
Mr. Iki Gentle bangkit dari lantai sambil menyeka keringat di wajahnya. Berharap akan selesai begitu saja justru Ketua Meera pun ikut bangkit dari sana.
“Uhuk, kau ...lemah, ya?” sindir Ketua Meera.
“Kau sendiri kenapa berbaring di lantai?” Mr. Iki membalas sindirannya.
Beberapa detik ke depan, mereka saling meraih lawan mereka satu sama lain. Ketua Meera kembali menarik ujung kerah pakaian Mr. Iki sementara Mr. Iki sendiri menggenggam wajah Ketua Meera.
“Wanita tetap wanita. Tidak lebih kuat dari laki-laki,” kata Mr. Iki.
Tubuh Ketua Meera begitu mudahnya terangkat ke atas, rambutnya tergerai panjang usai ikat rambut terlepas karena longgar.
“Menyerahlah. Kenapa kau selalu berjuang meski tahu kau akan kalah?”
“Aku ...tidak berencana atau bahkan sekadar memikirkan kekalahan.”
Air mengalir keluar dari tubuh Ketua Meera yang kemudian merangsak masuk dari lengan pakaian Mr. Iki. Aliran air itu merayap bak hewan melata. Sontak, Mr. Iki melepas genggamannya pada Ketua Meera.
Tap!
Ketua Meera segera menjauh dari jangkauan tangannya. Ia membuat aliran air itu semakin membesar dan merembes keluar dengan deras dari pakaian milik pria itu.
“Kau akan melakukan apa dengan air yang lembek begini.” Mr. Iki melepas kacamata hitam miliknya lalu menggantungkannya di rompi yang ia kenakan.
“Kau menganggap remeh aku,” ucap Ketua Meera percaya diri. Ia mengayunkan kaki kanan dengan aliran air yang keluar membentuk tajam melesat ke arahnya.
Crak!
Meski hanya air, itu tetaplah mengerikan. Hanya dengan membuatnya semakin berputar cepat maka akan menghasilkan sesuatu yang tajam.
“Batu pun akan terkikis oleh air. Kau harus tahu pelajaran ini, hei Tuan Sok Rapi!”
Ketua Meera telah berada dekat dengan Mr. Iki yang bersempoyongan akibat serangan sebelumnya. Mendaratkan pukulan dari tangan kanan dan kirinya secara bergantian, tanpa jeda waktu hingga membuat Mr. Iki tidak berkutik bahkan bernapas saja tidak bisa.
“Kau benar, aku meremehkan dirimu. Tapi aku tidak akan menarik kata-kataku kalau wanita tetaplah lebih lemah dari pria.”
Wajah tanpa ekspresi itu sama sekali tidak bisa ditebak, Mr. Iki membalas pukulan demi pukulan tanpa ampun pada Ketua Meera. Ia menyerangnya di bagian tubuh tanpa menyentuh wajah sama sekali.
“Ada apa? Kau tidak bisa membalas bukan?”
Dak!
Celah pada setiap serangan Mr. Iki membuat kesempatan untuk Ketua Meera dengan menendang dagu menggunakan lututnya.
Mr. Iki mengakui bahwa dirinya selalu lengah akan tetapi ia selalu bisa membalas setiap serangan dari lawan.
WUUUNG!
Tapak tangan diarahkan pada Ketua Meera ke depan wajahnya, angin berembus kuat mendorong tubuh Ketua Meera hingga menabrak lemari.
“Ukh, apa itu?”
Lemari itu condong ke depan, dan akan menjatuhi Ketua Meera. Mr. Iki yang tahu hal itu pun lantas bergerak cepat tuk melindungi Ketua Meera.
“Betapa merepotkannya,” gumam Mr. Iki seraya menahan lemari yang hendak jatuh.
“Kau? Kenapa kau menolongku?” Ketua Meera bertanya dengan heran.
Tanpa menjawab, Mr. Iki menjauhkan tubuh Ketua Meera dari lemari yang kemudian ambruk setelah beberapa saat.
“Aku tidak akan berterima kasih!” teriak Ketua Meera, ia begitu terburu-buru dalam melakukan serangan terhadap pria yang barusan menolongnya.
Meski tidak tahu alasan Mr. Iki yang menolongnya, Ketua Meera tetap menganggap pria itu sebagai musuh saat ini.
“Aku bilang jangan lengah!” pekik Ketua Meera, mendaratkan pukulan ke wajah.
“Atau kau sengaja mengalah?!” imbuh Ketua Meera merasa tidak dihargai.
“Tidak, aku tidak mengalah. Aku memang sering lengah, memangnya kenapa? Itu kelemahanku,” ucap Mr. Iki dan menatap Ketua Meera dengan menyipitkan matanya.
Ketua Meera reflek bergerak menjauh darinya. Tiba-tiba ia merasa merinding saat Mr. Iki menatapnya begitu tajam.
“Aku mendadak jadi penasaran, kenapa kau ingin bicara pada kami? Aku sebelumnya mendengar pembicaraan kalian dari balik pintu.”
“Aku tidak ingin bicara padamu melainkan dengan anak itu saja,” jawabnya dengan dingin.
“Untuk apa?”
“Aku ingin bertanya padanya, apa dia membenci atau ingin membunuh seseorang?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Karena aku ingin membunuh seseorang yang ingin dia bunuh,” tutur Mr. Iki dengan santai.
Pembicaraan ini menjadi tidak masuk akal. Motif Mr. Iki samar-samar mulai terlihat, satu hal yang Ketua Meera ketahui adalah; pria ini berada di antara Chameleon dan seseorang. Juga berarti tak sepenuhnya memihak pada Chameleon sebagai Tuan-nya.
“Kalau begitu, bagaimana jika anak itu akan memintamu untuk membunuh Chameleon?”
Pertanyaan itu terlontar begitu mudahnya, seolah-olah hanya pertanyaan biasa yang tidak akan membuat seseorang tersinggung.
“Barusan kau bicara apa?” Mr. Iki membalikkan badan, berhadapan dengan Ketua Meera yang tengah dikelilingi aliran air. Sorot matanya berubah, Mr. Iki membelalakkan kedua mata dengan ekspresi yang terkejut.
Pancaran mata seorang pembunuh terasa begitu luas dan menekan Ketua Meera yang seolah berada di suatu tempat di mana tidak ada udara sama sekali. Ketua Meera telah melakukan kesalahan dengan bertanya seperti itu, ia pun menyesal sejadi-jadinya.
“Ah, gawat sekali. Rupanya aku telah salah bicara. Aku tak menyangka bahwa pria ini pun bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.”
Mr. Iki Gentle marah. Tentu saja ia akan marah karena pertanyaan yang begitu menyinggung dirinya dengan Chameleon. Sebatas kalimat meski itu tidak disengaja juga bermasalah.
“Pertanyaanmu tidak masuk akal, Raiya Meera.”
Angin berembus kencang pada tubuh Mr. Iki Gentle, Ketua Meera juga terkena dampak dari embusan angin bagai air terjun dari langit.
“Aku katakan satu hal padamu jika ingin hidup. Jangan pernah kau berpikir aku akan melakukan sesuatu pada Chameleon hanya karena permintaan seseorang.”
“Oh, ya. Aku mengerti karena sebagai bawahan tentunya tidak akan menusuk majikan mereka dari belakang maupun depan. Tetapi yang namanya permintaan bisa saja begitu 'kan?”
“Hei—!”
“Perkataanku sebelumnya itu hanya permisalan,” sahut Ketua Meera.
Angin berderu bagai langit bergemuruh, ruangan bergetar kuat membuat Ketua Meera bergidik merinding.
“Begitu. Kalau begitu, jangan sampai pertanyaan permisalan itu keluar lagi dari mulutmu,” ketus Mr. Iki Gentle.
Ia mengarahkan telapak tangan ke depan, menunjukkan sebuah lubang hitam yang perlahan membesar dari belakang punggung Mr. Iki. Ketua Meera tersentak, ia merasa ini akan berbahaya jika terus berlanjut maka dari itu ia pun bergegas melesat ke arahnya dan mengarahkan pukulan yang kemudian menyebarkan aliran air ke segala arah.
Pada saat itu Mr. Iki Gentle tidak terlihat sama sekali untuk melakukan sesuatu pada serangan Ketua Meera. Namun setelah beberapa saat, tubuh Ketua Meera terdorong mundur dan melenyapkan kekuatannya.
Sreeekk!
Ketua Meera berpegangan pada meja di sekitarnya. Lantaran ia terus terseret ke belakang karena sebuah lubang hitam besar muncul di belakangnya saat ini.
“Black Hole!” Mr. Iki mengepalkan tangan, lantas lubang hitam pun mulai mengeluarkan kekuatannya yang jauh lebih besar.
“Apa ...ini? Aku terseret ke arah lubang itu?!”
Semua ini mungkin tidak akan terjadi jika Ketua Meera yang telah lama berpisah dengan rekan-rekan lainnya, mengatakan hal sensitif pada Mr. Iki Gentle. Walaupun ia sendiri tidak akan menyangka hal ini akan terjadi, tapi semua sudah berlalu cukup lama.
Beberapa menit hingga menyentuh per-jamnya, Ketua Meera dan Mr. Iki Gentle terlibat dalam adu kekuatan. Hitungan seolah berjalan lambat saat Mr. Iki mengeluarkan semacam lubang hitam, Black Hole.
“Apa ini? Apa-apaan ini?”
Ketua Meera jelas panik, ia selalu berpengangan pada meja di dekatnya agar tidak lagi terseret namun tetap saja ia masih terseret karena suatu daya tarik itu jauh lebih besar kekuatannya.
“Padahal kau tinggal melakukan apa yang kusuruh, tapi sepertinya kau tidak berniat untuk hidup. Kau tahu—”
Spalsh!
Daya tarik mengurangi begitu Mr. Iki diserang oleh apa pun. Ketua Meera bertekuk lutut dengan tatapan yang tetap terkunci pada pria di sana.
DAAANG!
Kali ini terdengar suara kegaduhan dari ruangan lain, suaranya bahkan sampai menggaung ke lorong gedung asing ini. Sesaat fokus Ketua Meera dan Mr. Iki terpecah.
Jatuh suatu benda yang kecil namun terhitung cukup banyak. Sekilas mirip dengan kepingan salju, tapi itu begitu panas rasanya saat disentuh. Semua benda-benda itu seakan terjatuh dari langit dan menembus gedung.
Hal itu dapat terlihat dari balik jendela juga di dalam ruangan di mana Ketua Meera dan Mr. Iki berada saat ini.
“Api?”
Kekuatan mereka berdua sama-sama melemah begitu dijatuhi benda-benda itu. Padahal tidak menyentuhnya tapi benda-benda itu seakan jatuh untuk menyentuh mereka berdua.
“Aduh! Apa ini? Pertama lubang hitam lalu sekarang api? Hei, ini kau yang melakukannya ya?!” pekik Ketua Meera mengamuk.
“Dasar kau,” gerutu Mr. Iki seraya ia menghilangkan lubang hitam.
Keadaan semakin sulit diterka begitu benda menyerupai kepingan salju menjatuhi mereka. Tak berselang lama kemudian terdengar suara jeritan dari ruangan lain.
“DASAR KAU, ANAK KURANG AJAR!”
Itu suara Sera yang sangat keras. Telinga mereka dibuat sakit oleh auman Sera bak hewan buas tak terkendali. Sesaat setelahnya, Ade terlihat berlari melintasi ruangan mereka.
“Kau!”
Segera Ketua Meera mengambil kesempatan ketika Mr. Iki terjebak lebih dalam oleh kepingan yang panas di tempat.
Ketua Meera mengejar Ade yang terus berlari hingga akhirnya ia pun berhasil meraihnya.
“Tunggu!”
“Kya! Lepaskan!”
Plak!
Tanpa sengaja Ade menepis tangan Ketua Meera.
“Hei ini aku. Aku Meera,” kata Ketua Meera.
“Fuh, aku pikir siapa.” Ade menghela napas lega.
Saat kepingan panas menyerupai spark yang panas menjatuhi ke seluruh ruangan hingga luar gedung ini, namun anehnya itu tak terjadi pada Ade.
“Uh, ini sangat panas sekali.” Ketua Meera mengerang kesakitan lantaran salah satu keping jatuh tepat di atas pelipisnya ketika ia berlari.
“Kakak? Kakak tidak apa-apa?” tanya Ade berhenti melangkah ketika Ketua Meera pun berhenti di belakangnya.
“Ini panas sekali. Aku jadi penasaran siapa yang mengeluarkan kekuatan ini. Apakah itu kamu?” tanya Ketua Meera. Awalnya ia hanya menduga-duga namun tampaknya Ade sendiri tidak menyadarinya.
Ade justru tampak kebingungan, ia sesekali menengok ke belakang lalu menundukkan kepala. Ade tidak bisa menjawabnya.
“Kakak! Pria itu datang lagi!” Tiba-tiba Ade berteriak keras seraya menunjuk ke arah belakang Ketua Meera.
Segera saja mereka berdua bergegas untuk berlari menjauh darinya. Ketika itu, sesuatu mendorong mereka lebih jauh dari sebelumnya.
“Gawat, tak seharusnya aku gunakan kekuatanku seperti itu,” ucap Mr. Iki menepuk jidatnya.
Ketua Meera membantu Ade untuk bangkit, sesaat sebelum mereka kembali berlari, Mr. Iki kembali mengeluarkan kekuatannya.
Syak! Syak!
Ketua Meera mendekap tubuh Ade, ia memasang badan tuk menghalau serangan angin bagai mata pisau yang begitu tajam. Punggung yang sempit itulah yang tergores, tersayat, terluka berdarah-darah.
“Kekuatannya mirip dengan Mahanta,” gumam Ketua Meera. Ia kembali membantu Ade untuk bangkit dari sana meskipun tubuhnya seperti tak mampu untuk bergerak lagi.
Drap! Drap!
Sera akhirnya muncul kembali, ia mendatangi Mr. Iki dengan napas tersengal-sengal.
“Di mana dia?” tanyanya dengan raut wajah tak biasa. Ia sangat marah.
“Di sana,” jawab Mr. Iki seraya menunjuk ke depan. Punggung Ketua Meera dan Ade masih terlihat.
“Kenapa kau tidak mengejar?”
“Pintunya dikunci. Aku ragu mereka bisa membukanya dalam keadaan panik.”
“Oh ya? Kupikir kau sengaja melepaskan mereka!” sindir Sera menunjukkan perangai kasar, sepintas taring mencuat.
Dalam hitungan detik, Sera melesat cepat ke arah perginya mereka. Ade semakin panik begitu mengetahui Sera telah mendekat.
Jduak!
Ketua Meera menendang tubuh Sera sehingga Sera pun jatuh terpelanting ke belakang yang kemudian ditahan oleh Mr. Iki agar tidak semakin menjauh.
“Kau tidak biasanya. Ada apa?” tanya Mr. Iki kepada Sera.
“Kau lah yang tidak biasa. Lagi pula yang jatuh ini apa? Ini sangat menyakitkan,” gerutu Sera, keningnya semakin berkerut.
Tak selesai sampai situ saja, Ade tengah berusaha untuk membuka pintu yang nampaknya terkunci itu, sementara Ketua Meera dalam posisi bertahan sekaligus melindungi Ade.
“Bagaimana?” tanya Ketua Meera pada Ade.
Cklak! Cklak!
“Su-susah. Aku berharap aku bisa merusaknya sama seperti ketika aku merusak pintu sebelumnya,” ucap Ade yang kesusahan, berkali-kali ia menggerakkan gagang pintu dari atas ke bawah namun tidak kunjung berhasil.
“Memangnya kamu pernah merusak pintu sebelumnya?”
“Iya. Tapi hanya berlaku sekali dan aku sudah lupa itu di mana, kak.”
Cklak! Cklak!
Sepertinya Ade akan membutuhkan waktu lama. Sebelum Sera menyerang, Ketua Meera mengalihkan pandangan pada pintu itu lalu memegang gagangnya.
“Kak?”
Perlahan air muncul seolah tangan Ketua Meera itu bebatuan di atas tanah, seketika aliran air muncul secara perlahan yang kemudian semakin deras membelit gagang pintu itu.
Craak!
Datang serangan dari arah belakang, beruntung cakar Sera tidak menembus perisai air yang begitu lembek.
“Aku tidak akan kalah dengan air,” ucap Sera.
“Heh, manusia berbulu sepertimu itu 'kan benci sekali dengan air,” sindir Ketua Meera.
Klak!
Pintu terbuka berkat kekuatan Ketua Meera, bergegas mereka berlari sementara tangan Sera terjebak dalam perisai air, lalu Mr. Iki yang hanya berdiri membelakangi Sera tampak santai.
“Cepat! Lari ke arah halte!”
Jalan yang sepi memudahkan pelarian mereka tuk beristirahat di tempat duduk halte di seberang jalan.
“Syukurlah. Kita keluar,” ucap Ketua Meera merasa beruntung.
“Sudah cukup,” ucap seseorang. Suaranya tidak seperti Ade namun seorang lelaki yang entah itu siapa.
Ketika Ketua Meera menoleh ke sisi Ade, ia mendapati Ade telah dibekap oleh seseorang pria. Tak berselang lama kemudian, cakar yang tajam menyentuh urat leher Ketua Meera.
Pria yang membekap mulut Ade itu berkata, “Jangan bunuh dia.” Ia memberi perintah.