ORION

ORION
Lingkaran Pengikat Jiwa



Semenjak malam itu, malam ini pun membuat mereka harus mengeluarkan kekuatan besar-besaran. Tak hanya Chameleon dan beberapa bawahannya yang tersisa, ternyata rekan Chameleon pun ikut muncul.


“Ke mana dirinya yang biasa? Yang selalu mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan orang lain?” gumam Gista.


Kedatangan Caraka, pengkhianat sekaligus mata-mata Chameleon. Gista akui Caraka dapat memanipulasi ketua lainnya tapi tidak dengan Gista sendiri.


“Nona Gista, sepertinya kali ini akan menjadi pertarungan yang panjang,” ucap Orion.


Setelah ledakan yang ia buat, tampaknya wujud Chameleon melebur kembali dan menyatu dengan bayangan hitam di bawahnya.


“Chameleon memakai tubuh aslinya sendiri. Itu artinya, dia mulai serius.” Gista menatap tajam seraya berwaspada dengan kepulan asapnya.


Setelah beberapa saat, Chameleon tak kunjung muncul dan menyergap mereka kembali. Dan sebagai gantinya, Caraka lah yang mengincar Gista secara langsung. Tanpa keraguan, ia menggunakan kekuatan api untuk mengubah tubuhnya menjadi seekor monster.


SYAT!


Sebelum Caraka memulai serangannya, Orion justru menyayat tubuh Caraka dari kejauhan. Sebilah pedang merah yang melekat pada lengan kiri itu begitu mencolok di mata semua orang. Caraka cukup terkejut karena mendapati seseorang yang berubah.


Dengan darah yang terus mengucur di tubuhnya, Caraka lantas berkata, “Ternyata itu kau, ya. Orion Sadawira!” Sembari menyunggingkan senyum.


Perlahan-lahan luka Caraka menutup ketika api miliknya mengelilingi tubuh. Caraka kemudian mengepakkan setengah sayap berapi. Mekar dengan indah.


Orion tersenyum.


Syak!


Orion pun mengeluarkan sepasang sayap yang tak kalah indah. Seolah tak mau kalah, dan Caraka dibuat tercengang olehnya. Sampai menganga lebar tak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.


Orion menggunakan sayapnya untuk melesat ke arah Caraka seraya setiap bulu pada sayapnya menghujam tubuh Caraka. Caraka yang terkagum-kagum, ia bahkan sampai tidak sadar bahwa Orion telah mendekat.


Caraka berlari dan Orion mengejarnya. Tampak dari kejauhan, lebih ke ujung mereka saling bertukar serangan dalam waktu singkat. Tatkala, setiap bulu pada sayap mereka menancap ke tanah dan membuat penerangan secara tak langsung ke area yang gelap.


Beberapa dari Pejuang NED lainnya, juga anggota Grup Arutala pun dibuat tercengang akan api mereka yang seolah menyatu. Satu kekuatan yang dimiliki dua orang berbeda.


Cara penggunaan adalah hal terpenting. Tetapi, Orion tidak cukup mahir bak dewa yang merentangkan sayap sucinya. Ia menutup sayap itu kembali, dan melesat lebih cepat dari sebelumnya.


DUAK!


Menggunakan tendangan dua kaki mengincar wajah hingga menabrak dinding pembatas. Kepulan asap serta api di lengan kanannya pun terbuka, seolah menunjukkannya.


“Adi Caraka! Apakah kau sejak dulu memang berada di sisi bunglon itu?” tanya Orion dengan meninggikan suara seraya menunjuk ke arah belakang, mengarah Chameleon yang kini tengah disibukkan oleh dua ketua.


“Ugh! Memangnya aku harus menjawab itu? Kalau sekarang saja kau bisa melihatnya,” gerutu Caraka yang terbaring di reruntuhan dinding.


“Iya, kau benar. Tapi,” gumam Orion yang kemudian enggan melanjutkan perkataannya.


“Kau itu sudah pemilik darah langka bahkan kau juga pemilik kekuatan Api Abadi yang paling ditakuti oleh Chameleon. Tapi kenapa kau justru memilih untuk berada di bawah penguasa korupsi itu, hah?” sahut Caraka seraya ia kembali mengalirkan api hingga ke ujung rambutnya.


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Jadi jangan bicara lagi,” ucap Orion.


Sesaat setelah Orion mengatakan itu, api Orion membakar tubuh Caraka hingga Caraka tak sadarkan diri. Ia tetap terbaring dengan tubuhnya yang menghitam.


“Kenapa tidak dibunuh saja?” tanya Karura.


“Hah, apa pikiranmu hanyalah untuk membunuh seseorang saja?” Orion menghela napas panjang.


Di tengah pertarungan Chameleon dengan beberapa ketua di sana. Terlihat sangat berantakan karena para ketua mulai terdesak.


Yang pastinya digunakan untuk Chameleon sendiri. Mampu meniru, mengambil apa pun dan kini bahkan menyerap energi kehidupan. Sudah pasti Chameleon sangatlah serakah.


Syat!


Orion menyayat tubuh Chameleon dari belakang. Endaru menggenggam erat kedua pergelangan tangan Chameleon ke belakang lalu menjejakkan kaki ke punggungnya tuk menekan tubuh Chameleon ke bawah. Serta mengantisipasi agar Chameleon tidak dapat kabur.


Itulah yang mereka semua harapkan.


“Sekalipun kau tidak bisa dihukum dengan dunia ini. Apakah kau mampu melarikan diri jika aku terus melakukan hal ini?” Endaru berbicara dan terus menekan tubuhnya dengan gravitasi.


“Heh, tentu bisa. Kau pikir aku selama ini tidak bisa kabur? Dan hanya beruntung begitu? Lalu, apakah kau tahu, aku bisa merasuk ke tubuhmu lagi.”


“Oh, ya? Bukankah sekarang kau menggunakan tubuh aslimu? Karena sejak tadi kau tidak mengubah wujudnya seperti partikel atau dikatakan menghilang dan sejenisnya.”


“Hu ...ya, kau benar.”


Drakkk!!


Muncul dinding tanah mengepung mereka berdua. Saat itu bukan Ketua Irawan yang melakukannya melainkan Chameleon sendiri. Segera Ketua Irawan melakukan sesuatu untuk itu.


“Tunggu!” pinta Gista seraya menghadang Ketua Irawan.


“Ada apa Nona Gista?”


Gista kemudian melirik ke kanan, Ketua Irawan pun mengerti. Bahwa saat ini yang mungkin bisa melakukan sesuatu untuk membantu Endaru adalah Orion.


Orion kini tepat berada di atas gundukan tanah itu. Jubahnya terbuka, dan sekali lagi menunjukkan lengan kanan yang seolah rusak itu. Ketika Orion menyentuh gundukan tanah sedikit saja, maka hancurlah bagai debu. Hilang tak tersisa kecuali abu.


Slash! Slash!


Usai Endaru sengaja melepas genggamannya. Orion menebas tubuh Chameleon berulang kali tanpa henti dan keraguan. Gerakan yang sangat sulit diikuti, tapi masih dapat dilihat dengan baik.


“Hei! Bertarunglah dengan serius padaku!” ucap Chameleon dengan intimidasi yang kuat. Ia mencengkram lengan kiri Orion sekuat tenaga.


“Akan aku lakukan kalau aku bisa.”


BLAAR!


Lingkaran api berusaha mengikat apa yang ada di atas kepala Chameleon namun akan tetapi lingkaran yang Orion buat lenyap bagai debu. Terlihat sisa percikan api berjatuhan ke tanah.


“Aku tidak mengerti kenapa kalian semua mengincar ini?” tanya Chameleon dengan mengerutkan kening.


“Kau tidak tahu kenapa?” balas Orion seraya melepas cengkeramannya lalu mundur beberapa langkah.


“Ya.”


“Lingkaran itu memperkuatmu. Jadi itu curang,” jawab Orion sambil menunjuk.


“Hei kalian!” teriak Ketua Radhika yang tidak berada jauh dengan posisi Orion dan lainnya.


Tiba-tiba saja benang pancing melilit leher Orion dari belakang. Sehingga Orion kesulitan, terutama saat ia berusaha membakarnya justru benang itu semakin melekat dengan kuat.


“Seperti besi yang dipanaskan. Tentu saja benang baja milikku pun berlaku hal yang sama,” kata Jinan yang kemudian ia dihujani oleh beberapa batang besi dari segala arah.


Sedangkan Chameleon tersenyum. Menikmati ekspresi Orion yang tengah kesakitan.