik!”
“Dan jangan berteriak,” imbuh Orion meminta.
Jhon memang terlihat bersantai-santai namun wajahnya menunjukkan kesuraman. Entah mengapa ada sesuatu yang menjanggal di pikiran Jhon saat itu. Dan Dr. Eka bilang, Jhon telah kehilangan kekuatannya.
Mengingat kekuatan Jhon adalah bayangan, Orion jadi teringat dengan Chameleon yang kerap kali menggunakan kekuatan itu.
“Ah, begitu. Rupanya aku mengerti. Chameleon mungkin sudah mengambil kekuatan Jhon secara permanen,” celetuk Orion.
“Apa? Mengambilnya?” sahut Jhon tidak percaya dengan perkataan Orion barusan.
“Mungkin. Karena aku melihatnya sendiri, dia sering menggunakannya, bahkan hampir setiap saat aku bertemu dengannya pun juga. Jadi bisa saja begitu.” Orion mengangkat kedua bahu.
Orion kemudian berjalan keluar seraya menepuk pundak Dr. Eka. Lalu berkata, “Kita akan pergi nanti siang.”
Sebelumnya informasi Chameleon yang tertutup rapat kini telah terbuka sedikit berkat bantuan Ketua Mirana. Ialah yang melacak Chameleon meskipun menghabiskan banyak waktu juga. Tetapi setidaknya, itu berhasil.
Di negara dengan hukum liberal.
Akan tetapi, apakah ini karena keberuntungan Organisasi NED? Ataukah pancingan dari Chameleon sendiri? Tentu saja itu masih misteri.
Yang akan pergi, Orion, Mahanta, Endaru, Dr. Eka, Ketua Janu Irawan dan Ketua Raiya Meera. Lalu ada dua orang juga yang akan ikut selain mereka.
Sebelum keberangkatan, Orion menuju ke sebuah perusahaan terkenal yang maju dalam bidang jasa dan informasi.
“Hei, siapa kau?!”
Orion datang dengan setelan jas dan dasi berwarna kebiruan. Helai jubah yang sebelumnya ia gunakan untuk menutupi lengan kanan namun sekarang tidak lagi. Berkat Notosuma, anggota yang bahkan tidak pernah unjuk gigi, setelan jas itu sendiri anti api. Sebagai tambahan satu sarung tangan, agar tidak semua orang curiga.
“Maaf, saya datang tiba-tiba. Tapi apakah bisa saya menemui Direktur Perusahaan di sini?”
Orion datang sebagai orang mati yang hidup kembali.
“Katakan dulu siapa namamu!”
“Orion Sadawira.”
Begitu menyebut nama itu, semua pegawai yang berlalu-lalang pun berhenti melangkah. Pandangan mereka semua tertuju pada Orion yang berada di luar pintu kaca.
“Ada apa ini? Pembuat onar itu datang?”
“Seperti biasa, meski sudah lewat 20 tahun pun, masih ada yang mengenali keburukan diriku.” Orion membatin.
“Saya datang untuk membayar segalanya. Beruntung saya tidak melupakannya sebelum pergi. Saya akan masuk.”
Karena mereka semua tercengang, hingga akhirnya Orion masuk ke dalam begitu saja. Tempat yang ia ketahui terakhir kali, ruang direktur itu sendiri berada di lantai atas setelah ini.
Tok! Tok!
Orion mengetuk pintu, lalu membuka dan masuk ke dalam ruangan tepat setelah seseorang di dalam sana mengijinkannya.
“Siapa Anda?” Direktur itu bertanya dengan sopan. Bahkan dia tidak mempermasalahkannya karena telah berbuat lancang.
“Orion Sadawira, singkat saja ...” Orion merogoh sesuatu dari balik jasnya sembari berjalan mendekat.
Brak!
Kemudian meletakkan suatu benda ke hadapannya langsung.
“Saya datang kemari hanya untuk membayar hutang saya pada perusahaan ini. Maaf jika saya tiba-tiba datang dan kasar, direktur.”
Direktur itu sudah berbeda dari ketika Orion semasa bekerja dulu. Direktur itu masih muda, namun garis wajahnya mirip dengan atasan yang ia kenal. Mungkin keluarga.
“Anda ingin membayar hutang? Wah, saya tidak menyangka akan hal ini. Baiklah,” balas pria itu sembari menarik benda yang telah diberikannya.
Sepasang anting yang mahal. Terlihat dari kilauannya saja sudah dapat dipastikan bahwa barang itu cukup untuk segala-galanya.
“Pasti ini karena masa lalu yang begitu rumit. Saya turut prihatin pada tangan kanan Anda.”
“Oh, Anda berpikir bahwa ini karena di masa lalu saat aku ribut dengan ayah atau kakekmu ya?” sahut Orion seraya meremas tangan kanannya sendiri.
“Hutangmu sudah lunas sekarang. Sepertinya tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi?” ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.
Orion membalikkan badan lalu melambaikan tangan sembari berkata, “Kalau kurang, bilang saja. Nanti saya akan bayar secepatnya.” Kemudian tersenyum di akhir sesaat sebelum keluar dan menutup pintu.
***
Bandara Ind.
Menjelang siang, mereka semua telah berada di sana. Tapi seperti biasa Endaru selalu mengoceh bahkan bertengkar dengan orang dewasa, Mahanta.
“Jangan ke mana-mana. Aku takut kau nyasar nantinya!”
“Apa peduliku? Aku 'kan cuman berkeliling sebentar.”
“Kau juga sebelumnya pernah ke luar negri 'kan? Kenapa masih ingin berkeliling bahkan ini masih di bandara. Dan sebentar lagi kita akan berangkat, Endaru!”
Salah seorang pria muncul. Pria kekar yang dididik oleh Ketua Eka Radhika secara langsung, pria yang kematiannya sekitar 2 tahun lalu. Perkembangannya cukup meningkat pesat walaupun begitu, pengalaman langsung masih 0.
“Pak Orion! Saya Ramon, mohon bantuannya!” Pria kekar itu menyapa mereka berdua.
“Ah, kamu. Salam kenal, mohon bantuannya juga Ramon.” Orion tersenyum membalas sapa.
“Halo Ramon!” Mahanta juga menyapa.
“Ha? Ada yang bilang Rawon?” Dan salah satunya, Endaru hendak menyapa tapi salah memanggil nama.
“Ra-ra-ra-ra-won? Aku Ramon! RAMON!!” pekik Ramon dengan gagap lalu berteriak keras.
Sesaat setelah kedatangan Ramon dari Grup Radhika. Datang lagi seorang pria dengan bersetelan jas hitam, namun nampaknya ia tidak terlalu kuat untuk berlari.
Pria itu datang dengan napas terengah-engah sehingga sulit untuk berbicara. Sementara Ramon dan Endaru bertengkar dan Mahanta menengahi. Orion lantas menjauhkan pria itu dari mereka.