ORION

ORION
Pisau Kabut



Perbatasan wilayah. Tempat yang sudah tidak ada seorang pun tinggal berada dekat di sana. Para penduduk yang dulu tinggal di sana sudah lama pergi meninggalkan rumahnya dan pindah kr tempat yang lebih aman.


Kini, tak hanya mayat bergelimpangan. Kabut aneh pun ditemukan oleh Orion. Yang kemudian ia hanyut oleh gelombang laut, nyaris Orion tidak selamat.


“Kau masih hidup rupanya,” kata pria itu sambil menginjak punggung tangan Orion.


“Argh! Kau!” pekik Orion mengerang kesakitan saat diinjak. Orion lantas meraih pergelangan kaki pria itu, ia mencengkramnya kuat sampai melepaskan injakan kaki pada punggung tangan Orion.


“Orang yang keras kepala sekali,” ucap pria itu. Melangkah mundur dengan menahan sakit pada pergelangan kakinya.


Orion bergegas keluar dari laut. Tubuhnya basah kuyup kecuali lengan kanan yang berapi abadi. Uap panas dan dingin bermunculan dalam waktu bersamaan sehingga tubuh Orion terasa dingin namun juga hangat.


Pengaruh kekuatannya cukup besar, bahkan sisa kekuatan yang berada dalam laut itu mengeluarkan gelembung panas ke permukaan. Meski tidak dalam jumlah yang besar, siapa pun yang berada di laut itu kecuali Orion maka akan terjadi sesuatu yang berbahaya.


“Hei, kau! Pria itu tidak ada di sini. Dia pergi!” jeritnya memberitahu.


“Ke mana?” Orion bertanya.


“Aku tidak tahu!”


Beberapa pisau angin kembali muncul secara mendadak. Orion berguling menyamping, menghindari semua pisau angin itu. Setelah itu, Orion berlari mengejar pria tersebut.


Sraaaa!


Kabut kembali muncul. Orion lagi-lagi terjebak di dalamnya. Tak terlihat di mana sosok pria itu, namun tak kunjung ia menemukannya.


“Tidak ada? Apa? Apa-apaan tempat ini? Aneh sekali!”


Orion kembali berlari tanpa arah yang jelas. Ia menuju ke sisi pantai bagian barat, berhadap ia dapat keluar dari kabut ini.


Hujan kembali mengguyur dengan deras, kabut tetap muncul seakan abadi. Langit yang menggelap dengan awan hitam keabuan berkumpul dan padat menjadi satu. Tak terhitung berapa lama Orion berada di perbatasan sehingga membuatnya kelelahan.


Syak!


Orion memotong kabut yang lagi-lagi muncul dengan sebilah pedang merah di lengan kirinya. Barulah ia dapat keluar dari area berkabut. Ia pun berhenti berlari dan kembali mengatur napasnya sembari melepas salah satu sepatu yang masih terpasang pada sebelah kakinya saat ini.


“Huh, cuacanya sangat buruk. Belum lagi cuaca ini berbeda dengan negara asalku. Jadinya aku tidak terbiasa,” gumam Orion seraya menengadah ke langit.


Orion kemudian kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencapai jalan yang lain. Arah yang tidak dapat ditentukan karena perbedaan tempat dan cuaca yang signifikan sangat jelas menyulitkan Orion sekarang.


Ketika itu, lagi-lagi kabut muncul tepat di hadapannya sana. Orion berhenti melangkah, dari kedua matanya terlihat bayangan punggung banyak orang yang telah mengenal Orion. Dibilang akrab pun tidak, hanya saja saling kenal karena suatu hal tertentu yang membuat mereka terlibat.


Di antaranya adalah, Endaru, Gista, lalu Mahanta.


“Eh?” Beberapa kali Orion mengusap wajah dan mengucek kedua matanya secara bergantian. Memastikan apakah yang barusan ia lihat itu betulan ataukah tidak.


Tapi bayangan punggung mereka tak kunjung hilang. Bahkan mereka menetap di sana seolah menunggu Orion menghampiri.


“Hei, hei, hei. Aku tidak bodoh,” kata Orion sembari menyeret langkah kaki kanannya ke belakang. Hendak ia membalikkan badan dan bersiap untuk berlari.


“Jangan bercanda. Itu pasti ulah pria yang tadi. Ini pasti jebakan,” pikir Orion menelan ludah. Cemas pun tak terlepas dari raut wajahnya.


Drap! Drap!


Merasa itu berbahaya, Orion bergegas lari dari sana ke arah sebaliknya. Namun tidak peduli seberapa jauh ia berlari, seberapa banyak waktu yang telah ia habiskan ketika berlari, bayangan punggung mereka seakan mendekat. Atau bahkan Orion sendiri lah yang tidak bergerak.


Orion lantas memutuskan untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang mendapati bayangan itu sekali lagi. Lambat laun bayangan itu memudar lalu menghilang.


Swoosh!


Dari bawah kedua kaki Orion terdapat angin kencang secara tiba-tiba. Sesaat angin itu berhenti, dan kemudian kembali muncul dengan membuat tubuh Orion terlempar jauh dari posisinya saat itu.


“Urgh! Tiba-tiba angin muncul!?”


Orion berguling-guling di atas pasir, angin itu terus mendorongnya begitu jauh hingga tak tahu lagi sampai berada di mana saat itu. Menyisakan banyak tanya dalam benak, Orion bertahan dengan sebilah pedang menancap ke pasir lebih dalam.


“Mahanta, aku tahu itu kau! Hei, jangan serang aku! Ini Orion!” pekik Orion.


Belum lagi angin alami serta hujan mengguyuri, kini angin yang entah milik Mahanta ataupun bukan menyerang Orion secara membabi buta.


Setelah beberapa saat, angin itu berhenti. Orion sama sekali tidak melihat siapa pun di depannya. Yang ia lihat hanyalah bukit tanah di samping serta pasir dan lautan.


Tap!


Orion meraih ujung bukit tanah di sampingnya, ia memanjat ke atas guna melihat siapakah orang yang melakukan serangan kepadanya. Yang bisa saja dilakukan dari atas perbukitan atau berada jauh dari tempat ini.


“Jika bukan Mahanta, lalu siapa?” Orion bertanya-tanya.


Dengan perasaan aneh dan merasa ada sedikit kejanggalan, Orion tetap melangkah ke sisi barat. Daratan tampak lebih jelas sekarang, dan Orion takkan lagi terjebak di bawah bersama arus laut itu.


Berjalan sembari memeluk dirinya sendiri yang kedinginan. Di saat-saat seperti itu, ia merasa menyesal karena telah memberikan ponsel pada Runo. Tapi di satu sisi yang lain, itu keputusan yang terbaik mengingat ini laut yang belum tentu mendapatkan sinyal.


Dari kejauhan ia melihat sebuah bangunan. Letaknya masih jauh. Paling tidak itu menghabiskan beberapa menit hingga jam untuk sampai ke sana.


“ORION!!!” panggil seseorang dari belakangnya. Orion terkejut, ia lantas menoleh ke belakang.


“Mahanta? Itu serius Mahanta? Apa aku salah lihat?” kata Orion seraya mengucek kedua matanya dan berkedip selama beberapa kali.


Pria yang dicarinya ternyata berada jauh dari tempat Orion sekarang. Mahanta berlari kencang, menghampiri Orion.


“Kupikir kau akan mati!” pekiknya seraya memeluk Orion.


“Eh? Ternyata kau Mahanta. Yang asli, 'kan?” tanya Orion yang masih terjebak dalam angan-angan kabutnya.


“Hei, aku ini Mahanta. Aku datang dari arah belakang atau sebelah kiri ya? Ya, apa pun itu. Yang terpenting kita berdua bisa bertemu,” ucap Mahanta.


“Hm? Aneh. Apa aku pernah bilang bahwa aku akan menemuinya? Padahal saat itu panggilannya terputus,” batin Orion menaruh rasa curiga pada Mahanta sekarang.


Ia pun mengambil langkah mundur. Menatap tajam, mengerutkan kening dan penuh pertanyaan dalam benaknya saat ini. Mahanta mendadak bingung karena reaksi Orion yang aneh.


“Ada apa Orion?” tanya Mahanta.


Semilir angin membisik di telinga. Melewati mereka dengan alunan lembut bak irama. Tatapan Mahanta serta keadaannya yang baik-baik saja justru membuat Orion semakin mencurigainya.


“Seingatku, aku belum bilang padamu melalui telepon bahwa aku akan datang menjemputmu. Karena saat itu panggilannya tiba-tiba terputus,” ungkap Orion.


“Ah, iya! Sebenar—”


“Kau siapa?” sahut Orion memotong kalimat Mahanta.