ORION

ORION
Bertemu Pemuda Pemancing Lagi



Karena bom asap itu. Asap yang mengepul sehingga membutakan penglihatan mereka sementara pun juga membuat semua orang kehilangan arah. Bak ditelan bumi, usai hujan deras datang dan kemudian menyapu bersih asap tersebut, tiada seorang pun terlihat di kedua mata Orion saat ini.


Ini fenomena yang aneh. Tidak, mungkin saja karena ulah Phantom Gank dengan mudahnya memisahkan mereka bertiga. Hanya terisa Orion, yang kini berada di tengah-tengah berdekatakan dengan air mancur.


Orion dilanda kebingungan lantas ini terjadi begitu saja. Beberapa anggota Phantom Gank juga, bahkan sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Orion bertanya-tanya dalam gumamam yang hanya ia seorang yang dapat mendengarkannya.


Untuk yang ke-2 kalinya Orion berdecak kesal hari ini. Semua orang menghilang tak terkecuali orang-orang biasa. Ia semakin kebingungan serta panik.


Ssrrrkkk! Clak!


Sepertinya ada seorang yang tersisa sekarang. Sesuatu mengait kerah kemeja bagian belakang Orion. Orion lantas menoleh ke belakang. Mendapati seorang pria dengan satu tangan memegang joran pancing, berada di atap museum sekarang. Pria itu menyeringai tipis.


“Kau?”


“Apa kabarmu, ikan besar?!” teriak pria itu dari atas sana.


Orion mengerutkan kening, tanda ia sangat marah sekarang. Belum lagi joran pancing atau lebih tepatnya adalah benang ini sendiri membuatnya sangat trauma.


“Kita dipertemukan kembali. Apakah ini takdir?” ujarnya jelas mengejek Orion.


“Jinan, pria itulah yang membuat firasat ini menjadi ambigu. Pantas saja sejak tadi aku merasakan perasaan tidak nyaman,” celetuk Orion seraya menggenggam kepalan ke depan dada.


“Aku akan tarik ya?” kata Jinan kembali mengejek.


Jinan dengan satu tangan yang tersisa datang. Ia tidak kenal menyerah bahkan setelah kehilangan tangan berharganya. Kini ia menarik gulungan benang ketika pengait sudah sampai ke tempatnya.


“KAU INGIN MENARIK ORANG TUA SEPERTIKU!? DASAR TIDAK TAHU SOPAN SANTUN!” teriak Orion yang menggaung hanya dalam beberapa waktu saja.


Lantas Orion, menarik pengaitnya ke depan tubuh. Lalu bersamaan dengan benang baja yang masih menyatu di pengait, Orion lantas menariknya semakin ke depan.


Dalam arti melempar pancingan beserta Jinan di atas sana, kembali turun dengan terlempar jauh dari posisi Orion saat ini.


Duk!


Hantaman keras berasal dari pundak Jinan yang kini mendarat lebih dulu ke jalanan. Tak hanya berhenti mendarat kurang sempurna, Jinan berguling-guling dan membuat posisinya kian menjauh dari Orion.


“Awas kau! Kalau memakai pancingan tidak berguna itu! Dasar! Dia punya pancingan seberapa banyak sih!” amuk Orion.


Telapak tangannya berdarah-darah akibat benang baja juga melukai saat Orion tengah melemparnya bersama Jinan. Tapi hanya sebatas luka ini saja, tidak akan membuatnya mengeluh. Karena kengerian dari benang baja akan dimulai beberapa saat lagi.


“Aduh! Kasar sekali dia itu,” gerutu Jinan. Dengan tubuh lecet, ia kembali bangkit secara perlahan. Ia pula kembali menarik gulungan benangnya.


“Hei kau! Jadi orang itu jangan kasar!” pekik Jinan sembari menunjuk Orion. Seakan-akan Orion adalah penjahatnya sekarang.


“Kau yang pertama kali menyerang! Kenapa jadi salahku?” sahut Orion sembari menahan amarahnya kembali seiring waktu.


“Padahal masih baik aku tidak mengaitmu langsung ke daging busukmu itu! Argh, tulang lenganku sakit sekali,” ucapnya seraya terus mengomel.


“Hei! Aku mendengarmu!” pekik Jinan.


Hina lantas melepas gulungan benang baja yang sebelumnya menyatu dengan pancingannya. Ia kemudian melemparnya dengan pelan ke arah Orion. Orion lantas hanya memperhatikan lebih dulu saja, sebab ia masih tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Jinan ketika tanpa pancingannya itu.


“Tanpa pancingan, memangnya benang bisa dikendalikan. Atau jangan bilang dia tipe penyihir? Yang bisa mengendalikan semua barang hanya dengan mengangkat satu tangan?” pikir Orion sembari memperhatikan gulungan benang menggelinding hingga menyentuh ujung kakinya.


“Ha, ternyata orang itu sama sekali tidak tahu apa kekuatanku ya? Yah, jelas saja. Bahkan Wanita itu juga tidak tahu. Jadi mana mungkin bawahannya tahu,” gumam Jinan seolah mendapat berkat dari langit karena Orion lengah saat ini juga.


Jari jemari Jinan menggenggam ujung benang yang terus terulur semakin panjang. Kemudian ia mengangkat sedikit jari jemarinya itu, lalu benang baja mengikat tubuh Orion hanya dalam beberapa waktu saja.


“Akh! Aku tidak menyangka benangnya bisa dikendalikan. Tapi jelas bukan tipe penyihir. Dia betulan hanya tipe penyerang!” ungkap Orion yang terlambat menyadari.


Sangat, sangat, sangat, sangat terlambat Orion menyadari hal itu. Kini, ia kecewa pada dirinya sendiri karena pikirannya yang tidak sejalan dengan isi hati.


Sebab sebelumnya Orion merasakan bahwa benang itu berbahaya. Tapi di pikirannya, ia ingin sekali tahu apa yang mungkin akan terjadi sehingga memutuskan untuk berdiam diri terlebih dahulu.


Namun sekarang ia menyesal karena terlalu mengandalkan otak tua karatan ini.


“Loh? Dia menghilang?”


Jinan menghilang tepat di depan mata. Sebelum kejadian buruk kembali terjadi, Orion bergegas melepaskan benang yang mengikat tubuhnya sekarang. Ia menggunakan Api Abadi, seketika benang dari ujung ke ujung lenyap. Abu bertebaran, disapu oleh angin semilir yang lewat.


Jinan sekarang berada di balik batang pohon yang besar. Ia mendapat pesan dari Chameleon melalui tulisan yang dibentuk dari bayangan milik Jinan sendiri.


“Tuan Chameleon menyuruhku untuk mundur. Lagi? Kenapa setiap kali ada kesempatan untuk menghabisi, ah maksudku menangkap pria api itu selalu saja Tuan Chameleon menyuruhku begini.”


Jinan telah menaruh dendam pada Orion. Namun begitu mendapat kesempatan, justru Chameleon menyuruhnya untuk mundur dengan sebaris kalimat yang tertulis di atas bayangan.


Bertuliskan, "Mundurlah. Sekelompok beringas itu kembali datang, gunakan kesempatan ini agar Orion semakin menjauh dari kita. Dengan sengaja. Lakukan secara alami."


“Padahal Tuan Chameleon ingin menangkapnya. Tapi di satu sisi dia juga ingin menjauhkan Orion dari anak perempuan itu ya? Tuan Chameleon memang suka sekali mempermainkan hati seseorang,” tutur Jinan, tertawa lirih.


Hendak, Orion melangkah pergi sebelum Jinan datang kembali. Namun sayangnya sisa benang yang masih terulur panjang telah menyekik leher Orion.


“Pertahanannya sangat lemah. Kupikir dia akan berkembang tapi, atau ada sesuatu yang menahannya?” pikir Jinan seraya ia keluar dari persembunyiannya.


Karena benang itu transparan jadi Orion tidak melihatnya dengan jelas. Yang ia tahu hanyalah benang yang sudah dibakar oleh Api Abadi. Tak menyangka akan tersisa benang yang berserakan di sekitar Orion sekarang ini.


Dan salah satunya telah menjerat leher Orion hingga tak bisa bernapas dengan baik.


“Ya sudahlah. Lagipula aku lah yang lebih kuat darinya. Asalkan tidak berdekatan dengan Api Abadi, maka aku tidak akan kalah seperti saat itu,” ucap Jinan tersenyum pada Orion.


Ctas!


Jinan membuat benang itu terputus dari ujung. Sisa dari yang sebelumnya mencekik leher Orion kini menghilang. telah tertanam dalah leher Orion saat itu juga.


“Aku menandaimu. Jadi, sampai kapan pun kau tak bisa lepas dariku.” Jinan berkata sesaat sebelum menghilang kembali dari pandangan Orion.