ORION

ORION
Perasaan Tidak Nyaman



Di waktu yang sama, Orion dan Endaru masih berada di ruangan bawah tanah. Mereka mengantisipasi akan sesuatu yang terjadi di luar. Setelah mendengar serta merasakan guncangan yang sedikit kuat, mereka kembali berwaspada.


Terdengar suara langkah kaki di atas. Endaru menghentikan langkah Orion yang hendak memeriksa ke atas sana.


“Apa yang kau lakukan?”


“Diam saja. Itu mungkin Caraka, dia datang mencarimu tuh.”


“Kalau benar, kenapa menghalangiku? Biarkan aku bertemu dengannya, karena Dr. Eka sebelumnya juga pernah bilang bahwa dia adalah rekan Chameleon, 'kan?”


“Ya, tapi aku merasakan firasat buruk.”


“Aku tahu. Aku pun juga begitu, Endaru.”


Di atas sana, Caraka betul-betul datang sesuai pernyataan Endaru. Ia tengah berdiam diri seraya melihat keadaan di ruangan terpisah itu.


Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bawahannya tengah terbaring lemas tak berdaya. Tak semua lukanya sembuh lantaran ia tak sadarkan diri.


“Astaga, apa yang dia lakukan padamu? Sampai membuat wajahmu begini.”


Luka itu bukan luka biasa. Setengah tengkorak kepalanya terlihat begitu jelas, kalau itu terjadi pada Pejuang NED yang lain mungkin takkan selamat. Lain cerita kalau itu terjadi pada Dr. Eka.


Karena bawahannya memiliki kekuatan penyembuh serta menyerang sekaligus. Kekuatan Dr. Eka tergolong ke tipe monster, sama seperti dirinya.


“Khu ...khu ...khu ...apa kau membocorkannya pada Orion, Dr. Eka? Jangan bilang kau mencoba untuk mengendalikan Orion sendiri?”


Ia terkikik seraya menutupi setengah wajahnya. Mendengar tawanya yang mengerikan, seketika Orion dan Endaru bergidik merinding.


“Hei, apa kau dengar itu?” tanya Endaru pada Orion.


“Ya, aku mendengarnya. Dan itu cukup mengerikan. Aku akan mengundur niatku bertemu dengannya sebentar, karena mungkin timing saat ini tidak pas.”


Orion kemudian pergi ke salah satu rak yang ada di belakangnya. Melihat ke berbagai arah, dan kemudian menemukan buku kuno yang sebelumnya ia baca.


“Dia bilang dia sedang mencari api abadi. Tapi setiap kekuatan yang dimiliki Pejuang NED itu tidak semua sama. Kekuatan api pun tidak banyak, dan belum tentu itu api abadi. Termasuk aku.”


“Apa yang kau lakukan dengan buku itu?” tanya Endaru dengan berbisik.


Orion selalu membalik setiap halaman yang ada pada buku tersebut dengan wajah serius. Endaru tak mengerti kenapa Orion sangat antusias terutama mengenai Api Abadi.


“Segitu sukanya?”


“Ini kulakukan karena kita berhadapan dengan Caraka. Coba pikir, kalau aku mengatakan bahwa aku memiliki Api Abadi, apa yang akan dia lakukan?”


“Kalau dia benar-benar mengincar itu, maka mungkin dia akan membuatmu tetap hidup,” pikir Endaru.


“Nah, itu yang kuinginkan.”


“Dasar orang tua. Bahkan tanpa darah penghubung jiwa dan raga pun, aku tetap yakin kau akan mengutamakan keselamatanmu sendiri,” celetuk Endaru dengan pedas.


“Tidak. Aku sangat berubah, kau tahu. Dari yang ingin mati menjadi ingin hidup karena darah ini. Entah beruntung atau sial,” sahut Orion.


Dap! Orion menutup buku itu lalu memberikannya pada Endaru agar menyimpan buku itu dengan baik. Karena ia akan keluar dari ruangan bawah tanah.


“Kau tidak bisa pergi sendirian!”


“Jangan berteriak. Nanti kalau situasinya terdesak, baru kau keluar dari sini,” ucap Orion dengan wajah santai seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir.


Menaiki beberapa anak tangga saja sudah terasa auranya sekuat apa. Caraka unjuk diri dengan terang-terangan, bahkan ketika Orion menunjukkan batang hidungnya, Caraka tetap duduk sambil menatapnya sok ramah.


Entah apa yang Caraka rencanakan, namun situasi ini terlihat sangat gawat. Orion melangkah seraya melirik ke arah Caraka. Sesekali ia menelan ludah seraya berpikir apa yang harus ia lakukan mulai sekarang.


“Kalau begitu saya akan pergi,” kata Orion sambil menundukkan kepala sedikit.


Crak! Crak!


Langkah Orion terhenti saat itu juga. Lantas beberapa yang terlihat berkobar tiba-tiba melesat di depannya dan menancap ke dinding. Jika Orion sudah satu langkah ke depan lagi saja, mungkin ia akan tertusuk.


“Apa ini?” tanya Orion seraya menoleh dan menatapnya heran.


“Aku memang ingin memulangkanmu ke ibumu tapi tidak untuk sekarang,” jawab Caraka.


Ia beranjak dari sana dan kemudian punggungnya mengeluarkan setengah sayap berapi. Orion tersentak melihat itu dan kemudian mengambil sikap berwaspada. Di saat yang sama Endaru pun merasakan hawa keberadaan Caraka yang kian menguat.


“Apa yang terjadi di atas sana?” Endaru bertanya-tanya dengan cemas.


Duar!


Ledakan terdengar begitu keras, ruangan bawah tanah berguncang sekali lagi. Lantaran, karena Caraka menyerang Orion dengan ledakan di tangan kirinya lalu setiap bulu di sayap itu pun juga menghujam setiap waktu.


Dap! Dap!


Orion terdesak, ia mengambil beberapa langkah mundur. Kemudian sebilah pedang di tangan kanannya muncul.


“Apa yang kau lakukan dengan itu?”


Syat! Orion mengayunkannya dan serangan yang membentuk sabit itu menyayat tubuh Caraka hingga darahnya terus mengalir dengan deras.


Caraka sempat terkejut hingga terdorong mundur karena dampak serangan dari Orion dengan bilah yang tajam itu. Wajahnya pun tergores, ia kemudian berhenti melangkah dengan sayap yang masih membentang.


“Hm, sangat tajam sekali. Salah sedikit pun tubuhku akan potong. Sepertinya kau cepat sekali berkembang karena desakan, ya.”


“Ya, begitulah. Tapi kenapa Anda menganggu saya? Sedangkan saya hanya ingin pulang dengan selamat. Apakah Anda ...” Agaknya tenggorokan Orion tersangkut sesuatu sehingga membuatnya berhenti bicara.


“Sepertinya ini akan memburuk. Firasatku buruk. Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,” batin Orion.


Lirikan Caraka menukik tajam mengarahnya. Orion lantas menghindar dengan memalingkan wajah.


“Apakah Anda bermaksud mengambil sesuatu dari saya? Seperti Api Abadi?” sambung Orion.


Caraka tertegun karena Orion mengetahui tujuannya.


“Ya!”


Dan sekali lagi setiap bulu pada setengah sayap berapi itu kembali menyerang Orion yang kemudian berlari menghindarinya.


Terkena sedikit saja pasti akan membuatnya kesakitan serta panas menyengat luar biasa. Lantaran ruangan ini sudah terasa sangat memanas karena api dari kekuatan mereka berdua.


Cruaakk!!


Begitu Orion telah berdekatan dengannya, ia lantas mengayunkan sebilah pedang secara horizontal namun dapat ditangkis oleh Caraka dengan pembentukan api yang cukup padat dan keras.


Semua serangan Orion jadi tidak berarti saat Caraka kembali membentuk apinya seperti itu dan kini semakin besar hingga membentuk sebuah dinding.


Orion melompat mundur sekali lagi, dan sudah tersudutkan dalam ruangan dengan dinding di belakangnya. Dinding api itu lenyap, Caraka pun melesat dengan pedang di tangan kanannya.


Trang!! Kedua bilah mereka pun beradu dengan Orion yang semakin terpojok. Caraka terus mendorongnya dengan sebilah pedang yang lebih panjang, sedangkan Orion berusaha menahan sebilah pedang itu.