ORION

ORION
Interogasi Tak Berakhir Baik



Kehadiran Sima benar-benar telah lenyap seutuhnya. Hal ini menandakan ia telah pergi, entah ke mana.


Di samping tidak akan membunuh, terdapat alasan yang cukup kuat bagi Orion, untuk tidak membunuh Sima sebab Sima berhubungan dengan Chameleon. Entah secara langsung atau tidak, Sima adalah kunci yang penting.


Orion pula membiarkannya kabur begitu saja. Lagi pula Sima akan kembali lagi, itulah yang ia yakini.


“Peganggu yang sulit diatasi, aku harus cari cara lain. Kalaupun perlu harus aku habisi ketika Anak Api sedang sendirian.”


Sima bergumam lirih seraya melihat punggung mereka berdua dari balik dinding. Setelahnya ia pergi melalui jalan yang seperti sebelumnya.


***


Di tempat lain, kediaman Arutala. Di ruang bawah tanah. Gista sedang berdiri, berhadapan dengan Dr. Eka yang berada di balik jeruji besi.


Besi itu bukanlah besi biasanya.


“Katakan padaku, apa yang barusan kau lakukan?” Gista bertanya dengan sedikit mengancam.


Dr. Eka tidak berada di jeruji besi sendirian, ia juga bersama dengan Endy yang sebelumnya berhasil diringkus oleh Raka dan Orion. Endy berada di pojokan dan hanya menatap punggung Dr. Eka yang bergetar-getar.


Sorot mata Gista terlihat sangat tajam. Tatapan sinis mengacu pada Dr. Eka yang sejak tadi hanya diam dan juga menatapnya. Lalu menyeringai lebar.


“Kau tidak mau berkata apa-apa padaku? Haruskah aku menggunakan kekerasan seperti pada Tuan-mu itu?” ujar Gista.


“Hehehe! Aku tidak akan berkata apa-apa sebelum Orion datang kemari,” ujar Dr. Eka lalu tertawa.


Sorot mata Gista semakin tajam. Kalau mendengar pernyataan itu entah kenapa Gista merasa itu adalah hal buruk. Firasatnya tak enak, juga mana mungkin ia akan membiarkan Dr. Eka bertemu dengan Orion begitu saja.


“Kau tidak mau bicara rupanya? Wah, rupanya kau sangat sayang pada anak itu. Jangan bilang anak gelap Nona Arutala, ya?” celetuk Dr. Eka.


Duang!! Jeruji besi itu bergetar ketika Gista menendangnya. Sesaat Dr. Eka terdiam, Endy tersentak kaget.


“Aku paling benci mengatakan hal yang sama dua kali. Lebih baik kau katakan, atau kau akan terima akibatnya.”


Sembari mengatakan kalimat itu, lengan Gista mengeluarkan uap yang dingin. Uap itu kemudian berputar mengelilingi lengannya dan membentuk sebuah pedang berwujud es.


Es itu tampak seperti kaca yang dilapisi berlian. Pantulan Dr. Eka pun terlihat begitu jelas, seolah dirinya ada dua.


“Hehe, apa-apaan? Nona Arutala marah, ya?”


“Apa kau benar-benar tidak punya telinga? Ataukah telingamu sedang rusak? Sekarang, cepat katakan apa yang barusan kau lakukan,” tukas Gista dengan dinginnya.


“Jangan bertanya padaku. Akan lebih baik kalau Nona Arutala bertanya pada Orion, Anak Api itu,” sahut Dr. Eka.


Dr. Eka sama sekali tidak melepas sunggingan senyumnya. Seolah-olah ia mengejek Gista tanpa peduli jika suatu saat Gista akan membunuhnya ataupun melakukan sesuatu terhadap dirinya.


Sungguh pria yang gila. Entah apa yang ia rencanakan, tapi yang pasti itu sangat buruk. Gista berdecak kesal kemudian memalingkan wajah lantas mendesah lelah.


“Pria ini benar-benar tak bisa diajak bicara,” gerutu Gista.


“Ya, tentu saja Nona Arutala! Sejak kemarin, dia memang seperti itu tapi sesekali dia mengajak bicara, namun aku tak tahu apa maksudnya,” sahut Endy.


“Aku pun tak mengira bahwa dia seg*la ini.”


Gista tidak punya cara lain selain ini. Ia mendekat padanya yang masih menempel di jeruji besi itu. Menusuk tubuh Dr. Eka dengan pedang miliknya. Gerakannya sengaja diperlambat namun Dr. Eka pula sengaja menerima serangan itu.


Tidak ada darah setetes pun mengalir keluar. Yang terkejut hanyalah Endy saja, karena ini kali pertama ia melihat Gista menghunuskan pedang pada tahanan.


“Beruntung aku tidak pernah memberontak sekalipun saat masuk ke sini. Jika tidak, mungkin akan terjadi sesuatu padaku kalau dia menggunakan pedang itu,” batin Endy dengan tubuh gemetaran.


Endy jelas akan takut. Berbeda dengan dokter sinting itu sekarang, ia justru semakin tertawa dengan keras, seolah ia amat suka dilukai seperti itu.


“Aku benar-benar kehilangan cara selain dengan ini,” ucap Gista seraya melepaskan hunusan pedang pada tubuhnya.


“Eh? Apa yang sebenarnya Nona Arutala lakukan?” tanya Dr. Eka kebingungan.


Sontak, Gista terkejut. Rencananya ia akan melihat memori Dr. Eka tapi sekarang ia sama sekali tak melihat apa-apa. Teknik menggunakan ilusi untuk membuka ingatan secara paksa, terasa seperti diblokir.


“Apa yang Nona Arutala lakukan padaku?”


Dan kini, Dr. Eka justru bertanya-tanya apa yang Gista lakukan kepadanya sembari tersenyum lebar.


Kekesalan Gista kepada Dr. Eka semakin memuncak. Ia jengkel sekali, bahkan hanya sekadar melihat wajah Dr. Eka saja ia sudah muak rasanya.


“Sebenarnya apa yang kau lakukan?”


Kemudian Gista mengepalkan tangan kanannya dan membuat Dr. Eka melihat tombak menghujam dirinya dari depan.


Jrash! Namun sebenarnya dari belakang, pandangan Dr. Eka berubah karena ilusi cermin yang Gista buat secara berkala. Bagian kakinya tertusuk, ia pun tersungkur.


Namun setelah beberapa saat lukanya sembuh begitu api hijau membakar kaki yang terluka. Dr. Eka kembali bangkit, lalu menatap Gista dengan tatapan culas.


“Nona Arutala, sepertinya kau mudah berputus asa, ya? Padahal aku hanya meminta untuk bertemu dengan Orion saja. Maka semua yang Nona Arutala tanyakan padaku akan aku katakan,” ujar Dr. Eka seraya menggelengkan kepala.


Pedang es itu menghilang. Lagi-lagi Dr. Eka melihat tombak es datang dari langit-langit ruangan di sana, namun ternyata itu dari bawah. Dr. Eka nyaris tertusuk lagi, ia berhasil menghindar di saat-saat yang tepat.


“Percuma. Aku sama sekali tidak bisa mengintip ingatannya apalagi mengendalikan dirinya. Sebenarnya apakah dia hanya bawahan rekan Chameleon saja?” Gista membatin.


Ia sangat keheranan mengenai Pejuang NED satu ini. Dr. Eka memiliki kekuatan yang membuatnya tak dapat berkutik. Baru kali ini Gista berjalan di jalan yang buntu.


Tap! Tap!


Pada akhirnya Gista berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkannya. Dengan perasaan kesal yang semakin lama semakin bertambah, Gista merasa harus menenangkan diri terlebih dahulu.


Apalagi kekuatan Dr. Eka masih belum sepenuhnya ia tahu. Setidaknya kalau bertanya dengan Orion, mungkin saja akan tahu sesuatu nanti.


Di luar pagar, terlihat ada dua orang yang kemudian masuk ke dalam. Gista mengenali mereka dan kemudian ia menghampirinya.


“Nona Gista, saya kembali. Sepertinya ada banyak hal yang harus saya laporkan pada Anda sekarang.”


“Ternyata Nona Gista selama ini di rumah?” tanya Orion.


“Ya, aku berada di ruang bawah tanah. Kebetulan ada hal yang ingin kubicarakan juga pada kalian.”


Orion dan Mahanta lah yang telah kembali pulang. Ketiga orang ini sama-sama memiliki masalah yang hampir serupa, itu jelas saja. Bahkan raut wajah mereka sekarang berubah tak seperti biasanya.