ORION

ORION
Black Hole II



Helaan napas terasa ditarik kembali ke dalam, dipaksa menelan ludah begitu ancaman masih berlanjut. Perasaan Ketua Meera yang campur aduk, sampai tidak menyadari bahwa Ade telah berada di sisi seseorang yang diyakini Chameleon.


“Jangan bunuh,” titah Chameleon kepada Sera yang mengarahkan cakarnya langsung ke leher Ketua Meera dalam jarak dekat.


“Baik, Tuan Chameleon.”


Ketua Meera yang terpaku, saat itu tubuhnya didorong ke depan lalu disusul suara serta luka goresan di punggungnya muncul berasal dari cakar Sera yang tajam.


Nyeri itu tak hanya di bagian punggungnya saja, hal itu sampai ke sekujur tubuh. Rasa sakit menjalar begitu cepat hingga membuat otak berdenyut seolah ikut merasakan.


“Haruskah saya mematahkan lengannya?” Sera bertanya pada Chameleon. Ia menahan tubuh Ketua Meera yang tengkurap serta menarik lengan kanannya.


“Tidak perlu. Nanti jadi tidak berguna,” ucap Chameleon.


Dak!


Ketua Meera memiliki kesempatan, ia menepis tangan Sera lalu balas menariknya ke depan. Sesaat tubuh Sera terpelanting ke depan namun dapat bertahan dalam waktu singkat dengan kedua cakar di tangan dan kakinya.


“Wanita ini benar-benar kuat,” gumam Chameleon.


Sera kembali melesat dalam satu kali lompatan mendatar seraya mengayunkan cakar pada tangannya itu lagi. Ketua Meera reflek menyilangkan kedua lengan ke depan, seketika Sera berhenti bergerak.


“Ada apa?”


Duak!


Sera beralih menggunakan tendangan ke pinggang, membuat Ketua Meera berada di posisi Sera sebelumnya. Berada di tengah jalan di mana akan ada kendaraan yang lewat.


“Tidak apa, Tuan. Saya teringat dia memiliki perisai air.” Sera menjawab pertanyaan Chameleon.


Dalam jarak jauh ia melawan Ketua Meera dengan cakar yang seolah terpisah dari jari jemari, segera Ketua Meera berlari menghindar ke samping.


Zrasshh!


Alhasil cakar Sera justru membelah hydrant pemadam, membuat semua air keluar dengan derasnya seolah hujan turun.


“Eh?” Tentu saja Sera akan sangat terkejut, air adalah kelemahannya. Walau ia tidak sengaja sekalipun, ini tetap kesalahan Sera sendiri. Ibarat senjata makan tuan.


“Wah, derasnya.”


Sebaliknya Ketua Meera merasa bahwa ini adalah sebuah kesempatan yang di mana ia dapat mengendalikan air itu. Tak butuh waktu lama ia mengendalikan semua air yang keluar dari sana, Ketua Meera langsung mengarahkan air terjun itu pada Sera.


“Ini saatnya aku kabur,” celetuk Ade dalam benaknya.


Ade menggigit tangan yang membekapnya lantas ia bergegas pergi menuju ke sisi Ketua Meera.


“Tak ada tempat untukmu lari dariku,” ucap Chameleon sembari menyeret tubuh Ade kembali.


“Tidak! Aku harus kabur! Memangnya kau siapa?! Umh!!” Teriakan Ade kembali dibungkam olehnya sementara Chameleon dan Sera terus dihujani oleh hujan deras.


“Kau! Lepaskan anak itu!” pekik Ketua Meera, di saat Sera melemah ia pun mulai mengarahkan serangan fisik pada Chameleon.


BUAKK!


Hantaman keras berasal dari kepalan tangan kanan Ketua Meera, namun itu tidak berhasil untuk mendaratkan pukulannya ke wajah Chameleon justru hanya di jalanan.


Sedangkan Chameleon dan Ade mundur ke belakang tuk menghindar dari serangan maut itu.


“Masih sempat menghindar rupanya,” ucap Ketua Meera mengerutkan kening tanda kesal memuncak.


“Harusnya kau perhatikan dulu di belakangmu,” kata Chameleon tersenyum sinis mengejek.


Tendangan kaki Sera lagi-lagi datang menghadang Ketua Meera. Mengincar bagian perut, dan tak tanggung-tanggung tendangan itu bagai pelontar yang mampu melempar jauh Ketua Meera dari sisi Ade.


“Ergh! Ukh ...”


Tubuhnya terbaring di atas jalanan, nyaris ia terlindas oleh kendaraan yang berada di jalannya. Dalam keadaan mengenaskan seperti itu, ia berusaha untuk tetap membuka mata serta memaksakan kesadarannya.


Berada jauh dari posisi Ketua Meera, awalnya Chameleon terlihat puas dan hendak membawa Ade namun begitu membalikkan badan, genangan air bergerak tak wajar di bawah kedua kakinya.


Splash!


Chameleon dengan remehnya menginjak genangan air itu, lantas genangan air tersebut mendadak mengapung ke udara seakan membentuk air terjun dalam bentuk kecil.


Syat! Syat!


Hitungan detik berlalu, genangan air berpisah menjadi beberapa bagian yang kemudian membentuk bilah tajam. Tak ragu semua air yang berhasil dibentuk Ketua Meera menghujam keras tubuh Chameleon.


“Tuan Chameleon!”


Ade terlepas dari genggaman Chameleon, ia pun bergegas lari ke sisi belakang tempat di mana Ketua Meera terlempar jauh.


“Tuan Chameleon?” Mr. Iki yang tampak sangat santai itu telah keluar dari gang sempit. Ia sempat memasang ekspresi terkejut saat sesuatu benda menghujam tubuh Chameleon.


Mr. Iki tak sengaja teringat akan kalimat Ketua Meera sebelum ini. Berpikir bagaimana jika Ade meminta pada Mr. Iki tuk membunuh Chameleon yang adalah majikan Mr. Iki sendiri.


“Pemikiran wanita memang menyeramkan,” gumam Mr. Iki.


“Iki, tangkap mereka.” Chameleon kembali memberi perintah seraya mencabut semua benda tajam itu dari tubuhnya.


“Saya mengerti.”


Mr. Iki pun bergerak, ia berlari mengejar Ade yang sudah berada dekat dengan posisi Ketua Meera. Buru-buru Ade segera membangunkan Ketua Meera dari sana.


“Kak, bergegaslah. Orang itu datang lagi!”


“Aku tahu. Tapi lebih baik kamu lah yang harusnya pergi. Karena kamu yang diincar,” ujar Ketua Meera seraya menarik tubuh Ade membelakanginya.


“Tetapi kak—”


Belum selesai Ade berucap, tubuh Ade serasa ditarik ke depan Ketua Meera.


“Ini pasti ulah pria itu lagi,” gerutu Ketua Meera yang berusaha keras untuk menahan langkah Ade.


Srak!


Namun percuma saja, sampai sol sepatu itu rusak, Ade ditarik oleh Mr. Iki yang kemudian menangkap Ade dalam genggamannya.


“Kak Meera!”


“Wanita, sepertinya kau membuatku terus kepikiran tentang pertanyaan terakhirmu itu.”


Mr. Iki membicarakan masalah sebelumnya, namun tanpa menunggu jawaban dari Ketua Meera, ia lantas pergi membalikkan badan seraya membopong tubuh Ade ke pundaknya.


Chameleon menghampiri mereka. Tampaknya sasaran Chameleon sekarang tertuju pada Ketua Meera seorang. Jelas saja, tatapan itu begitu buas, ganas dan mengintimidasi. Lebih dari Mr. Iki.


Tap, tap!


Ketua Meera melompat mundur dua langkah, menjaga jarak untuk menstabilkan kekuatannya lagi melalui hydrant, tetapi itu sudah tak mungkin karena Chameleon menepis tangan Ketua Meera, dan entah mengapa Ketua Meera seperti kehilangan kendali alih dalam kekuatan airnya.


“Apa yang dia lakukan? Apa dia bisa menghapus kekuatan atau semacamnya?”


Dak!


Ketua Meera menangkis kaki Chameleon lalu bertahan dengan dua lengan ke depan tuk menghalau setiap pukulan Chameleon kepadanya.


Tap, tap!


Lagi-lagi Ketua Meera didorong mundur olehnya. Ia melangkah mundur dengan sikap kehati-hatian yang berlebih, sekujur tubuhnya gemetaran belum lagi nyeri di bagian punggung dan perutnya itu tak tertahankan.


Chameleon sekali lagi berbisik lirih kepadanya, “Karena yang tidak penting, akan lebih baik dibuang.”


BUUAAK!


Pukulan mendarat dari atas pinggang, tubuh Ketua Meera kembali terdorong kali ini secara menyamping. Pukulan berbelok itu mengarahkan Ketua Meera masuk ke gang sempit sampai menabrak bak sampah di dalam dan ujung sana.


Sekali tarikan napas, tubuh seorang wanita itu terlempar hingga ke ujung dalam suatu gang yang sempit. Menubruk ke bak sampah, tak banyak luka yang pulih karena terus menumpuk seiring waktu berjalan.


Ia tak sadarkan diri di tempat menyisakan banyak tanya pada beberapa orang yang tidak sengaja melihat itu dari kejauhan.


Salah satu dari pengamat mulai memperhatikan apa yang ada di antara tumpukan sampah itu. Terkejutnya seorang wanita yang lebih muda itu mendapati sosok wanita dalam keadaan bersimbah darah.


***


“Nenek, kita apakan orang ini?” Wanita muda itu bertanya pada neneknya yang tengah merajut di kursi goyang. Ia menuruni tangga dan hendak menghampiri sang nenek.


“Nenek? Merajut lagi?” ujarnya jengkel karena setiap hari wanita muda ini selalu melihat sang nenek merajut.


“Tentu saja. Nenek sudah tua, kalau bosan ya cuman tidur, makan, mandi lalu merajut. Apa lagi?” sahut nenek itu dengan santai ia kembali merajut.


“Yah, kirain. Mungkin nenek akan berjalan-jalan?”


“Mana mungkin kita meninggalkan wanita itu di sini, 'kan?”


Wanita muda itu pun kembali teringat, ia menoleh ke arah belakang. Sosok wanita asing tengah tertidur lelap di sofa yang usang.


Ialah Ketua Meera, mereka sudah melakukan tindakan pertama begitu melihatnya di bak sampah dalam keadaan terluka. Segera saja Ketua Meera dibawa ke rumah sakit terdekat, biayanya mahal jadi mereka membawa Ketua Meera secepatnya kembali ke rumah mereka.


Saat itu keadaan Ketua Meera terluka parah. Beberapa tulang rusuk patah dan di beberapa bagian tubuhnya mengalami luka luar, lebam serta 3 goresan di punggungnya.


Tak!


Wanita muda itu tak sengaja menjatuhkan sesuatu dari atas meja ketika ia hendak bangkit dan menghampiri Ketua Meera. Sebuah ponsel terjatuh.


“Ponsel ini milik orang itu, 'kan?” tanyanya seraya mengambil ponsel itu.


“Iya.” Nenek menganggukkan kepala dengan senyum lembut.


Ponsel milik Ketua Meera menyala secara tiba-tiba, ia terkejut dan berusaha untuk melakukan sesuatu. Sempat ia hendak menjatuhkannya lagi karena terkejut, beruntungnya tidak terlepas dari tangan wanita itu.


“Nek, ada yang menghubungi. Aku harus bagaimana? Pertunjukkan sulapku akan dimulai nanti,” ujarnya mengeluh.


Sang nenek langsung melayangkan jitakannya pada kepala wanita itu. Lantas berkata, “Aku tidak mau berdebat denganmu tapi mungkin panggilan itu penting. Angkat saja dan katakan situasinya.”


“Ah, nenek. Jangan memukulku,” rengeknya meringis kesakitan, namun wanita itu langsung bangkit dari duduknya yang kemudian menghampiri Ketua Meera.


“Nenek, aku coba berikan padanya, ya.”


“Berikan ...apa? Dia itu 'kan sedang tidak sadarkan diri lalu bagaimana cara dia menerima teleponnya?”


“Dia sudah terbangun, kok.”


Sang nenek langsung terdiam begitu mendapati Ketua Meera terbangun seiring ponselnya menyala terus-menerus.


“Maaf, wanita asing. Aku menemukanmu di bak sampah dan semua luka telah aku obati. Lalu ini ada panggilan dari ponselmu masuk.”


Telintas memori Ketua Meera saat ponselnya terjatuh ke lantai ia bergegas mengambilnya kembali.


“Terima kasih,” ucap Ketua Meera. Ia kemudian membenahi posisi duduknya lalu segera menerima panggilan masuk itu.


“Hei kau! Kenapa membiarkannya duduk seperti itu!” pekik sang nenek yang mengamuk pada cucunya.


“Eh, nenek? Tapi dia sudah sehat kok,” katanya yang membela diri sendiri agar tidak dimarahi lebih lanjut.


Pandangan Ketua Meera masih terlihat kosong, ia sangat rapuh di luar dan juga dalamnya. Begitu ia mengangkat teleponnya, ia mendengar suara seorang lelaki.


“[Ketua Raiya, Anda berada di mana? Ini saya, Janu Irawan.]”


Meera justru menjawab dengan lesu, “Aku ...di mana?”


Panggilan itu masih dalam keadaan tersambung namun tak banyak yang dibicarakan seolah mereka telah menutup panggilan telepon itu.


“Nenek, apa yang terjadi?” tanya wanita muda itu pada neneknya dengan berbisik lirih.


“Kamu masih ingat apa yang dikatakan dokter?”


“Masih ingat sih ...ah, aku paham nek. Dia sedang lupa ingatan?”


Benar sekali, terjadi benturan keras di bagian samping pada tengkorak kepalanya sehingga mengakibatkan amnesia. Dikatakan bahwa itu tidak akan berlanjut secara permanen, ingatannya yang sebagian hilang itu akan pulih suatu waktu.


“Kalau begitu, apa aku harus mengatakan bagaimana dia bisa sampai ke sini?”


Lagi-lagi sang nenek melayangkan jitakannya ke kepala wanita muda itu. Berpikir seenak jidatnya sendiri, menggampangkan sesuatu hal adalah kecerobohan.


Nenek marah.


“Jangan macam-macam. Kalau dipaksa, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi padanya kalau kita melakukan hal itu. Awas ya,” ucap nenek itu seraya mengacungkan jari telunjuk dan menatap jengkel pada si cucu.


“Uh, baik, baik. Aku tidak akan melakukannya. Iya, iya ...” Wanita yang diyakini pesulap jalanan, meringis kesakitan seraya memegang kepala dengan kedua tangannya.


“[Ketua Raiya? Ini Mahanta. Bagaimana keadaan Anda lalu bisa ceritakan Anda berada di mana dan sedang apa sekarang?]” Mahanta menyerobot.


“[Hei, aku sedang bicara Mahanta!]” Ketua Irawan menjerit, tampaknya di sana mereka sedang berebut ponsel.


“[Maafkan saya Ketua Irawan. Tapi Anda sedang demam, jadi lebih baik istirahat.]” Mahanta menyahut perkataan dan ponsel itu dari Ketua Irawan.


“Wah, ponselnya berisik sekali,” gumam wanita muda itu.


“Aku ...tidak mengerti. Ketua Irawan? Entah kenapa ...aku tidak bisa menjelaskan situasi,” tutur Ketua Meera.


Setelah beberapa saat panggilan itu kembali menghening dengan penuh tanda tanya. Di suatu tempat di mana Ketua Irawan atau Mahanta berada, mereka berdua saling bertukar tatap untuk memikirkan apa yang seharusnya mereka katakan pada Ketua Meera yang aneh.


“[Baiklah. Ketua Raiya.]”


Sepertinya mereka telah memutuskan sesuatu.


“[Adakah seseorang di sekitar Anda? Jika ada, maka tolong berikan ponsel Anda padanya karena saya ingin berbicara dengannya.]”


Tanpa menjawab, Ketua Meera menyodorkan ponsel itu pada seorang wanita muda, di saat wanita itu hendak meraihnya, sontak sang nenek mengambilnya lebih cepat.


“Nenek!”


“Sssst. Diam kamu!”


Nenek itu kemudian berjalan menuju ke teras rumah dengan posisi membungkuk dengan tongkat di tangan kanannya.


“Maaf, ini dengan seorang nenek. Cucuku tak berguna untuk urusan hal seperti ini jadi biarkan aku yang menjelaskan semua yang terjadi,” ucap nenek itu dengan berhati-hati agar obrolan tidak didengar oleh Ketua Meera.


“[Baiklah, nek. Saya justru sangat berterima kasih karena sepertinya nenek telah direpotkan oleh teman kami]”


“Tidak. Mari kita singkat saja, perempuan itu bernama Raiya Meera. Wanita berusia 28 tahun. Cucuku menemukannya bersandar di bak sampah. Luka lebam, goresan, patah tulang dan kemudian kepalanya terbentur sehingga mengakibatkan dirinya lupa ingatan.”


Nenek itu menjelaskan semua yang harus diketahui oleh si teman Ketua Meera yakni Mahanta yang tengah mengambil alih kendali ponsel Ketua Irawan. Mahanta benar-benar mendengarkannya dengan jelas dan serius.


“Di sini kota Cal-forn. Jl. xx no. 5A.” Nenek itu kemudian menyebutkan alamat, tempat di mana Ketua Meera berada saat ini.