ORION

ORION
Lost Contact



“Sudah lama tidak berjumpa, Orion Sadawira?” sapanya dari balik semak-semak di pinggir jalan seraya memainkan kecapinya dengan santai.


Pria ini adalah mantan rekan Chameleon yang dulu pernah ikut bertarung melawan Gista serta berperan besar dalam menghancurkan kota Y-Karta dulu.


“Sepertinya kau tidak punya pekerjaan selain memainkan alat musikmu itu ya?” sindir Orion lantas duduk di sekitar semak-semak.


Orion saat itu tidak tahu sedang menuju ke mana. Karena tidak terlalu akrab dengan kota ini maka ia pun memutuskan untuk beristirahat sebentar.


“Aku sangat suka memainkan kecapi. Bahkan ketika aku mati pun, aku harus memeluknya dengan erat.”


“Dasar penggila kecapi. Memangnya kau tidak ada kerjaan lain? Dan lalu kenapa pula kau ada di sini?” tanya Orion curiga.


“Jangan dingin begitu. Aku kebetulan ada di sini karena sepi. Kau sendiri kenapa balik lagi ke kota Y-Karta? Tidak mungkin kau tersesat sampai ke luar kota, 'kan?”


Sesaat Orion terdiam. Pemain kecapi itu pun seketika menangkap maksud diamnya, bahwa Orion sedang tersesat dan secara kebetulan sampai kemari.


“Sopir bus yang tadi sepertinya memang sengaja tidak membangunkanmu lebih awal,” pikirnya.


“Ah, sudahlah.”


“Hihi.”


Mendengar respon Orion seperti itu, lantas pemain kecapi tersebut tertawa lirih. Ia merasa terhibur.


“Walikota, ah maksudku Ketua Irawan yang menjaga kota ini sedang mencarimu. Awalnya dia berpikir bahwa Api Abadi itu hilang karenamu, makanya dia mencarimu.”


“Oh itu bukankah karena kau?”


“Tentu saja dia tahu kalau Api Abadi itu ada di dalam diriku. Aku yang bilang sendiri.”


“Lalu?”


“Ketua Irawan tetap bersikukuh untuk mencarimu karena kau adalah rekan Chameleon dulu,” tutur Orion.


“Jadi kau datang kemari karena memastikan keadaan Api Abadi?” pikirnya.


“Ya, benar.”


“Api Abadi itu lenyap seutuhnya dan berpindah pada tubuhmu secara permanen. Setiap Pejuang NED juga memiliki kekuatan ini atas dasar dewa-dewa kuno di kahyangan. Menurut cerita jaman dulu sih begitu.”


“Kalau begitu urusanku di kota ini sudah selesai,” sahut Orion setelah mendengar bahwa Api Abadi di kota Y-Karta telah lenyap seutuhnya.


“Tapi kau tidak tahu jalan pulang,” sindir si pemain kecapi itu.


Orion lagi-lagi terdiam. Dirinya memang sedang tersesat bahkan jalan pulang saja ia tidak tahu. Itulah mengapa meski Orion bilang bahwa urusannya sudah selesai namun ia tak dapat pergi sembarangan.


“Asal kau tahu, Ketua Irawan yang kau kenal dulunya adalah salah satu rekan Chameleon sepertiku. Makanya dia mencariku yang sesama pengkhianat ini.”


“Yang benar saja? Itu serius?” tanya Orion merasa tak percaya sekaligus terkejut.


“Aku tidak ada niatan untuk berbohong padamu. Sama sekali tidak ada untungnya.”


Orion kembali terdiam. Ia tertegun mendengar pernyataan dari si pemain kecapi ini, bahwa Ketua Irawan ternyata dulunya adalah rekan Chameleon juga.


Sebelumnya Gista dkk juga sempat membicarakan hal yang berkaitan dengan Ketua Irawan namun saat itu Orion sudah keburu pergi meninggalkan mereka.


“Hei, apa kau masih berniat untuk kembali pada Chameleon?” tanya Orion tiba-tiba.


“Ya. Aku mau-mau saja. Karena di sana cukup enak, aku ingin kembali.”


“Meskipun Chameleon melakukan hal keji seperti perbudakan? Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya, meskipun aku belum tahu apakah itu benar atau tidak.”


“Ternyata kau sudah tahu. Ya, itu benar. Aku membencinya karena itu tapi hidup miskin itu lebih menyusahkan, apalagi aku hidup sendirian sekarang,” keluhnya sembari memainkan melodi rendah.


“Alasan! Kalau benar begitu lalu kenapa tidak bergabung dengan Organisasi NED saja?” sahut Orion menegas.


“Tapi kembali pada Chameleon juga sama susahnya. Bisa-bisa aku dibunuh karena telah berkhianat,” imbuhnya.


“Kau ada benarnya,” kata Orion sembari tersenyum tipis. Ia kemudian beranjak dari sana dan berniat akan pergi.


“Oh, akhirnya kau berencana untuk pulang?”


“Aku akan ke tempat Chameleon. Dia memintaku untuk bergabung,” ujar Orion sambil menatap si pemain kecapi itu dengan merencanakan sesuatu.


Sorot mata yang dalam itu, membuat pria yang sedang duduk dan bermain kecapi jadi menyadari suatu hal.


“Kau bisa menganggapku sebagai tahanan yang kau bawa.”


Itu tawaran yang cukup menarik. Orion mengatakan bahwa pemain kecapi itu seolah-olah membawa Orion untuk bergabung ke markas. Maka dari itu nyawanya akan aman.


“Wah, aku mencium sesuatu di balik tawaran yang terlihat akan merugikan dirimu sendiri.”


“Kau tahu tempatnya di mana, 'kan?” tanya Orion.


Lantas pemain kecapi itu sama sekali tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu berjalan menuju suatu tempat. Yang di mana mereka berada dekat dengan perbatasan antar kota Y-Karta dengan kota S-Karta.


Suasana di dini hari seperti ini, kebanyakan para penduduk kota S-Karta memang selalu beraktivitas lebih awal. Dan biasanya itu ada di bagian pasar. Sebelum ada jam 3 saja mereka sudah beramai-ramai menyiapkan dagangan mereka.


Jadi, hal itu sudah wajar dan tidak menyulitkan bawahan Chameleon untuk keluar masuk di dekat area mereka. Dan juga, tempat di mana markas Chameleon itu juga sangat terpencil.


Ada di sudut Jalan Hamparan. Bangunan menyerupai sebuah pabrik dengan tanah liat di sekitarnya.


“Ini tempatnya?” tanya Orion.


“Ya. Apa kau baru tahu? Padahal aku berpikir bahwa Chameleon yang mengajakmu bergabung pasti akan memberikan alamatnya tanpa ragu.”


“Dia terlalu ceroboh untuk mengatakan alamatnya padaku. Bagaimana jika aku membeberkannya pada Ketua Arutala?” celetuk Orion.


“Buktinya sampai sekarang kau tidak mengatakan alamatnya pada mereka. Kalaupun sudah, harusnya mereka lebih cepat dari kita,” sahut pemain kecapi.


Beberapa saat Orion terdiam lantas berucap, “Itu karena aku punya alasan tersendiri.”


Sraaaakk!


Datang serangan dari arah belakang. Berupa hembusan angin yang cukup kuat, dan kemudian sesuatu yang berjumlah banyak turun dan memisahkan poisis antara Orion dengan si pemain kecapi itu.


“Orion Sadawira! Kau mau ke mana?”


“Aneh kalau Ketua di kota ini tidak memperhatikan bangunan sebesar itu,” ucap Orion pada si pemain kecapi.


“Tidak aneh. Hanya saja beritamu yang hilang tersebar luas pada orang-orang biasa juga,” sahutnya.


“Oh, begitu.”


Sesuatu yang menyerupai bidang besi. Membentuk seperti jaring menjulang ke atas dengan pucuk yang tajam. Yang menguasai kekuatan ini, adalah Ketua Radhika. Dengan nama lengkap Eka Radhika.


“Ketua Radhika,” gumam Orion sembari memandangnya dari kejauhan.


“Orion! Siapa itu di sampingmu!?”


Ketua Radhika bertanya dengan teriakan yang keras. Namun Orion sama sekali tidak menyahutnya karena tidak ingin jalannya semakin terhambat.


“Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Ingin mundur?” tanya si pemain kecapi dengan jari jemari di atas kecapinya.


“Mana mungkin.”


Si pemain kecapi tersenyum. Jari jemarinya yang sedikit panjang mulai memetik setiap senar pada kecapi kebanggaannya.