
Saat itu, jiwanya terguncang akibat benturan yang dialami oleh Gisan. Lalu ketika ia tak sadarkan diri, di bawah alam sadarnya, diam-diam Orion merencanakan sesuatu bersama Karura, burung api yang mendiami tubuhnya.
“Karura, aku memintamu satu hal. Bolehkah?”
“Percuma jika kau ingin memintaku untuk dibunuh.”
“Aku tahu. Karena itulah aku ingin kau lakukan sesuatu untukku.”
Karura, wujud burung api yang membara. Apinya adalah Api Abadi, yang tak mudah dipadamkan. Tersiram oleh air pun akan membuat api itu semakin berkobar seolah tak mengenal kata "pemadaman."
Persis seperti yang dikatakan, kini Api Abadi itu tersulut panas di dalam raga Orion seorang.
“Aku ingin kau mengerahkan segenap kekuatanmu untuk membakar habis raga maupun jiwa musuhku. Bisakah?” pinta Orion.
“Aku bisa melakukan itu tapi tubuhmu pasti takkan bertahan lama. Ya, meskipun kau akan bangkit karena darah itu dan api ini. Ya ampun kau seperti mayat hidup nanti.”
“Baguslah jika kau bisa.”
“Hei. Aku tidak menerima permintaan yang merugikan orang yang menjadi majikanku sekarang,” ucap Karura.
“Tolonglah, Karura.” Orion memohon dengan sangat tulus.
Karura yang melihatnya jadi merasa iba namun juga bimbang. Namun tekad yang terpancar dari sorot mata Orion bukanlah ingin bunuh diri melainkan ingin mengalahkan. Tekad seorang pejuang.
“Dari awal aku sudah menduga ini akan terjadi. Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
Pada akhirnya Karura menerimanya. Ia mau melakukannya karena tekad tersebut.
“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Gunakanlah segenap kekuatanmu, seluruhnya! Bakar musuhku, Chameleon!”
“Hei, bocah.” Karura memang sangat menghargai tekad itu, tapi ia masih merasa bimbang.
“Apa, Karura? Bukankah kau akan mau melakukannya? Kau juga tidak dirugikan.”
“Ya, aku tahu. Yang rugi adalah kau karena tubuhmu bisa selamanya terbakar oleh api,” ucap Karura sambil menunjuk lengan kanan Orion. “Sama seperti tanganmu saat ini,” imbuhnya.
“Aku tidak peduli.” Gampangnya Orion mengatakan hal itu. Seolah memang ada keinginan untuk mati.
“Pertama, bolehkah aku bertanya? Tentang pria itu ...dia terlihat memiliki kekuatan yang di luar nalar bahkan dilawan oleh iblis es saja masih unggul dia,” ucap Karura. Ia menanyakan tentang Chameleon.
“Iblis es?”
“Ya, wanita yang menjadi atasanmu memilikinya. Tapi, sebanyak apa pun serangan es yang bahkan membuatnya sekarat justru tidak ada tanda-tanda Chameleon akan tumbang.”
“Semacam kekuatan absoult. Kalau dia sendiri menyebutnya sebagai kekuatan dewa atau apalah itu. Tetapi, dia itu manusia!” jerit Orion.
“Ya, aku tahu. Aku tahu apa yang kau rasakan.” Karura menyentuh ubun-ubun kepala Orion.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Orion.
“Katamu dia terlihat seperti dewa atau apa lah itu bukan? Pokoknya dia itu kuat. Karena itu kau membutuhkan api yang besar dan dapat melahapnya dalam sekali serang,” ujar Karura.
“Kau akan membantu?”
“Tentu saja. Ini karena permintaan egoismu.” Karura mendengus.
Karura terkejut, ia reflek mengangkat tangan dari kepalanya. Lantas bertanya pada Orion, “Kau ...apa.maksudmu aku harus berpindah tempat?”
“Anak bernama Kruger Gisan, dia memiliki setengah dari jiwaku, maka dari itu setelah kau membakar musuhku, kau pergilah ke tempatnya untuk sementara.”
Karura tidak tahu apa yang sebenarnya Orion mau. Namun tekad dari pancaran kedua matanya nampak dengan jelas bahwa ini adalah bagian dari rencana.
“Tolong penuhi permintaanku, Karura. Ini untuk berjaga-jaga,” imbuh Orion seraya menyentuh cakar berapi Karura. Ia lantas memejamkan mata sejenak.
***
Api Abadi, yang terkuat, yang paling ditakuti. Walau terlihat lemah namun sekali mengenainya maka akan langsung hangus. Itulah ungkapan banyak orang yang menjadi pemuja Api Abadi.
Tapi, kini lawannya adalah orang yang berbeda. Pria yang hanya menginginkan ambisinya terwujud, ambisi liar yang mengubah dunia menjadi dunia kematian. Tipe orang yang seharusnya tidak boleh terlahir. Terlebih kekuatan absoult bak dewa yang membuat Orion sedikit bergetar.
“Aku bukan pahlawan maupun penjahat kelas kakap. Tapi, aku akan mengalahkanmu demi anak-anakku.”
Chameleon dalam kondisi terbakar dan sulit melarikan diri. Orion dan Chameleon yang saling bertukar tatap membara serta menyunggingkan seringai lebar, telah mempertaruhkan segalanya di akhir.
Hingga ketika Orion mencengkram kaki dan pundak menggunakan cakar dan bara api Karura. Meski sudah berada di ujung tanduk, Chameleon yang gila tetap tersenyum seolah akan menang.
“Kau ngoceh apa hah?!”
“Chameleon! Aku akan mati tapi setelah menghabisimu! Ingatlah ini,” tegas Orion sembari mendekatkan wajahnya pada Chameleon.
“Jika kau masih bertahan dari apiku, maka aku akan mendatangimu sekali lagi!” ungkap Orion.
"Raja Langit, Burung Api, Karura!" Sebuah api yang membara hingga memenuhi pulau, menghancurkan segalanya bahkan membuat pulau itu bergetar termasuk lautnya sendiri.
Setiap inti dari kekuatan, api terus mengalir dari raganya dan keluar dengan deras hanya tuk menghanguskan satu musuh di depan mata. Cakar dan taring maupun paruh sudah mengikat pergerakan, selanjutnya hanyalah untuk membakar tubuh pria itu saja.
BLAAARR!
Sang Raja Langit menampakkan dirinya ke langit, membelah dan membuat semua orang yang melihatnya terpana. Baik dari dekat maupun dari kejauhan. Saat ini, cuaca tak menandakan buruk namun karena guncangan ini, laut terombang-ambing dengan pulau yang mengalami kehancuran.
“ARGHHH!!!” Teriakan yang malang terdengar, ini suara Chameleon yang tersiksa. Setiap kali beregenerasi tak masuk akal, setiap kali membuat perisai, dirinya sama sekali tak bisa bergerak dan hanya terdiam dengan terus dibakar oleh Api yang takkan pernah padam.
“PANAS! PANAS! PANAS! ARGHH! SAKIT, SAKIT, SAKIT! HENTIKAN!!!” Jeritannya semakin terdengar dan terus mendengung keras.
“TERBAKARLAH, CHAMELEON!” pekik Orion menderu di bawah langit.
Pulau terbagi menjadi puluhan bagian, ombak laut mengganas dan mendorong kapal selam yang dinaiki oleh sisa para Pejuang NED yang selamat. Kebanyakan dari mereka sudah terluka parah, dan dua dari mereka telah gugur. Lalu, ada seorang pria yang berteriak dengan rasa penyesalan.
“AYAHHH!!!”
Tidak bisa melakukan apa-apa. Itulah kalimat terakhir dari atas penyesalannya. Hanya tidak sadarkan beberapa menit saja sudah menjadi kacau balau begini.
Dan, jauh dari perkotaan Madeira yang bertempat di tempat yang berbeda sedang bersama dengan Notosuma. Melihat langit yang berapi, tentu ia sangat ketakutan serta perasaan cemas tak karuan ia pun teringat dengan sosok punggung Ayahnya.
Tidak diketahui keberadaan bawahan Chameleon setelah dikalahkan, begitu juga Iki yang terhempas keluar bersama para Pejuang NED. Tetapi, satu hal yang terpenting ialah, mereka telah dikalahkan.
Perkotaan yang riuh, lautan dan langit yang menderu. Semua orang terpaku dengan apa yang terjadi di kejauhan sana. Terasa seperti festival, namun jauh lebih menyeramkan.