ORION

ORION
Orion Vs Endaru



☠BAB 22 Orion VS Endaru


Tubuh Orion yang semula berwujud anak kecil perlahan berubah menjadi wujud seorang pria dewasa. Orion kembali ke tubuh semulanya, yang berusia 30 tahun. Pakaian yang ia kenakan semua telah menjadi abu tanpa sisa. Semilir angin membawa abu itu pergi.


Terlihat luka jahitan di setiap bagian anggota tubuh termasuk juga bagian kepala. Warna kehitaman menutupi sebagian tubuhnya yang bertelanjang bulat, sosok dari Orion tak jelas bagaimana lagi sekarang.


Luka yang seperti dijahit itu, ia dapatkan saat Orion dibunuh. Yang di mana setiap anggota tubuhnya termutilasi. Orion seakan-akan telah kembali ke awal. Namun Orion sendiri tidak mengerti akan hal ini.


“Anak ini berubah menjadi orang dewasa? Kenapa bisa?!”


Endaru syok akan apa yang ia lihat saat ini. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melihat Orion yang dapat berdiri seolah kekuatan Endaru sama sekali tak berpengaruh padanya.


“Siapa kau sebenarnya!?” tanya Endaru dengan suara keras.


“Bisakah aku bicara sebentar denganmu. Ini ada kaitannya dengan darah langka ...aku rasa,” ucap Orion dengan wajah serius.


Kali ini Orion takkan bersikap lembut pada anak muda semacam Endaru karena sikap sombongnya dan selalu merasa ia benar. Endaru juga merasa tak harus mendengarkan omongan Orion. Itulah mengapa Orion takkan merasa sungkan lagi.


“Sekalipun kau adalah Pahlawan Kota. Bukankah sudah sewajarnya kau bersikap lebih hormat dari orang yang lebih tua darimu?” Orion menyindir perbuatan Endaru.


“Kau tahu apa?! Orang dewasa semena-mena ikut campur urusanku dan selalu mengaturku ini dan itu. Memangnya aku harus bersikap hormat pada orang yang memperlakukan kasar!? Hah!” Bukannya memikirkan kembali apa yang menjadi kesalahannya, Endaru justru semakin meninggikan suaranya.


Endaru sudah termakan emosi negatif lebih dulu. Orion pun menghela napas tanda sudah lelah akan sikap Endaru padanya saat ini.


Brak! Kakinya yang berpijak membuat lantai hancur, mungkin sebentar lagi akan hancur dan membuatnya terjatuh jika itu terus berlanjut seiring berjalannya waktu.


Endaru terus mengendalikan gravitasi pada Orion yang terus memaksanya ke bawah. Namun Orion menahannya hingga tubuh itu gemetaran. Orion pula menahan amarah dan bersikap lebih tenang agar tidak terlarut dalam emosi Endaru saat ini.


Dengan api yang berwarna kemerahan serta luka yang diakibatkan tekanan Endaru, Orion mendekati Endaru dengan satu langkah yang besar. Seraya mengeratkan kepalan pada tinju, kekuatan api itu berputar ke dalam dan meninju tubuh Endaru.


“Urgh! Bisa-bisanya kau lepas dari kekuatanku?!” pekik Endaru dengan tubuh sempoyongan menahan luka bakar di bagian perutnya.


Saat Orion kembali melancarkan serangan, Endaru terburu-buru untuk melepaskan salah satu sarung tangannya. Dan kemudian memegang kepala Orion, tekanan semakin terasa memberat hingga Orion kembali bersimpuh.


ZUUUUNG!


Meninggalkan jejak di lantai yang pecah, ruangan ini bergetar sampai ke luar. Kekuatan Endaru berbeda dengan sebelumnya, ini semakin berat dan sulit untuk Orion.


“Aku sendiri tidak tahu kenapa jadi begini, makanya ...” ucap Orion dengan napas berat seraya menghirup napas dalam-dalam.


“MARI KITA BICARA SEBENTAR, DASAR ANAK BODOH!” sambung Orion dengan suara keras.


Api kian membara besar, darah yang menetes seolah menjadi bahan bakar untuk kekuatan Orion. Menyengat panas hingga Endaru yang berada di dekatnya pun perlahan memundurkan langkah.


Lagi-lagi, Endaru melepas sarung tangannya, ia membuat tekanan yang berkali-kali lipat dari sebelum ini. Orion merasakan itu namun tubuhnya terus bangkit dengan tertatih-tatih. Darah dari setiap luka kembali mengalir dengan deras, terutama di bagian kedua tangannya yang ikut terbakar karena kekuatan apinya sendiri.


Melancarkan serangan secara bersamaan. Antara tekanan dan pedang yang membara. Keduanya sangat berfokus pada detik-detik terakhir.


“Memangnya orang tua yang sok tahu sepertimu ingin bicara apa?!”


Jleb! Dalam waktu singkat, pedang Orion menembus dinding tepat di samping kepala Endaru. Terlihat Endaru menyodorkan telapak tangan ke arah pedang, rupanya karena dialah arah pedang ini jadi meleset.


“Anak muda, kau ingin tahu apa yang ingin kubicarakan padamu? Aku dengar dari Gista Arutala, kalau dia pernah melukaimu dan berkata bahwa aku dan kau itu sama,” ucap Orion.


“Hah?! Apa maksudmu?” Endaru semakin meninggikan suara.


“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya itu berhubungan dengan darah langka. Darah penghubung jiwa dan raga. Apakah aku salah?”


Endaru menelan ludah serta menatapnya begitu tajam, Orion pun mengerti bahwa Endaru enggan berbicara sesuatu lagi. Ia membuat pedang api itu menghilang dalam sekejap, lantas mengambil jarak yang cukup jauh darinya.


“Mau tak mau aku harus membungkam mulutmu, anak muda!”


Sekali lagi api yang tidak mudah dipadamkan kini kembali membesar. Bara api membuat ruangan ini semakin panas. Orion menyebarkan api ke sekitar Endaru dan membuat dinding di antara mereka.


Yang disebut teknik memperluas jangkauan serang. Memblokir serangan serta membentengi diri dari lawan. Kali pertama Orion melakukannya adalah hari ini, kali pertama membuat kekuatan Orion melonjak pesat pun berkat Pahlawan Kota.


“Aku beruntung karena bertemu denganmu, Pahlawan Kota. Nah, sekarang, tolong katakan apa yang aku dengar dari Gista itu ...apakah benar?” ucap Orion seraya mengulurkan kedua tangan ke depan. Ia menahan dinding api itu agar semakin membuat Endaru sesak napas.


Berharap Endaru akan menyerah dan duduk bertekuk lutut di sana namun Endaru justru menatap Orion dengan sorot mata kebencian, itu terlihat jelas dari balik dinding api yang berkobar.


Sekali lagi, Endaru mengeluarkan kekuatannya. Mengayunkan kedua tangannya dan membuat tubuh Orion kehilangan keseimbangan. Serta dinding api pun mulai goyah.


“Tidak usah berbicara yang tidak perlu. Karena aku akan menghabisimu saat ini juga!” amuk Endaru.


Bangunan hotel bergetar lebih kuat. Gravitasi yang dikendalikan di lantai itu, orang-orang yang berada di lantai tersebut pun turut merasakan dampaknya. Ketakutan merajalela akibat dampak dari mengendalikan gravitasi dan membuat tekanan udara semakin rendah.


Berbeda dengan lantai 16 yang terpengaruh akan kekuatan Endaru. Lain lagi yang berada di bawahnya ataupun yang lebih ke atas, mereka hanya merasakan getaran dan berpikir ini adalah suatu bencana. Sebuah gempa, yang membuat bumi berguncang.


Para Ketua Grup bergidik merinding merasakan kekuatan Pahlawan Kota yang terus meningkat seiring waktu. Gista dan Mahanta pula tercengang akan kekuatan tersebut.


“Nona Gista, apakah ini karena Pahlawan Kota?!” tanya Mahanta dengan panik.


Setelah menaruh cangkir teh yang barusan ia minum, Gista hanya menganggukkan kepala dengan santai.