ORION

ORION
Kebangkitan Misterius & Pencarian



Bersamaan dengan terbitnya matahari, sosok pria yang berdiri di atas tanjung dalam diam tengah menggumamkan sesuatu yang tampaknya asik.


“Menyamar sebagai arwah tak buruk juga,” gumam Pria itu lantas tertawa lirih.


Tak lain adalah Chameleon, ia menyamar sebagai pria yang pernah bertemu dengan Orion dan Mahanta. Dugaan Orion tak sepenuhnya salah tentang keberadaan pria ini, hanya saja mereka memiliki kekuatan yang mirip sehingga sulit dibedakan meski suara mereka berbeda sekalipun.


Chameleon telah lama berkelana ke sana dan kemari. Ia lantas membalikkan badan hendak pergi ke suatu tempat lagi.


“Tujuanku sekarang, hm ...sepertinya aku harus menemui Ken.”


Swuush!


Angin menerpanya hebat membuat dirinya hilang tanpa jejak. Menyatu dengan debu, sulit terlacak.


***


Kembali pada Orion dkk. Sudah lama mereka mencari keberadaan si anjing serigala itu tetapi pada akhirnya tidak kunjung menemukannya juga. Hingga sampai kembali dari area perbatasan pun, batang hidungnya tak terlihat sama sekali.


“Dia pulang, ya?” pikir Endaru terhadap si anjing tersebut.


“Sejujurnya itu masuk akal daripada dia terus-menerus berputar di sekeliling daratan,” ucap Mahanta.


“Ya, terserahlah. Lagi pula, anjing itu bukan milik kita atau semacamnya. Biarkan dia berkeliaran sampai puas,” kata Orion tak begitu peduli dengan keberadaan si anjing.


“Tuan Mahanta, apakah kita akan kembali?” tanya Ramon.


“Ya. Kita akan kembali. Pertama ke kota S-Frans dulu. Karena di sana Orion sudah menyiapkan penginapan.”


“Dr. Eka yang menunggu di sana. Tapi aku tidak tahu sampai berapa malam,” sahut Orion.


Mahanta mengangguk, karena merasa itu tidak jadi masalah. Yang terpenting, mereka dapat tempat untuk beristirahat sejenak.


Kota S-Frans.


Kurang lebih pukul 9 pagi. Langit terang itu serasa masih gelap saja, padahal sudah menjelang siang. Beberapa dari mereka pun mulai mengantuk karena lelahnya terus melakukan perjalanan dari kota ke kota hingga kembali ke kota sekarang.


“Hoaam, rasanya aku tidak pernah tidur.” Endaru menguap seraya merenggangkan kedua lengannya ke atas.


“Kau itu, bukannya sempat tidur ya? Di villa?”


“Ya. Benar. Tapi aku tak merasa nyaman, jadi aku kurang tidur.”


Satu-persatu pun mulai merasakan hal sama seperti Endaru. Sekali Endaru menguap, semuanya tertular secara bergantian. Yang kemudian mereka berbaring sekalipun di lantai.


“Ngomong-ngomong penginapan ini luas? Atau hanya aku saja yang berpikir ini rumah biasa?” pikir Mahanta.


“Yang Anda katakan tidak salah. Tapi ini 'kan di luar negeri, wajar kalau wujudnya sedikit berbeda. Ini terlihat seperti camp,” ungkap Dr. Eka.


Tak!


Dr. Eka meletakkan banyak minuman hangat di atas meja. Namun tak seorang pun bangkit dari lantai lantaran mereka terlalu lelah. Kecuali Orion yang saat ini hanya bersandar pada dinding dengan wajah cemas tak karuan.


“Kau memikirkan apa Orion?” tanya Dr. Eka.


“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah saja,” kata Orion yang kemudian ia berbaring di sana tanpa menutup mata.


Ada beberapa hal yang sedang dipikirkan oleh Orion saat ini juga, tak lain adalah beberapa kejadian lalu yang aneh saja rasanya. Keberadaan arwah, mayat dan kemudian sebuah villa dibangun di tengah daratan dan di sampingnya adalah laut lepas.


Hal-hal seperti itu, mau bagaimanapun jika dilihat itu terlalu di luar nalar. Sempat terpikirkan bahwa petunjuk tak langsung akan muncul namun nyatanya tidak.


“Kalau murung terus tidak akan terjadi apa-apa, Orion.” Dr. Eka kemudian menyodorkan minuman hangat berupa teh itu pada Orion.


“Banyak yang sedang aku pikirkan karena masalahnya tidak selesai-selesai. Karena si Chameleon itu,” ucap Orion tanpa menerima minuman hangatnya.


Drrrttt!


Ponsel seseorang berdering, mengagetkan Orion dan Dr. Eka. Lekas Endaru terbangun dan mengambil ponsel yang masih tertinggal dalam saku celananya.


“Kenapa?” Raut wajah Endaru berubah, ia tampaknya sangat kesal karena tidurnya diganggu.


“Kemarikan!” Mahanta yang terbangun pun mengambil paksa ponsel milik Endaru. Ternyata yang menghubungi adalah Ketua Irawan.


“Ketua Irawan, Anda sedang berada di mana saat ini?”


“[Oh, Mahanta. Aku sudah menghubungi tapi ponselmu selalu tidak aktif. Dan sekarang muncul di ponsel Pahlawan Kota?]”


“Ah, itu. Maafkan saya, Ketua Irawan. Ponsel saya rusak.”


“[Baiklah. Kalau begitu. Dengarkan, aku barusan bertemu dengan Chameleon!]” ungkap Ketua Irawan. Seketika membangunkan mereka semua dalam tidur nyenyaknya.


“Apa?!” ucap mereka serentak.


“A-apakah itu benar, Ketua Irawan? Di mana?” tanya Mahanta.


“Hei Mahanta! Keraskan suaranya!” pekik Orion.


“Saya juga ingin mendengarnya, Tuan Mahanta!”


Karena yang lain meminta untuk mendengarkan perbincangan mereka, Mahanta pun mulai mengeraskan volume pada ponsel itu. Segera mereka mendengarkannya sekali.


“[Aku ulangi. Aku bertemu dengan Chameleon beberapa menit yang lalu.]”


“Di mana?”


“[Kota NY. Mana lagi? Aku dan Ketua Raiya sama sekali tak bergerak dari kota ini. Memangnya kalian dari mana saja? Aku mencari-cari kalian sampai ke hotel itu, tapi katanya kalian sudah keluar!]”


“Maafkan saya, Ketua Irawan. Sebenarnya, saya dengan yang lain sedang mencari petunjuk mengenai Chameleon. Atau lebih tepatnya melalui pengkhianat grup Chameleon,” jelas Mahanta berwajah serius.


“[Begitu rupanya. Lalu, apa yang kalian dapatkan?]” Ketua Irawan bertanya, ia berharap mereka mendapatkan petunjuk lainnya.


Tetapi, mengingat terakhir yang telah terjadi saat itu. Tentu mereka semua enggan menjawab. Sebab hasilnya nihil. Mahanta melirik ke arah Orion, Orion lantas melirik ke arah Endaru. Wajah mereka perlahan memucat karena tidak ada yang ingin dikatakan pada Ketua Irawan saat ini juga.


“[Halo? Apa kalian masih di sana?]”


“Bagaimana ini?” tanya Mahanta dengan berbisik seraya menjauhkan ponsel itu sebentar dari telinganya. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bingung.


“Katakan saja,” ucap Orion.


“Ck, aku tak mau kita kalah saat menggali informasi,” lirih Endaru lantas berdecak kesal.


“Hei ini bukan kompetisi,” sahut Orion.


“Tetapi, kalau Ketua Irawan melaporkan bahwa aku tidak berguna pada Nona Gista ...ah, aku tidak bisa membayangkannya,” tutur Mahanta.


Ternyata Mahanta mencemaskan soal apa yang terjadi setelahnya saat Ketua Irawan tahu bahwa Mahanta tidak kompeten.


“Tenanglah, Mahanta. Lagi pula kita sudah berusaha. Meskipun membawa banyak orang, kini kita sudah tahu kalau barang putih itu sebenarnya bukan milik Chameleon seorang,” jelas Orion.


“Tapi hanya itu informasinya. Keberadaan mereka itu jauh lebih penting,” bisik Ramon.


“[Halo?]” Ketua Irawan kembali memanggil.


Terlintas sebuah pertanyaan dalam benak Orion saat itu. Ia kemudian meraih ponsel Endaru secepatnya.


“Ketua Irawan, bagaimana di sana? Bukankah Anda bilang, Anda menemukan Chameleon? Mengapa menghubungi kami sementara Anda sedang dalam pengejaran,” tukas Orion sedikit menyindir.


Seketika mereka dibuat terkejut lagi. Sebagian dari mereka terutama Endaru terkekeh-kekeh seakan mereka memenangkan kompetensi dari Ketua Irawan.


“[Karena itulah aku ingin kalian secepatnya kembali ke kota NY.]”


***


Setetes darah penghubung jiwa dan raga akan membuat seseorang hidup. Namun bagaimana jika seseorang menenggak setetes darah dalam Api Abadi?


Sosok pria yang diyakini adalah prajurit. Ia membuka mata secara perlahan, melihat langit terang dengan banyak tanah dan darah bercampur di sekitarnya. Untuk sesaat ia bingung dengan apa yang barusan terjadi.


Kacrak!


Ia kemudian bangkit seraya mengarahkan senjata yang masih di atas tubuhnya itu ke depan. Teringat bahwa hal yang harus ia lakukan adalah menyerang lawan, akan tetapi tiada seorang pun hidup di sekitarnya termasuk rekan-rekannya.


“Guk! Guk!” Anjing serigala itu menggonggong keras lalu mengeluskan kepalanya ke antara dua kaki pria itu.


Tubuhnya yang terbentuk dengan dada bidang itu kemudian turun dengan lemas. Ia ambruk ke tanah sekali lagi, lalu bertanya-tanya dalam benak apa yang sebenarnya telah terjadi padanya sekarang ini.


“Kau ada di sini, Blacky!” Pria itu kembali berwajah ceria saat melihat hewan peliharaannya ada di sana.


Anjing itu menjilat-jilat majikannya. Betapa ia bahagia ketika mendapati sang majikan kembali terbangun dalam tidur (mati)-nya.


“Aku sangat senang, kau ada di sini. Dan kau sudah tumbuh 30 cm. Perkembangan yang cukup pesat dalam 3 minggu ya?” ucap pria itu kegirangan.


Namun setelah beberapa saat ia menyadari. Di sekelilingnya terdapat banyak mayat bergelimpangan. Rekan dan musuh bercampur aduk menjadi satu. Sebagian tersebar dalam keadaan tulang belulang di bagian lain.


Ia lantas bangkit, dan berjalan bersama anjing kesayangan tuk meninggalkan daerah tersebut. Hingga keluar dari area perbatasan, begitu mendapati seseorang melintas di sekitar, ia bergegas menghampiri.


Sesaat sebelum sampai menuju ke salah seorang tersebut, ia memikirkan sesuatu dan membatin, “Ada pria aneh dalam mimpiku.”


“Paman! Ada yang saya ingin tanyakan!” pekik pria itu memanggil seraya melambaikan tangan. Seketika pria yang dipanggilnya terkejut hingga jatuh tersungkur.


***


Pada saat itu Ketua Irawan menghubungi Endaru si Pahlawan Kota untuk memberikan sebuah informasi penting. Ia menemukan keberadaan Chameleon namun sayangnya jejaknya hilang lagi. Karena itulah Ketua Irawan menghubungi. Meminta mereka untuk segera kembali ke kota NY.


Kota NY pukul 1 siang.


Mereka semua masih mengantuk, bahkan dalam perjalanan menuju ke tempat Ketua Irawan saat ini pun mereka masih menguap sepanjang waktu.


“Apa tidak mencolok jika kita berkumpul seperti ini?” Orion bertanya.


Lantaran mereka berkumpul dengan sangat mencolok di salah satu toko yang sedang tutup hari ini.


“Hanya sebentar saja. Tenang saja. Pokoknya, Chameleon sekarang hilang di banyak kerumunan,” ujar Ketua Irawan seraya menunjuk ke arah belakangnya. Di mana jalanan penuh, sepertinya ada sesuatu di sana.


“Terlalu ramai.”


“Benar. Mungkin karena ini ada barang diskon atau semacamnya. Yah, tapi aku tidak tahu pastinya. Atau mungkin festival,” pikir Ketua Irawan.


Ketua Irawan berdiam diri dalam beberapa waktu saat melihat ke arah kerumunan itu. Yang lain pun mengikuti yang sedang dilakukan oleh Ketua Irawan, mengamati sekitar.


“Chameleon memang tidak ada.”


“Dia muncul sebagai Dicky, yang biasanya dia pakai. Lalu sepertinya aku melihat rekan Chameleon juga. Tapi aku tidak terlalu yakin.”


Yah, apalagi warna rambut merah sebagai ciri dari Dicky itu sudah hal biasa di tempat seperti ini. Jadi sepertinya akan sulit untuk menemukan Chameleon, terlebih Chameleon bisa meniru segala wujud jadi rambut merah pun tak selalu menjadi patokannya.


“Dia belum pergi jauh. Aku meminta bantuan kalian sebagai senior, berpencarlah.”


Ketua Irawan, adalah pengkhianat Grup Chameleon namun itu sudah berlalu cukup lama, bertepatan kebangkitannya Pahlawan Kota. Lalu sekarang, Orion bersama Runo berada dalam kerumunan yang berdesakan di pinggir jalan, sekilas Orion melihat seseorang yang tengah dicarinya yakni si pengkhianat Grup Chameleon belum lama ini.


“Runo, apa kau pernah melihat Chameleon sebelumnya? Meskipun tidak dalam wujud aslinya,” tanya Orion dengan berbisik lirih.


“Tidak pernah. Aku hanya melihat dari foto Dicky itu saja,” jawab Runo.


“Hm, kalau begitu cari yang rambutnya merah.”


“Ya, tetapi—”


Duk!


Runo terdorong lantas orang terus berdesakan dari depan ke belakang. Mereka tampaknya sangat berantusias terhadap sesuatu, namun entah apa itu.


“Runo, berpeganglah!” teriak Orion mengulurkan tangan pada Runo yang tengah jatuh tersungkur.


“Kita lewat jalan lain saja,” imbuh Orion seraya menunjuk ke celah sempit di antara dua gedung.


Padahal semalam terdapat badai namun sekarang, panasnya menyerupai musim panas sedang berlangsung. Sesekali Orion mendapati Runo yang terbatuk-batuk, tanda ia tidak bisa beradaptasi dengan baik ke negara ini.


“Runo, kamu tak apa?”


“Ya. Tidak masalah. Mari kita lanjutkan pencarian. Sesuai arahan Ketua Irawan,” ucap Runo tersenyum. Ia berpura-pura tegar karena memang tidak ingin menjadi beban.


Walau mukanya sudah pucat begitu.


“Kalau ingin muntah, keluarkan saja.”


Selang beberapa saat kemudian, Orion melihat mereka lagi. Yang di mana seorang pria berambut merah terang dengan seorang pria yang membawa sesuatu di punggung berada di sisinya.


Segera Orion berlari ke arah sana, kemudian disusul oleh Runo yang tampak semakin memucat saja.


“Pak Orion, apakah itu Chameleon?” tanya Runo yang mengarah pada pria berakhir merah di sana.


“Benar, ayo masuk!”


Chameleon dengan rekannya itu masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Orion dan Runo bergegas membuntuti namun begitu masuk ke dalam, Chameleon menghilang dalam sekejap.


“Di mana lagi dia? Menghilang tiba-tiba”


“Pak Orion benar. Chameleon menghilang tiba-tiba. Tetapi bukankah tidak wajar kalau kita menemukannya dengan jelas?”


“Apa maksudmu?” tanya Orion.


“Chameleon punya warna rambut mencolok. Dan seperti informasi kalau dia itu pandai meniru segala wujud maupun suara. Jadi, bukankah aneh saja kalau tiba-tiba kita menemukannya?” pikir Runo.


“Benar,” ucap Orion dengan merendahkan suara. Ia terkejut karena Runo memiliki pemikiran seperti itu. Runo seperti menggantikan Orion berpikir lantaran Orion saat itu tidak menaruh curiga sebab terlalu terpaku pada Chameleon.


“Kau mengingatkanku. Terima kasih Runo. Untuk sesaat aku nyaris hilang akal dibuatnya,” ucap Orion dalam kesadaran penuh dengan senyum tersinggung.


“Jadi, sekarang. Bagaimana pak?”


“Duduklah lebih dulu, Runo. Aku akan mencarikanmu minum sebentar,” kata Orion seraya menuntun Runo tuk duduk di salah satu tempat di dalam sana.


“Eh, tapi pak? Saya tidak masa—”


“Sst, suaramu terlalu keras.” Orion menaruh jari telunjuknya ke depan bibir. Kemudian melanjutkan, “Wajahmu pucat. Aku tahu kau punya tugas, tapi saat ini kau butuh istirahat walau hanya sebentar.”


“Baiklah, pak. Berhati-hatilah melangkah. Kabarkan aku jika Chameleon kembali muncul.”


Orion mengangguk lantas pergi. Di satu sisi ia cukup khawatir dengan keadaan Runo namun di sisi lain pun ia turut cemas karena Chameleon benar-benar ada di tempat perbelanjaan yang ramai seperti ini.


“Tenang saja. Chameleon tidak akan mengincar Runo. Karena dia memang sengaja memancingku, dan hanya mengincar diriku.”