
Hari semakin siang dan berbagai pertarungan sudah dimulai sejak pagi tadi. Tak ada yang mengalah namun juga selalu sengit. Setiap detik yang dihabiskan untuk bernapas, bergerak, fokus lalu dan hal-hal lainnya kini diperkuat.
Walau sepertinya Gista dkk terlihat akan kalah di pertarungan yang entah ke berapa kalinya mereka saling bertempur, namun tak ada kata menyerah sebelum jiwa dan raga mereka hancur. Yang berarti akhir riwayat mereka akan digantungkan di atas kepala, mengingatkan betapa pentingnya menahan bawahan Chameleon demi merubuhkan pondasi dari kelompok jahat itu.
“CHAMELEON!!”
Gista dibuat geram, kesal, amarah meledak-ledak dalam hati dan berbuah jeritan penuh emosional. Karena kekuatannya yang sulit diterka, dan tidak masuk akal.
Mereka seperti melawan sosok yang bukan manusia, melainkan Iblis!
Mahanta, Ketua Meera dan lain-lainnya masih berjuang keras dalam medan pertempuran mereka masing-masing. Darah? Keringat? Semua hal itu sudah menjadi kebiasaan, selama masih bergerak maka mereka akan bergerak.
Lalu, Ketua Irawan sebelumnya telah menggiring sekitar 2-3 bawahan Chameleon langsung. Tapi sepertinya ia kesulitan karena ada orang nomor dua di sini.
Sementara yang paling lemah namun merepotkan justru berada di atas mereka semua. Ketua Irawan memicingkan mata ke arah si Pemanah, namun fokusnya masih berada di dalam pikiran tuk melawan yang dua ini.
“Sepertinya dia akan melakukan sesuatu, nih. Gawat dong.”
Dalam pertarungannya, meski terlihat ia tidak serius tapi beginilah ia. Ketua Irawan membagi perhatiannya pada beberapa musuh serta rekannya terutama Gista.
Namun hal yang paling tidak ia inginkan lolos sekarang telah lolos, seorang Pemanah handal yang direkrut oleh Chameleon. Entah siapa nama dari anak muda itu tengah bersiap tuk membidik. Masih belum jelas, ia akan membidik ke arah mana karena posisi busurnya lurus dengan tangannya ke depan.
“Runo, perhatikan orang yang berada di atas!”
Runo reflek mendongakkan kepalanya begitu disuruh oleh Gista. Tampaknya kedua orang itu sudah menyadari adanya keberadaan sosok musuh lain yang lepas dari pengawasan.
“Pemanah akan membidik busurnya ...entah ke mana,” ucap Runo.
“Dia pasti akan membidiknya ke atau kita. Berhati-hatilah!”
Tak hanya Ketua Irawan, Gista, akhirnya beberapa lainnya sudah mulai menyadari keberadaan pemanah tersebut.
“Kita harus menghindar?”
“Kau ...lindungilah aku!”
Runo langsung gugup, tiba-tiba saja ia diperintah untuk melindunginya sementara Gista berhadapan dengan perisai hidup dan Chameleon. Wajar kalau Runo gugup secara ini pertempuran pertama kalinya dalam seumur hidup.
“Ba-baik!” Dengan ragu ia menerimanya.
Walau sebenarnya Gista sendiri bisa melakukannya tapi ia sengaja agar Runo dapat memakai kekuatannya sebagaimana ia harus melakukan itu.
Pemanah itu akhirnya melepaskan beberapa anak panah yang melesat ke berbeda arah satu sama lain. Sebelah barat, Mahanta, barat daya bagian Ketua Meera lalu Ketua Irawan, Gista dan Ramon.
Mereka semua yang sudah menyadari hal itu, lantas segera menyingkirkannya. Tak hanya satu-dua anak panah, justru terhitung lebih dari jari-jemari yang nyaris menghujam tubuh para anggota NED.
Krak!
Satu persatu menangkis anak panah, berujung kerepotan karena 4-5 anak panah sekaligus datang ke arah mereka. Tak terkecuali dengan Ketua Meera yang hanya dapat menghindar dari satu anak panah.
Karena kepalanya masih pusing, fokusnya jadi pecah, tapi beruntung karena seseorang menyelamatkannya dengan cepat dari jarak jauh.
“Eh?”
Puluhan anak panah mengincar Ketua Meera lagi, tapi dalam sekejap semua anak panah itu hancur terbagi.
Bagian Gista dan Ketua Irawan cukup banyak, mereka dirugikan karena posisinya yang lebih dekat.
Namun beruntung karena keduanya masih bisa mengelak, terutama Ketua Irawan yang melawan Hendrik sekarang.
“Hei, apakah orang yang di belakangmu itu tidak akan ikut bertarung? Apa dia takut melawanku, hei?” ujar Ketua Irawan berniat memprovokasi.
Terlihat bersemangat di luar tapi tiada seorang pun yang tahu apa di dalam pikirannya saat ini.
'Cih, aku kesulitan menangani mereka berdua. Tapi kalau menjauhinya tidak akan jadi masalah. Andai semudah itu, sudah aku lakukan sejak tadi,' gerutu Ketua Irawan dalam batin.
Layaknya bermuka dua, Ketua Irawan direpotkan juga oleh Pemanah yang telah kembali mempersiapkan beberapa anak panah lagi, ia akan membidik ke mana? Tentu saja incarannya masih sama, atau mungkin yang lebih lemah lagi.
“Takkan kubiarkan!”
Berpindah haluan, Ketua Irawan menggunakan gundukan tanah yang semakin menjulang tinggi tuk sampai ke atas sana dengan cepat. Namun tentunya Hendrik dan Iki akan bergerak tuk menghalanginya.
“Tadi kau bertanya kenapa Mr. Iki tidak ikut bergerak bukan? Lalu kenapa malah kau yang lari?” celoteh, ejek Hendrik kepadanya.
“Bicaranya nanti saja. Sampai jumpa di alam baka ya!” sahut Ketua Irawan sambil melambaikan tangan.
Baru saja bilang sok, Ketua Irawan agaknya mulai terhambat sekarang. Ini ulah Iki, sesuatu menariknya ke bawah namun kekuatannya seolah tak kasat mata.
“Aku berpikir kekuatannya seperti Endaru, tapi menurut perkataan Ketua Raiya, dia pengguna kekuatan ruang hampa,” gumam Ketua Irawan yang masih bertahan di ujung gundukan tanahnya.
Gerakan pada gundukan tanah Ketua Irawan terhenti saat itu, ia kesulitan untuk menggerakkannya karena kekuatan Iki yang seolah akan menyerapnya dari bawah. Seperti daya tarik gravitasi alami, tapi ini lebih mirip dengan magnet berkutub kuat.
“Ketua Irawan! Sepertinya Anda kesusahan?!” teriak Ramon dari kejauhan.
“Hm? Ah, hei! Jangan dekat-dekat denganku, kau bisa mati lebih cepat, nak!” seru Ketua Irawan yang kemudian membuat jalanan di sekitar Ramon bergerak ke atas.
Ketua Irawan membuat perisai dadakan agar Ramon tak ikut terseret ke sana, karena posisi di antara mereka justru lebih dekat.
“Kalau begitu terus takkan ada habisnya. Tadi kekuatan yang satunya apa ya?” gumam Ketua Irawan, berpikir sejenak sementara jari-jemarinya tertanam ke gundukan tanah yang telah ia buat agar tubuhnya tak terseret.
“Sepertinya dia punya sesuatu untuk dipamerkan. Kalau begini, nanti dia akan semakin melunjak,” ucap Iki.
“Ya, dia jelas sekali mengincar Bao,” ucap Hendrik.
Iki mulai kembali menyerang. Mula-mula serangan dari bawah tuk menyeret Ketua Irawan turun, tapi karena usahanya sia-sia, ia kemudian beralih menggunakan skill terkuatnya.
“Black Hole!” Sembari menyebut, benda yang disebut Black Hole telah datang menampakkan wujudnya di hadapan Ketua Irawan langsung.
“Celaka!” sentak Ketua Irawan terkejut, ia reflek menghancurkan gundukan tanahnya lalu turun. Sebagai ganti apa yang hendak diserapnya, Ketua Irawan menggunakan gundukan tanah itu akan Black Hole menyerapnya.
Tak menunggu lama-lama lagi, Ketua Irawan langsung mengincar dua musuh di belakangnya. Dua gundukan tanah dengan ujung beruncing datang tuk menusuk dari bawah tanah. Persis di bawah pijakan kaki mereka. Namun sayang, reflek mereka sangat bagus. Keduanya langsung melompat mundur.
“He, tanpa tahu seseorang muncul. Kalian meremehkan anak magang itu loh,” ucap Ketua Irawan tersenyum.
Sementara mereka berdua akan tertahan oleh kabut berasap Ramon, Ketua Irawan melesat kembali tuk mengincar si Pemanah.
***
Sifatnya yang keras kepala dan berisik itu membuatnya sulit dipercaya bahwa ia memiliki kekuatan pertahanan yang lembut, tipis namun lebih mematikan dari pertahanan manapun.
Kabut berasap yang terbilang sangat tipis, keberadaan Ramon membaur jadi satu dengan kabut itu sendiri. Berbeda dengan Mahanta yang menciptakan ilusi, Ramon adalah kabut itu sendiri.
Panas, dingin dan mematikan, itulah sifat asli dari kabut miliknya. Ia mengepung keberadaan bawahan Chameleon langsung dalam sekejap begitu keduanya bergerak mundur dan masuk ke perangkap.
“Kabut macam apa ini?” tanya Hendrik sejenak diam.
“Hei, jangan katakan ini padaku ...blergh!”
Mendadak Iki memuntahkan darah segar. Apa yang terjadi? Hendrik pun bingung dalam situasi ini, ia juga sulit menghindar bahkan sekadar jalan untuk keluar dari kabut yang belum mereka sadari itu adalah Ramon, musuh mereka saja sudah sangat susah. Mereka terbatuk-batuk mengeluarkan darah dan kemudian seluruh panca indra yang dimiliki akan berkurang fungsinya dalam waktu singkat.
Ini bukanlah kabut beracun, namun kabut yang menghasilkan panas, dingin dan mematikan. Sifat kabut diremehkan, tapi jika terlalu lama menghirupnya inilah yang disebut "mematikan"
Sementara mereka berdua akan tertahan oleh kabut berasap Ramon, Ketua Irawan melesat kembali tuk mengincar si Pemanah.
“Hoi! Jangan mengincar lawan hanya dengan berdiri di atas kami semua dong!” teriak Ketua Irawan yang kemudian menyerang langsung.
Mengarahkan tanah keras yang terbentuk seperti beberapa bilah pedang dalam satu gagang, senjata alami terbentuk itu kini melesat cepat menuju si Pemanah.
Dan tanpa ampun, langsung menjatuhkan Pemanah bersamaan dengan menghamburkan anak panah yang sudah susah payah disiapkan.
“Bagus!”
Sesaat sebelum turun kembali ke bawah, Ketua Irawan menoleh ke kiri. Ia melihat apa yang terjadi pada Gista dan Chameleon. Sesuai yang ia duga sebelum ini, bahwa keduanya masih belum dapat menyentuh satu sama lain. Mereka bertarung secara jarak jauh tapi kemudian ia menyadari ada yang salah.
“Kenapa ada banyak orang memiliki kekuatan? Kupikir bawahan Chameleon yang rendahan semuanya telah dilenyapkan? Apa aku salah?”
Sejenak Ketua Irawan berpikir pendek begitu, tetapi setelah akhirnya ia meneliliti dengan baik, ia pun mengerti.
“Jangan-jangan, sesuatu yang belum diketahui Ketua Arutala benar-benar ada?”
Situasi makin memanas di setiap pertarungan, entah akan lanjut sampai kapan namun jika memikirkan stamina, tentu semua orang akan letih tak lama lagi.
“Chameleon, dia benar-benar monster yang sulit dikendalikan. Tidak, dia seharusnya dimusnahkan!”
Orang-orang itu adalah boneka. Inilah sesuatu yang pernah dibicarakan oleh Gista sebelumnya. Tentang Chameleon yang mungkin saja akan mengeluarkan kekuatan barunya, dan sekarang menjadi kenyataan. Hal yang paling ditakutkan adalah sekarang.
“Ketua Arutala, aku akan segera datang kemari,” katanya sembari turun ke bawah.
“Sekarang!” seru Iki.
Hendrik menggangguk, lantas dari belakang Ketua Irawan terdapat sesuatu yang mengerikan.
“Wah?!” Terlambat menyadarinya, sehingga Ketua Irawan pun terlahap oleh lumpur milik Hendrik. Dan saat itulah pria jangkung tersebut baru mengingat kekuatan Hendrik, tapi semua sudah terlambat.
“Oh, Hendrik boleh juga,” ucap Jinan memuji.
“Kau tidak akan keluar bukan? Tetaplah di sini karena semua musuh kita tidak menyadari keberadaanmu, maka aku akan menggunakan hal itu demi pernyergapan.”
“Tuan Chameleon, Anda ingin aku menjadi kunci penting. Tapi siapa yang akan kita tangkap? Rasanya tidak mungkin jika wanita itu juga?” pikir Jinan, bermaksud menyebut Gista Arutala.
“Gista terlalu kuat untuk kita. Tapi dia lebih lemah dari Endaru bukan?”
“Ya, saya setuju tapi kalau soal kelemahan, lebih lemah Endaru, Tuan.”
Sesuai yang dikatakan oleh mereka berdua. Gista terlalu kuat karena tidak pernah sekalipun memperlihatkan celah, kelemahannya seperti tidak ada. Bahkan Gista takkan ragu tuk menyerang penduduk yang kini menjadi boneka Chameleon.
Sementara Endaru yang setingkat lebih kuat dari Gista justru memiliki kelemahan fatal yakni kegelapan yang sempit.
“Endaru sudah berakhir. Sisanya hanya perlu menangkap mereka tanpa wanita itu benar? Tuan?”
“Ya, kau cepat mengerti. Terutama lelaki itu.” Chameleon menunjuk dengan dagunya, mengarah pada Runo. “Tapi ingatlah, belum saatnya melakukan hal itu,” tutup Chameleon.
“Baik, dimengerti.”
***
“Ketua Irawan!!” Jeritan Ramon terdengar menggaung.
Kesadaran Ketua Irawan pun secara tak langsung kembali dan mulai bernapas setelah mendengar jeritan Ramon yang samar-samar terdengar. Ia lantas keluar dari kubangan lumpur.
“Hei, tidurlah saja!” Hendrik berbicara, menghantam Ketua Irawan menggunakan lumpurnya lagi.
“Ah, gawat! Bagaimana ini?” Ramon hanya berotak otot, begitu serangannya tak berefek lagi dengan musuh, ia langsung di luar kendali. Pikirannya sedikit kosong.
“Hei, nak. Kau yakin akan membiarkan pria itu menghajar seniormu?” Iki angkat bicara pada Ramon, seraya menunjuk Ketua Irawan yang tengah berusaha meloloskan diri dari sana.
“Kau sendiri, sedang apa?!”
Tanpa berpikir panjang lagi, Ramon datang dengan tubuh fisiknya, menyerang dengan senjata asli berupa sebilah belati. Namun dengan mudahnya Iki menghalau serangan lambat itu, lalu membalas serangan dengan tinju ke ulu hati.
“Ugh, sa-sakit ...padahal hanya pukulan biasa,” gerutu Ramon mengerang kesakitan sembari memegang ulu hatinya.
Ia sempat tak bernapas karena bagian fatal terserang telak tanpa pertahanan sedikitpun. Ramon sadar ia terlalu ceroboh, namun karena berotak kosong, kesalahan itu kembali ia ulangi.
Lalu, di saat yang sama. Hendrik melemahkan Ketua Irawan secara perlahan. Lumpur kotor itu ********** hingga tak bertenaga. Kadang-kadang ia hilang kesadaran dan berakhir tak dapat bernapas jika dibiarkan begitu saja, maka tamatlah riwayat Ketua Irawan.
“Chameleon itu ...dia menggunakan trik apa sebenarnya? Kenapa selalu saja orang-orang ini terus bergerak?” gerutu Gista.
Saat itu Gista memantau situasi di dekatnya, menyadari rekannya dalam bahaya, segera ia memutuskan tuk membantunya secara tak langsung.
“Ramon!!” panggil Gista.
Hanya sekejap saja Gista mendorong tubuh Iki dengan batu es, segera Ramon menyadari tugasnya apa, bergegas ia pergi tuk menyelamatkan Ketua Irawan.
“Kali ini aku takkan mengecewakan meski aku hanya anak magang!!” teriak Ramon membara seraya menendang wajah Hendrik yang kebetulan menoleh ke arahnya, lantas Hendrik pun terdorong hingga tersungkur ke jalanan dengan memalukan.
“Ketua Irawan!”
“Hah! Ya! Aku baik-baik saja,” jawab Ketua Irawan yang akhirnya sadarkan diri juga.
“Saya akan mengurus pria lumpur!” ujarnya tersenyum lantas berlalu pergi.