
Kepalanya terpenggal, dan dalam sekejap semua kekuatannya lenyap. Endaru yang berada di belakang Orion lantas terkejut, beruntung ia sudah lebih dulu menghindar dari pusaran api, kini ia melihat terpenggalnya Eka hanya dalam waktu sebentar saja.
Selang beberapa saat, kepala Eka yang sebelumnya terpenggal kembali tersambung sedia kala. Itulah hal yang membuatnya terkejut.
Setengah wajahnya masih dalam keadaan terbakar hingga menunjukkan tengkorak putihnya, lalu beberapa sayatan besar maupun kecil membekas pada tubuh Eka yang terkulai lemas. Tulang kedua tangan dan kakinya pun patah.
“Dia tidak memulihkan diri atau mati?” tanya Orion jelas kecewa.
“Tu-tunggu sebentar. Kudengar dia malaikat penyembuh tapi tak kusangka sebesar ini pemulihannya?” ujar Endaru masih terkejut akan pemandangan yang ia lihat sekarang.
Keduanya masih mencerna sesuatu di depan mereka. Lantas, saking terkejutnya mereka bingung harus bereaksi seperti apa.
Beberapa kali Orion mengerjap-ngerjapkan kedua mata lalu mengusap wajahnya dan kembali melihat tubuh Eka yang tengah terbaring. Api milik Orion yang sebelumnya membakar setengah wajah Eka lantas menghilang dan menunjukkan tengkorak putih itu lebih jelas.
“Ukh, apa benar dia mati? Apa aku barusan membunuh orang?” Orion bertanya-tanya.
Endaru mendekati tubuh Eka, berupaya untuk mengecek apakah kondisi Eka benar-benar masih hidup ataukah mati. Namun setelah ia tahu, ternyata Eka masih hidup. Denyut nadi dari tangan dan lehernya masih ada.
“Wah, serius. Dia monster, ya?” Endaru menaikkan sebelah alisnya.
“Hei, hei, sudah. Kalau dia masih hidup, aku sungguh bersyukur. Lagipula keadaannya begitu juga membuatku sedikit nyaman,” tutur Orion.
“Apa maksudmu?” tanya Endaru.
“Dia mengetahui identitasku yang sebenarnya. Dan juga, dia orang yang cukup berguna, makanya akan lebih baik dia tetap hidup sekarang. Yah, meskipun aku juga tidak mau kalau dia mati,” ucap Orion dengan gelisah.
“Dia mengetahuinya? Kalau begitu kenapa kau membiarkannya begitu saja? Dan apa kau tak tahu, kalau datang kepadanya itu sama saja cari mati,” ujar Endaru seraya melirik ke arahnya.
“Aku tidak datang kepadanya hanya untuk menerima hasil akhir dari ini akan tetapi maksud kedatanganku kepadanya karena dia tahu sesuatu tentang penyebab tubuhku jadi begini,” jelas Orion.
“Oh, benarkah?”
“Lalu, Endaru. Kau tahu tentangku melalui darah milikku yang sebelumnya membangkitkan dirimu, 'kan? Harusnya kau tahu bahwa aku lebih menginginkan kematian daripada kehidupan,” sahut Orion dingin.
Endaru terdiam. Melihat Orion berjalan ke sudut ruangan, tampak ia sedang melihat-lihat atau mencari sesuatu. Punggungnya yang mungil masih gemetaran, Endaru bertanya-tanya dalam benaknya kenapa Orion masih merasakan rasa sakit.
“Hei, Orion! Apa yang kau lakukan?”
“Mungkin ada sesuatu ...” jawab Orion meragu.
“Lalu, apakah kau masih merasakan sakit? Atau jangan-jangan dia tidak menyembuhkanmu dengan benar?” Endaru bertanya.
“Tidak. Aku rasa dia sudah mengobatiku. Hanya saja, tubuhku sendiri yang sedikit merasa aneh.”
Klak! Suara yang mengagetkan mereka berdua, disusul dengan lantai yang terbuka dengan sendirinya. Sontak, keduanya melihat ke arah lantai itu.
“Aku menemukan sesuatu di sini. Sudah kuduga, mana mungkin ruangan terpisah seperti ini tidak ada apa-apa,” celetuk Orion senang.
“Ruang bawah tanah ini, apa yang dia lakukan di bawah sini?” Endaru semakin penasaran.
Setelahnya, Orion mencoba merogoh sesuatu dari dalam sana, dan menemukan pijakan yang terbuat dari tanah. Ia kemudian menggunakan kekuatan apinya untuk dijadikan penerangan.
“Aku akan masuk ke dalam. Kau mau ikut?” tanya Orion lantas masuk ke dalam ruang bawah tanah tersebut.
Di ruang bawah tanah ini cukup luas, bahkan melebihi luasnya dari ruangan yang ada di atas. Tidak ada bau antiseptik sama sekali melainkan hanya bau-bau tanah yang tercampur dengan minyak atau sejenisnya.
Setelah menuruni anak tangga, Orion membesarkan api di telapak tangannya. Melirik ke sekelilingnya dan mendapati banyak obat-obatan tanpa bau dan juga ada beberapa alat bedah yang sudah berkarat.
Matanya mencari sesuatu lagi, kemudian melihat sebuah tempat lampu minyak, langkah Orion terburu-buru untuk mengambil benda itu kemudian menyalakannya dengan api.
“Aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku begitu banyak. Gantinya lampu minyak juga tidak apa, 'kan?” tanya Orion kepada Endaru.
“Bagiku tidak masalah. Tapi tempat apa ini?”
“Entahlah, mungkin semacam laboratorium?” pikir Orion.
Berada di tempat ini sungguh membuat Endaru tidak merasa nyaman terutama lantai di dalam sini hanyalah dari tanah merah saja.
Sedangkan Orion, sibuk mencari sesuatu entah apa itu. Endaru hanya sekadar melihat beberapa buku yang dipegangnya namun tidak pernah bertanya apa-apa karena tidak peduli.
“Ngomong-ngomong Endaru. Aku penasaran, kenapa saat aku menyebut nama Gista di depanmu kau marah?” tanya Orion seraya membalik halaman pada satu buku.
“Tidak ada alasan yang cukup penting untuk diberitahukan kepadamu,” ujar Endaru menolak memberi tahu.
“Kau bisa bicara begitu setelah melihat masa laluku?” sindir Orion. Lantas Endaru terdiam sejenak.
Srak! Orion membalik halamannya lagi dan menemukan catatan mengenai Pejuang NED (Near-death Experience) mati suri yang membuat mereka memiliki kekuatan supernatural.
“Wanita itu telah membunuh orang tuaku saat aku masih kecil,” jawab Endaru dengan sedikit merasa tidak nyaman.
“Setahuku Gista bukanlah orang yang akan melakukan hal itu tanpa alasan yang jelas. Kupikir kau hanya salah paham,” pikir Orion seraya menutup buku itu.
Setelahnya, Orion pergi ke rak kecil yang ada di sebelahnya, ada beberapa buku yang tersimpan dan sudah sangat berdebu. Isi dari buku-buku itu kurang lebih sama.
Menyertakan catatan Pejuang NED, lalu darah penghubung jiwa dan raga yang langka. Setelah membalik beberapa halaman kertas, Orion menemukan sesuatu yang berkaitan dengan tubuhnya.
“Penyusutan tubuh hanya karena darahnya diperas? Itu mengingatkanku akan sapi perah,” sahut Endaru yang membaca halaman itu juga.
“Ini sama persis seperti yang dikatakan olehnya. Kupikir akan ada informasi yang lain, hah ...” Orion menghela napas panjang.
“Jadi ini yang kau cari darinya?” tanya Endaru.
“Tentu iya namun juga tidak. Aku butuh informasi lainnya selain itu tapi orangnya masih tidak sadarkan diri di atas, 'kan?” ujar Orion.
“Yah, itu 'kan karena kau sendiri.”
Setelah beberapa saat mereka kembali membuka setiap buku yang terlihat di sekeliling, memeriksa apakah ada hal lain selain yang sudah mereka ketahui.
Di sisi lain, Orion saat itu mencuri-curi pandang terhadap Endaru. Ia merasa sedikit aneh dengan sikap Endaru saat ini.
“Endaru. Apa aku saja yang berpikir bahwa kau telah berubah semenjak pertama kali kita bertemu? Kau sangat cerewet, dan kau sudi menolongku yang bukan siapa-siapamu.”
Endaru menatap wajah Orion yang menunggu jawabannya namun Endaru tetap terdiam tanpa sepatah kata pun. Lantas Orion kembali membuka setiap halaman dari buku yang ia pegang.
Sambil tersenyum kemudian berkata, “Terima kasih karena kau telah datang.”