
Ramon dan Runo, pria yang barusan datang. Ia juga sama amatirnya dalam pertarungan langsung. Kali ini mereka ikut dan berada di bawah tanggung jawab Orion. Akan tetapi hal itu terpaksa dilakukan oleh Orion karena Gista memintanya.
“Sebuah kesepakatan yang cukup merugikan, hm.” Orion berdeham seraya memalingkan wajah.
“Pak Orion, maaf jika kedepannya saya tidak terlalu membantu,” ucap Runo dengan wajah bersedih.
“Jangan berkata begitu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ke depannya. Namamu Runo, benar?” Orion menepuk pundak agar ia tak bersedih hati kembali.
“Iya, benar.” Runo menganggukkan kepala lalu ia merogoh-rogoh sesuatu di balik jasnya.
“Saya juga diminta untuk menyerahkan surat ini pada Anda. Mohon diterima,” ucap Runo seraya menyerahkan surat itu.
“Surat di zaman ini? Apa yang wanita itu sebenarnya pikirkan? Bisa saja dia menghubungiku atau apa.”
Srek!
Orion merobek mulut surat lalu mengambil secarik kertas yang tersimpan di sana. Betapa terkejutnya Orion ketika membuka serta membaca isi pesan tersebut.
“Ah, Anda akan membacanya di sini?”
“Karena menurut saya penting tapi sepertinya tidak terlalu ya.”
Mata Orion terbelalak terkejut. Lantaran isi pesannya tidak lebih penting dari hobi Orion. Isinya juga bukan dari Gista ataupun ketua lainnya melainkan dari tunangan Gista.
Bertuliskan, "Aku akan datang, kekasih gelapnya tunanganku!"
“Ah, lagi-lagi dia sembarangan menggunakan namaku. Tapi aku juga melakukan hal yang sama sih,” gumam Orion seraya membuang kertas itu ke sampah.
“Isinya tidak penting? Ah, maaf lancang!” Runo yang sebelumnya datang menghampiri Orion, kini menjaga jarak tiba-tiba.
“Tidak usah sungkan begitu. Ini pesan yang tadi aku pikir penting tapi ternyata tidak sama sekali.”
Runo sedikit terkejut saat Orion mengatakannya langsung. Dan ada sesuatu yang tengah dipikirkan sekarang, Orion jelas tahu apa itu.
“Kamu pasti berpikir aku ini benar-benar kekasih gelapnya Nona Gista ya?” Orion pun langsung mengatakannya. Seketika Runo tersentak, secara tak sadar ia memalingkan wajah.
“Aku ini sudah tua. Dulu aku berkeluarga tapi sekarang sudah hancur. Terutama, anak perempuan itu.”
Sekali lagi Runo hanya mendengarnya. Ia juga tampaknya mengerti, ada suatu alasan antara Gista dan Orion yang dulu berkeluarga.
“Saya memang lancang. Tapi, apakah Pak Orion tidak akan mengembalikan keadaan keluarga Anda? Bukankah seharusnya Anda melakukan itu? Sebagai kepala keluarga,” ujar Runo dengan berani.
“Aku sedang melakukannya. Makanya sekarang aku berada di sini.”
Bandara Ind. Tempat yang begitu luas dan ramai akan orang yang hendak berpergian ke tempat mereka yang akan tuju. Rasanya seperti diselimuti oleh angin dingin. Karena ini musim hujan, entah kenapa mood semua orang kacau sekarang.
“Lalu, bicaralah dengan santai saja padaku,” pinta Orion.
“Baiklah kalau begitu. Sekali lagi maafkan aku yang lancang karena sok menceramahi Pak Orion.”
“Jangan minta maaf. Itu hal yang wajar karena saat ini berita tentangku adalah kekasih gelap Nona Gista sudah tersebar ke kalangan anggota lainnya. Tapi perlu kau ketahui bahwa ada maksud dengan itu sehingga kami sama sekali tidak menyangkal.”
“Aku mengerti dari ceritamu Pak Orion. Sudah pasti itu karena keluarga. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika itu satu-satunya cara.”
Andai Runo tahu, bahwa kesepakatan itu tidak semudah yang dibayangkannya. Lantaran Gista dan Orion saling memanfaatkan, tidak ada status membatasi mereka apalagi identitas di masa lalu yang sudah terlupakan.
“Pak Orion!!” panggil Ramon dari kejauhan.
“Pahlawan Kota menghilang!”
Sudah diduga oleh Orion kalau itu akan terjadi cepat atau lambat. Orang mana lagi yang kerap kali berbuat ulah di hari penting begini. Kalau tidak bertengkar pasti ada hal lain.
“Di mana Mahanta?” tanya Orion seraya ia mencari ke seluruh sudut bandara bagian dalam.
“Tuan Mahanta, dia sudah lebih dulu mencari Pahlawan Kota!”
Hal terburuk yang bahkan Orion sudah mendapat firasat akan menjadi seperti ini. Orion menghela napas panjang seraya mencarinya ke segala arah, bahkan juga sempat keluar dari bandara hanya untuk mencari tapi tidak kunjung menemukannya.
Sementara Mahanta pun juga ikut mencari secara terpisah. Terlihat dari raut wajahnya yang panik sekaligus kening mengerut karena amarah ditahannya. Terkadang pula Mahanta memakinya dengan suara lirih.
Sebelum hilangnya Endaru, mereka semua kecuali Orion dan Runo berada di toilet. Dan ketika mereka semua sudah keluar, hanya Endaru saja yang belum. Itulah awal mulanya ketika Endaru menghilang.
“Memangnya dia jin?! Aku yakin dia pasti lompat ke jendela luar karena iseng! Anak kurang ajar itu membuat ubanku terus bertambah!” amuk Orion seraya mempercepat larinya ke arah toilet.
“Tunggu, Anda mau ke mana?” tanya Runo dan Ramon secara bersamaan.
“Aku mau buang air kecil!” pekiknya.
Awal niatnya memang sesuai dengan perkataannya barusan namun, Orion juga mencari Endaru di sana. Tetapi juga tidak ditemukan. Semua toilet di sana kosong, tak ada seorang pun yang sedang memakainya.
Bahkan Orion juga sempat memeriksa dari balik jendela serta langit-langit toilet itu sendiri.
“Tidak mungkin jika dia ada di langit-langit, 'kan? Sekalipun dia menggunakan kekuatan gravitasi, untuk apa juga mengumpat dan hilang.”
Orion terus menggerutu seraya mencuci tangannya berulang kali. Orion juga beberapa kali menghela napas.
“Anda sedang apa?” tanya Ramon.
“Kalian tidak mencari Endaru?” Orion balas pertanyaan.
“Kami sudah mencarinya ke manapun dia berada. Tapi tidak ada. Atau mungkin dia pulang?” pikir Ramon.
“Tidak mungkin dia pulang begitu saja. Setahuku, dia memang suka sekali menghilang lalu muncul kembali.”
“Yang kau katakan benar Orion. Tapi ini sudah lama, sebentar lagi kita juga akan berangkat,” kata Mahanta yang kemudian muncul dari balik punggung Ramon.
Pencarian Endaru berlangsung cukup lama dalam hitungan menit. Lainnya berpamitan untuk segera masuk ke dalam pesawat sedangkan Orion akan mencari keberadaan anak itu lagi.
“Apa mungkin Endaru sudah masuk duluan ya? Ah, tapi 'kan belum ada jadwalnya. Sekarang pun baru tersisa beberapa menit lagi untuk menyiapkan keberangkatan.”
Orion berjalan di tengah kerumunan seraya mengusap kedua tangannya dengan tisu selama pencarian Endaru di banyaknya kerumunan. Hendak memanggil nama Endaru tapi ia mengurungkan niatnya karena akan menganggu orang sekitar.
Duk!
Tak sengaja ketika berbalik ke arah kiri, Orion menabrak pundak seorang pria yang sama tinggi dengannya.
“Maaf, saya tidak melihat!” ucap Orion lantas terkejut.
“Ternyata kau datang. Kalau begitu, aku do'akan agar anak perempuanmu tetap sehat dan waras.” Pria yang barusan tak sengaja Orion tabrak kini berbisik ke telinganya langsung lalu pergi.
Sontak Orion terkejut. Ia terheran-heran mengapa ada pria itu di sini. Tapi tidak lagi berpikir seperti itu setelah teringat bahwa ada kaitannya dengan Chameleon.
“Pembunuh bayaran. Dia ada di sini, tidak, pasti dia pun akan pergi bersama majikannya.” Orion bergumam lirih.