ORION

ORION
Bagian yang Sudah Tak Terjamah II



Perlahan Orion membuka pintu besi berbentuk lingkaran itu, jalan menuju ke bawah. Sangat gelap dan tidak dapat dilihat bahkan dengan setitik cahaya saja tidak.


Orion kemudian beralih memandangi daratan yang berada jauh di depannya. Sangat luas sehingga ujungnya saja tidak terlihat sama sekali.


“Akh!” Nyaris Orion terjatuh usai kakinya terpeleset oleh tanah yang licin. Ia berpegangan pada pintu besi itu dengan setengah tubuh yang setengah masuk ke dalam.


“Aku ingin sekali masuk ke bawah. Tapi tidak terlihat apa-apa. Haruskah aku membuat api kecil?”


Tap!


Orion menjatuhkan diri setelah lama berpikir. Ia berada di dalam, beruntung tidak terlalu dalam atau tinggi. Orion kemudian berjalan sembari membuka jas sehingga lengan kanannya terbuka.


“Kalau Api Abadi ini cukup, 'kan? Jadi tidak termasuk menggunakan kekuatan itu juga karena ini memang sudah permanen,” celetuk Orion berbicara sendiri.


Hal yang ia ketahui sekarang, ternyata tempat ini semacam bunker dan sejenisnya. Masuk jauh lebih ke dalam, namun tidak ada apa-apa yang terlihat kecuali jalanan dan sedikit udara.


Usai berjalan selama 1 jam lamanya, Orion menemukan jalan lain, tembus menuju jalan keluar yang tidak terbayang.


Zrash!


Keluar dari sana, dirinya disambut perairan laut yang membentang luas. Ombak terus bergerak, menjulang tinggi dan tak ada habisnya gelombang air laut bergerak sesuai arah angin.


“Seperti jalan dari selokan besar. Tapi kalau sudah mencapai garis pantai, harusnya Mahanta ada di—”


Orion menoleh ke sisi kanan dan kiri sembari bertanya-tanya di mana keberadaan Mahanta saat itu, hingga suatu waktu kalimatnya terhenti karena menemukan kabut yang sama lagi.


Drap! Drap!


Tanpa ragu, langkahnya menuju ke arah kabut itu. Lantaran ada beberapa bayangan yang terlihat dari balik kabut itu, meyakini bahwa ada Mahanta di sana, maka dari Orion pun tak ragu mendekat.


“Mahanta!”


Wwuut!


Pisau angin melewati atas kepala Orion hingga memotong kabut menjadi dua bagian. Sontak, Orion menoleh ke belakang.


“Siapa?!” Kaget sekaligus panik. Tetapi tak seorang pun terlihat di kedua matanya. Seolah yang barusan adalah halusinasi semata.


“Mahanta?! Kau di mana?” Orion kembali melihat ke arah kabut yang sudah berada dekat dengannya.


Setelah beberapa saat tuk menunggu jawaban dari Mahanta yang sia-sia, Orion lantas menerjang kabut itu seraya mengulurkan tangan ke arah siluet seorang pria di sana.


Dalam sekejap, sosok yang berada di depan Orion menghilang bagai kabut dan telah menyatu. Ia terdiam dalam kebingungan, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Suara dari ombak air laut pun terdengar samar-samar, tak sekeras sebelum ia masuk ke dalam kabut. Seolah kabut ini menyerupai dinding kedap suara.


“Mahanta, jawab aku?! Atau siapa kau?”


Fokusnya terpecah dari satu sisi ke sisi, sekelebat bayangan melesat dari samping, depan, belakang bahkan dari atas kepala Orion sendiri. Tidak begitu jelas siapa atau apa bayangan itu, tapi yang pasti perasaannya memburuk setelah masuk ke tengah-tengah kabut.


Srak! Srak!


Langkah kaki menyeret di atas pasir. Suara-suara itu cukup mengganggu pikiran Orion yang tengah dalam kebingungan. Lambat laun suara langkah kaki itu semakin terdengar keras.


Orion melangkah mundur, namun bukannya keluar dari kabut. Setelah menoleh ke belakang, kabutnya terlihat meluas. Telah meluas ke seluruh pesisir pantai yang menyeramkan.


“Pejuang NED? Siapa? Ck.” Orion berdecak kesal, sama sekali tidak bisa dimengerti.


Syat!


Sembari menekan area luka Orion berkata, “Aku tidak tahu siapa dirimu! Hei! Perlihatkan siapa dirimu, atau aku akan melakukan sesuatu pada kabut ini!”


Klutak, klutuk.


Seseorang pria muncul sembari mengunyah sesuatu yang keras dalam mulutnya. Ia berpakaian serba hitam dengan wajah yang tak berbentuk seolah ia bukan manusia.


“Kau memanggilku?” Pria itu bertanya, berhenti dan menatap Orion.


Orion sama sekali tidak merespon saking terkejutnya. Ia membisu sejadi-jadinya, seraya memikirkan siapa pria di hadapannya sekarang.


“Oh, atau kau ingin aku lempar ke lautan?” Pria itu kembali berbicara seraya menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya.


“Aku tidak tahu siapa kau. Tapi mungkin kau lah yang sedang aku cari, hei, apakah kau yang memiliki kabut ini?” tanya Orion seraya mengepalkan tangan kirinya.


“Kabut? Ya, bisa dibilang begitu. Aku menggunakan ini untuk membunuh semuanya,” ujar pria itu tersenyum lebar.


“Kalau begitu, kau pernah bertemu dengan seorang pria bertubuh besar? Rambutnya hitam.” Tak begitu peduli, ia memilih untuk bertanya hal lain lagi.


Kabut menutupi pandangan Orion, dalam sekejap begitu kabut yang berada di hadapannya itu menghilang, pria dengan sosok tak jelas tiba-tiba berada tepat di depan wajah Orion begitu dekat. Jarak di antara mereka sangatlah dekat.


“Oh, pria itu. Kalau tak salah dengar juga, kau memanggilnya Mahanta ya?”


Dengan tergagap lantas menjawab, “Y-ya.”


Setelah beberapa saat, pria itu terdiam sembari menoleh ke sembarang arah. Lantas membalikkan badan dan pergi.


Saat berada jauh dari Orion ia berkata, “Aku tidak tahu dan aku tidak peduli.”


Perangai licik, bengis itu nampak sekilas dari balik kabut sebelum menghilangkan sosok tersebut. Tak berselang lama kemudian, pisau-pisau angin kembali menyerang Orion tanpa ampun.


Orion terus berlari dari segala sisi, berusaha mati-matian untuk terhindar dari semua serangan itu. Sedangkan pisau angin yang mengarah ke sisi kanan, semuanya lenyap begitu disentuh oleh api Abadi.


“Dasar, ini juga ulah pria itu ya! Hei! Katakan di mana dia?! Aku tahu kau yang melakukannya!” teriak Orion yang terus berlari menghindar seraya mencari pria itu dalam pandangannya.


Beruntungnya Orion keluar dari dalam kabut. Namun tidak keluar menuju ke arah belakang pantai justru ia dihadapkan oleh ombak laut yang meninggi.


ZRAAASH!


Hitungan detik, ombak menghantam diri Orion hingga menghanyutkannya ke lautan lepas. Terlepas ia kesulitan bergerak karena gelombang laut mengamuk, ia pun kesulitan untuk berenang ke permukaan.


Bahkan setelah ke permukaan juga, Orion masih kesulitan.


Splash! Splash!


Dua pisau angin menyayat tubuh Orion di tengah ombak. Ia nyaris kehilangan keseimbangan serta keasadaran yang telah ia pertahankan susah payah.


“Siapa orang itu? Kenapa dia terus menyerangku!”


Kemudian datang lagi satu pisau angin yang cukup besar. Membelah permukaan laut membuat Orion tenggelam di sana. Pria yang menyerang Orion saat ini pun tersenyum dengan puas.


“Pria yang malang. Padahal sudah banyak peringatan dengan banyak mayat di sana.”


Pria itu tidak tahu. Bahwa Orion masih hidup, meski tenggelam hingga ke bagian bawah laut, Orion membakar tubuhnya agar tetap sadarkan diri. Lalu ia berenang di kedalaman laut hingga menyentuh pesisir pantai di bagian atas.


“Hah, hah, hah ...aku menggunakannya.”


Orion menatap kedua telapak tangannya yang gemetar kedinginan. Napas yang berat semakin ia merasa ketakutan hanya karena telah menggunakan kekuatannya. Uap panas dan dingin bercampur di sekujur tubuhnya sekarang.