
Kemunculan Endaru bukan suatu hal yang mengagetkan, lagipula Endaru lah yang mengatakan jika Orion bergerak maka semuanya yang mampu bergerak akan bergerak.
Dan kini, Chameleon terhambat oleh satu demi satu serangan para ketua yang juga didukung oleh bawahan mereka dari kejauhan serta memantau keadaan.
Salah seorang anggota Grup Dharmawangsa, mengatakan bahwa ada Pejuang NED lainnya yang kemungkinan besar adalah rekan atau bawahan Chameleon. Saat itu juga, mereka melawannya namun sulit bahkan untuk menyentuh mereka saja sudah sangat sulit.
Rekan Chameleon yang pertama kali muncul adalah Sera, wanita monster itu datang lagi. Sungguh membuat kenangan buruk Mahanta kembali muncul. Mahanta yang melihat wanita itu tak jauh berbeda lantas terkikik.
Bats!
Mahanta mengambil alih alur pertarungan, sesaat sebelum Sera sampai ke posisi Chameleon. Mahanta berlari dengan angin yang menerpa semua bangunan di sana. Langkah Sera tersendat, ia harus bertahan dengan cengkraman di setiap kuku jari kakinya yang besar.
Dalam waktu singkat Mahanta sudah berada di depan mata. Sera mengayunkan cakar tangannya dengan kuat, akan tetapi angin yang nampak seperti kabut itu hanyalah membentuk ilusi Mahanta saja.
“Apa itu kau yang melakukannya?” tanya Orion dengan sayapnya yang muncul.
“Ya. Dia sudah mendapatkan serangan pertama ketika dia berlari ke arah sini,” jawab Gista seraya mengayunkan jari telunjuk.
Kristal es muncul dan menembus tulang bagian pundaknya. Luka yang berakibat sangat fatal itu tentu tidak terlalu berpengaruh pada seorang Pejuang NED dengan tipe monster.
Dengan begitu Mahanta takkan kesusahan dalam menghadapi lawan. Mahanta sangat terbantu karena adanya Gista di belakang.
Sementara di satu sisi yang sama. Orion menggunakan serangan jarak jauh tuk menyerang Chameleon. Dan tentu saja Ketua Radhika selalu menghalangi jalan Chameleon yang hendak mengincar siapa pun yang menyerang dengan beberapa besi yang runcing.
“Aku sengaja meleset. Tapi kali ini, akan jauh lebih besar,” kata Ketua Radhika dengan tangan kanan mengepal dan tangan kiri yang terbuka lebar menghadap tubuh Chameleon.
KLAP!
Suara yang nyaring ketika dua besi dari sisi kanan dan kirinya menutup bersamaan. Tidak enak didengar namun upaya Ketua Radhika biss dibilang berhasil. Setidaknya untuk beberapa saat.
Getaran dapat dirasakan oleh mereka semua. Dan itu berasal dari tempat di mana Chameleon terkurung karena kekuatan Ketua Radhika.
Kekuatan Ketua Radhika terbilang cukup unik, ialah pembuat besi kasar, halus, besar maupun kecil. Dan tentunya sangat kuat. Dan berkat kekuatannya juga, penjara bawah tanah di rumah Arutala tercipta, meskipun sekarang sudah hancur lebur bagai bubur.
“Ketua Radhika! Chameleon menggali tanah!” Seorang Pejuang NED wanita, yang merupakan asisten Ketua Meera datang menghampirinya.
Ketua Meera sendiri tidak datang akibat luka yang ia derita sebelumnya cukup parah karena serangan dari Chameleon. Sehingga asistennya lah yang datang membantu.
Sebagaimana Ketua Meera juga tak terlalu bisa diandalkan jika di darat. Beda cerita kalau ia berada di sungai, danau, atau bahkan lautan yang membentang luas sekalipun.
“Apa katamu? Chameleon menggali tanah? Dia pikir dia itu tikus tanah?” gerutu Ketua Radhika lantas membuka penutup besinya.
Dan benar saja, Chameleon tak ada di sana. Yang ada hanya lubang besar, dan getaran juga masih terasa.
Endaru yang merasakannya pun, lantas membuat getaran yang lebih kuat dari galian tanah Chameleon.
DRRRRRK!
Setelah beberapa saat kemudian Endaru berhasil membuatnya keluar dari tempat persembunyian di tanahnya. Akan tetapi, begitu Chameleon keluar, tanah di sekitar sana mulai rubuh ke bawah.
DRAP! DRAP!
Bersamaan dengan suara derap langkah kaki yang cepat. Ketua Irawan datang dengan peluh bercucuran, dan kemudian ia mengangkat tanah itu kembali ke permukaan.
“Maaf saya datang terlambat Nona Gista!” teriak Ketua Irawan.
“Anda masih kurang sehat. Justru saya tidak masalah jika Anda tidak datang. Lagipula, masih ada banyak hal yang harus diselidiki dengan benar tentangnya.”
“Ya?”
Datangnya Ketua Irawan sungguh membantu semua orang. Akan tetapi, lingkaran itu kembali muncul. Orion tersentak, ia lantas bergegas menghampiri Chameleon bersama dengan Ketua Ganendra.
“Apa?!” Ketua Ganendra begitu terkejut.
Tak terbayang akan bagaimana jadinya jika lingkaran itu berada di tengah kerumunan orang. Beruntung mereka masih berada di pemisah ruang yang tak terhubung dengan kenyataan.
Orion menutup sayapnya. Ia memilih menggunakan belati dan menyayat tubuh Chameleon yang tengah disibukkan oleh Ketua Radhika.
“Orion, kau seperti biasanya ya. Padahal aku berharap kau menggunakan Api Abadi,” kata Chameleon santai seraya menahan sebilah pedang Orion dengan tangan kosong.
Ketua Ganendra muncul dari belakang Orion, ia mengeluarkan dua belati dari saku jaketnya lantas mengincar titik di kepala. Rupanya Ketua Ganendra juga berniat hal sama, tuk menghancurkan lingkaran itu terlebih dahulu.
“Ternyata ada yang mengincar ini, ya?”
Ting!
Kuku Chameleon yang tajam menyentuh kristal belah ketupat itu. Sesaat, mereka semua yang menatap Chameleon pun berhenti bergerak. Begitu juga dengan Orion.
Suara dentingan itu tidaklah keras, melainkan sangat lembut seolah memainkan alat musik triangle. Membuat mereka syok seakan terhipnotis.
Syut!
Namun di saat yang sama, Gista terlepas dari pengaruhnya. Ia melesat cepat ke arah Chameleon seraya berbisik sesuatu pada Orion yang berada di samping.
“Sadarlah, jangan sampai lengah.” Gista berbisik.
JRASH!
Kali ini bukanlah pedang ilusi. Pedang sungguhan yang terbuat dari kekuatan es itu benar-benar menembus tubuh Chameleon.
“Kau benar-benar tak ragu rupanya.”
“Hah, bayangan lagi.” Gista menghela napas seraya mengibaskan pedang yang terkena bercak hitam.
Rupanya yang keluar dari tubuh Chameleon bukanlah darah melainkan cairan hitam. Tipu daya yang menarik.
Dak!
Chameleon menarik tubuh Orion mendekat. Dan sebatang besi kecil menusuk tubuh Orion tepat di lukanya. Orion terdiam menahan kesakitan.
“Jika saja kau ikut dengan—”
“Persetan denganmu!” pekik Orion menyikut dagu Chameleon sehingga berhenti bicara.
Kemudian Orion perlahan memundurkan langkah dengan darah mengucur. Rasa sakit yang terus bertumpuk, dan darah yang terus terkuras pun membuat Orion lengah.
“Seperti biasa. Keras kepala. Padahal hidup lebih menyenangkan tapi kau lebih memilih untuk mati?” ucap Chameleon seraya menyeka darah dari sudut bibirnya.
SWOOOSHH!
Angin berembus kuat bak gelombang suara yang begitu nyaring hingga telinga berdengung. Chameleon meniru kekuatan Mahanta namun itu jauh berkali-kali lipat kuatnya.
Di saat bersamaan, Gista membentuk perisai es pada semua rekannya yang membutuhkan tuk menangkis angin tersebut. Hingga perisai es itu terkikis seiring waktu dengan angin yang tanpa warna menyayat tubuh mereka.
“Dia sungguh tak waras!”
BLAR!
Ledakan muncul di tengah antara Orion dan Chameleon. Hal itu terjadi karena Orion dengan sengaja membuat setengah tubuh Chameleon terbakar oleh api.