
Bangkitnya Api Abadi setelah mengalami bagaimana ia akan mati. Kata kasarnya begitu. Dan Chameleon merasa puas dan senang, berbeda dengan Orion yang terluka karena luka bakar.
Sayap membentang luas dengan indahnya. Bagai lukisan minyak dengan aksesori percikan api sungguhan. Saking indahnya, tak ada yang menyadari bahwa setiap percikan yang jatuh ke lantai membuat keramiknya menjadi hangus.
Chameleon semakin tak segan tuk kembali menyerang Orion. Tapi Orion merasa bahwa kekuatannya belum sepenuhnya dikeluarkan. Ada sesuatu yang tersembunyi.
Slash!! Crak! Crak!
Beberapa bulu sayap melesat bagai pisau terbang menancap tubuh Chamelon. Serta bilah pedangnya mengeluarkan serangan yang memadat dan menambah luka di atas luka.
Chameleon sama sekali tak merasa sakit. Ia merasa merinding sesaat. Ketakutannya akan mati semakin terlihat di depan mata, begitu berpejam dan beralih ke khayalan, ia kembali teringat dengan kematiannya dulu.
“Huh, ini tak masuk akal. Kenapa orang sejahat dia dilimpahi kekuatan?” gerutu Orion seraya menangkis setiap serangan fisik Chameleon.
Beberapa gerakan, mereka terus beradu fisik. Tapi Orion berada di titik terendah karena dari segi kekuatan ia sama sekali tidak bisa melawan.
Blar!!
Orion menggunakan titik lemahnya sendiri. Dengan membakar tubuh Chameleon begitu ia mendekat dan itu membuat kulit tangan kanannya terus berubah menjadi bara api.
Tuk, tuk!
Keberadaan Chameleon lenyap. Api milik Orion kini masih membara di tangan kanannya. Tatkala semua ruangan penuh dengan bercak darah dan angus. Abu kehitaman melekat pada dinding dan lantai.
Bahkan si pemain kecapi itu kini tersungkur dan tidak bisa bernapas karena banyaknya oksigen terbakar.
“Hei bocah. Tak kusangka sekuat ini Api Abadi. Kau tanpa sadar menggunakan kekuatan penuhmu. Lihat, diriku hancur.”
Suara Chameleon terdengar. Orion sontak bergegas mencari asal suara tersebut. Dan ketika Chameleon kembali memanggil namanya, mata Orion tertuju ke arah jendela yang terbuka.
“Aku berharap saat kita bertemu lagi. Kau akan bersedia bekerja denganku,” ucap Chameleon dengan wajah berbeda.
Ia terduduk di jendela lantas ia menjatuhkan diri dari sana. Hembusan angin menyapu bersih abu di dalam ruangan. Udara segar tertukar dengan yang kotor.
Duk!
Tubuh Orion bergemetar kuat. Kedua kakinya tak lagi kuat menahan sehingga ia terjatuh lantas mengerang kesakitan di sekujur tubuh.
Api itu padam ketika Orion berada di ambang kesadaran. Rasa sakit di lengan kanannya tak sepenuhnya memadamkan api. Lantas kulit tangan itu secara permanen berubah menjadi bara api.
“Ukh, ini benar-benar menyakitkan. Aku ...sakit sekali!”
Jahitan di setiap pergelangan kaki, tangan ataupun leher kembali muncul. Ia merasa bahwa tubuhnya perlahan berubah. Sakitnya mengingatkan ia seperti saat melawan Pahlawan Kota.
“Jangan bilang itu terjadi lagi. Hei Karura!” panggil Orion berteriak.
“Tentu saja, bodoh. Ide cari mati-nya membuat tujuanmu selama ini tercapai 'kan?” sahut Karura yang bersuara langsung di kepalanya.
Pakaian yang ia kenakan pun robek setelah ia kembali ke wujud aslinya. Sesaat sebelum ia meninggal yang di mana ia masih berusia sekitar 30 tahun.
“Jangan diam saja. Cepat berdiri dan kita pergi dari sini,” kata si pemain kecapi itu seraya menyerahkan sehelai kain untuknya.
“Ck, kenapa kau masih ada di sini?”
“Jangan berdecak. Lagipula tujuanku di sini hancur berkat dirimu. Lebih baik pergi sebelum sesuatu terjadi.”
Hati Orion masih kalut. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh Orion.
“Tanganku tidak kembali seperti semula,” ucap Orion dengan peluh bercucuran.
Ia tak menyangka bahwa tangannya akan menjadi bara api seperti ini. Bahkan ketika ia memegang gagang pintu saja sudah tidak bisa, alhasil gagang pintu menjadi abu.
“Oh? Api Abadi itu memang menakutkan, ya,” ucap pemain kecapi seraya melirik Orion.
“Mungkin karena bekas sebelumnya,” pikir Orion tidak percaya bahwa itu karena tangannya.
Begitu pintunya dibuka oleh pria di samping Orion, tiba-tiba mereka merasakan guncangan kuat yang berasal dari bawah.
“Ada apa ini?”
“Aku rasa Chameleon sedang mencoba untuk menghancurkan tempat ini.”
Drap! Drap!
Kain itu pun terbakar dan hangus dalam sekejap.
Si pemain kecapi itu menyadarinya, ia buru-buru melepas jubah yang ia pakai dan memakaikannya pada Orion.
“Jangan sampai kena tangan kananmu!”
“Kenapa kau menolongku sampai segitunya? Padahal tidak saling kenal dengan akrab,” sahut Orion kembali berlari.
“Jangan pikirkan itu. Aku juga butuh kau suatu saat nanti tahu!”
Namun, sesuatu datang dari arah belakang. Sesaat Orion merasa merinding. Begitu ia menoleh ke belakang, Orion mendapati seorang pria yang sebelum ini ia temui.
Dengan mata terbelalak, Orion sangat terkejut dengan keberadaan pria tersebut.
“Hei, kau sedang apa!?”
“Tidak ada apa-apa,” lirih Orion lantas mempercepat langkahnya.
***
Sampai menuju ke lantai bawah. Getaran serta guncangan semakin terasa. Banyak orang dengan rantai di leher berbondong-bondong keluar dari dinding. Kemudian menuju ke pintu dan berusaha untuk membukanya.
“Ada apa ini sebenarnya?”
“Cepat pergi. Aku mendapatkan firasat buruk.”
Sama seperti si pemain kecapi itu, Orion pula merasakan firasat buruk. Hanya saja Orion masih dalam keadaan bingung dengan yang terjadi di tempat ini.
“Tolong, tolong kami!”
Tiba-tiba salah seorang wanita datang menghampiri Orion. Ia meminta tolong, persis orang-orang yang sebelumnya berada di tahanan ruang bawah tanah rumah Gista.
“Hei, kau! Cepatlah! Jangan ambil resiko dengan mencoba menyelamatkannya! Tidak ada gunanya melakukan hal itu, cepat!”
“Tetapi wanita ini ...”
Beberapa kali ia mencoba melangkah pergi namun jerit tangis wanita itu membuatnya semakin ragu. Berulang kali ia meminta tolong lalu disusul dengan orang lainnya yang juga melakukan hal sama kepada mereka.
Sehingga mereka berdua sulit bergerak karena rombongan orang yang dirantai itu menghalangi jalan mereka.
“Ini aneh. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?”
Orion mengerutkan keningnya. Semakin dipikir semakin ia kesal begitu mengingat ucapan Chameleon yang menganggap orang-orang ini ada hanya untuk dimanfaatkan secara sepihak. Tidak ada keuntungan yang mereka peroleh.
Drap! Drap!
Orion dengan pria itu pun akhirnya menerobos gerombolan orang. Berlari menuju pintu dan berusaha.
Guncangan itu semakin lama semakin kuat. Sulit bagi mereka untuk membuka pintu yang sangat besar ini.
“Apa kau tidak bisa lakukan sesuatu pada pintu ini?”
“Bakar saja?”
Ketika mereka sibuk mencari jalan keluar. Terdapat suara aneh seperti tombol mesin yang ditekan secara berulang. Suara itu bercampur dengan jeritan mereka yang ingin sekali keluar.
“Suara apa itu?”
Suara tersebut semakin lama semakin cepat temponya. Dan setelah beberapa saat, tubuh orang-orang yang ada di sana mulai mengembang.
“Huh?”
Brak! Duar!
Pria itu akhirnya dapat membuka pintu gerbang. Kemudian, tubuh semua orang-orang yang dirantai meledak. Menghamburkan semua isi perut mereka disertai ledakan api yang dahsyat.
Perasaan ngeri dan membuatnya merinding. Tanpa berbuat apa-apa, Orion tercengang dan seketika ia terlempar keluar dari ruangan.