
Pria bertubuh tinggi bahkan hampir menyentuh langit-langit lorong datang. Rambutnya sedikit panjang, gaya berpakaiannya hampir terbilang sangat sederhana dengan kaos pendek dan celana panjang.
Tak hanya itu, ia ke pasar memakai sandal. Itulah yang Orion perhatikan selain tingginya.
“Selamat pagi! Wah, sepertinya ada banyak orang di sini ya?”
Setelah pria itu bicara, tampak semua orang yang adalah sesama rekan Fevi muncul dari balik dinding serta beberapa jalan dalam gedung. Mereka semua tampak berwaspada akan kedatangan pria tersebut.
“Salah satu ketua!?”
Orion kaget setelah memastikan siapa pria itu. Wajahnya sedikit asing, namun mengingat tubuh tingginya itu tak salah lagi bahwa pria ini adalah Janu Irawan, kota yang menjadi wilayahnya adalah kota Y-Karta.
“Ketua Irawan? Anda datang kemari?” tanyab Orion dengan heran. Mata Orion masih tertuju padanya dan sempat tak percaya.
“Oh, hai! Orion Sadawira, kita bertemu lagi. Terakhir kali kita bertemu saat kau membuat kekacauan di hotel, ya? Yah, saat itu benar-benar kacau. Untung saja aku tidak ikut-ikutan.”
Cara bicaranya terlalu santai. Orion sesaat memejamkan kedua mata lantas berjalan menuju ke arahnya, namun Ketua Irawan menyuruhnya untuk berhenti.
“Sampai di sana, kita akan bicara!” kata Irawan seraya menunjuk Orion.
Kemudian, para bawahan rekan Chameleon itu beralih pada Ketua Irawan. Mungkin mereka merasakan bahaya dan segera menuntaskan sosok pria yang ada di depannya.
Terlihat mereka saling bertukar pandang lalu mengangguk. Lalu Fevi menatap tajam ke arah Ketua Irawan.
“Sekarang!” pekik Fevi memberi perintah.
Mereka semua adalah Pejuang NED, sama-sama mengeluarkan kekuatan mereka yang diandalkan secara bersamaan. Tertuju pada Ketua Irawan.
“Semua serangan takkan berguna kalau kalian kalah cepat,” ucap Ketua Irawan sembari mengangkat jari telunjuk.
Drak!
Ketika Ketua Irawan mengangkat jari telunjuknya, semua gundukan tanah muncul dan menghajar mereka secara bersamaan. Dan tumbang dalam sekejap.
“Hiya, mereka ceroboh. Mentang-mentang aku sendirian,” celetuk Ketua Irawan.
“Hiya?” gumam Orion menanyakan apa maksud kata pertamanya tadi.
Ketua Irawan menghampiri Orion, setelah ia menjauh dari mereka, semua gundukan tanah itu pun hancur dan lenyap ditelan. Hanya meninggalkan jejak tanah yang sedikit tersisa.
“Beruntung aku ada di pihaknya,” gumam Orion seraya meleburkan kedua senjatanya.
“Hei, Orion!” panggilnya dengan wajah bersemangat.
Wajah sumringah itu kemudian berubah saat melihat ada darah di mulut Orion. Ia kaget sekaligus cemas.
“Kau terluka, bahkan gigimu ompong,” ucapnya bersedih hati.
“Tidak masalah, saya masih bisa bicara walau darahnya terus ketelan,” kata Orion sambil tersenyum.
Perhatian Ketua Irawan sempat terpecah sesaat. Nyaris ia melupakan tujuannya kemari, tidak mungkin jika Ketua Irawan secara kebetulan datang tiba-tiba. Maka Orion pun juga menduga akan hal sesuatu terjadi.
“Anda datang bukan karena kebetulan, benar?” tanya Orion mengenai tujuannya.
“Ah, iya. Aku mencarimu di rumah Nona Arutala tapi katanya kau sedang ke pasar. Singkat saja, kenapa kemarin kau pergi ke kota Y-Karta? Seharusnya kau menemuiku lebih dulu.”
Ternyata ini yang ditanyakan oleh Ketua Irawan. Bagaimana Orion akan menjawabnya? Tatapan Orion padanya, sedikit sepat dan berusaha memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan.
“Saya terlalu sibuk mencari sehingga lupa, karena hari itu saya datang ke kota Y-Karta karena ingin bertemu teman. Maafkan kesopanan saya yang tidak mengunjungi Anda,” ucap Orion sembari menundukkan kepala.
Akhirnya Orion berhasil memutar otak dan mendapatkan jawaban sempurna atas pertanyaannya.
Orion mengalihkan pandangannya selama beberapa waktu, kemudian kembali menatap Ketua Irawan.
“Kalau begitu, saya akan pamit. Karena ada banyak barang yang harus saya beli. Lalu, saya amat berterima kasih.”
Nyaris ia melupakan rasa terima kasih karena telah ditolong olehnya namun lihat sekarang, banyak tanah berceceran di mana. Belum lagi jejak kaki dari banyak orang, Orion tampak sangat merasa bersalah mengenai hal ini.
“Tunggu sebentar, Orion! Ada hal lain yang saya ingin bicarakan padamu. Ini tentang Api Abadi.”
Deg! Seketika jantung Orion berdebar kencang. Karena sebelumnya ia telah berbuat ulah di sekitar sana, namun bukan berarti ia benar-benar mengambil Api Abadi atau semacamnya.
”Apakah penduduk itu mengatakan semuanya?” Orion membatin, panik.
“Dua hari lalu kau datang ke kota Y-Karta. Tapi apakah kau tahu, bahwa Api Abadi itu hilang jejaknya?” sindir Ketua Irawan yang kemudian berdeham seraya melirik ke arah Orion.
“Apa?”
Orion terkejut. Api Abadi yang kerap kali digunakan untuk pemujaan kini hilang? Lenyap? Orion sempat berpikir, itu tidak ada hubungan dengannya namun setelah berpikir dua kali, tampaknya ia mulai sadar.
“Inti Api Abadi ada di dalam tubuhku. Kukira aku hanya sekadar meminjam, tapi ternyata aku mengendalikan sepenuhnya Api Abadi itu?” batin Orion semakin panik.
Raut wajahnya gelisah. Ia beberapa kali meraba tubuhnya seraya mengingat kembali ketika ia berada di dalam mimpi. Bertemu dengan sosok Ki Moko dan mahluk bersayap bernama Karura.
“Halo?”
Ketua Irawan memanggilnya namun Orion sama sekali tak menggubris. Ia tengah berpikir dan terlalu larut dalam pikirannya sendiri sehingga diam menganga.
“Orion?”
“Ah! Maaf!” teriak Orion, reflek ia menjauh darinya. Terkejut karena wajah Ketua Irawan tiba-tiba ada di dekatnya.
“Sepertinya kau berpikir sesuatu?” pikir Ketua Irawan.
“Iya benar. Tapi hanya sedikit.”
“Lalu, apa pendapatmu? Kira-kira kenapa Api Abadi bisa lenyap seperti itu?” tanya Ketua Irawan sekali lagi.
“Tentu saja saya tidak tahu. Lagi pula untuk apa saya berada dekat dengan Api Abadi sehingga Anda menanyakan hal ini?” balas Orion.
“Karena kemarin ada laporan dari penduduk dekat sana bahwa kau dan salah satu orang lain lagi yang tahu sesuatu. Bahkan mereka menyebutmu sebagai malapetaka,” ujarnya dengan nada santai.
“Eh? Mungkin mereka salah lihat atau apa. 'Kan saya ada urusan dengan teman saya. Bukan mengarah ke Api Abadi,” elak Orion berwajah serius.
Pertama, Ketua Irawan terdiam sejenak. Kedua, ia kemudian memejamkan mata sebentar seraya menghela napas panjang. Ketiga, lalu menatap tajam pada Orion sehingga membuatnya terkejut lagi.
“Katakan saja, aku tahu maksudmu, kok!”
Pak! Ketua Irawan lantas memukul punggung Orion dengan keras. Padahal hanya punggung namun Orion merasakan sakit di sekujur tubuh termasuk dagu yang lebam karena gundukan tanah yang padat sebelum ini.
“Ugh, ini sakit Ketua Irawan,” keluh Orion menatapnya jengkel.
“Kalau begitu katakan saja apa yang telah kau perbuat dengan Api Abadi?” kata Ketua Irawan sembari mengangkat dagu dan bahunya.
Kalau begini terus, Orion tak bisa mengelak lagi. Sesaat sebelum menjawab, ia menelan ludah.
Kemudian berkata, “Salah satu rekan Chameleon yang melakukan sesuatu terhadap Api Abadi itu!”
Pada akhirnya Orion tetap berdalih.