
Menghadapi api hijau yang terus membakar tubuhnya, semakin ia murka. Tak terima akan hal ini, ia justru membakar tubuhnya lagi dengan api miliknya sendiri.
Api berwarna jingga terang itu melampaui api kehijauan. Berangsur-angsur menghilang, untuk sesaat Orion merasa lega namun amarahnya masih memuncak.
“Dasar orang sinting. Dia juga ingin membakar bukunya, ya!” pekik Orion seraya memukul-mukul bukunya yang nyaris terbakar.
“Hei, apa yang terjadi padamu?” tanya Endaru terkejut.
Tak hanya Endaru, Erik pula sangat terkejut dengan apa yang barusan ia lihat. Orion baru saja terbakar namun tubuhnya sama sekali tidak terluka. Bahkan memadamkan api dengan api miliknya.
“Anak aneh,” gumam Erik.
Tanpa memperdulikan mereka berdua, Orion kembali membuka setiap halaman pada buku. Ia sekali lagi membaca tulisan yang berisikan informasi tentang darah langka.
Darah penghubung jiwa dan raga, kerap kali disebut darah langka oleh para Pejuang NED. Darah yang dapat menghidupkan sesama. Dan di buku itu tertulis, siapa pun manusia biasa yang meminum darah itu maka efeknya akan menanti.
Tak lain adalah, melihat ingatan pemilik darah dan akan melekat selamanya hingga akhir riwayat. Ingatan itu akan bercampur dengan ingatan pribadi.
Jika dipikir lebih panjang, orang itu bisa saja mati stres karena ingatan.
“Masih sama saja. Dan kalau dipikir lagi, Pejuang NED kebanyakan tak tahu efek ini, ya?” pikir Orion.
Dap! Orion menutup buku kuno itu. Lantas kembali menghadap pada Erik yang masih terduduk di posisinya saat ini.
“Hei, apa yang kau tahu hanyalah keuntungan dari darah langka saja?” tanya Orion pada Erik. Ia sekadar memastikan kembali.
“Ya? Memangnya ada apa? Bukankah darah itu seperti harta karun, memangnya akan ada pengorbanan ketika kita menggunakannya?”
“Sudah kuduga dia tak tahu,” batin Orion seraya berdeham dan memalingkan wajah sebentar.
“Orion, barusan api itu ...” Endaru hendak mengatakan sesuatu tapi kalimatnya terpotong.
“Seperti bajak laut yang mencari harta karun. Mereka akan mengorbankan banyak orang sekaligus waktu yang sudah banyak dihabiskan. Darah langka pun memiliki resiko yang hampir sama,” tutur Orion.
Pada akhirnya Orion sama sekali tak menggubris perkataan Endaru.
“Ada satu hal pertanyaan lagi. Apa kau pernah bertemu dengan Chameleon?” tanya Orion.
Setelah Erik mendengar perkataan Orion sebelumnya, mendadak ia bungkam dalam beberapa waktu. Mungkin tengah berpikir sesuatu yang berkaitan dengan darah langka.
Tetapi setelah Orion kembali bertanya, dan secara mengejutkan pertanyaannya itu terlalu sulit dijawab.
“A-aku tidak tahu,” jawab Erik dengan sedikit terbata-bata.
“Yang benar?” tanya Orion lagi.
“Iya benar. Kalau kau segitu inginnya tahu, kenapa tak bertanya saja pada informan? Ya, ampun. Masih ada ya, yang mencari keberadaan dia.” Erik menggerutu.
“Kalau tidak tahu pun tak apa. Tapi apa yang harusnya aku lakukan jika bertemu Pejuang NED berkeliaran, ya?” ucap Orion sambil memalingkan wajah, sesaat ia melirik Erik.
“Tunggu! Jangan, jangan sampai aku diketahui Nona atau semua anggota Grup Arutala!” pinta Erik dengan berteriak, ia sangat panik.
“Bisa saja sih. Asalkan kau mau menolongku,” ujar Orion yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
Erik menelan ludah, bertapapan dengan anak kecil yang nampak lugu namun kini ia akhirnya mengerti bahwa anak yang berada di hadapannya sangatlah berbahaya.
“Bisa-bisanya anak kecil sepertimu!” teriak Erik.
“Apa yang mau kau lakukan? Menatap Orion seperti itu?” sahut Endaru dengan menatapnya tajam dan hawa di sekitar pun menggelap menyeramkan.
Erik lagi-lagi menelan ludahnya. Kemudian menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh gemetaran. Ia mungkin sudah sangat ketakutan, apalagi ada Pahlawan Kota saat ini.
Erik menganggukkan kepala tanpa menatap wajah mereka berdua. Setelahnya ia kembali menundukkan kepala.
Lalu berkata, “Kau betulan tidak akan memberitahukan keberadaanku pada Grup Arutala, benar?”
“Ya. Tentu saja. Asalkan kau mengikuti apa yang aku minta tadi. Dan jangan sampai kau angkat bicara tentangku juga,” tegas Orion.
“Ba-baiklah.”
“Oh, iya. Satu hal lagi. Ada di mana rumah informan itu?”
Pertukaran pun berlangsung lancar. Setelah Erik memberitahu di mana alamat informan itu, ia pun pergi dengan memegang janjinya. Jika Erik akan membocorkannya, maka cepat atau lambat pun akan ketahuan selama Orion berada di kota yang sama dengannya.
***
Sesaat sebelum kepergian Erik, saat itu Erik nekat meminta sesuatu kepada Orion. Dan topik itu tak jauh dari alasan mengapa ia mengincar darah langka yang ada di diri Orion.
Tentu saja Orion menolaknya dengan keras.
“Kau yakin tidak mau menolong dia?”
“Kenapa kau bertanya begitu,” ketus Orion.
“Karena kau ingin mati, jadi kupikir akan lebih baik kalau kau memberikan sedikit darahmu pada orang yang dia maksud?” pikir Endaru.
“Jangan menggampangkan suatu hal dengan mudah. Ada resiko di balik keberuntungan yang kita dapatkan. Pastikan kau mampu menanggung resiko itu sebelum menerima keberuntungan itu,” celetuk Orion.
“Dasar anak polos. Di luar terlihat tegas tapi di dalam masih lembek,” imbuh Orion menyindir.
“Maaf saja, ya. Karena sifatku dari awal begini,” ujar Endaru.
Sifat Endaru dengan Mahanta benar-benar berbanding terbalik dari luar maupun dalam. Tapi dalam hal pertarungan atau yang berkaitan dengan itu, mereka berdua sama-sama unggul.
Berbeda dengan Orion, pengalaman bertarung sama sekali nol. Namun pikirannya jauh lebih matang dari Endaru, dan lebih sedikit dari Mahanta.
“Ya, aku cukup beruntung,” gumam Orion yang memikirkan kedua orang itu.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Endaru tidak mengerti.
“Tidak ada. Aku lebih baik pulang saja, ah tidak ...aku harus bertemu Mahanta lebih dulu,” ujar Orion seraya membalikkan badan.
“Hei, sebelum pergi, aku ingin bertanya padamu. Apa kau benar-benar berniat mencari Chameleon? Semenjak kemarin, kau selalu menanyakan keberadaannya.”
Langkah Orion terhenti ketika Endaru memanggil lalu menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Ya, tentu saja,” singkat Orion lantas kembali berjalan.
Saat itu, Endaru merasakan sesuatu yang mengalir dalam tubuhnya. Seperti yang biasa ada di dalam setiap tubuh orang, darah. Namun, hal ini sedikit berbeda.
“Apa hanya perasaanku saja, kalau kau semakin ingin cepat mati?”
Endaru mengutarakan isi hatinya begitu saja tentang Orion. Tanpa ragu, tanpa menjeda kalimat bahkan tanpa adanya kebohongan terselip.
Orion tercengang, mendengar bahwa Endaru merasa seperti itu. Seolah-olah Endaru dapat membaca pikirannya, itu mengerikan.
Orion kemudian membalikkan badan dan menghadapnya sambil berkata, “Sok tahu sekali. Kalaupun benar apa urusannya denganmu?”
Sorot mata Orion terkesan tak bersahabat. Ada rasa kesal dan juga ada rasa benci. Sontak, Endaru terdiam tanpa kata dan melihat Orion pergi.
“Mood-nya benar-benar buruk,” gumam Endaru.