ORION

ORION
Sayap Api



Roni berada dalam genggaman Orion yang berdiri di sudut atap gedung apartemen. Dengan sayap yang membentang dan percikan api panas berjatuhan.


Pria itu kembali menerjangnya, berniat mempersempit jarak dengan menggunakan alat pancing sebagai senjata. Ia mengayunkannya sama ketika ia menggenggam pedang.


Srak! Srak!


Akan tetapi, niatnya untuk mempersempit jarak itu gagal. Lantaran beberapa bulu dari sayap Orion menghujamnya dan terus membuatnya terdesak mundur.


“Karura, mohon bantuanmu.”


Tap!


Dengan mengapit tubuh Roni dengan tangan kirinya, ia menjatuhkan dirinya ke bawah. Sontak, pria itu dan Chameleon yang sedari tadi hanya mengawasi saja pun terkejut. Mereka mengejar namun terlambat.


Kail pancingnya tak menjangkau ke mana Orion pergi dengan menggunakan sayapnya. Orion sedikit mempercepat gerakan sayapnya untuk turun ke bawah, seraya mencari tempat persembunyian.


Ia bisa melakukan hal yang belum pernah ia lakukan berkat Karura, mahluk yang memiliki sayap itu membantunya.


Jarak terbang di antara banyaknya gedung, tentu sebagian orang akan melihatnya. Namun dalam benaknya, Orion berharap bahwa kejadian kali ini takkan jadi perbincangan hangat.


“Berkat bantuanmu, aku bisa melarikan diri dari mereka. Karura,” ucap Orion lantas menghilangkan sayapnya.


Senja akan tiba, Orion membawa Roni ke tempat di mana daerah itu cukup sepi. Menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu, seraya menunggu sampai Roni sadar.


“Kau lah yang bisa mengendalikannya. Kenapa harus berterima kasih?”


“Ya, itu 'kan berkatmu juga. Kalau tanpa ini, mungkin aku sudah berada di tangan mereka.”


“Lagipula, bukannya dari awal rencanamu untuk itu? Pergi bersama pria aneh itu,” pikir Karura.


“Tidak. Sekarang belum waktunya. Tadinya memang aku ingin mempercepat rencana itu tapi Chameleon sendiri mengetahuinya. Makanya aku pikir, ada satu cara lain.”


“Apa itu?”


Sembari memijat keningnya yang terasa sakit, Orion kemudian berkata, “Mungkin memancingnya?”


“Apa kau bodoh?” Bukan bertanya, Karura sedang menyindir Orion. Lantas Orion terdiam tanpa kata setelah itu.


“Kau berkata akan memancingnya dengan sesuatu atau ke suatu tempat dengan apa. Namun pada akhirnya kau lah yang terjebak dalam pancingan,” ketus Karura.


“Aku tahu.”


“Bukankah wanita itu tahu sesuatu tentang musuh-musuhnya? Dibanding pria itu, mungkin kau harus mewaspadai rekannya terlebih dahulu.”


“Aku sudah tahu itu. Gista mengatakan bahwa rekan-rekan Chameleon memiliki kekuatan di atas para Ketua Grup kecuali dirinya. Tapi dia mungkin tidak sepenuhnya ingat, karena terakhir kali mereka bertemu itu 30 tahun yang lalu.”


Mendengar suara berisik akibat obrolan di antara Orion dengan Karura, Roni akhirnya terbangun.


Roni perlahan membuka kedua matanya. Sedikit ia merasakan sakit di kepala, lalu kemudian ia mendapati seorang pria berbaju hitam. Di tubuh bagian depannya terdapat luka namun tidak ada darah yang keluar. Seolah telah pulih sepenuhnya.


Roni yang melihat baju yang sobek itu cukup besar, lantas terkejut dan tak sengaja ia menghindar. Nyaris ia jatuh terjungkal.


“Roni!” Orion yang sadar, ia menarik lengannya dan mengembalikan posisi Roni.


“A-ah, ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba ada di sini?” Roni menatap ke sekelilingnya yang berbeda dari daerah yang ia ketahui.


“Maafkan aku. Roni, kamu tadi hampir diculik oleh seseorang. Tenang saja aku sudah mengirim bantuan dengan orang-orang yang aku kenal,” tutur Orion menjelaskan.


“Bantuan? Kita tidak bisa langsung kembali saja?” tanya Roni menunjukkan wajah khawatir.


“Sayangnya tidak bisa. Aku takut kalau mereka datang kembali. Kabur dari mereka saja hampir gagal sebelumnya,” ucap Orion memalingkan wajah.


“Kenapa tidak bisa? Bukankah harusnya melawan mereka cukup mudah? Tapi, orang yang menculik aku itu saat masih di sekolah. Dia orang-orang yang terang-terangan. Apakah dia cukup kuat?”


Segala pertanyaan dari Roni, hampir tidak dapat Orion jawab lantas ini berkaitan dengan Chameleon. Lama-lama pun Orion semakin ragu apakah dengan membiarkannya tinggal di Grup Arutala itu yang terbaik?


Karena jika itu terjadi, maka otomatis Roni akan bertemu dengan Chameleon sebagai musuh. Dalam hatinya, Orion berharap itu takkan pernah terjadi.


“Roni, bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Orion mengalihkan topik pembicaraan.


“Bagaimana apanya!? Aku diculik saat aku sedang belajar kimia! Dan semua orang dewasa di sana tidak berguna. Aku dibawa pergi dengan dimaksukkan dalam karung!”


Sepertinya Orion salah mengambil topik pembicaraan. Roni kini mengoceh-ngoceh karena kesal dirinya tiba-tiba diculik.


Tapi dimaksukkan dalam karung? Orion sedikit tidak menyangka akan hal tersebut.


Selang beberapa waktu kemudian, datang orang menjemput mereka. Orang yang Orion kenali, Owen Geraldo. Segera mereka beranjak dari tempat tersebut.


“Pak Orion! Anda terluka cukup parah!”


“Tidak, Pak Owen. Saya sudah pulih berkat Api Abadi,” jawab Orion.


“Ah, iya. Saya sudah dengar itu. Tapi akan lebih baik jika saya membersihkan luka Anda. Dan saya cukup takjub karena Anda memiliki dua kemampuan. Selain api, Anda bisa mengubah wujud Anda dari anak ke orang dewasa.” Owen memuji


“Apa?”


“Hei, apa yang dia bicarakan? Apa dia sama seperti kita?” tanya Roni.


“Tidak perlu tahu.”


Dalam perjalanan ia melihat seseorang yang ia kenal. Lalu meminta turun dan tidak perlu menunggunya datang kembali. Owen yang cemas karena tiba-tiba Orion meminta turun pun berniat ikut menemani namun Orion menolak dengan tegas.


“Nanti, saya bisa pulang sendiri! Daerah ini cukup dekat untuk sampai ke rumah Arutala, 'kan? Nah, sekarang, yang perlu Pak Owen lakukan hanya mengantarkan anak itu kembali ke rumah. Jangan di sekolah!”


***


Ada beberapa orang berkumpul dalam satu tempat yang sedang melakukan sesuatu. Terdengar sangat berisik, terutama suara jeritan dari seorang pria yang adalah Erik. Pria yang bekerja sebagai barista di sebuah kafe.


Dulu pernah ia cekcok dengannya. Namun sekarang tidak lagi.


“Tolong jangan bawa Ibu saya! Ibuku akan bangkit sebentar lagi! Kumohon tolong!”


“Hei, Ibumu sudah meninggal tahun lalu. Kau terus saja mengawetkannya, ini tidak baik! Lagi pula mana mungkin seseorang bisa bangkit kalau sudah lama begini!”


“Tapi tolonglah! Saya akan menunggunya paling tidak selama beberapa menit saja!” pekiknya memohon-mohon sambil memeluk peti mayat.


Kericuhan itu berhenti saat mereka didatangi oleh seorang pria dengan tatapan mati. Ia seperti tidak hidup namun juga tidak mati.


“Siapa?”


Orion menyingkirkan beberapa orang yang menghalangi. Dengan pembentukan api, berupa benda tajam, ia kemudian menggores telapak tangannya. Perlahan darah mengalir cukup deras.


Klak!


“Hei, apa yang kau lakukan!?”


Semua orang berteriak histeris ketika Orion membuka peti mayat itu secara paksa. Juga, ia meneteskan darah langsung ke mulut mayat yang dingin itu.


“Ah, jangan bilang kau itu darah langka?”


Betapa terkejutnya Erik ketika ia melihat seorang penyelamat. Ia khawatir namun juga merasa senang karena berkat itu, napas serta detak jantung ibunya pun kembali.