
Kekuatan Chameleon melemah karena salju Runo, ini kenyataan lain yang sukar dipercaya. Tapi ini nyata! Berkat itu, Ketua Irawan dan Gista dapat memaksimalkan kekuatan daya serang mereka di dalam dinding itu.
Tetapi, kenapa? Hanya satu pertanyaan dalam benak mereka berdua. Mengenai ekspresi Chameleon.
“Jangan ragu!!!” Gista berteriak pada Ketua Irawan yang sempat ragu karena telah melihat ekspresi Chameleon yang aneh.
Senyum yang tersungging itu. Entah apa artinya tapi, jika digubris maka semuanya akan berakhir. Sama seperti di kota Y-Karta saat itu. Bagaimanapun, keraguan sedikit saja akan membuat perkotaan hancur tak berbentuk.
***
Lalu, pria yang telah didorong mundur, dibuat terpisah oleh Ketua Irawan sebelum ini.
“Kekuatannya benar-benar sangat besar. Seperti dia adalah bagian dari tanah itu sendiri,” gerutu Iki seraya mengibaskan tangannya yang berdenyut sakit.
“Hei!! Tarik aku!!” teriak seseorang yang entah ada di mana.
Kemudian Iki bingung setelah mendengar suara seseorang yang tampaknya ia mengenali suara tersebut.
“Siapa?” Iki masih bertanya-tanya itu siapa dan mencari keberadaannya.
“Di depanmu, woi!” teriaknya lagi.
“Ah, itu kau?”
Ternyata seseorang yang selama ini masih berada di dalan lumpur. Hendrik tak bisa keluar dari sana karena bagian dari tanah keras itu terus mengikutinya, namun kini akhirnya ia dapat meloloskan diri berkat bantuan dari temannya.
“Kau sangat ceroboh,“ sindir Iki pada Hendrik.
“Apa katamu?”
“Daripada itu, kau tadi melihatnya bukan?” tanya Iki dengan ekor mata yang terus bergerak ke sana kemari, tampak ia tengah mencari sesuatu.
“Melihat apa? Aku tidak mengerti maksudmu,” ucap Hendrik seraya menepuk pundak dan lututnya yang kotor.
“Janu?” pikir Hendrik lantas menatap Iki.
“Bukan, Pahlawan Kota. Bukannya aneh jika kita berdua tetap terdorong mundur bahkan hampir mendekati dinding yang entah dibuat siapa ini?” ujar Iki, yang berpikir ada yang janggal. Sembari ia menyentuh dinding salju beku tersebut.
“Pahlawan Kota, maksudmu karena dia kita sampai berada di sini? Tapi memang benar, aku merasa ada yang aneh, meski aku sendiri tidak sadar karena berada di dalam lumpur karena tanah Janu,” tuturnya.
“Begitu, ternyata itu benar dia. Dia belum mati loh, hei!”
“Mau bagaimana lagi? Malam itu 'kan sangat gelap, walaupun sudah dibuat mengingat traumanya kembali, tapi bukan berarti dia mati,” ujar Hendrik menganggapnya semudah itu.
“Ini cukup gawat.”
“Hei, kalian berdua! Kalian sedang apa sih? Malah mengoceh!” jerit Jinan yang kemudian muncul dengan melompat tinggi, lalu mendarat tepat di depan mereka berdua dengan Orion di pundaknya.
“Huh, sangat berat!” gerutunya seraya menjatuhkan tubuh Orion ke jalan.
“Jinan, kau sendiri sedang apa? Kenapa malah ke sini dan bukannya melakukan rencana itu?” tanya Iki.
“Aku tidak bisa. Terlalu berbahaya berada dekat dengan dua ketua langsung, bisa-bisa aku langsung tewas,” katanya sembari mengangkat kedua bahu.
“Lalu, dinding ini sama sekali tidak bisa aku lewati. Punya siapa sih?” Kembali Jinan menggerutu tentang dinding besar dan tinggi di depannya.
“Sangat keras tapi lembut,” ucap Hendrik menjelaskan struktur dari dinding tersebut.
“Salju?” pikir Iki dengan membuka telapak tangannya. Ia akhirnya sadar ada serpihan salju turun dari langit.
“Sekarang 'kan musim panas. Mana mungkin ada salju.” Ucapan Hendrik memang benar, dan hanya satu yang menjadi jawaban mereka, yakni ini adalah kekuatan musuh.
Artinya, Runo! Salah satu anak magang yang dibawa oleh Gista dkk.
Sementara itu, dinding es yang berukuran lebih kecil dari dinding salju beku, gundukan tanah serta tebing es mencuat keluar dari sana. Setelah beberapa saat, kedua serangan yang diduga adalah Gista dan Ketua Irawan tiba-tiba lenyap secara bersamaan dan kemudian muncul ledakan kecil di tengah jalan tersebut.
“Eh, apa sudah berakhir?” Jinan bertanya seraya memandang dari kejauhan, mencoba memastikan apakah Tuan mereka sudah selesai ataukah belum.
“Loh, ke mana Orion?”
***
Di suatu tempat yang tidak dekat namun juga tidak jauh. Jauh dalam kegelapan, tenggelam dalam laut yang berkeruh. Sosok pria, Orion yang berada di ambang batas kini telah terlelap dalam gelapnya sekitar.
“Seseorang, tolong ...tolong hentikanlah. Semua! Semuanya ...dalam bahaya!”
Berbicara dalam benaknya pun membuat Orion semakin jatuh semakin dalam. Dalam sekejap ia berada di sini, padahal sebelumnya masih ada di daratan dan dalam keadaan terikat kail pancing milik Jinan.
Ia tahu saat ini berada di mana, tak lain adalah kekuatan Chameleon yang dicuri dari Jhon, ruangan di balik bayangan. Meski disebut ruangan, namun ini hanya laut tak terbatas yang bahkan airnya tidak jernih. Orion sama sekali tidak bernapas, bahkan bergerak saja tidak bisa, ia berada di ambang hidup dan mati dengan darah keluar dari kedua pergelangan tangan serta lehernya.
Orion ingin sekali mengatakan apa yang sudah ia ketahui, tapi waktunya tidak tepat karena Gista dkk sudah mulai penyerangan ini lebih awal. Rencana mereka mungkin akan hancur dalam sekejap jika bertaruh nyawa melawan Chameleon dengan tergesa-gesa.
Karena, saat ini semuanya sudah terlambat. Gista lalu Ketua Irawan telah terkapar di atas jalan dengan bersimbah darah. Sementara Chameleon, walau setengah tubuhnya membeku dan benda yang menyerupai tombak terbuat dari tanah keras telah merobek perut bagian kirinya, ia tetap berdiri dengan senyum lebar tersungging di wajahnya.
Pria yang benar-benar mengerikan. Terluka parah pun masih bisa tersenyum seolah-olah itu bukan lukanya.
“Harusnya aku menggunakan kekuatan wanita itu, tapi ya sudahlah. Yang terpenting aku mendapatkan apa yang aku inginkan,” ucap Chameleon dengan potongan kulit dan sehelai rambut di telapak tangannya.
“Terima kasih, kalian semua telah datang kemari. Aku senang,” imbuhnya sembari menatap mereka yang terkapar.
Iki, Hendrik, Sera, Jinan, dan Caraka mendapatkan pesan dari Tuan mereka melalui telepati, Chameleon telah menyuruh mereka semua untuk kembali berkumpul setelah menunaikan tugas mereka.
“Ayo!!”
Masing-masing dari bawahan Chameleon akhirnya kembali berkumpul. Dinding es perlahan runtuh akibat Gista sudah tidak sadarkan diri. Tersisa Mahanta, Ramon dan Runo yang masih memiliki kesadaran mereka.
“Bagaimana? Apa kalian sudah mengambilnya?” tanya Chameleon.
“Ya!” Serentak mereka berucap bersamaan seraya menunjuk benda yang telah mereka ambil.
Mungkin terasa mengerikan karena apa yang mereka ambil adalah bagian dari tubuh para anggota NED, kelompok Gista. Kecuali Runo yang sama sekali tidak tersentuh, tengah berlindung di balik dinding bersalju saat ini.
“Bagus. Dengan begini, aku bisa memakai kekuatan itu sendiri tanpa menirunya. Jangan lupa, berikan pada Mirana juga,” kata Chameleon.
“Baik, kami mengerti!”
Semua penduduk dibuat resah, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan selain diam dan bersembunyi dari para monster hidup itu. Masing-masing dari mereka sudah tidak dapat berdiri dengan kedua kaki mereka yang lemas, rasa takut telah mengalahkan mereka. Terlebih aura dari para monster yang berkumpul di satu tempat, terasa begitu kuat.
***
Tujuan asli mereka akhirnya terungkap! Mereka memang pada awalnya digiring menjauh dari tuan mereka, Chameleon. Namun ternyata mereka juga memiliki alasan tersendiri.
“Jangan lupa berikan pada Mirana.”
“Baik!”
'Mirana?' Di ambang kesadarannya, Gista mendengar apa yang dikatakan oleh Chameleon saat itu.
Ada beberapa benda yang telah mereka bawa dan itu tidak mencolok tapi mengerikan, sebab benda-bendanya adalah bagian dari tubuh para anggota NED. Seperti potongan kuku, kulit, sehelai rambut dan lainnya.
“Ada apa denganmu, Sera?”
“Saya tidak apa-apa, Tuan.”
Sera terlihat sangat babak belur, namun pemilihannya cukup cepat karena tipe seperti Sera ini memiliki hal yang disebut sebagai regenerasi.
“Adi kembali dengan tubuh basah, memangnya kau baru saja mandi?” sindir Jinan.
“Diam kau! Aku sempat kerepotan karena tadi Pahlawan Kota datang, tahu!”
“Apa? Ternyata itu benar dia ya? Tak aku sangka dia benar-benar masih hidup,” ujar Iki.
“Lain kali aku akan membunuhnya langsung begitu melihatnya!” pekik Jinan yang bersemangat.
“Lupakan orang yang tidak berniat bertarung itu. Sekarang, ada satu orang yang aku ingin kalian menangkapnya hidup-hidup,” ujar Chameleon sembari menunjuk dinding bersalju di seberang jalan.
Runo langsung menyadari bahwa hidupnya dalam bahaya, dan karena tidak ada orang yang akan menolong, ia lantas melarikan diri.
“Celaka! Aku tidak mau mati! Aku akan hidup! Maaf meninggalkan kalian!”
Mementingkan hidupnya, Runo melarikan diri dengan memalukan. Yah, tetapi tidak ada jalan lain. Sebab Runo pun takkan mungkin mengalahkan salah satu dari mereka apalagi semuanya.
“Hei, hei! Dia melarikan diri! Dasar pengecut!”
“Terserah apa tanggapan kalian tentangku, aku ingin hidup lebih lama!!” pekik Runo dengan air mata mengalir.
Inilah Runo, pria pengecut yang melarikan diri dari medan pertempuran. Itulah kata banyak orang, yang mengejarnya pun menertawakan apalagi orang yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan.
Runo berlari di antara gedung-gedung bertingkat, mencari celah untuk mengelak dari mereka yang masih mengejar dengan kecepatan tak masuk akal. Benar, mereka mengejarnya dengan kekuatan masing-masing. Hingga membuat Runo tersusul lebih cepat.
“Ga-gawat! Bagaimana ini?”
Kedua kakinya gemetar, pikiran terasa kosong, pupil yang menatap bawahan Chameleon membuat ia bungkam seketika.
Lalu berpikir, “Apakah aku akan mati?”
“Matilah!!” teriak Jinan seraya melemparkan kail pancingnya.
“Hoi! Tuan Chameleon bilang, tangkap dia hidup-hidup!” pekik Hendrik.
“Ya!” jawab Jinan bersemangat namun tampaknya ujung benang itu benar-benar berniat membunuh. Tekanannya bahkan sampai terasa begitu kuat.
“Astaga apa-apaan itu!?”
Runo terkejut, dan secara tak sengaja ia tersandung akibat berlari tanpa melihat ke depan. Juga karena terlalu terfokus pada apa yang ada di belakangnya.
“Hahaha! Dasar ceroboh!” maki Jinan, yang berhasil menangkapnya dengan mengikat tubuh Runo kuat-kuat.
“Ba-bagaimana?! Ini? Hei, lepaskan! Aku tidak berniat bertarung! Lepaskan aku!!” teriak Runo.
“Hm? Dia payah. Yang benar Tuan Chameleon menginginkan anak ini?” tanya Jinan.
“Ya, dia benar-benar payah. Tak aku sangka dia selemah ini, tapi lihatlah? Di langit, turun salju.”
“Ternyata itu kekuatannya? Tapi apa gunanya salju ini? Membuat kita kedinginan sampai mati?”
Di samping mereka saling berbincang satu sama lain, Runo yang tidak punya pikiran lain selain melarikan diri lantas segera melakukan sesuatu pada benang yang melilitnya. Benang ini membuatnya terluka, serasa ia akan terlumat habis nanti. Ketika benang itu mulai menggesek pergelangan tangannya, Runo seakan mendapatkan kesempatan, mengubah benang menjadi salju yang lembut, akhirnya ia dapat meloloskan diri.
“Hei! Perhatikan dia!!”
Sudah berada jauh, akhirnya bawahan Chameleon sadar bahwa Runo kembali melarikan diri. Jinan berdecak kesal, lantas melesat lebih cepat dari lainnya tuk kembali menangkap Runo.
“Jinan!! Awas!!“ teriak Iki.
Berniat memberinya peringatan, tapi sudah terlambat. Karena larinya yang begitu cepat, maka ia pun tak bisa berhenti mendadak, alhasil ia membentur dinding es yang muncul tepat di depannya.
“Urgh!!”
Jika orang biasa akan langsung mati karena kepala terbentur cukup keras, tapi pertarungan ini sepenuhnya milik NED. Di mana orang-orang akan bangkit kembali dengan kekuatan supernatural mereka. Sudah jelas kekuatan fisik mereka lebih dari orang normal.
“Cih, dinding es milik siapa ini? Ah, eh?” Pertama ia berteriak karena kesal, lalu baru sadar bahwa dinding es inilah yang membuatnya terluka di kening.
“Gista Arutala ya?” pikir Jinan sejenak.
“Sudah jelas bukan!!”
Sera menghancurkan dinding es dengan cakar besarnya. Lalu Iki menggunakan kekuatannya tuk menarik tubuh Runo, namun entah kenapa punggungnya terasa dingin, dan perlahan hawa dingin itu menjalar ke leher lalu bagian kepalanya.
“Aku tidak bisa bergerak?”
“Apa?! Bocah itu!!”
Jinan kembali mengejarnya, namun lagi-lagi dinding es muncul. Tak hanya itu, sekitaran gedung-gedung tinggi yang dilewati oleh Runo mendadak diselimuti oleh hamparan salju. Dan juga cuaca di sekitar para musuh berubah drastis dari sebelumnya.
Mulai dari rintik salju yang ringan, kini menjadi badai salju mematikan.
“Kekuatan macam apa ini? Ini hanya salju!!” teriak Jinan berlari lebih cepat.
“Tunggu, bodoh!” teriak Hendrik mengejarnya, namun sayang ia gagal justru menambah masalah. Hendrik tergelincir karena salju yang licin, lantas menabrak Jinan hingga akhirnya kedua orang itu terjatuh.
“Aduh! Apa yang kau lakukan?!”
“Diamlah! Kau pikir mungkin, berlari di atas salju ...eh? Salju?”
Setelah diperhatikan baik-baik, di balik salju terdapat lapisan es yang tipis. Es itu berbeda dari milik Gista, lalu badai salju ini juga menganggu penghlihatan mereka sampai akhirnya kehilangan Runo.
“Cuacanya akan selalu mengikuti kita ke mana saja? Aku juga kesulitan memakai lumpurku,” gerutu Hendrik.
“Sudahi obrolan kalian. Di mana Runo, Sera?”
Saat ini Sera tengah melacaknya melalui pendengaran. Suara napas, detak jantung, langkah kaki, hal-hal itu akan ia dengarkan dengan baik tuk mencari keberadaan Runo.
“Dia berhenti.”
***
Runo akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bernapas, ia berhenti di bawah jembatan. Arus sungainya yang tidak cukup deras, dan cuaca aslinya saat ini adalah cuaca panas. Ia tidak membuat keberadaannya sendiri terhalang oleh badai salju. Sementara ia mengendalikan kekuatannya dari jauh tanpa ia sadari sendiri.
“Ya ampun, sebentar lagi aku akan dekat dengan dinding yang aku buat. Bagaimana ini? Apa aku harus melepaskannya? Tapi bagaimana caranya? Aku masih belum mahir karena baru 3 bulan aku belajar dengan Ketua Arutala.”
Lagi-lagi Runo mengeluh. Ia juga memikirkan ke depannya, lalu apa yang terjadi pada rekan-rekannya, dan rencana yang telah gagal. Kini ia sendirian, dalam kebingungan dan kebodohannya sendiri.
“Ini salahku, aku harusnya melindungi mereka karena aku tipe pertahanan, tapi ...aku tidak bisa! Aku tidak kuat!” keluhnya dengan tangan bergetar hebat.
“Siapa pun, tolong aku!”